• Tidak ada hasil yang ditemukan

Siapa Penyandang Disabilitas ?

Dalam dokumen Lurus Jalan Terus, 70 Tahun Musa Asy'arie (Halaman 130-138)

Pengertian disabilitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang menyandang (menderita) sesuatu, sedangkan disabilitas merupakan kata bahasa Indonesia yang berasal dari kata serapan bahasa Inggris disability yang berarti ketidakmampuan. Disabilitas sering dipahami dengan adanya suatu kelainan pada organ tubuh makhluk hidup yang tidak lengkap.

Individuals with Disabilities Education Act Amandements (IDEA) 1997 yang ditinjau kembali 2004 secara umum mengklasifikasikan disabilitas menjadi 3, yaitu disabilitas fisik, disabilitas emosi dan perilaku serta disablitas intelektual. Yang termasuk dalam disabilitas fisik, yaitu: tunarungu (Tuli), tunanetra (Buta) dan tunadaksa (disablitas fisik). Selanjutnya, yang termasuk dalam

106 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie

ketegori disabilitas emosi dan perilaku, yaitu: tunalaras (disablitas laras), gangguan komunikasi dan hiperaktif. Terakhir yang termasuk dalam ketegori disabilitas intelektual, yaitu: tunagrahita (disabilitas grahita), slow learner, kesulitan belajar khusus, anak berbakat (gifted), autisme dan indigo.

PD adalah orang yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sikap masyarakatnya dapat menemui hambatan yang menyulitkan untuk berpartisipasi penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak (Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 Tentang Pengesahan Hak-Hak Penyandang Disabilitas). PD dapat dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu mereka yang mengalami penurunan fungsi tubuh, keterbatasan dalam beraktivitas dan pembatasan dalam berprestasi. Termasuk dalam PD adalah orang-orang dengan kondisi kesehatan seperti cerebral palsy, spina bifida, distrofi otot,cedera tulang belakang traumatik, down syndrome, dan anak-anak dengan gangguan pendengaran, visual, fisik, komunikasi dan gangguan intelektual (WHO, 2012).

Beberapa istilah digunakan untuk merujuk orang berkebutuhan khusus. Istilah ‘luar biasa’ atau ‘exceptional

umumnya digunakan untuk menggambarkan siswa yang mengalami kesulitan belajar dan sebaliknya, siswa dengan kemampuan menonjol.2 Khanif dan Wiratraman menjelaskan bahwa penyandang disabilitas (PD) adalah orang yang mengalami hambatan baik secara fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik untuk berkomunikasi dan berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.3 Terlepas dari istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman dalam kemampuan akademik, kejuruan, dan sosial,

2 Banks, A.J., dan Banks, C.A.M. Multicyultural Education 7th Ed. Issues and Perspectives. 2010. USA : John Wiley. Lihat pula Irwanto, Kasim, E.R., Fransiska, A., Lusli, M., dan Okta, S. 2010. Analisis Situasi Penyandang Disabilitas Di Indonesia:

Sebuah Desk-Review. Jakarta : Pusat Kajian Disabilitas Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Dan Politik Universitas Indonesia Depok.

3 Khanif, E. dan Wiratraman, H.P. 2017. Hak Asasi Manusia : Dialektika Universalisme vs Relativisme di Indonesia. Jakarta : LKIS Pelangi Aksara.

Siti Nurina Hakim

Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 107 kurang tepat jika disebut ada dua kategori siswa: siswa biasa dan dan siswa penyandang disabilitas. Semua anak tentu berbeda satu sama lain. Siswa PD adalah mereka yang memiliki kemampuan yang berbeda sehingga memerlukan program pembelajaran yang dirancang khusus untuk mencapai kesetaraan pendidikan. Mereka seperti siswa lain dimana semua siswa berhak memperoleh manfaat dari pendidikan yang tepat yang memungkinkan mereka untuk melakukan dan menikmati hal-hal yang sebelumnya tidak dapat mereka lakukan secara mandiri. Bahkan Purwanti dan juga M. Yoni Yulianto (dalam Khanif & Wiratraman) menolak penggunaan kata PD apalagi penyandang cacat, aktivis difabel ini mengusulkan kata “difabel” sebagai penggantinya dengan tujuan mengubah perspektif masyarakat bahwa difabel bukanlah orang yang tidak dapat melakukan sesuatu seperti orang normal, melainkan sebagai orang yang dapat melakukan/berbuat sesuatu dengan kemampuan dan cara yang berbeda.4

Ada beberapa istilah yang digunakan untuk mendefinisikan kebutuhan khusus yaitudisability, impairment, dan handicap.

