Kholiq Asyhuri
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 95 atau agama lokal di Indonesia bisa mencapai angka ratusan bahkan ribuan.10
Seiring dengan tingkat pluralitasnya bangsa Indonesia seperti tergambar di atas, maka pendidikan multikultural (khususnya di persekolahan) bisa dimaknai sebagai pendidikan yang memberikan hak dan perlakuan kesejajaran atas pluralitas (perbedaan) peserta didik dalam hal kasta, ideologi, warna kulit, etnis, suku, agama, bangsa, bahasa, budaya, adat-istiadat, kepercayaan, gender, fisik, status sosial-ekonomi, maupun kecerdasan dan lain-lain perbedaan. Jadi, secara singkat pendidikan multikultural adalah pluralisme dalam pluralitas dan heteroginitas peserta didik.11
Kemudian Musa Asy’arie menekankan bahwa multikulturalisme pada dasarnya merupakan kekuatan pemikiran yang memandang bahwa pluralitas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat itu ada dan harus tetap dijaga keberadaanya agar keseimbangan kehidupan berbangsa tidak jatuh pada ekstrimisme ideologi tertentu saja. Jika pemikiran multikulturalisme itu terjaga, maka akan terjadi pengayaan spiritualitas untuk memperkuat pandangan kesatuan dalam keberagaman yang sesungguhnya telah mendasari bagi kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara.12
96 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
berbeda. Kultur pada dasarnya mencakup ras, etnis, nasionalitas, agama, gender, jenis kelamin, dan eksepsionalitas.13
Atas hal itu secara yuridis Pendidikan Multikultural tersirat dalam UU 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Pada Bab III tentang Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan khususnya pasal 4, (1) disebutkan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif, dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural (cetak miring dari penulis), dan kemajemukan bangsa.
Berdasarkan prinsip tersebut, maka pada pasal 5 disebutkan bahwa: (1) setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu; (2) warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus; (3) warga negara di daerah terpencil dan terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus; (4) warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus; dan (5) setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat. 14
Dengan telah jelasnya landasan yuridis maupun ilmiah sebagaimana dipaparkan para tokoh, maka bagi Musa Asy’arie pendidikan multikulturalisme tidak bisa ditawar-tawar lagi, dan dalam kenyataannya pendidikan multikulturalisme akan terbentur oleh adanya pandangan keagamaan yang tertutup untuk mengakui kebenaran agama lainnya. Pandangan bahwa kebenaran agama adalah mutlak memang tidak bisa dihindarkan, karena semua agama mengajarkan demikian. Akan tetapi tidak seharusnya diikuti oleh pandangan untuk mengatakan bahwa agama yang ada di luar dirinya adalah sesat, salah dan dihakiminya untuk dilenyapkan.
13 Rochmad Wahab, “Pendidikan Multikultural,” TIMESINDONESIA, Minggu, 09 Juni 2019.
14 Lebih lanjut bisa dibaca UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Kholiq Asyhuri
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 97 Karena pada kenyataannya, dalam setiap agama apa pun, di dalamnya selalu terdapat sentuhan multikulturalisme yang berbasis pada wilayah, budaya dan pengalaman hidup tempat seseorang dibesarkan.
Pendidikan multikultural dalam suatu agama memang tidak mudah karena bisa terjebak pada pandangan bahwa urusan agama adalah urusan individual saja. Dari sini diperlukan suatu sistem dan metodologi pendidikan agam berbasis multikulturalisme, sehingga tidak terjadi konflik antara pendidikan agama dan pendidikan multikulturalisme.
Belajar dari pengalaman hidup seorang Gus Dur, kata mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, pendidikan agama dan pendidikan multikulturalisme bisa berjalan seimbang dan tidak perlu dipertentangkan satu sama lainnya. Pengalaman Gus Dur yang lahir dari pendidikan agama yang kental sejak pesantren di Jawa maupun pengalaman pendidikannya di Mesir dan Irak, telah membuahkan pandangan multikulturalismenya yang kuat. Tinggal masalahnya adalah bagaimana pengalaman multikulturalismenya Gus Dur diterapkan dalam sistem pendidikan kita.15
Menjawab tantangan tersebut, Musa Asy’arie mencoba menyikapi sendiri dengan membidani lahirnya Program Doktor (S- 3) Pendidikan Agama Islam Demokrasi dan Multukultural di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Beliau pula yang sekaligus memimpin program studi itu dengan dibantu oleh Prof.
Dr. Waston, M.Hum sebagai sekretaris. Ia tidak canggung kendati sebelumnya sempat menjadi Direktur Program Pascasarjana di kampus sama, bahkan pernah menjabat rektor di UIN Suka Yogyakarta. Sikap itu di antara bukti kepribadiannya yang multikulturalis.
Berpijak dari kepribadiannya yang multikulturalis itulah, maka mahasiswa Program Doktor PAI di UMS pun berasal dari berbagai kalangan yang memiliki beragam paham dan aliran
15 Ibid., Asy’arie, Basis Multikulturalisme, 111-112.
98 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
keagamaan, ada yang Muhammadiyah, Nadhliyin, dan lain-lain.
