142 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
lembaga pendidikan muhammadiyah akan bernuansakan multikulturalis yang humanis.16
Kedua adalah toleransi, yaitu sikap menerima bahwa orang lain yang berbeda dengan kita. Dialog dan toleransi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bila dialog itu adalah bentuknya, maka toleransi itu isinya. Toleransi diperlukan tidak hanya pada tatataran konseptual, melainkan juga pada tataran operasional. Hal inilah yang sejak lama tidak ada dalam sistem pendidkan di Indonesia, termasuk didalam kebijakan pendidikan di lembaga- lembaga pendidikan Muhammadiyah. Sistem pendidikan kita selama ini menitik beratkan pada pengkayaan pengetahuan dan ketrampilan tetapi kurang memberi perhatian pada penghargaan atas nilai-nilai budaya dan tradisi bangsa.
Soleh Amini
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 143 antara satu golongan dengan golongan yang lain, multikulturalime menjadi bukti bahwa masyarakat berada dalam kompetisi kehidupan yang sehat.17
Kedua, golongan yang menilai multikulturalisme merupakan unsur negatif dalam hidup bermasyarkat di Muhammadiyah.
Golongan yang berpendapat demikian ini biasanya berasal dari kalangan puritan. Walaupun perbedaan-perbedaan ini merupakan peninggalan sejarah yang tidak bisa dihindari, namun mereka dari golongan ini tidak bisa menilai positif keberagaman ini khususnya dalam hal agama dan kepercayaan, mereka tidak menyetujui bahwa perbedan, dan keberagaman ini merupakan aset besar bangsa. Mereka yang berfaham demikian ini sangat keras terhadap kelompok pro multikulturalis. Ketiga, merupakan kelompok jalan tengah. Tidak seperti pada kelompok pertama, yang menganggap positif unsur multikulturalisme dalam bermasyarakat, ataupun tidak ekstrim seperti kelompok kedua yang menganggap multikulturalisme merupakan aib, atau menilai negatif atas keberagaman yang dimiliki bangsa ini. Golongan yang terakhir ini, menganggap multikultural merupakan sebuah rahmat yang patut disyukuri. Namun adakalanya multikulturalisme juga bisa menjadi sebuah petaka yang harus dihindari, tergantung multikulturalisme itu diposisikan dimana dan seperti apa nilai positif dari perbedaan dan keberagaman ini dapat menjaga ekuilibrium atau equalitas sosial. Seperti dapat saling memperkuat eksistensi masing-masing kelompok dalam kompetisi yang sehat. Namun apabila multikulturalisme sudah terjebak dalam sektarianisme, maka akan menimbulkan konflik bagi masing-masing kubu.
Pertanyaan yang muncul dari perbedaan-perbedaan tersebut adalah bagaimanakah orientasi kebijakan pendidikan lembaga- lembaga pendidikan Muhammadiyah itu? apakah bersifat monolitik, atau multikulturalistik. Atas pertanyaan tersebut, bisa diprediksi sebagian besar jawaban orang-orang Muhammadiyah
17 Syamsul Arifin, http://muhammadiyah studies.blogspot.com/2009/11/
muhammadiyah- multikulturalisme.
144 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
akan menjawab bahwa kebijakan pendidikan muhammadiyah adalah kebijakan pendidikan yang monolitik, karena sejak dilahirkan pada tanggal 18 November 1912, dalam diri muhammadiyah telah melekat kuat suatu identitas, yang sekaligus menjadi pilihan strategi dalam mengembangkan ajaran Islam di tanah air dengan sebutan Islam murni atau islamic purification. Hal tersebut dapat dilihat dari sejarah gerak dinamika Muhammadiyah.
Kedua ciri itu membentuk suatu dialektika yang memperkokoh ciri Muhammadiyah sebagai gerakan keagamaan yang monolitik, terutama jika dilihat dari cara bagaimana Muhammadiyah merespons tradisi lokal, baik yang disebut dengan tradisi murni sebagai bentuk local genius, maupun tradisi yang sudah
beramalgamasi dengan anasir keagamaan. Pilihan terhadap paradigma Muhammadiyah sebagai gerakan Islam murni dan modern (termasuk lembaga-lembaga pendidikannya), adalah merupakan pilihan yang cerdas bila dilihat dari realitas yang terjadi saat Muhammadiyah berada pada dekade awal perkembangannya.