World Health Organization (WHO) (dalam Desiningrum, 2016) mendefinisikan masing-masing istilah, sebagai berikut: Disability (disabilitas) yaitu keterbatasan atau ketidakmampuan seseorang saat melakukan suatu aktivitas, biasanya digunakan pada tingkat individu. Impairment yaitu kehilangan atau ketidaknormalan yang terjadi secara psikologis atau pada struktur dan fungsi anatomi, biasanya digunakan pada tingkat organ. Handicap yaitu ketidakberuntungan seseorang yang disebabkan oleh disabilitas atau impairment yang membatasi atau menghambat aktivitas secara normal. Sebagai contoh, seseorang yang menggunakan kursi roda mungkin akan mengalami handicap yang disebabkan oleh ketidaksesuaian arsitektur bangunan atau reaksi orang lain terhadap pengguna kursi roda. Jadi orang lain juga bisa menjadi handicap ketika memiliki perbedaan dengan orang kebanyakan (warna kulit, ukuran tubuh, penampilan, bahasa, dsb) dengan

4 ibid

108 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie

memberikan mereka cap tertentu (stereotipe) atau tidak memberi mereka kesempatan untuk melakukan sesuatu yang bisa mereka lakukan.5

Penyandang disabilitas menurut UU No. 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas pasa 1 ayat 1 : Penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, inetelektual, mental dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Setiap orang berpotensi menjadi disabilitas. Seseorang dapat menjadi disabilitas bukan hanya karena kelainan dalam kandungan, namun disabilitas juga dapat terjadi pada anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua. Setiap orang dapat mengalami kecelakaan di jalan raya, kecelakaan kerja, maupun menjadi korban bencana alam. Hal tersebut dapat menyebabkan seseorang menjadi penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas adalah mereka yang memilikipenderitaan fisik, mental, intelektual, atau sensorik dalam jangka waktu lama dimana interaksi dengan berbagai hambatan dapat menyulitkan partisipasi penuh dan efektif dalam masyarakat berdasarkan kesetaraan dengan yang lainnya.6

Kecacatan atau handicap lebih mengacu pada tantangan yang dihadapi PD dalam berinteraksi dengan lingkungan fisik atau sosial.

Beberapa kondisi mungkin menghambat anak PD di suatu lingkungan, misalnya anak dengan satu lengan dapat berkompetisi dengan baik secara akademis dengan teman sekelasnya, namun cenderung kesulitan ketika berhubungan dengan aktifitas fisik.

Terkadang mereka juga mungkin menemui hambatan yang tidak ada hubungannya dengan kondisi mereka namun hasil dari sikap negatif dan perilaku tidak pantas dari pihak lain yang membatasi akses dan kemampuan mereka untuk berpartisipasi penuh di

5 https://www.usd.ac.id/pusat/psibk/category/artikel/individu-berkebutuhan- khusus/

6 Latief, M. S. (Ed.). (1999). Jalan Kemanusiaan: Panduan untuk memperkuat hak asasi Manusia. Lapera Pustaka Utama. hlm. 40-50

Siti Nurina Hakim

Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 109 sekolah, pekerjaan atau kegiatan masyarakat. Ketidakmampuan fisik, perilaku, atau kognitif dianggap suatu disabilitas ketika kondisi tersebut berdampak buruk pada perkembangan belajar siswa. Siswa PD berhak mendapatkan pendidikan khusus karena karakter fisik atau perilaku mereka termasuk dalam satu atau lebih kategori berikut:

a. Keterbelakangan mental (disabilitas dalam perkembangan) (Beirne-Smith, Patton, & Kim, 2006) b. Kesulitan belajar (Mercer & Pullen, 2009)

c. Gangguan emosi atau perilaku (Kauffman &

Landrum, 2009)

d. Gangguan komunikasi (bicara dan bahasa) (Anderson & Shames, 2006)

e. Gangguan pendengaran (Andrews, Leigh & Weiner, 2004)

f. Gangguan visual (LaVenture, 2007)

g. Gangguan fisik dan kesehatan (Heller, Forney, Alberto, Best & Schwartzman,

h. 2009)

i. Autisme (Webber & Scheuermann, 2008) j. Trauma cedera otak (Heller et al., 2009) k. Disabiltas ganda (Snell & Brown, 2006) l. (Banks and Banks, 2010)

110 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie

Sumber : https://www.kajianpustaka.com/2018/07/pengertian-jenis-dan-hak- penyandang-disabilitas.html

