• Tidak ada hasil yang ditemukan

Multikulturalisme dalam Konteks Bernegara

Dalam dokumen Lurus Jalan Terus, 70 Tahun Musa Asy'arie (Halaman 70-80)

45

46 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie

Negara yang terdiri dari berbagai suku, agama, budaya, dan adat istiadat dari mulai Sabang sampai Merauke merupakn fakta keberagaman yang melekat di Indonesia. Namun di sisi lain, dalam banyak kasus, keberagaman ini juga dapat mengancam keutuhan bangsa yang memiliki moto "Bhinneka Tunggal Ika". Banyaknya gesekan budaya hingga konflik etnis dan agama telah mewarnai dinamika keberagaman Indonesia.

Realitasnya nalar kolektif masyarakat tentang multikulturalisme masih terkooptasi oleh hegemoni yang sarat dengan prasangka, kecurigaan dan kebencian terhadap kelompok yang berada diluar dirinya. Kondisi bangsa Indonesia yang multikultural merupakan modal positif dalam membangun kedaulatan negara, tetapi sebaliknya bisa menjadi letupan destruktif yang akan menghancurkan pilar-pilar kebangsaan.

Perpecahan dan tindakan yang mengarah pada anarki akan menjadi tontonan, ketika tidak ada pengakuan terhadap kelompok identitas lain.

Masih munculnya kelompok yang berkeinginan supaya hukum-hukum agama bisa masuk kedalam KUHP menjadi fenomena yang hadir saat ini. Aroma intervensi terhadap negara dari golongan tertentu menandai lemahnya nalar multikultural dan nalar fikir bangsa ini. Keinginan untuk menjadikan negara yang multikultural menjadi monokultural tentu akan menjadi lahan koflik yang berimplikasi negatif terhadap keberlangsungan sebuah negara.

Menurut Budirahayu dan Saud dalam penelitiannya menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang multikulturalisme relatif rendah dalam tingkat toleransi mereka terhadap keragaman dan perbedaan.1 Maka perlu ada rumusan kurikulum pendidikan yang diarahkan untuk meningkatkan mata pelajaran supaya meningkatkan keberagaman siswa dan guru,

1 Budirahayu, Tuti, and Muhammad Saud, Proposing an Integrated Multiculturalism Learning System: A Study from Indonesian Schools’, Asia-Pacific Education Researcher, 2020, 205.

Hakiman

Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 47 seperti sosiologi, pendidikan kewarganegaraan, agama studi, dan ideologi nasional (Pancasila) untuk memajukan harmoni dan perdamaian. Multukulturalisme bukan hanya berbicara tentang agama tetapi juga meliputi berbagai aspek kehidupan.

Pendidikan multikultural harus diselenggarakan baik dalam tataran formal maupun tataran non formal. Lembaga, keluarga dan masyarakat harus memiliki kesadaran tentang keanekaragaman yang ada disekitar. Bukan hanya disadari tetapi dibangun dalam alam bawah sadar melalui internalisasi nilai-nilai multikulturalisme dalam kehidupan bermasyarakat. Proses dari menginternalisasi nilai-nilai multikulturalisme sebisa mungkin diterapkan dalam pendidikan formal juga dapat diterapkan di proses pendidikan nonformal.2 Dalam pendidikan informal, proses internalisasi multikulturalisme dijalankan melalui nilai-nilai keluarga dan lingkungan dengan melaksanakan nilai multikulturalisme dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Implementasi nilai-nilai multikulturalisme dapat dibangun prasangka terhadap etnis, agama, dan budaya lain, terbuka untuk perbedaan, toleransi, saling menghormati perbedaan dan kerjasama. Menghormati pemikiran yang berkembang di dalam keluarga adalah bagian dari pandangan multikulturalisme yang ada di dalam keluarga. Begitupun juga sekolah harus menjadi yang terdepan dalam melakukan pendidikan multikulturalisme. Sekolah harus memnghadirkan polapikir yang multidimensional dalam melihat berbagai problem dan frnomena yang ada, siswa jangan dikotakan dalam satu frem pemikiran saja.