Beberapa kajian historiografi Islam di Indonesia, menujukkan adanya suatu fakta historis mengenai artikulasi Islam yang terpaksa mengambil pola sinkretik sebagai konsekuensi dari strukturisasi budaya yang dilakukan lebih awal oleh agama lain sebelum Islam berkembang pesat di Indonesia. Maka dengan perkembangan yang demikian ini, dalam masyarakat Islam di Indonesia tidak saja berkembang praktik keagamaan yang berwajah takhayul, bid'ah, dan khurufat, tetapi juga mengakibatkan tidak berkembangnya ide-ide perubahan sosial. Dengan kata lain, faham dan praktik keagamaan itu makin mengukuhkan sikap tradisional masyarakat, selain mempersempit ruang gerak masyarakat dalam melakukan perubahan. Dari segi ini, pembaruan yang dilakukan Muhammadiyah dengan cara memurnikan kembali Islam dari takhayul, bid’ah dan khurafat, tidak saja bermanfaat bagi kepentingan kemurnian ortodoksi ajaran Islam, tetapi juga dapat membebaskan masyarakat dari kungkungan sikap tradisional yang antara lain dipengaruhi sikap keagamaan. Maka dengan cara yang
Soleh Amini
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 145 demikian, ide-ide dan semua proses perubahan dapat dikembangkan, salah satunya melalui lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah yang banyak bertebaran di seluruh penjuru tanah air Indonesia.
Paradigma yang dipilih Muhammadiyah tersebut ternyata menuai keberhasilan, hal ini bisa dilihat pada model pendidikan atau sekolah yang dikembangkan Muhammadiyah yang sejak awal menggunakan pendekatan modern, meski di sisi lain tetap mempertimbangkan otentisitasnya sebagai pendidikan Islam.
Kemajuan Muhammadiyah di bidang pendidikan mulai dari jenjang pendidikan pra-sekolah sampai jenjang perguruan tinggi cukup berhasil menciptakan mobilisasi sosial dalam kehidupan masyarakat, dan munculnya suatu lapisan masyarakat yang bisa disebut civil Islam tanpa harus mengklaim sebagai gerakan civil society. Disamping nilai lebih yang didapatkannya dari pengembangan paradigma tersebut, muhammadiyah mencatat adanya hal-hal yang kurang menyenangkan juga yang kemudian dapat dibaca oleh orang orang muhammadiyah sendiri maupun oleh orang-orang di luar muhammadiyah, yakni muhammadiyah dinilai sebagai anti kebudayaan. Pendidikan di muhammadiyah dirasa kering karena jauh dari performa seni budaya maupun tradisi- tradisi lokal sehingga berpotensi menghambat berseminya ide-ide pembaharuan dan perubahan. Pada kurun waktu dekade tahun 2000-an, kritik kepada Muhammadiyah terkait sikap kebudayaan muhammadiyah tersebut sangat terasa menguat kemunculannya. Hal ini tentu tidak terlepas dari adanya harapan dan desakan agar orientasi dakwah dan pendidikan Muhammadiyah juga menggarap masyarakat tradisional, terutama yang berbasis di pedesaan, sehingga basis massa muhammadiyah menjadi lebih heterogen.
Harapan dan desakan desakan tersebut tidak akan dapat terwujut jika Muhammadiyah tetap bertahan dengan paradigma Islam murninya yang kaku dan eksklusif, sementara masyarakat pedesaan sudah terstrukturisasi dengan nilai-nilai dan praktik
146 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
budaya tradisional. Selain daripada itu kritik terhadap Muhammadiyah tidak lepas pula dari konsep dan pengembangan pemikiran di tingkat aras pemikiran global, yaitu berkembang wacana multikulturalisme yang agaknya mulai memasuki dunia keagamaan.
Menurut Charles Lemert18 penggunaan wacana multikulturalisme itu membingungkan, tetapi dari wacana yang berkembang di Indonesia dan juga di Muhammadiyah, multikulturalisme ingin dijadikan paradigma baru dalam merajut kembali hubungan antar manusia yang belakangan ini selalu hidup dalam suasana penuh konflik. Inti dari multikulturalisme adalah kesediaan menerima kelompok lain sebagai kesatuan, tanpa memedulikan keragaman budaya yang dimilikinya. Konsekuensi penerimaan multikulturalisme adalah kesediaan untuk memberi apresiasi konstruktif terhadap segala bentuk tradisi budaya termasuk kesenian, bahkan termasuk di dalamnya perbedaan keyakinan/agama.