Mereka juga berasal dari berbagai daerah di Indonesia, tidak sekadar Jawa tapi juga luar Jawa. Sehingga tepatlah bila Universitas Muhammadiyah Surakarta kemudian menjelma sebagai sebuah makrokultur dari kumpulan varian mikrokultur yang dibawa oleh para mahasiswa dan para dosennya.16 Hal ini searah pula dengan Padepokan Musa Asy’arie (PADMA), yang ternyata juga mampu mewadahi kalangan intelektual maupun pemburu pengetahuan dengan beragam kultur yang dibawa.
Sosok pribadi Musa Asy’arie yang menjadi tokoh Muhammadiyah memiliki basic Pondok Pesantren di Tremas Pacitan dan bahkan kini ikut menggagas berdirinya Universitas Attarmasie di Pondok tersebut.17 Budaya pesantren yang melekat pada diri beliau inilah yang mewarnai sepak terjangnya kala berkiprah di masyarakat. Bahkan latar belakang ngajinya di Pondok itu tampak ikut mewarnai jurus tendangannya, dan bila dulu memilih mondok di Gontor Ponorogo atau pondok lain mungkin akan beda pula gayanya.
Lebih dari itu, saat kuliah yang ia mengambil fakultas Ushuluddin di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, ini jelas mempengaruhi cara berpikirnya yang senantiasa harus radikal dan fundamental. Dalam implementasi pemikirannya, niscaya memudahkan dirinya untuk bisa menerima dan beradaptasi dengan berbagai macam aliran dan paham apalagi budaya. Hal itu dibuktikan dengan keberaniannya menyunting teman kuliah di IAIN, Muslihah yang menjadi aktivis PMII, padahal ia sendiri aktivis HMI. Pada saat itu antara PMII dan HMI seakan dua sudut yang susah dipertemukan. Namun, Musa Asy’arie
16Waston, Abdullah Aly, Pendidikan Multikultural dalam Perguruan Tinggi Islam, Sebuah Implementasi Konseptual Pemikiran James A. Banks, makalah APPPTMA KE- 8, Medan, 30 November- 03 Desember 2018.
17 Lihat postingan FB Musa Asy’arie, 22 Maret 2021
Kholiq Asyhuri
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 99 ternyata mampu menaklukkan kembangnya PMII. Itulah sebuah perwujudan sosok multikulturalis.18
Sebagai ilmuwan, Musa Asy’arie juga tidak membatasi sumber referensi yang digunakan. Ia bahkan beberapa kali menyunting pendapat Syuriah PBNU KH Achmad Sidiq tentang konsep ukhuwah.19 Bahkan ia pun tak enggan mengakui bahkan mencontohkan sosok Gus Dur sebagai tokoh yang memiliki pandangan kuat tentang multikuturalisme, sebagaimana disinggung pada bagian atas tulisan ini. Alhasil, tepatlah bila sosok Musa Asy’arie kita nobatkan sebagai pionir pendidikan multikultural di Indonesia sekaligus sebagai pribadi multikulturalis.
Yang pasti, tokoh serba bisa ini mampu mencari titik temu di antara beragam kultur. Hal itu sejalan dengan pandangan beliau bahwa di balik perbedaan tentu ada persamaan, dan di balik persamaan tentu ada perbedan. Semestinya perbedaan tidak dipertajam menjadi diskriminatif, apalagi untuk politik kekuasaan.
Perbedaan harus dilihat dari sisi positifnya untuk membuka peluang adanya kerja sama dan kebersamaan, sehingga dalam konstruksi berpikir positif perbedaan justru jadi perekat kebersamaan. Sejatinya dalam kehidupan bangsa yang plural, maka adanya titik-titik persamaan harus dikembangkan lebih positif, sehingga penajaman perbedaan bisa diperkecil untuk mendorong persamaan membangun kerja sama dan saling pengertian dalam mewujudkan cita-cita sosial memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa. 20
Di negara Pancasila, sambung guru besar filsafat Islam ini sejatinya perbedaan itu merupakan berkah dan rahmat Tuhan, bukan bencana dan laknat dari Tuhan. Pancasila harus menjadi
18 Lebih jauh bisa dibaca tulisan teman kuliah Musa Asy’arie, Ahmad Zainuddin,
”Sosok Musa Asy’arie yang Saya Kenal,” stie-sbi-ac.id, 04 Januari 2017.
19 Musa Asy’arie, Islam Keseimbangan Rasionalitas, Moralitas, dan Spiritualitas, (Yogyakarta, LSFI, 2005), 67-70.
20 Musa Asy’arie, Bangsa Pendendam Tidak Pernah Besar, (Yogyakarta: Lesfi, 2017) 172.
100 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
cara mengelola kemajemukan secara cerdas sebagai bagian dan proses pengayaan spiritualitas bangsa. Pancasila sejatinya tidak boleh berhenti sebagai ideologi saja, tetapi harus menjadi metodologi berpikir untuk mengelola kemajemukaan dan perbedaan sebagai pengayaan jiwa bangsa.21