• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembudayaan Adab Multikultural

Dalam dokumen Lurus Jalan Terus, 70 Tahun Musa Asy'arie (Halaman 46-50)

Multikulturalisme maupun adab multikultural agar mengejawentah diperlukan sebuah strategi pembudayaan (internalisasi). Entah itu melalui jalur pendidikan formal maupun jalur nonformal lainnya. Yang pasti, bagi Musa Asy’arie multikulturalisme pada dasarnya merupakan kekuatan pemikiran yang memandang bahwa berbagai pluralitas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat itu ada dan harus tetap dijaga keberadaanya agar keseimbangan kehidupan berbangsa tidak jatuh pada ekstrimisme ideologi tertentu saja. Jika pemikiran multikulturalisme itu terjaga, maka akan terjadi pengayaan spiritualitas untuk memperkuat pandangan kesatuan dalam keberagaman yang sesungguhnya telah mendasari bagi kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara.27

Lebih lanjut mantan rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menyatakan, pendidikan multikulturalisme tidak bisa ditawar- tawar lagi, dan dalam kenyataannya pendidikan multikulturalisme akan terbentur oleh adanya pandangan keagamaan yang tertutup untuk mengakui kebenaran agama lainnya. Pandangan bahwa

27 Musa Asy’arie, “Basis Multikulturalisme Gus Dur,” dalam Islam Keindonesiaan &

Civil Sosiety, (Yogyakarta: Padma Books, 2011), hlm. 109

22 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie

kebenaran agama adalah mutlak memang tidak bisa dihindarkan, karena semua agama mengajarkan demikian. Akan tetapi tidak seharusnya diikuti oleh pandangan untuk mengatakan bahwa agama yang ada di luar dirinya adalah sesat, salah dan dihakiminya untuk dilenyapkan. Karena pada kenyataannya, dalam setiap agama apa pun, di dalamnya selalu terdapat sentuhan multikulturalisme yang berbasis pada wilayah, budaya dan pengalaman hidup tempat seseorang dibesarkan.

Pendidikan multikultural dalam suatu agama memang tidak mudah karena bisa terjebak pada pandangan bahwa urusan agama adalah urusan individual saja. Dari sini diperlukan suatu sistem dan metodologi pendidikan agam berbasis multikulturalisme, sehingga tidak terjadi konflik antara pendidikan agama dan pendidikan multikulturalisme.

Belajar dari pengalaman hidup seorang Gus Dur, kata Musya Asy’arie, pendidikan agama dan pendidikan multikulturalisme bisa berjalan seimbang dan tidak perlu dipertentangkan satu sama lainnya. Pengalaman Gus Dur yang lahir dari pendidikan agama yang kental sejak pesantren di Jawa maupun pengalaman pendidikannya di Mesir dan Irak, telah membuahkan pandangan multikulturalismenya yang kuat. Tinggal masalahnya adalah bagaimana pengalaman multikulturalismenya Gus Dur diterapkan dalam sistem pendidikan kita.28

Menjawab persoalan tersebut, ada strategi cukup bagus yang bisa kita jadikan referensi untuk membudayakan ada multikural, yakni model Prof. Maragustam. Konsep yang diusung lebih komprehenship dibanding model pendidikan karakter versi Thomas Lickona yang terkenal itu.

Maragustam menawarkan tujuh rukun untuk pembudayaan adab ini. Ia mengistilahkannya dengan Pendidikan Karakter Holistik. Tujuh rukun itu merupakan sebuah lingkaran yang utuh yang dapat diajarkan scara berurutan atau tidak berurutan. Namun

28 Ibid., Musa Asy’arie, Basis Multikulturalisme, hlm.111-112.

Eny Rahmawati

Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 23 sebaiknya dilakukan secara terus-menerus agar menghasilkan manusia berkarakter atau dapat kita istilahkan dengan beradab.