Dapatkah Muhammadiyah melalui lembaga-lembaga pendidikannya mengembangkan dan menerima realitas multikulturalisme ini, sementara pada saat yang sama Muhammadiyah kurang mengembangkan apresiasi tradisi budaya termasuk yang berperspektif lokal. Bagaimana warga Muhammadiyah dapat memahami fenomena multikultural sebagai realitas kehidupan hakiki. Lantas, bagaimana keterlibatan warga Muhammadiyah tersebut secara institusional dalam peranannya menyikapi isu pendidikan multikulturalisme?
Perdebatan warga Muhammadiyah dalam menyoal wacana multikulturalisme ini diawali dari hasil muktamar Denpasar Bali tahun 2002 ketika dewan tanwir memutuskan makna amar ma’ruf nahi munkar tidak hanya dimaknai sebatas tekstualitas, tapi bagaimana gerakan berkemajuan yang mengusung isu ‘dakwah kultural’ diimplementasikan dengan baik. Terhadap keputusan dewan tanwir tersebut, sikap warga Muhammadiyah dapat
18 George Ritzer & Barry Smart, Handbook of Social Theory, 2001
Soleh Amini
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 147 dipetakan menjadi tiga kelompok, yakni puritan, moderat, dan reformis. Walaupun ‘dakwah kultural’ banyak ditentang oleh kelompok puritan, faktanya sedikit yang sepakat dengan kelompok tersebut. Gaung kelompok moderat dan reformis lebih besar, secara utuh gerakan multikulturalisme dapat diimplementasikan dengan baik hingga ke akar rumput (grassroots), termasuk ke dalam dinding-dinding sekolah muhammadiyah.19 Dalam sidang tanwir Muhammadiyah di Denpasar Bali tahun 2002, muhammadiyah melakukan sebuah lompatan besar yang sangat berani sekaligus menantang dalam hal budaya multikultural.
Muhammadiyah mengeluarkan fatwa akan perlunya dakwah kultural di lingkungan internal Muhammadiyah, termasuk di lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah, sehingga terobosan dakwah kultural tersebut hingga kini banyak menjadi wajah cerah sekolah-sekolah Muhammadiyah. Dakwah kultural dalam kontek ini tidak hanya dimaknai sebagai dakwah dalam arti menyebarkan ajaran ajaran agama Islam, tetapi sekaligus sebagai corak atau wajah pengembangan pendidikan di sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan Muhammadiyah.
Dakwah kultural itu sendiri ditafsiri atau dimaknai sebagai bentuk dakwah yang mengakomodasi semua jenis potensi manusia sebagai makhluk budaya dan berkebudayaan, sehingga mereka dapat diubah menjadi masyaraakat baru yang Islami.20 Jadi dengan demikian dakwah kultural adalah bentuk dakwah (pengajaran) yang dinamik, tidak berhenti pada satu gerakan, sebab esensi dari gerakan pendidikan tajdid Muhammadiyah adalah senantiasa melakukan ekperimen-ekperimen untuk merumuskan sesuatu yang baru dalam rangka menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan yang muncul.
19 Zully Qodir, Muhammadiyah dan pilihan Gerakan Dalam Masyarakat Multikultural.Pusat studi dan perubahan sosial (PSB) Univerditas Muhammadiyah Surakarta, 2005.
20 Abdurrahman, Moeslim. Muhammadiyah sebagai Tenda Kultural. Idio Press dan Maarif Institute for Cultural and Humanity, Jakarta, 2003.
148 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
Dengan demikian dakwah Muhammadiyah tidak bisa berdimensi vertikal atau melangit saja, hanya berkelindan dengan soal-soal ibadah khusus antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga menyentuh dakwah yang berdimensi kemanusiaan. Dalam implementasinya di sekolah-sekolah Muhammadiyah sebagai lembaga pendidikan, dakwah kultural Muhammadiyah ini harus menjadi pilar kurikulum dan gerak didik ektra maupun intrakurikuler. Tanpa gerakan semacam ini, sesungguhnya hanya akan menempatkan Muhammadiyah dan juga lembaga lembaga pendidikan Muhammadiyah sebagai gerakan amar makruf nahi munkar pada level teologis teosentris, bukan pada level teologi antropocentris. Untuk itu Muhammadiyah melalui lembaga- lembaga pendidikannya tidak boleh berhenti berijtihad, karena kehidupan masyarakat itu senantiasa mengalami perubahan- perubahan yang membutuhkan pendekatan-pendekatan baru yang harus menjadi penciri khusus pendidikan Muhammadiyah dimasa depan, sehingga Muhammadiyah tidak mengalami gejala obesitas yang lambat berjalan dan tidak lagi produktif. Lantas apa yang akan dikerjakan oleh Muhammadiyah setelah mencanangkan dakwah kultural, sehingga Muhammadiyah dan Islam tidak mengalami kemandegan di tengah masyarakat. Bagaimana dunia pendidikan Muhammadiyah merespon loncatan besar ini dalam kebijakan- kebijakan pendidikan di sekolah sekolah-sekolah Muhammadiyah.