Kekayaan budaya yang beragam dipandang juga sebagai media pembelajaran untuk mengapresiasi perbedaan nilai, pandangan, dan perilaku dalam pergaulan.3 Dengan demikian akan membentuk karakter multikultural pada siswa yang peka terhadap

2 Ibid, 209

3 Satianingsih, Rarasaning, Sunu Catur Budiyono, and Marianus Subandowo,

‘Character Education in Multicultural Society: Case in Indonesia’, International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, 7.4 (2020), 337–44.

48 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie

perbedaan, kepedulian, empati, dan partisipasi dalam kepentingan bersama. Nilai-nilai inilah yang menjadi dasar saling pengertian dalam hidup bersama dalam keberagaman. Dengan demikian, siswa yang dibekali dengan nilai-nilai hidup berdampingan secara damai bukan hanya sebagai wujud koeksistensi melainkan pro-eksistensi.

Pendidikan harus mampu berhenti meningkatkan nilai-nilai kebisuan, ketidaktahuan, ketimpangan, prasangka buruk, ketidakadilan, dan ketidakpedulian digeser ke nilai-nilai inklusif, peduli dan berbagi, kesetaraan, keadilan, dan simpati.

Nilai-nilai universal dalam ajaran Islam meliputi kebenaran, keadilan, kemakmuran, menjaga hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan Tuhan, tidak bertindak sewenang- wenang kepada orang lain, saling membantu, menghormati satu sama lain, dan saling mencintai.4 Dalam ajaran Katolik, kami menemukan universal mengajarkan nilai-nilai tentang kebenaran, keadilan, kesejahteraan umat manusia, cinta kasih, menjaga keharmonisan dengan Tuhan, dan antara manusia dengan manusia lainnya. Penafsiran teks agama yang inklusif akan memberikan kontribusi positif bagi perkembangan perspektif teologis yang eksklusif dan tertutup.5

Selain memahamai Islam yang inklusif, kita dapat Membangun multikulturalisme melalui wawasan kabangsaan dengan memahami dasar Negara. Konsep kebangsaan merupakan hal yang sangat mendasar bagi bangsa Indonesia. Dalam implementasinya, konsep kebangsaan itu telah dijadikan dasar negara dan ideologi nasional yang terumus di dalam Pancasila sebagaimana terdapat dalam Alinea IV Pembukaan UUD 1945.

Konsep kebangsaan itulah yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain. Wawasan kebangsaan Indonesia

4 Yusuf, Muhammad, Achmad Abubakar, Mardan Mardan, Nahdhiyah Nahdhiyah, and Abd Rahim, The Dialogue of Multicultural Education and Harmony in Prosperity Based on the Qur’an, International Journal on Advanced Science, Education, and Religion, 3.3 (2020), 107–19.

5 Hadi, Muhammad Fazlurrahman, and Muhammad Arfan Mu’ammar, Multicultural and Citizenship: Reconstruction of Indonesia Islamic Thought’, 436 (2020), 1129–

33.

Hakiman

Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 49 menolak segala diskriminasi suku, ras, asal-usul, keturunan, warna kulit, kedaerahan, golongan, agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kedudukan maupun status sosial. Konsep kebangsaan kita bertujuan membangun dan mengembangkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Wawasan kebangsaan Indonesia memberi peran berarti untuk proaktif dalam mengantisipasi perkembangan lingkungan sosial kemasyarakatan. Menyikapi permasalahan tanpa konfrontasi merupakan aset nasional yang diperlukan dalam mengembangkan nilai kemanusiaan yang beradab dan sebagai percontohan terhadap negara lain. Wawasan kebangsaan mengamanatkan kepada seluruh bangsa agar menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. Wawasan kebangsaan mengembangkan persatuan Indonesia yang berasas pada Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, bertekad untuk mewujudkan bangsa yang maju dan mandiri serta sejahtera lahir batin.

Sedangkan nilai dasar wawasan kebangsaan yang terwujud dalam persatuan dan kesatuan bangsa memiliki enam dimensi yang bersifat mendasar dan fundamental, yaitu: Pertama, penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, tekad bersama untuk berkehidupan kebangsaan yang bebas, merdeka, dan besatu. Ketiga, cinta tanah air dan bangsa. Keempat, demokrasi atau kedaulatan rakyat.

