Pendidikan multikultural merupakan suatu tuntutan yang tidak dapat ditawar-tawar di dalam membangun Indonesia baru.
Pendidikan multikultural memerlukan kajian yang mendalam mengenai desain dan praktis pelaksanaannya28. Dengan memasukkan nilai-nilai multikultural dalam rangka menanggulangi bahaya radikalisme dan terorisme sebagaimana diatas, tampak bahwa baik perundang-undangan, peraturan, maupun dalam berbagai dokumen lainnya tentang pendidikan, tampak bahwa baik pendidikan pada umumnya, maupun pendidikan agama pada khususnya belum menampung nila-nilai multikultural secara signifikan, baik secara eksplisit maupun implisit.29
Untuk itu guna membentuk pendidikan multikultural yang bebas radikalisme dan terorisme, maka tiba saatnya kita menyusun desain pendidikan multikultural yang sekiranya dapat
28 Tilaar, H.A.R, (2004), Multikulturalisme Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo
29 Nata, A. Sosiologi Pendidikan Islam. (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2016), hlm, 256
Gadis Deslinda
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 37 dikembangkan di tanah air kita sesuai dengan situasi social, budaya, dan politik ditanah air30:
1. Right to Culture dan identitas budaya local. Gelombang global telah membawa suatu kekuatan baik yang melawan arus menyamaratakan manusia. Secara kasarnya arus global membawa akibat komersialisasi serta pendangkalan budaya.
Ada anggapan bahwa Negara-bangsa (nation-state) justru diperkuat oleh gelombang globalisasi dewasa ini. Dengan adanya gerakan reformasi serta lahir dan berkembangnya identitas suatu komunitas, memang dikhawatirkan muncul identitas suku bangsa yang akan membahayakan perkembangan rasa keindonesiaan. Pendidikan multikultural di Indonesia haruslah diarahkan kepada terwujudnya masyarakat madani ditengah-tengah kekuatan kebudayaan global.31 Melalui konsep ini diharapkan paham radikalisme tidak mudah masuk karena rasa keBhinekaan Tunggal Ika telah kuat tertanam dalam diri individu.
2. Kebudayaan Indonesia-yang-menjadi. Konsep pengembangan Pendidikan Indonesia berdasarkan pada kekayaan dan keberagaman budaya dari diberbagai suku bangsa. Hal ini mengarah pada wujud identitas masyarakat dan budaya Indonesia, sehingga pluraritas buadaya mikro tidak akan hilang dan justru mozaikisasi budaya Indonesia.
Dengan demikian Pendidikan di Indonesia mengarah pada pemeliharaan dan pengembangan konsep negara-bangsa yaitu nasionalisme.32 Rasa nasionalisme diperkuatkan dan diajarkan kepada para siswa sehingga ketika paham radikalisme menyebar dengan sigap telah terbentengi.
3. Pendidikan multikultural sebagai rekonstruksi sosial.
Pendidikan multikultural merupakan strategi rekonstruksi
30 Tilaar, H.A.R, 2004, Multikulturalisme Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo. hlm 185
31 Ibid, hlm 185
32 Ibid, hlm 187
38 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
social yang bertugas mewujudkan kebudayaan Indonesia yang bersatu diatas pluralitas suku-suku yang beranekaragam. Oleh karena itu, Pendidikan multikultural tidak mengenal adanya fanatisme dan sektarianisme sosial budaya termasuk agama.
Artinya rekonstruksi social adalah kehidupan sosial dalam melahirkan keharmosinsan di dalam kehidupan bangsa pluralisme yang menghargai adanya perbedaan.
Masyarakat yang plural adalah tatanan masyarakat yang memiliki ciri kebudayaan yang berbeda satu sama lain yang terkadang unsur dominatif dan diskriminatif hidup dalam masyarakat tersebut. Sedangkan masyarakat multikultural merupakan tatanan masyarakat yang memiliki interaksi aktif diantara unsur-unsurnya melalui proses belajar.33
Desain pembelajaran pluralis-multikultural meliputi beberapa prinsip dasar, yaitu:34
1. Pengenalan terhadap diri sendiri merupakan aspek yang terkecil dalam menekankan pemahamanan terhadap pendidikan multikultural.
