Membahas multikulturalisme maupun pluralitas di Indonesia, tentunya tidak akan lepas dengan pembahasan konsep Moderasi Beragama. Penulis mengistilahkannya dengan wasathiyatuddiniyah. Sebab, mayoritas penduduk di Indonesia adalah pemeluk agama dan Islam memiliki pemeluk terbesar hingga saat ini.
Eny Rahmawati
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 7 Oleh karena itu agar ikhtiar mewujudkan masyarakat yang beradab secara multikultural bisa terealisasi, pendekatan atau pintu masuk agama, yang dalam hal ini adalah lewat konsep Moderasi Beragama (wasathiyatuddiniyah) tampaknya cukup efektif bila diterapkan. Tulisan ini mencoba memaparkan sumbangsih atau kontribusi Moderasi Beragama terhadap Adab Multikulutural di lingkungan pendidikan maupun masyarakat pada umumnya.
Di sisi lain, adanya ajaran atau kearifan lokal seperti sikap tepo seliro, andap asor, welas asih dan sejenisnya yang berkembang di Indonesia, khususnya Jawa dipastikan juga ikut mendukung keberhasilan implementasi konsep Moderasi Beragama itu. Sebab, sikap tersebut pada intinya mengajarkan toleransi dan bersikap baik terhadap sesama. Itu artinya sejalan dengan adab multikultural dan tentunya sikap moderasi beragama.
Moderasi Beragama apabila kita tarik ke internal Islam, sebenarnya Islam itu sendiri sudah moderat. Embel-embel moderasi beragama atau Islam Moderat muncul tampaknya untuk mencounter adanya paham radikal dalam agama, termasuk Islam.
Sebagaimana diterangkan dalam Alquran: “Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (wasathan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah Swt menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian.” (QS al-Baqarah: 143).
Sejalan dengan itulah, maka Musa Asy’arie melalui berbagai tulisan terkait retaknya persaudaraan, tali kasih dan persatuan dalam kehidupan berbangsa, justru memilih mengetengahkan konsep ukhuwah yang sudah lama kita kenal. Ukhuwah Islamiyah sering digambarkan Nabi seperti bunyanun marsus, suatu bangunan yang tersusun saling memperkuat atau ka-l-jasadi-l- wahid, seperti jasad yang utuh, di mana antara satu anggota tubuh dan satunya lagi saling membantu dan merasakan.
8 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
Ukhuwah Islamiyah menurutnya tidak hanya diartikan persaudaran sesama muslim dalam pengertian satu komunitas saja, tetapi juga persaudaraan untuk mewujudkan suatu kualitas dalam berbagai aspek kehidupan bersama, baik sosial, ekonomi, politik, hukum, kebudayaan maupun agama, karena Islam pada hakikatnya mempunyai komitmen yang kuat pada adanya kualitas yaitu khoiru ummati, baik kualitas iman, kualitas kerja dan kekaryaan, kualitas berpikir dan kebudayaan, serta kualitas pengabdian, untuk menciptakan kemakmuran bersama dan menjadi wujud nyata dari citra Islam sendiri sebagai rahmatan lil ‘alamin.9
Memperjelas maksud Ukhuwah Islamiyah itu, pada kesempatan berbeda Musa Asy’arie menyitir konsep KH Achmad Siddiq yang membagi empat macam ukhuwah dalam kehidupan manusia, yaitu ukhuwah basyariyyah, insaniyyah, wataninyyah dan islamiyyah.10
Ukhuwaah basyariah adalah persaudaraan yang lahir dari kodrat kehidupan manusia, terutama dalam dimensi kebutuhan ketubuhan, yakni kebutuhan makan, minum dan kebutuhan fisik lainnya. Sedang ukhuwah insaniyyah adalah persaudaraan yang terbawa oleh kodrat manusia sebagai makhluk berpikir, yang jadi basis berkembangnya kemampuan penciptaan dan krativitas.
Kemudian ukhuwah wathaniyyah adalah persaudaraan kebangsaan yang lahir melalui proses sejarah yang panjang dan kemudian membentuk suatu identitas bangsa yang mengikat satu sama lain dalam suatu wadah kehidupan bernegara dab berbangsa.
Adanya konflik politik yang menimbulkan krisis dalam berbagai aspek kehidupan, sosial, ekonomi, hukum, budaya dan keagamaan, yang berlangsung berkepanjangan, pada akhirnya akan berkembang menjadi ancaman fondamental bagi berlangsungnya ukhuwah wataniyyah ini, Oleh karena itu, fanatisme berlebihan pada suku dan kelompok warga akan menjadi pemicu konflik yang merusak persaudaraan kebangsaan.