Kelima, kesetiakawanan sosial, dan kelima, masyarakat adil- makmur.

Keanekaragaman yang menjadi meinstream mulkulturalisme tidak hanya menyangkut keanekaragaman seni, tetapi keanekaragaman dalam cara pandang, berfikir, berideologi, berpolitik, berpendapat dan lain-lain. Multikulturalisme bukan hanya sebatas wacana tetapi sebuah ideologi yang harus diperjuangkan. Masyarakat harus mampu menyikapi berbedaan dengan penuh toleran dan egaliter, dengan mengakui realitas

50 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie

perbedaan yang dialami oleh setiap individu dalam memahami hakikat manusia yang komplek dan beragam secara kultur serta mereflesikan pentingnya budaya, ras, etnisitas, agama, status sosial, ekonomi, golongan, profesi, seksualitas serta gender, dan lain-lain.

Masyarakat harus mempunyai sikap peduli dan mau mengerti (difference), atau politik pengakuan terhadap orang-orang dikelompok minoritas (politics of rekognition).

Keputusan bersama antara menteri pendidikan, menteri agama dan menteri dalam negeri berkaitan dengan intoleransi dalam dunia pendidikan, semestinya tidak terjadi kalau masyarakat mempunyai paradigma pluralis dan kesadaran multukultural.

Perang wacana dan Konflik horizontalpun akan terhindar jika kesadaran masyarakat tentang keberagaman menjadi prilaku dalam kehidupan sehari-hari. Konsep multikulturalisme mengakomodir kesetaraan dan perbedaan yang akan mampu meredam konflik vertikal dan horizontal.6

Stigma yang berkembang bahwa multikulturalisme dan pluralisme merupakan bagian pemikiran yang liberal, merupakan hal perlu diluruskan. Pandangan paham liberal dengan multikultural sangat bertolak belakang dan tidak mendasar, karena liberal lebih pada kenakalan berfikir yang bebas sedangkan multikultural berbicara tentang keragaman. Demokrasi liberal di negara eropa dalam tulisan Davids dituduh dalam menghapus multikulturalisme, padahal yang terjadi adalah multikulturalisme di eropa gagal karena adanya hegemoni mayoritas kepada minoritas.7

Kesadaran Multikultural dapat dilakukan melalui pendidikan karena ketika secara sadar lembaga pendidikan menanamkan sejak dini tentang keberagaman, maka akan menekan sifat intolerasi di masyarakat. Pendidikan monokultur bukan hanya telah

6 Dudung Abdurrahman, Komunitas Multikultural Dalam Sejarah Islam Periode Pertengahan’, (Yogyakarta: Ombak, 2016), 9.

7 Nuraan Davids, Islam and Multiculturalism in Europe: An Exposition of a Dialectical Encounter’, American Journal of Islamic Social Sociences, 32.2 (2016).

Hakiman

Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 51 menyebabkan proses terjadinya peminggiran budaya non-dominan tetapi juga menumbuhkan sensitivitas terhadap perbedaan.8 Fungsi pendidikan bukan hanya memberi pengetahuan kepada mereka, tetapi ada yang lebih penting yaitu memberikan pendidikan nilai.

Tugas pendidikan adalah change behavior (perubahan prilaku), sehingga pendidikan bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge tetapi berfungsi sebagai transfer of value.

Nilai merupakan sifat yang melekat pada sesuatu (sistem kepercayaan) yang telah berhubungan dengan subjek yang memberi arti (manusia yang meyakini). Nilai bersumber dari ajaran agama (nilai Ilahiyah) dan bersumber dari kesepakatan manusia (nilai insaniyah) yang telah teruji oleh zaman. Nilai akan mengarahkan jalan hidup seseorang, sehingga semua tindakan berdasarkan pada nilai yang diyakininya.

Pendidikan agama yang apresiatif terhadap perbedaan agama dan perbedaan kultur akan memberikan dampak pada peserta didik menjadi manusia yang menghargai perbedaan dan menjadikan perbedaan bagian dari kehidupannya.9 Pendidikan nilai multikulturalisme menjadi penting bagi keberlangsungan keberagaman dalam bernegara, sehingga keberadaanya sangat penting untuk diberikan dan diinternalisasikan. Nilai yang dapat ditanamkan pada siswa sejak dini seperti: nilai multikulturalisme, toleransi, budaya, rahmatal lilalamiin, persaudaraan dan pancasila.