Adapun tujuh rukun yang dimaksudkan itu adalah: (1) habituasi (pembiasaan), (2) membelajarkan hal-hal yang baik (moral knowing), (3-4) merasakan dan mencintai yang baik (moral feeling dan loving), (5) tindakan yang baik (moral acting), (6) keteladanan (moral model) dari lingkungan sekitar, dan (7) tobat (kembali) kepada Allah setelah melakukan kesalahan.29

Konsep Maragustam tersebut apabila kita telaah lebih dalam tampak bahwa itu merupakan pengembangan dari konsep Thomas Lickona. Ia mencoba memadukan dengan konsep Islam yang senantiasa mengajarkan contoh keteladan atau model dalam akhlak, pembiasaan (habituasi) serta tobat apabila terlanjur khilaf berbuat kesalahan. Ajaran itulah yang kemudian dipadukan dengan teori domain moralnya Thomas Lickona, yakni pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling), dan tindakan moral (moral action). Ketiga domain itu tidak berfungsi sebagai bagian yang terpisah namun saling melakukan penetrasi dan saling memengaruhi satu sama lain dalam cara apa pun.30

Kendati demikian, tampaknya konsep Maragustam tetap lebih cocok untuk diterapkan karena masyarakat kita mayoritas beragama. Sehingga adanya pendekatan agama dalam pembudayaan adab multikultural dipastikan lebih berhasil dan mencapai sasaran yang diinginkan. Lebih dari itu, adab multikultural diharapkan bisa terbudayakan (terpatri secara istiqomah) dan terimplikasikan secara intrinsik maupun ekstrinsik, secara internal (intro self) dan eksternal (auto self) pada diri peserta didik maupun masyarakat pada umumnya.

Dengan terbudayakan pada batin (intro self) niscaya akan melahirkan pemikiran yang positif dan perilaku positif. Sebab

29 Maragustam, Filsafat Pendidikan Islam, Menuju Pembentukan Karakter Menghadapi Arus Global, (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2014), hlm. 264.

30 Thomas Lickona, Educating for Character (terj.) Juma Abdu Wamaungo, (Jakarta:

Bumi Aksara, 2013), hlm. 85.

24 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie

sikap yang dilahirkan oleh seseorang niscaya bermuara dari batinnya yang kemudian diolah oleh sel otak (neuron), yang membentuk pikiran, ide, temuan segala sesuatu yang direnungkan.

Bila yang terpikirkan positif, maka akan lahir perilaku yang positif pula. Demikian pula sebaliknya, bila yang ada di batin atau terpikirkan negatif, otomatis perilaku yang dilahirkan juga akan negatif pula.

Sikap dan perilaku positif atau adab multikultural tersebut, juga harus termanifestasikan secara eksternal (auto self), sehingga akan terjadi balansitas kebaikan secara konsisten (istiqomah) terhadap orang lain, hewan, tumbuhan, alam beserta kandungannya. Nah, di situlah akan lahir sikap kemanusian (humanis) yang sejati. Akan terjadi balansitas antar-makhluq Tuhan sehingga terciptalah kedamaian, ketenangan, kebahagiaan, saling menyayangi (darrusalam) dan itulah hakikat rahmatan lil’alamin.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa moderasi beragama atau ukhuwah konkrit memberikan kontribusi terhadap adab multikultural peserta didik maupun masyarakat pada umumnya. Hal itu akan terealisasikan manakala strategi pembudayaan yang dipilih juga tepat. Sebab, proses pembudayaan manakala tidak sinkron dengan sasarannya, dipastikan tidak akan menghasilkan output yang maksimal, apalagi optimal. Dalam kaitan pembudayaan adab multikultural yang didorong oleh konsep ukhuwah atau moderasi beragama, tawaran konsep tujuh rukun dari Maragustam dipastikan cukup efektif. Sebab, konsep ini sejalan dengan kultur bangsa kita yang religius.

Wallau’alam bisshawab.

25

Desain Pengembangan Pendidikan

Dalam dokumen Lurus Jalan Terus, 70 Tahun Musa Asy'arie (Halaman 46-50)