• Tidak ada hasil yang ditemukan

Multikulkulturalisme dalam Konteks Historis

Dalam dokumen Lurus Jalan Terus, 70 Tahun Musa Asy'arie (Halaman 80-84)

Hakiman

Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 55 Sebagai pengusung kebebasan dan keberagaman yang terbingkai dalam keasadaraan Multikulturalisme perlu menyadari bahwa ada ketimpangan dalam wacana dan paradigmanya.

Kesibukan dalam melawan kaum monokultural yang terkooptasi pada agama dan budaya hanya akan memudarkan tanggungjawab kita pada kaum minoritas. Disinyalir kegagalan multikulturalisme dalam bernegara salahsatunya adanya hegemoni mayoritas terhadap minoritas.

56 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie

dalam agama, suku, bani maupun nasab. Konsep hidup bersama secara damai tersebut merupakan manifestasi dari kesepakatan bersama yang dikenal dengan Piagam Madinah. Dalam Piagam yang memuat 47 pasal tersebut, tidak pernah sekalipun disinggung identitas kelompok muslim, meskipun mayoritas masyarakatnya pada saat itu adalah muslim.

Piagam tersebut memuat kesepakatan antara masyatrakat migran (muhajirin), etnis madinah, suku Aus, Khazraj, Qainiqa’, Nadlir dan Quraidhah, dengan background keyakinan, Islam, Yahudi, Nasrani, dan Musyrik. Multikulturalisme yang terkandung dalam Piagam Madinah ini adalah persatuan dan persaudaraan, kebebasan beragama, tolong-menolong antara umat Islam dan kaum Yahudi, perdamaian antara Islam dan yahudi, dan saling menghormati dalam hidup bertetangga.

Rasulullah mampu mendamaikan suku-suku yang bertikai di Madinah tanpa melihat latar belakang golongan dan nasab mereka, sehingga tidak ada diskriminasi terhadap suku-suku minoritas, mereka diberikan hak yang sama sebagai warga negara. Pribadi multikultural Rasulullah, ditunjukan sejak perjalanan hijrahnya dari Mekah ke Madinah. Rasulullah dalam perjalanannya menuju Madinah didampingi oleh Abdullah bin Uraiqit, yaitu seorang pemuda Yahudi.

Menjaga keamanan dan situasi politik Madinah melalui kesadaran multikultural dari semua unsur yang ada di Madinah, sehingga setiap warga wajib menjaga keutuhan Madinah. Siapapun pihak luar yang akan mengganggu kedaulatan Madinah, maka seluruh penduduk Madinah bertanggungjawab untuk melawannya.

Kesadaran untuk menerima perbedaan khususnya dalam agama dan ideologi dipelihara dengan baik sehingga mereka bisa menjalankan aktifitas keagamaan mereka tanpa ada intimidasi.

Madinah menjadi laboratorium sosial-politik, melalui piagama Madinah menjadi pijakan konstitusional dan menjadi

Hakiman

Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 57 pijakan konstitusi pertama di dunia17. Piagama Madinah menjadi peneguh karakater politik yang bersifat demokrasi yang menolak sifat otoriter dalam berpolitik. Piagam Madinah menjadi bukti sejarah bahwa konstitusi dibangun tidak menggunakan teks-teks keagamaan, tetapi dibangun atas prinsip kemanusuian yang plural.

Karena tanpa mengedepankan teks teks keagamaanpun nilai keadilan, kesetaraan, keadaban, peradaban merupakan nilai yang diusung oleh Islam.

Pada masa Daulah Umayyah kesadaran multikultural dalam bernegara juga tampak dari sistem pemerintahan yang mengadopsi sistem Persia dan Bizantium dengan penduduk yang berasal dari bangsa Muslim-Arab, bangsa-bangsa Muslim non-Arab, bangsa- bangsa non-Arab, suku berber, suku Yamani, Suku Mudhari dan lain-lain.

Penasihat Politik Daulah Umayyah adalah Sarjun bin Mansyur ar-Rumi keturunan Romawi Nasrani dan pengelolaan pemerintahan dibantu oleh ahlu Dzimmah. Ahlu Dzimmah adalah orang non Muslim yang menerima perlindungan, keamanan dan hak yang sama dari pemerintah. Selain itu interaksi budaya yang kuat antara Islam, Yahudi dan Nasrani menjadi identitas budaya Andalusia khususnya di Cordova.