Nilai multikulturalisme membuka wawasan bahwa negara Indonesia adalah negera yang beraneka ragam ras, suku dan agama yang perlu dijaga keutuhannya. Menanamkan bahwa perbedaan adalah suatu keniscayaan, perbedaan adalah rahmat dan merupakan bentuk kekayaan kebudayaan. Nilai toleransi yang bukan hanya ditunjukan pada perbedaan pandangan pendapat dan pemikiran, tetapi ditunjukan pada penghormatan terhadap agama

8 Zaenudin Maliki, Sosiologi Pendidikan, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2008), 253.

9 Zuli Qodir, Radikalisme Agama Di Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2014), hal 216.

52 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie

lain yang sudah diatur dalam ajaran agama. Sikap menghargai dan toleran kepada pemeluk agama lain adalah mutlak untuk dijalankan, sebagai bagian dari keberagaman (pluralitas). Namun anggapan bahwa semua agama adalah sama (pluralisme) tidak diperkenankan, dengan kata lain tidak menganggap bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang kalian sembah.

Nilai budaya yang merupakan hasil karya, cipta, dan karsa para leluhur nenek moyang bangsa, yang memberikan kekuatan jiwa dan batin pada setiap insan. Nilai-nilai luhur budaya yang mengakar merupakan perekat kesatuan dan persatuan bangsa.

Membudayakan gotong royong, guyub rukun, ngayomi, dan saling asah asih asuh, merupakan salah satu sarana untuk menghindari sifat-sifat ekslusif. Menciptakan masyarakat multikultural tidaklah cukup untuk mengalokasikan ruang kepada yang lain tetapi juga menerima transformasi yang kontak budaya dan pertukaran budaya dengan yang lain.10

Nilai rahmatan lil-‘alamiin yang menggambarkan watak anti- kekerasan dan sebaliknya mendorong kebaikan-kebaikan menyeluruh kepada sesama manusia dan alam. Rahmat bagi seluruh alam atau rahmatan lil-‘ālamin memiliki implikasi sosial, budaya, dan politik yang penting. Tujuan dari kata ini adalah terciptanya harmoni antara Allah, alam, dan manusia. Ketika nilai rahmatan lil-alamiin itu menyatu pada diri seseorang, maka tidak akan terjadi kekerasan dan teror terhadap orang lain apalagi dengan mengatasnamkan agama.

Nilai persaudaraan yaitu persaudaan diantara ummat Islam (ukhuwah islamiyah), persaudaraan diantara sesama manusia tanpa memandang latar belakangnya (ukhuwah basyariah), dan persaudaraan antara sesama manusia atas dasar se bangsa dan se tanah air (ukhuwah wathaniyah). Penanaman nilai, bahwa persaudaraan yang dijalin bukan berdasarkan satu aqidah, tetapi persaudaraan dibangun atas kemanusiaan dan kenegaraan.

10 Marranci, Gabriele, ‘Multiculturalism, Islam and the Clash of Civilisations Theory: Rethinking Islamophobia’, Culture and Religion, 5.1 (2004), 105–17.

Hakiman

Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 53 Nilai Pancasila yang merupakan kristalisasi nilai-nilai agama yang dikaui kebenarannya dimana di dalamnya terdapat nilai dasar, nilai instrumental dan nilai praksis. Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila seperti sila pertama, yaitu kewajiban percaya dan taqwa kepada Tuhan, saling menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama, saling menghormati kebebasan dalam menjalankan ibadah serta tidak memaksakan satu agama dan kepercayaan kepada orang lain. Nilai nasionalisme, nilai pancasila, nilai multikulturalisme, nilai toleransi, nilai budaya, nilai rahmatan lil-‘alamiin dan nilai jihad itu sendiri dapat menjadi materi yang dipahamkan, ditanamkan dan diinternalisasikan pada peserta didik oleh guru.11

Ketika kesadaran multukultural sudah menjadi menjadi pemahaman dan pengamalan masyarakat indonesia maka pekerjaan pemerintah menjadi ringan dan tidak perlu membuat kebijakan yang bersinggungan dengan kebebasan dan intoleransi.