Berikut ini beberapa pengertian penyandang disabilitas dari beberapa sumber Undang-undang :

a. Menurut Resolusi PBB Nomor 61/106 tanggal 13 Desember 2006, penyandang disabilitas merupakan setiap orang yang tidak mampu menjamin oleh dirinya sendiri, seluruh atau sebagian, kebutuhan individual normal dan/atau kehidupan sosial, sebagai hasil dari kecacatan mereka, baik yang bersifat bawaan maupun tidak, dalam hal kemampuan fisik atau mentalnya.

b. Menurut Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, penyandang cacat/disabilitas merupakan kelompok masyarakat rentan yang berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya.

c. Menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, penyandang cacat/disabilitas digolongkan sebagai bagian dari

Siti Nurina Hakim

Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 111 masyarakat yang memiliki kehidupan yang tidak layak secara kemanusiaan dan memiliki kriteria masalah sosial.

d. Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat menganggu atau merupakan rintangan dan hamabatan baginya untuk melakukan secara selayaknya, yang terdiri dari, penyandang cacat fisik; penyandang cacat mental;

penyandang cacat fisik dan mental.

e. Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, Penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga Negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Menurut Reefani,7 penyandang disabilitas dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

a. Disabilitas Mental

Disabilitas mental atau kelainan mental terdiri dari:

Mental Tinggi. Sering dikenal dengan orang berbakat intelektual, di mana selain memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata dia juga memiliki kreativitas dan tanggungjawab terhadap tugas.

Mental Rendah. Kemampuan mental rendah atau kapasitas intelektual/IQ (Intelligence Quotient) di bawah rata-rata dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu anak lamban belajar (slow

7 Reefani, N. K. (2013). Panduan Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta:

Imperium, 17.

112 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie

learnes) yaitu anak yang memiliki IQ (Intelligence Quotient) antara 70-90. Sedangkan anak yang memiliki IQ (Intelligence Quotient) di bawah 70 dikenal dengan anak berkebutuhan khusus.

Berkesulitan Belajar Spesifik. Berkesulitan belajar berkaitan dengan prestasi belajar (achievment) yang diperoleh.

b. Disabilitas Fisik

Disabilitas Fisik atau kelainan fisik terdiri dari:

Kelainan Tubuh (Tuna Daksa). Tuna daksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan (kehilangan organ tubuh), polio dan lumpuh.

Kelainan Indera Penglihatan (Tuna Netra). Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. Tunanetra dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan yaitu: buta total (blind) dan low vision.

Kelainan Pendengaran (Tunarungu). Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara.

Kelainan Bicara (Tunawicara). Tunawicara adalah seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikiran melalui bahasa verbal, sehingga sulit bahkan tidak dapat dimengerti oleh orang lain. Kelainan bicara ini dapat dimengerti oleh orang lain.

Kelainan bicara ini dapat bersifat fungsional di mana kemungkinan disebabkan karena ketunarunguan, dan organik yang memang disebabkan adanya ketidaksempurnaan organ bicara maupun adanya gangguan pada organ motorik yang berkaitan dengan bicara.

c. Tunaganda (disabilitas ganda)

Tunaganda atau penderita cacat lebih dari satu kecacatan (cacat fisik dan mental) merupakan mereka yang menyandang

Siti Nurina Hakim

Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 113 lebih dari satu jenis keluarbiasaan, misalnya penyandang tuna netra dengan tuna rungu sekaligus, penyandang tuna daksa disertai dengan tuna grahita atau bahkan sekaligus.

Derajat kecacatan penyandang disabilitas, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:

104/MENKES/PER/II/1999 tentang Rehabilitasi Medik pada Pasal 7 mengatur derajat kecacatan dinilai berdasarkan keterbatasan kemampuan seseorang dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari, yaitu sebagai berikut:

a. Derajat cacat 1: Mampu melaksanakan aktivitas atau mempertahankan sikap dengan kesulitan.

b. Derajat cacat 2: Mampu melaksanakan kegiatan atau mempertahankan sikap dengan bantuan alat bantu.

c. Derajat cacat 3: Dalam melaksanakan aktivitas, sebagian memerlukan bantuan orang lain dengan atau tanpa alat bantu.

d. Derajat cacat 4: Dalam melaksanakan aktivitas tergantung penuh terhadap pengawasan orang lain.

e. Derajat cacat 5: Tidak mampu melakukan aktivitas tanpa bantuan penuh orang lain dan tersedianya lingkungan khusus.

f. Derajat cacat 6: Tidak mampu penuh melaksanakan kegiatan sehari-hari meskipun dibantu penuh orang lain.

Dalam dokumen Lurus Jalan Terus, 70 Tahun Musa Asy'arie (Halaman 130-138)