2. Mengembangkan sikap non-etnosentris pada siswa agar tumbuh pemahaman mutualis (mutual understanding) dan empati terhadap keberagaman agama dan budaya yang ada dalam masyarakat.
3. Pengembangan kurikulum yang integrative, komprehensif dan konseptual memudahkan pendidikan pluralis-multikultural masuk dalam semua mata pelajaran.
4. Berorientasi pada proses (process-oriented approach) untuk mencapai sebuah perubahan. Suasana pembelajaran yang tidak hanya pemberian materi semata tapi disertai juga dengan praktik yang menyenangkan, kreatif dan spontan akan
33 Naim, N dan Sauqi A. Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi.
(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2017), hlm 125
34 Ibid, hlm 217-218
Gadis Deslinda
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 39 memudahkan peserta didik memahami Pendidikan pluralis- multikultural.
5. Penekanan pada aspek afektif dan kognitif. Pendidikan multikultural mampu mengembangkan keterkaitan antara isu dengan masalah-masalah yang dihadapi peserta didik baik dalam lingkungan sempit maupun dalam skala yang lebih luas.
Untuk menjelaskan masalah radikalisme dengan kaitannya dengan pendidikan Islam, maka dibuatlah butir-butir untuk mengembangkan pendidikan Islam yang multikultural sebagai berikut:
1. Islam sebenarnya telah mengandung misi pendidikan, apabila pendidikan dibatasi sebagai upaya menjadikan manusia terdidik, berilmu dan berpengetahuan. Manusia terdidik ditunjukkan dari kualitas perilakunya, padahal Islam juga menghendaki peningkatan kualitas perilaku manusia. Manusia berilmu ditunjukkan oleh kemampuannya menyikapi dan memecahkan berbagai masalah. Ketika dihadapi oleh permasalahan mengenai radikalisme, pendidikan Islam mampu membentengi manusia dari segala pengaruh negatif.
2. Islam dan pendidikan sama-sama menghendaki sikap demokratis. Islam sangat demokratis, akan tetapi sifat demokratis ini diharapkan menjadi sikap dan perilaku orang Islam. Tatanan hidup demokratis menggambarkan tatanan hidup horizontal dengan semangat empati, tetapi tatanan anarkhis menggambarkan tatanan hidup otoriter dan egoistic, karena ada unsur memaksakan kehendak dan ingin menang sendiri.
3. Islam dan pendidikan menghendaki terwujudnya manusia yang baik. Misi agama adalah misi kebaikan. Oleh karena itu, apabila misi agama mengakibatkan terjadinya ketidakbaikan jelas itu adalah miskonsepsi atau pendidikan dan salah penerapannya. Paham radikalisme merupakan miskonsepsi didalam pendidikan Islam. Sehingga ini tidak sesuai dengan pendidikan yang diajarkan oleh Islam.
40 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
Ibrahim telah juga menambahkan ada beberapa prinsip yang harus dipatuhi dalam menjalankan pendidikan multikultural, yaitu:
1. Penentuan materi pelajaran harus bersifat terbuka. Artinya keterbukaan secara budaya mampu mengintegrasikan pandangan-pandangan yang berlawanan dan interprestasi yang berbeda.
2. Memilih isi materi pembelajaran yang mengandung perbedaan dan persamaan dalam lintas kelompok. Pemberian materi ini dapat membantu peserta didik dalam memahami bahwa perbedaan itu indah.
3. Sesuai dengan konteks waktu dan tempat. Artinya pemberian materi Pendidikan multikultural tidak dalam suasana kondisi psikologis peserta didik yang terganggu.