9 Ibid., Musa Asy’arie, Islam: Keseimbangan..., hlm. 93-94.
10 Ibid,, hlm. 67-70.
Eny Rahmawati
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 9 Terakhir ukhuwah islamiyyah adalah persaudaraan yang lahir karena keyakinan Islam yang dipeluk oleh sekelompok orang atau masyarakat, dengan Islam diletakkan sebagai pedoman bagi kehidupannya. Islam telah menyatukan seseorang dalam ikatan persaudaraan yang komplk, karena di dalamnya terdapat berbagai perbdaan aliran pemikiran, keanekaragamaan budaya serta perbedaan tingkat kehidupan sosial, ekonomi dan politik.
Pemasyarakatan konsep moderasi beragama yang dipandegani Kementerian Agama RI dengan menekankan pemahaman atau cara pandang, sikap, dan perilaku yang selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama, cukup relevan dengan konsep multikultural bahkan bisa saling bersinergi.
Menurut Lukman Hakim Saefuddin,11 moderasi beragama sesungguhnya merupakan esensi agama, dan pengimplementasiannya menjadi keniscayaan dalam konteks masyarakat yang plural dan multikultural seperti Indonesia, demi terciptanya kerukunan intra dan antarumat beragama.
Semangat moderasi beragama adalah untuk mencari titik temu dua kutub ekstrem dalam beragama. Di satu sisi, ada pemeluk agama yang ekstrem meyakini mutlak kebenaran satu tafsir teks agama, seraya menganggap sesat penafsir selainnya. Kelompok ini biasa disebut ultra-konservatif. Di sisi lain, ada juga umat beragama yang esktrem mendewakan akal hingga mengabaikan kesucian agama, atau mengorbankan kepercayaan dasar ajaran agamanya demi toleransi yang tidak pada tempatnya kepada pemeluk agama lain. Mereka biasa disebut ekstrem liberal. Keduanya perlu dimoderasi.12
Moderasi telah lama menjadi aspek yang menonjol dalam sejarah peradaban dan tradisi semua agama di dunia. Masing-
11 Kemenag RI, Badan Litbang dan Diklat, 2019, Moderasi Beragama, Jakarta:
Kementerian
Agama Republik Indonesia.hlm. 2.
12 Ibid., hlm. 7.
10 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
masing agama niscaya memiliki kecenderungan ajaran yang mengacu pada satu titik makna yang sama, yakni bahwa memilih jalan tengah di antara dua kutub ekstrem, dan tidak berlebih- lebihan, merupakan sikap beragama yang paling ideal. Kesamaan nilai moderasi ini pula yang kiranya menjadi energi yang mendorong terjadinya pertemuan bersejarah dua tokoh agama besar dunia, Paus Fransiskus dengan Imam Besar Al Azhar, Syekh Ahmad el-Tayyeb, pada 4 Februari 2019 lalu. Pertemuan tersebut telah menghasilkan dokumen persaudaraan kemanusiaan (human fraternity document), yang di antara pesan utamanya menegaskan bahwa musuh bersama kita saat ini sesungguhnya adalah ekstremisme akut (fanatic extremism), hasrat saling memusnahkan (destruction), perang (war), intoleransi (intolerance), serta rasa benci (hateful attitudes) di antara sesama umat manusia, yang semuanya mengatasnamakan agama.
Sebagai negara yang plural dan multikultural, konflik berlatar agama sangat potensial terjadi di Indonesia. Itulah mengapa kita perlu moderasi beragama sebagai solusi, agar dapat menjadi kunci penting untuk menciptakan kehidupan keagamaan yang rukun, harmoni, damai, serta menekankan pada keseimbangan, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun dalam kehidupan sesama manusia secara keseluruhan. Moderasi beragama mengajak ekstrem kanan dan ekstrem kiri, kelompok beragama yang ultra-konservatif dan liberal, untuk sama-sama mencari persamaan dan titik temu di tengah, menjadi umat yang moderat.13
Di sisi lain, moderasi beragama apabila diterapkan di internal pemeluk Agama Islam sering diistilahkan dengan Islam wasathiyah.
Bahkan beberapa pihak tampaknya lebih sepakat dengan istilah ini, sebagaiman dikemukakan Sekjen PP Muhammadiyah Prof. Dr. H
13 Ibid., Kemenag RI, Moderasi Beragama, hlm.11-12.
Eny Rahmawati
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 11 Abdul Mu’ti, M.Ed., karena landasannya dianggap lebih jelas, yakni tertuang dalam Alquran QS: al-Baqarah 143 14
Pengertian atau makna wasathiyah menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI)15, yaitu: sesuatu yang ada di tengah, menjaga dari sikap melampaui batas (ifrath) dan dari sikap mengurangi ajaran agama (tafrith), terpilih, adil dan seimbang.