Begitupun pada masa Daulah Abbasyiah keragaman bukan hanya nampak pada perbedaan suku, budaya dan agama tetapi nampak dalam hal ideologi, pemikiran dan madzhab. Zaman keemasan dibangun dengan beranekaragam pemikiran, pengetahuan, ideologi dan madzhab yang menjadi kekuatan dalam memajukan peradaban. Munculnya para ilmuwan dan temuan pengetahuan pada masa keemasan yang begitu hebat, tentunya didukung oleh cara berfikir yang terbuka terhadap segala hal.

17 Zaprulkhan, Paradigma Berfikir Profetik Musa Asy’arie: Rekonstruksi Metodologi Berfikir Profetik Dana Eksistensi Teo-Antroposentris, (Yogyakarta: LESFI, 2020), hal 110.

58 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie

Meminjam ungkapan Farid Esack bahwa multikulturalisme merupakan penerimaan dan mengakui tentang beragaman.18 sehingga multikulturaslime hadir melampaui toleransi tetapi keberlainan. Multikulturalisme merupakan keadaan objektif yang mengharuskan umat beragama saling menghormati, memahami dan menjaganya. Tidak ada kekhawatiran dalam beragama karena tidak akan mengurangi kadar keimanan seseorang.

Sejarah bangsa-bangsa di eropa, mereka dapat maju dan berkembang karena meraka melakukan transformasi perubahan kearah penerimaan keberagaman yang hadir disekitar meraka.

Sejarah peradaban bangsa-bangsa besar seperti Amerika dan Kanada, atau Negara lainnya adalah sejarah bekerhasilan mengelola multikulturalitas kebangsaannya.19 Dalam sejarah konsep multikulturalisme pertama kali muncul adalah di Kanada yang kemudian diikuti oleh Australia, Amerika serikat, Inggris, Jerman dan lain-lain. Internal Negara mereka bertikai dan penyelesaiannya adalah melalui multikulturalisme.

Sebalikanya Indonesia sendiri, konsep multikulturalisme sudah dibangun jauh sebelum Negara-negara maju mengenal multikulturalisme. Cara dakwah walisongo yang berkembang melalui pendekatan cultur budaya masyarakat memberi sinyal kuat bahwa indonesia sudah mengenal kkonsep multikulturalisme.

Penyebaran agama melalui budaya dan prilaku yang ditunjukkan oleh para wali mampu memberikan rasa perdamaian dan persamaan ditengah realitas keragaman.

Paradigma berfikir yang pluralis menyertai kesadaran multikultural dalam membangun peradaban negara. Paradigma pluralis adalah paradigma berfikir yang mampu menghormati dan toleran terhadap keragaman budaya.20 Multikulturalisme

18 Farid Esack, Quran, Liberalism and Pluralism, (London: SAGE Publication,Inc, 1997), hal 156.

19 Chorul Mahfud, Pendidikan Multikultural, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016), hal 99-103.

20 Moh Dahlan, Paradigma Ushul Fiqh Multikultural Gusdur, ed. by Faizah

Hakiman

Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 59 memandang bahwa adanya keanekaragaman, perubahan dan konflik menjadi sesuatu yang positif untuk menguatkan akar peradaban, spiritualitas dan Iman. Masyarakat bebas beragama, berfikir, berideologi, bermadzhab, berpendapat dan berpolitik yang diikat oleh norma yang telah menjadi kesepakatan bersama, merupakan kekuatan demokrasi dalam membangun kedaulatan negara.Fakta sejarah dapat menjadi renungan, pijakan dan nalar berfikir untuk menciptakan kesadaran multikultural.

Sejarah Islam juga membuktikan bahwa kesadaran kberagaman menyangkut hak kaum disabilitas yaitu ditunjukan oleh Rasulullahyang memberikan penghormatan kepada Abdullah bin Umi Maktum yang mengalami disabilitas. Asbabun nuzul Quran Surat Abasa 1-11 menunjukkan bahwa Islam menghormati kaum disabilitas. Islam tidak menyukai diskriminasi terhadapa sesama ciptaan Tuhan sekalipun dia mempunyai kekurangan.

Praktik multikultural disabilitas ditujukan oleh kholifah ketiga Umar bin Khotob yang mendirikan rumah bagi disabilitas dekat Masjid supaya memudahkan dia untuk sholat ke Masjid.

Begitupun juga pada masa al Walid bin Abdul Malik yang mendirikan rumah layanan bagi mereka anak yang mengalami disabilitas mental. Praktik multikulturalisme dalam sejarah memberikan paradigma yang luas, bahwa multikulturalisme menyangkut berbagai aspek kehidupan manusia yang menjadi kesadaran setiap manusia.

Dalam dokumen Lurus Jalan Terus, 70 Tahun Musa Asy'arie (Halaman 80-84)