4. Mengutamakan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki peserta didik. Hal ini dimaksud agar dalam pemberian materi mampu mendeskripsikan ilmu yang dimiliki peserta didik, dan 5. Penggunaan model pembelajaran yang interaktif dan
kontekstual agar lebih memudahkan pemahaman materi multikultural oleh siswa.35
Lebih lanjut Batubara memaparkan bahwa ada tiga tahap dalam pengembangan desain Pendidikan multikultural yaitu:36
1. Analisa faktor potensial bernuansa multikultural. Beberapa faktor yang dirasa penting untuk dipertimbangkan dalam pengembangan desain pendidkan multikultural adalah (a) Analisis kompetensi pelajaran untuk pembekalan peserta didik yang berupa pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), etika atau karakter (ethic atau disposition). (b) Analisis kompetensi untuk guru dalam menerapkan pendekatan multikultural dengan menggunakan metode pengajaran yang
35 Ibrahim, R. (2008). Pendidikan Multikultural: Upaya Meminimalisir Konflik dalam Era Pluralitas Agama. EL
TARBAWI, 1(1), 115-127.
36 Batubara, H.H & Ariani DN., Desain Pengembangan Pendidikan Multikultural di Sekolah Dasar. ResearchGate, Juli 2018.
Gadis Deslinda
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 41 efektif, memperhatikan latar belakang siswanya. Dengan adanya referensi latar budaya siswa sudah merepresentasikan masyarakat yang belajar multikultural. (c) Adanya relevansi antara materi dan pembelajaran berbasis multikultural yang meliputi menghargai perbedaan antar teman, menampilkan perilaku didasari keyakinan ajaran agama masing-masing, mengembangkan sikap toleransi, mengembangakan kesadaran berbudaya daerah dan nasional, mengembangkan sikap disiplin, sosial dan nasional dan membangun kerukunan hidup.
2. Menetapkan pendekatan, metode dan media pembelajaran berbasis multikultural. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah perspektif kajian kelompok tunggal dan perspektif ganda. Pendekatan kajian kelompok tunggal (single group studies) merupakan pendekatan yang membantu siswa secara mendalam untuk mempelajari dan memahami pandangan-pandangan golongan tertentu. Oleh sebab itu, sejarah, tradisi, kebiasaan, agama yang dianut, tempat tinggal, pakaian dan kontribusi kelompok tersebut terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, seni dan sastra merupakan data-data yang diperlukan oleh siswa dalam mempelajari kelompok budaya tersebut. Selanjutnya perspektif ganda (multiple perspectives) merupakan pendekatan yang berfokus pada perspektif kelompok-kelompok yang berbeda dalam membahas isu-isu tunggal. Hal ini dimaksudkan agar siswa menyadari bahwa peristiwa yang terjadi akan diinterpretasi berbeda oleh orang lain, dimana perbedaan interpretasi tersebut berdasarkan pada kaidah-kaidah yang mereka ikuti.
Selanjutnya, dibutuhkan metode pembelajaran yang mengintergrasiakan dan mengimplikasikan berbagai konsep dasar, generalisasi dan teori dari budaya-budaya dan kelompok-kelompok tersebut kedalam mata pelajaran.
Penerapan metode pembelajaran ini bisa dilakukan dengan menggunakan pembelajaran bersama, membuat strategi pencapaian konsep, strategi analisis sosial, keterlibatan aktif
42 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
dalam memahami adanya perbedaan bahasa dan budaya dan lain.
3. Menyusun rancangan pembelajaran berbasis multikultural.
Ada lima tahapan dalam menyusun rancangan pembelajaran ini, yaitu (a) Analisis isi, yaitu kompetensi dasar atau inti dalam penetapan materi pembelajaran. (b) Analisis latar kultural merupakan pengembangan dari pendekatan kultural dan siklus kehidupan yang mempertimbangkan nilai-nilai kultural. (c) Pemetaan materi pembelajaran. (d) Pengorganisasian materi berbasis multikultural yang berdimensi isi (content), dimensi pengurangan prasangka (prejudice reduction), dimensi Pendidikan yang adil (eguitable pedagogy), dimensi kontruksi pengetahuan (knowledge contruction) dan dimensi pemberdayaan budaya sekolah dan struktur sosial (empowering school culture and social structure). (e) Perencanaan pelaksanaan pembelajaran yang berpusat pada siswa.