Ditinjau dari segi terminologinya, makna kata “wasathan”
yaitu pertengahan sebagai keseimbangan (al-tawazun), yakni keseimbangan antara dua jalan atau dua arah yang saling berhadapan atau bertentangan: spiritualitas (ruhiyah) dengan material (madiyah). Individualitas (fardiyyah) dengan kolektivitas (jama’iyyah). Kontekstual (waqi’iyyah) dengan tekstual. Konsisten (tsabat) dengan perubahan (taghayyur).
Seiring dengan itu, Munas IX MUI di Surabaya pada Agustus 2015 bersepakat mengusung dan memperjuangkan Islam Wasathiyah dalam pemahaman dan pengamalan ajaran Islam oleh umat Muslim Indonesia dalam kehidupan keagamaan, kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan. Islam Wasathiyah adalah ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin, rahmat bagi segenap alam semesta, ‘Islam Tengah’ untuk terwujudnya umat terbaik (khairo ummah). Alloh SWT menjadikan umat Islam pertengahan (wasath) dalam segala urusan agama, seperti dalam hal kenabian, syari’at dan lainnya.
Pemahaman dan praktik amaliyah keagamaan Islam Wasathiyah menurut Munas MUI itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Tawassuth (mengambil jalan tengah), (2) Tawazun (berkeseimbangan), (3) I’tidal (lurus dan tegas), (4) Tasamuh (toleransi), (5) Musawah (egaliter), (6) Syura (musyawarah), (7) Islah (reformasi), (8) Aulawiyah (mendahulukan yang prioritas, (9)
14 Dikemukakan saat Halaqoh Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah melalui Ibroh,”
kerja sama Program Doktor Politik Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Aliani Indonesia Damai (AIDA) yang diselenggarakan secara online pada 24 September 2020.
15 mui.or.id, “Apa yang dimaksud Islam Wasathiyah?,” diakses 7 Oktober 2020 pk 20.34 WIB.
12 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
Tathawwur wa Ibtikar (dinamis dan inovatif), (10) Tahadhdhur (berkeadaban).16
Atas dasar pemahaman tersebut, Munas IX MUI meyakini bahwa Islam Wasathiyah wajib diamalkan secara istiqomah oleh seluruh umat Islam Indonesia dan dunia sehingg menjadi syuhada’
‘ala al-nas (saksi kebenaran Islam untuk mewujudkan kehidupan keagamaan yang berkemajuan dan toleran, membentuk kehidupan kemasyarakatan yang damai dan saling mengharga, meralisasikan kehidupan kebangsaan yang inklusif, bersatu dan berkeadaban serta menciptakan kehidupan kenegaraan yang demokratis dan monokratis
Islam Wasathiyah sangat mendukung ikhtiar kolektif umat Islam Indonesia dan seluruh komponen bangsa dalam mengukuhkan dan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang berkadilan dan berkeadaban dalam wadah NKRI yang berdasarkan Pancasila.
Atas dasar itulah MUNAS IX MUI itu pun menyerukan kepada umat Islam seluruh dunia untuk menghayati dan mengamalkan Islam Wasathiyah sebagai bentuk kecintaan umat Islam terhadap terwujudnya dunia yang damai, berkeadilan dan berkeadaban.
Nah dengan konsep Moderasi Beragama serta Islam Wasathiyah seperti dipaparkan tersebut, sangat jelas interkoneksinya dengan masyarakat Indonesia yang multikultur sejak dari awal berdirinya. Hal ini Moderasi Beragama dan Islam Wasathiyah amat signifikan untuk diimplementasikan guna membentengi umat (masyarakat) agar tidak bersikap radikal dan mengarahkannya untuk menjaga keseimbangan dengan berlaku moderat.
Hal ini sejalan pula dengan watak alam raya (universum), yakni keseimbangan. Keseimbangan itu sekaligus menjadi watak dari Islam sebagai risalah abadi. Bahkan, amal menurut Islam
16 Lebih lanjut bisa dibaca Mimbar Ulama: Suara Majelis Ulama Indonesia, Edisi 372, Februari 2016, hlm. 15
Eny Rahmawati
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 13 bernilai shaleh apabila amal tersebut diletakkan dalam prinsip- prinsip keseimbangan antara theocentris (hablun minallah) dan anthropocentris (hablun min al-nas) bahkan hamblun min al-‘alam.