Hal inilah yang menjadi catatan besar dari lembaga pendidikan Muhammadiyah untuk menumbuhsuburkan gerakan pendidikan multikultural dalam rangka mewujutkan cita cita Muhammadiyah, yakni membentuk manusia muslim yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cakap, percaya pada diri sendiri, berdisiplin, bertanggung jawab, cinta tanah air, memajukan serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan, beramal menuju terwujudnya masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT serta menghasilkan sumber daya manusia yang handal.
Soleh Amini
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 149
Penutup
Sebagai oragnisasi kemasyarakatan yang mashur dengan pengikut atau anggota tidak kurang dari enam puluh juta orang pada saat ini (tahun 2020) , Muhammadiyah berani tampil sebagai lokomotif untuk mendorong membuminya pendidikan multukultural di Indonesia melalui lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah dari tingkat yang paling rendah hingga lembaga pendidikan yang paling tinggi. Dengan sejumlah besar lembaga pendidikan Muhammadiyah yang dimiliki, Muhammadiyah sudah melangkah untuk menjadi lokomotif pendidikan multikultural melalui sidang keputusan tanwir di Bali pada tahun 2002 dan dikuatkan kembali dalam gerakan Muhammadiyah yang berkemajuan pada muktamar Jogyakarta tahun 2010 maupun muktamar Makasar tahun 2015.
Tercatat hingga tahun 2019 jumlah lembaga pendidikan Muhammadiyah adalah seperti kutipan berikut ini : TK/TPQ sebanyak 4623, SD/MI sebanyak 2604, SMP/MTs, sebanyak 1772.
SMA/SMK/MA, sebanyak 1143 dan Jumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah sebanyak 172. Lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah sebagaimana dipaparkan tersebut, adalah merupakan bagian yang terintegrasi dengan lembaga Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan-keagamaan Islam yang bergerak di bidang dakwah amar makruf nahi munkar.
Salah satu media pergerakan Muhammadiyah adalah melalui lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah. Oleh karena itu apapun kebijakan lembaga pendidikan Muhammadiyah tidak boleh dan tidak terlepas dari kebijakan umum Muhammadiyah sebagai persyarikatan, termasuk didalamnya mengenai kebijakan pendidikan multikultural. Berangkat dari diktum tersebut maka kebijakan pendidikan multikultural telah menjadi kebijakan baku di dalam penyelenggaraan pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah, dari jenjang PAUD/TK sekolah dasar hingga lembaga pendidikan tinggi. Hal tersebut terlihat dari kurikulum muatan lokal yang dipergunakan oleh sekolah-sekolah Muhammadiyah.
150 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
Salah satu wajah konkrit dari pendidikan multikultural di lembaga pendidikan Muhammadiyah adalah diajarkannya pelajaran seni karawitan, tembang jawa mocopat, dan berbagai seni tradisi lokal pada pelajaran kesenian dan dalam konten kurikulum lokal atau kurikulum muatan lokal. Pada level pendidikan tinggi semisal Univeritas Muhammadiyah atau Sekolah Tinggi Muhammadiyah, perguruan tinggi Muhammadiyah juga menerima mahasiswa dari kalangan non Islam. Sebagai contoh Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah Sorong di Papua 80% mahasiswanya adalah beragama Kristen, demikian pula di Universitas Muhammadiyah Kupang Nusa Tenggara Timur mayoritas mahasiwanya beragama Khatolik.
Hal ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan Muhammadiyah menerima dan menjalankan kebijakan pendidikan multikultural dan menolak thesis yang menyebut bahwa Muhammadiyah anti terhadap keberagaman budaya dalam pendidikan. Muhammadiyah menerima konsep pendidikan multikultural, meski pada masa sebelumnya Muhammadiyah sempat memperdebatkan pendidikan multikultural ini sebagai landasan kebijakan pendidikannya.
Berdasarkan pandangan dasar bahwa sikap indiference dan non-recognition tidak hanya berakar dari ketimpangan struktur rasial, tetapi paradigma pendidikan multikultural mencakup subjek-subjek mengenai ketidakadilan, kemiskinan, penindasan, dan keterbelakangan kelompok- kelompok minoritas dalam berbagai bidang : sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya.