Multikulturalisme merupakan kondisi sunatullah yang tidak bisa ditolak keberadaanya, kalau menentangnya maka kita bagian dari orang yang menentang tuhan, karena tuhan menciptakan keanekaragaman apa yang ada di muka bumi. Kesadaran multikultural diciptakan sendiri melalui pemahaman dan keterbukaan hati dan pikiran untuk melihat realitas perbedaan dalam bernegara.

Musa Asy’arie mengungkapakn bahwa realitas plural itu merupakan kodrat kehidupan manusia itu sendiri yang tidak bisa di tolak atau diingkari dan merupakan kehendak tuhan sendiri12. Tuhan menciptakan sesuatu tidak bersifat tunggal, karena bisa saja tuhan itu menjadikan tunggal kalau dia mau. Tuhan menciptakan beraneka ragam dan plural supaya diantara mereka saling mengenal sebagaimana dalam al Quran Surat al-Hujurat ayat 13.

11 Hakiman, ‘Penguatan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Menangkal Bahaya Radikalisme’, Nur El-Islam, 5.1 (2018), 1-10.

12 Musa Asy’arie, Filsafat Islam Sunnah Nabi Dalam Berfikir, (Yogyakarta, 2017), 82.

54 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie

Multikulturalisme dalam bernegara saat ini selalu dihubungkan dengan keanekaragaman agama, budaya, sosial, politik, etnis budaya yang lain-lain, padahal berbicara multikulturalisme juga berbicara tentang keadaan jiwa dan fisik seseorang yang beranekaragam. Manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna dibanding dengan ciptaan yang lainnya, sehingga perlu penghargaan dan penghormatan terhadap hasil ciptaan Tuhan. Manusia dilahirkan dalam keadaan sempurna, tetapi disisi lain ada manusia yang dilahirkan dalam keadaaan kurang sempurna baik secara fisik maupun mental.

Negara yang multikultural dalam segi kemanusia harus memberikan kesetaraan dan persamaan. Meminjam pemikiran Musa Asy’arie bahwa prinsip persamaan dan kebersamaan artinya semua kelompok sosial pada dasarnya mempunyai kedudukan yang sama tanpa harus menghilangkan kedudukan dan stratifikasi sosial yang telah menjadi realitas.13 Dalam hal ini Musa Asy’arie tidak menyebutkan kelompok sosial yang mengarah pada kelompok minoritas seperti disabilitas, baik disabilitas fisik maupun disabilitas intelektual.

Kehadiran kelompok minoritas kelompok disabilitas ini seakan-akan lepas dari pandangan kaum pengusung multikultural, sehingga pluralitas hanya terkooptasi pada keragaman agama, suku dan budaya dan lain-lain. Multikutural juga berbicara tentang kaum disabilitas, sehingga dalam pendidikan multikultural harus menyediakan dan mengakomodasi mereka.14 Kesadaran multikultural mengarah dalam berbagai aspek yang sampai saat ini kajian mengenai disabilitas sebagai realitas multikultural masih minim. Negara muslim belum banyak melakukan kajian penelitian disabilitas sebagai kesadaran dalam melawan isu budaya ini.15

13 Ibid, hal 82.

14 James A Bank , Multicultural Education Issues and Perspectives, (America: Wiley, 2010), hal 61.

15 Ibrahim & Ismail, Muslims with Disabilities: Psychosocial Reforms from an Islamic Perspective, Journal of Disability & Religion, 22.1 (2017), 1–14.

Hakiman

Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 55 Sebagai pengusung kebebasan dan keberagaman yang terbingkai dalam keasadaraan Multikulturalisme perlu menyadari bahwa ada ketimpangan dalam wacana dan paradigmanya.

Kesibukan dalam melawan kaum monokultural yang terkooptasi pada agama dan budaya hanya akan memudarkan tanggungjawab kita pada kaum minoritas. Disinyalir kegagalan multikulturalisme dalam bernegara salahsatunya adanya hegemoni mayoritas terhadap minoritas.

Dalam dokumen Lurus Jalan Terus, 70 Tahun Musa Asy'arie (Halaman 70-80)