Eny Rahmawati
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 15 Indonesia, Moderasi Beragama bisa jadi bukan pilihan, melainkan keharusan.18
Wujud nyata moderasi beragama semestinya harus terejawentahkan dalam bentuk adab multikultural peserta didik (murid) di dunia pendidikan maupun masyarakat Indonesia pada umumnya. Adab multikultural harus melekat menjadi kepribadian bangsa Indonesia, sehingga dengannya Indonesia kembali damai, kembali bersatu sebagaimana saat dulu bangsa ini bersama-sama melahirkan Indonesia.
16 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
Indonesia jelas amat beragam dan multikultural. Tetapi, di tengah keragaman itu terdapat kesatuan, seperti yang dikukuhkan dalam prinsip Bhineka Tunggal Ika. Tidak kurang pentingnya karena demografi Indonesia 88,2 persen memeluk Islam, keragaman itu juga meliputi kaum Muslim Indonesia yang memiliki latar belakang kesukuan, adat istiadat, tradisi lokal, dan pandangan dunia yang relatif berbeda pula satu sama lain.
Sebagai contoh, pandangan dunia dan adat-tradisi lokal Muslim Jawa berbeda dengan Muslim Minang—meski segera perlu ditegaskan mereka diikat keimanan, keislaman, dan keindonesiaan yang sama. Di tengah kebhinekaan dan keikaan, adab memiliki tempat sangat penting dan signifikan. Adab dalam banyak hal tumpang tindih dengan akhlak alkarimah, tetapi pada segi lain juga merupakan pengejawantahan universal yang melintasi batas-batas kesukuan, adat istiadat, dan tradisi lokal dalam kehidupan sehari- hari. Adab juga menjadi bagian integral dari kehidupan negara- negara bangsa Indonesia yang amat bhinneka dari segi keagamaan dan budaya. Dalam tradisi Islam, adab—sama dengan akhlak—
bersifat all encompassing, melingkupi berbagai aspek kehidupan.
Ada adab yang pada dasarnya bersifat personal, yakni adab terhadap Allah SWT yang menciptakan diri manusia dengan sebaik- baik penciptaan. Karena itu, diri yang diciptakan Tuhan harus diperlakukan secara beradab.
Ada pula adab yang bersifat sosial, mencakup adab terhadap setiap anggota keluarga, tetangga, dan lingkungan masyarakat lebih luas. Selanjutnya, ada adab terhadap lingkungan alam yang mengitari kehidupan, yang memberikan banyak ruang bagi manusia untuk mengejawantahkan dirinya dan mewujudkan kekhalifahannya. Kerusakan kehidupan pribadi, masyarakat dan lingkungan alam terjadi ketika orang per orang dan masyarakat tidak lagi mematuhi dan menjalankan adab dan keadaban (civility).
Masa depan umat manusia, kata Azra, secara pribadi maupun jamaah, banyak bergantung pada kesetiaan mereka pada realisasi adab dan keadaban dalam berbagai aspek kehidupan. Karena itu,
Eny Rahmawati
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 17 jika negara-bangsa Indonesia ini ingin unggul dalam peradabannya, tidak bisa lain kecuali dimulai dengan pengejawantahan adab dan keadaban secara menyeluruh.
Sejalan dengan Azyumardi Azra, Kholiq Asyhuri juga menyatakan bahwa adab tidak bisa hanya dipahami dengan cukup berprilaku baik pada Tuhannya atau berprilaku baik pada lingkungan dekatnya tetapi juga seluruh makhluq ciptaanNya, mulai alam, manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.
Banyak ditemukan, sesama manusia karena merasa bukan satu suku, bukan satu ras, dan bukan satu agama misalnya, lantas mereka saling serang, saling bunuh. Semua karena adab kemanusiaannya yang rendah, karena hanya mengedepankan diri dan kelompoknya. Bahkan di lain waktu, dalam kelompok itu sendiri akan ada saling tindas, karena yang dikedepankan bukan kemanusiaan, bukan adab tetapi keuntungan duniawi semata.
Duniawi mengalahkan segalanya.22
Secara ringkas intelektual Islam Ahmad Amin mengatakan bahwa adab ialah kebiasaan baik dan buruk.23 Sedangkan Soegarda Poerbakawatja mengatakan adab ialah budi pekerti, watak, kesusilaan, yaitu kelakukan baik yang merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap khaliknya dan terhadap sesama manusia.24
Berangkat dari berbagai definisi atau pengertian adab di atas, maka dapat disimpulkan bahwa keberadaan adab pada diri seseorang tampak vital sekali perannya, bahkan ia seakan justru menjadi esensi (hakikat) seseorang. Sering seorang manusia lebih dikenali karena adabnya. Sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW beliau dipanggil atau digelari al-amin saat masih muda, juga karena adabnya sehingga seluruh masyarakat mempercayainya. Oleh karenanya ketika ada selisih paham terkait seseorang yang diberi
22 Kholiq Asyhuri, Urgensi Pendidikan Kemanusiaan dan Adab, MEDIA, April 2020.
23 Ahmad Amin, Kitab Al-Akhlak (Cairo: Daral-Kutub Al-Misriyah, tt), hlm. 15.
24 Soegarda Poerbakawatja, Ensiklopedia Pendidikan (Jakarta: Gunung Agung, 1976), hlm. 9.
18 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
kewenangan memindahkan hajar aswad usai ka’bah direnovasi, rasullah yang dipercaya menyelesaikannya. Padahal saat itu beliau belum diangkat menjadi nabi dan rasul Alloh.
Dalam tulisan ini yang dimaksud adab adalah adab multikultural dengan setidaknya lima nilai yang terkandung di dalamnya, yakni nilai toleransi, demokrasi, kesetaraan, keadilan, dan kemanusiaan. Adab multikultural inilah yang harus termanifestasikan secara intrinsik maupun ekstrinsik dalam kepribadian manusia Indonesia.
Lima nilai adab multikutlural tersebut, empat di antaranya (toleransi, demokrasi, kesetaraan, dan keadilan), disarikan dari komitmen global perihal pendidikan multikultural pada Oktober 1994 oleh Unesco di Jenewa. Sedang nilai kemanusian, merupakan dasar filosofis pendidikan yang linier dengan Pancasila. Empat nilai lain sebenarnya juga sejalan dengan sila-sila yang ada di Pancasila.
Lima nilai itu penulis istilahkan dengan adab multikultural. Istilah adab ini juga mengacu saripati sila kedua Pancasila. Pada sila itu juga ada kata kemanusiaan. Nah itulah yang kita tarik masuk untuk menambah nilai-nilai adab multikultural.25
Adab multikultural tersebut, mesti melekat pada diri masyarakat Indonesia. Jangan sampai pada diri mereka bebas nilai multikultural karena ketiadaan adab bisa menyebabkan seseorang berlaku dzolim. Yaitu berlaku tidak adil terhadap orang lain dalam artian tidak sejalan dengan adab multikultural tersebut. Oleh karena itu, nilai atau value adab multikultural jangan sampai sekadar menjadi pengetahuan dan pemahaman tetapi sekaligus menjadi sikap moral masyarakat Indonesia, ia harus menyatu dalam kepribadian manusia Indonesia. Hal ini seirama pula dengan tugas utama manusia, sebagai abdi Tuhan dan sebagai khalifah Tuhan di muka bumi ini. Sebagai khalifah, manusia berkewajiban memakmurkan bumi di segala aspeknya.
25 Lihat Kholiq Asyhuri, Guru dan Adab Multikultural, MEDIA, November 2020.
Eny Rahmawati
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 19