Tujuan pendidikan Muhammadiyah (sebagai bagian dari pendidikan Islam rahmatanlil’alamin) bukan hanya sebatas mengisi pikiran siswa dengan ilmu pengetahuan dan materi pelajaran, akan tetapi membersihkan jiwanya yang harus diisi dengan akhlak dan nilai- nilai yang baik dan dikondisikan supaya biasa menjalani hidup dengan baik. Hal tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan multikultural, yaitu untuk menciptakan kehidupan yang harmonis
Soleh Amini
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 151 dalam masyarakat yang serba berbeda dalam berbagai aspek dan dimensi kehidupan bersama. Dengan demikian bagi sekolah Muhammadiyah, pendidikan multikultural adalah merupakan proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitasnya sebagai konsekuensi keragaman budaya, etnis, suku, dan aliran (agama). Pendidikan multikultural di Muhammadiyah menekankan sebuah filosofi pluralisme budaya ke dalam sistem pendidikan yang didasarkan pada prinsip- prinsip persamaan (equality), saling menghormati dan menerima serta memahami dan adanya komitmen moral untuk sebuah keadilan sosial. Pendidikan multikultural yang dijalankan di lembaga- lembaga pendidikan Muhammadiyah mencerminkan misi mulia Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar makruf nahi munkar yang menjujung tinggi asas dasar kehidupan berbangsa dan bernegara yang berbhineka tunggal Ika .
Daftar Pustaka
Ainul Yaqin, 2015, Pendidikan multicultural cross cultural understanding untuk demokrasi dan keadilan. Yogyakarta : Pilar Media..
Andersen dan Cusher, 1994, Multicultural and Intercultural Studies dalam C. Marsh (ed) Teaching Studies of Society and Environment . Sydney: Prentice-Hall.
Ahmad Fayyadh, 2019, https://modernis.co/2019/12/24/
muhammadiyah dan multiukulturalisme .
Abdurrahman, Moeslim. Muhammadiyah sebagai Tenda Kultural.
Idio Press dan Maarif institute for Cultural and Humanity, Jakarta, 2003.
Faturochman, 2017. Memahami dan Mengembangkan Indigenous Psychology. Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta.
Gorski, Paul.2001. Six Critical Paradigm Shiifd for Multicultural Eucation and the Question we should Be Asking.
http//www.Edchange.org/multicultural.
George Ritzer & Barry Smart, Handbook of Social Theory, 2001
152 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
Husniyatus Salamah (2017). Pendidikan Multikultural : Upaya Membangun Keberagaman Inklusif Di Sekolah.
Hernandes, Hilda (2012). Multiculturalisme Education: A Teacher Guide to Linking Context, process, and contens. New Jersey &
Ohio Prentice.
H.A.R Tilaar, 2002. Perubahan Sosial dan Pendidikan : Pengantar Pedagogik Tranformatif untuk Indonesia . Jakarta Grasindo.
James A. Bank (2010). Multicultural Education (7th) Issues and Perspectives, New york and London Routledge.
Parsudi Suparlan, Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural, Makalah. Disampaikan pada Simposium Internasional Bali ke-3, Jurnal Antropologi Indonesia, Denpasar Bali, 16-21 Juli 2002.
Sleeter dalam G. Burnett, Varieties of Multicultural Education: An Introduction, Eric Clearinghouse on Urban Education, Digest, 1994.
Syamsudin (2017). Gerakan Muhammadiyah Dalam Membumikan Wacana multikulturalisme : Sebuah Landasan Normatif- Institusional. Jurnal pemberdayaan masyarakat : Media pemikiran dan Dakwah Pembangunan-ISSN 2580- 863X(p):2597-7768(e) Vol.1 No.2, 2017
Syafiq Mughni (2016) Epilog Pendidikan Multukultural. Pustaka pelajar, Jogyakarta.
Syamsul Arifin, http://muhammadiyahstudies.blogspot.com/2009/
11/ muhammadiyah- multikulturalisme.
Subandi, 2019. Psikologi dan Budaya : kajian berbagai Bidang.
Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakaarta.
Zully Qodir, 2005. Muhammadiyah dan pilihan Gerakan Dalam Masyarakat Multikultural. Pusat Studi dan Perubahan Sosial (PSB) Univerditas Muhammadiyah Surakarta.
Zakiyuddin Baidhawi, 2005. Reinvensi Islam Multikultural. Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.
153