Selain itu, Thoyib menjelaskan bahwa desain materi pendidikan Islam multikultural yang bisa dikembangkan dengan nilai pendidikan peace dan social harmony. Pemberian materi social harmony meliputi pembelajaran informal multikultural seperti pertemuan dengan sejumlah komunitas agama yang berbeda;
menyelenggarakan program tahunan tentang budaya religious berbasis masyarakat global; dan menampilkan tokoh-tokoh daerah atau nasional yang konsen dibidang multikultural dan perdamaian.
Sedangkan materi pendidikan Islam multikultural berdimensi peace meliputi pelatihan resolusi bagi siswa menjelang paripurna;
dan pendelegasian siswa dalam pengembangan nilai-nilai perdamaian. Kedua pendekatan ini jika berjalan berkesinambungan maka menjadikan siswa memiliki wawasan dan keterampilan praktis dalam membangun dan mengembangkan nilai-nilai
Gadis Deslinda
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 43 harmoni ditengah-tengah masyarakat dengan problem sosial keagamaan yang semakin kompleks dan rumit.37
Dengan adanya pendidikan agama Islam yang berbasis multikultural, maka inidividu mampu melihat adanya perbedaan agama, suku dan ras sebagai bagian dari ragam budaya ciptaan alam semesta. Dengan kata lain, keberagaman tersebut merupakan fasilitas ektra eksklusif dari Allah yang disediakan untuk manusia.
Prinsip pengembangan Pendidikan Islam multikultural harus bersifat universal, realistis, dinamis dan fleksibel untuk membentuk manusia Indonesia lebih beriman dan mampu menjaga perdamaian dan kerukunan antar umat beragama.
Daftar Pustaka
Asrori. A. Radikalisme di Indonesia: Antara Historisitas dan Antropisitas. Kalam: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, Vol. 9, No 2, Desember (Lampung, 2015)
Ansori, M. Model Pendidikan Islam Berbasis Multikultural. Jurnal Al-Yasini, Vol. 03, No.02, Nobember 2018
Asyarie, M., (2004)
_____________, Rekonstruksi Metodologi Berpikir Profetif, Persepktif Sunnah Nabi. Lembaga Studi Filsafat Islam (Yogyakarta, 2017)Batubara, H.H dan Ariani, D.N. Desain Pengembangan Pendidikan Multikultural di Sekolah Dasar. (Banjarmasin:
Journal.uin-alauddin Juli 2018)
Banks, J.A and Banks, C.A. McGee., Multikultural Education, Issues and Perspectives (RDD Crawfordvbille, USA, 2010) seventh Edition.
Diknas, Petunjuk Teknis: Pembelajaran dan Penilaian Afektif.
(Jakarta: PT. Pustaka, 2010)
37 Thoyib, M. Model Pengembangan Pendidikan Islam Multikultural di Indonesia.
Nadi Offset (Yogyakarta, 2016)
44 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
Dijk, Van, Kees and Kaptein, J.G., Nico. Islam, Politics, and change:
The Indonesian Experience after the fall of Suharto, (Leiden Uniersity Press, 2016) Cetakan ke-1
Ibrahim, R.. Pendidikan Multikultural: Upaya Meminimalisir Konflik dalam Era Pluralitas Agama. (EL TARBAWI, 1, 2008)
Muchith M.S. Radikalisme Dalam Dunia Pendidikan. (Kudus, ADDIN, Vo. 10, No. 1 Februari 2016)
Naim, N dan Sauqi A. Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi. (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2017)
Nata, A. Sosiologi Pendidikan Islam. (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2016)
Rokhmad, A. Radikalisme Islam dan Upaya Deradikalisasi Paham Radikal. (Semarang: Walisongo, Vol 20, No.1, Mei 2012).
Swiniarski, L., Breitborde, M., & Murphy, J. Educating the global village: Including the young child in the world. Upper Saddle River, (NJ: Merrill/Prentice Hall, 1999)
Tilaar, H.A.R. Multikulturalisme Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional. (Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2004)
Zuly Qodir, Radikalisme Agama di Indonesia. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014)
45