Moderasi Beragama dan Islam Wasathiyah seperti dipaparkan itu, juga tampak sangat relevan diimplementasikan di Indonesia karena negara ini masyarakatnya agamis. Beda halnya dengan negara-negara lain di luar negeri yang tidak agamis, penerapan moderasi beragama mungkin kurang lagi relevan.
Lebih dari itu, keragaman agama dan keragaman tafsir, madzab atau aliran di internal penganut agama di Indonesia juga sangat luar biasa besar jumlahnya. Itu semua sangat mendukung hadirnya konsep moderasi beragama untuk diimplementasikan di seluruh lini kehidupan masyarakat Indonesia.
Atas pemahaman seperti itu, maka Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI17 mencoba memadukan pemaknaan wasathiyah dengan menyatakan bahwa; keseimbangan antara keyakinan yang kokoh dengan toleransi di dalamnya terdapat nilai-nilai Islam yang dibangun atas dasar pola pikir yang lurus dan pertengahan serta tidak berlebihan dalam hal tertentu.
Keseimbangan tersebut bisa terlihat dengan kemampuan mensinergikan antara dimensi spiritualitas dengan material, individualitas dengan kolektivitas, tekstual dengan kontekstual, konsistensi dengan perubahan dan meletakkan amal di dalam prinsip-prinsip keseimbangan antara theocentris dan anthropocentris, adanya korespondensi antara Pencipta dan ciptaan sekaligus analogi antara makrokosmos dan mikrokosmos menuju satu spot yaitu median position. Keseimbangan yang mengantarkan pada al-Shirath al-Mustaqim tersebut yang nantinya akan melahirkan umat yang adil, berilmu, terpilih, memiliki kesempurnaan agama, berakhlak mulia, berbudi pekerti yang lembut dan beramal shaleh.
17 Ibid., mui.or.id, “ Apa yang dimaksud Islam.”
14 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
Salah satu ciri dari Islam adalah wasathiyah. Kata wasathiyah memiliki beberapa makna. Wasathiyah bisa berarti realistis (Islam Wasathiyah yaitu Islam yang berada di antara realitas dan idealitas). Yakni, Islam memiliki cita-cita yang tinggi dan ideal untuk menyejahterakan umat di dunia dan akhirat. Cita-citanya yang melangit, tapi ketika dihadapkan pada realitas, maka bersedia untuk turun ke bawah. Dalam bahasa Indonesia sering diartikan moderasi kendati sebenarnya lebih luas dari itu.
Realiasasi wasathiyah dalam ajaran Islam secara garis besar dibagi tiga: akidah, akhlak dan syariat (dalam pengertian sempit).
Ajaran akidah berarti terkait konsep ketuhanan dan keimanan.
Akhlak berarti terkait penghiasan hati melalui sikap dan perilaku seseorang agar dapat menjadi individu mulia.
Sedangkan syariat dalam pengertian sempit, berarti ketentuan-ketentuan praktis yang mengatur hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar sesama manusia (al-ahkam al-
‘amaliyah). Salah satu segmen dalam syariat adalah fiqih. Syariat dari segi sifatnya ada dua: tsabit dan mutaghayyirah. Syariat tsabit adalah syariat yang tidak dapat berubah kapan pun dan di mana pun, sedangkan syariat mutaghayyirah adalah syariat yang dapat berubah sehingga dapat beradaptasi dengan waktu dan tempat.
Akidah, akhlak dan syariat tsabit tidak dapat diubah.
Sedangkan syariat mutaghayyirah dapat berubah sesuai dengan tuntutan zaman dan tempat. Wasathiyah masuk pada akidah, akhlak, syariat tsabit dan mutaghayyirah.
Dengan demikian, tampak nyata bahwa Moderasi Beragama sesungguhnya merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Pilihan pada moderasi dengan menolak ekstremisme dan liberalisme dalam beragama adalah kunci keseimbangan, demi terpeliharanya peradaban dan terciptanya perdamaian. Dengan cara inilah masing-masing umat beragama dapat memperlakukan orang lain secara terhormat, menerima perbedaan, serta hidup bersama dalam damai dan harmoni. Dalam masyarakat multikultural seperti
Eny Rahmawati
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 15 Indonesia, Moderasi Beragama bisa jadi bukan pilihan, melainkan keharusan.18
Wujud nyata moderasi beragama semestinya harus terejawentahkan dalam bentuk adab multikultural peserta didik (murid) di dunia pendidikan maupun masyarakat Indonesia pada umumnya. Adab multikultural harus melekat menjadi kepribadian bangsa Indonesia, sehingga dengannya Indonesia kembali damai, kembali bersatu sebagaimana saat dulu bangsa ini bersama-sama melahirkan Indonesia.