Hakiman
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 59 memandang bahwa adanya keanekaragaman, perubahan dan konflik menjadi sesuatu yang positif untuk menguatkan akar peradaban, spiritualitas dan Iman. Masyarakat bebas beragama, berfikir, berideologi, bermadzhab, berpendapat dan berpolitik yang diikat oleh norma yang telah menjadi kesepakatan bersama, merupakan kekuatan demokrasi dalam membangun kedaulatan negara.Fakta sejarah dapat menjadi renungan, pijakan dan nalar berfikir untuk menciptakan kesadaran multikultural.
Sejarah Islam juga membuktikan bahwa kesadaran kberagaman menyangkut hak kaum disabilitas yaitu ditunjukan oleh Rasulullahyang memberikan penghormatan kepada Abdullah bin Umi Maktum yang mengalami disabilitas. Asbabun nuzul Quran Surat Abasa 1-11 menunjukkan bahwa Islam menghormati kaum disabilitas. Islam tidak menyukai diskriminasi terhadapa sesama ciptaan Tuhan sekalipun dia mempunyai kekurangan.
Praktik multikultural disabilitas ditujukan oleh kholifah ketiga Umar bin Khotob yang mendirikan rumah bagi disabilitas dekat Masjid supaya memudahkan dia untuk sholat ke Masjid.
Begitupun juga pada masa al Walid bin Abdul Malik yang mendirikan rumah layanan bagi mereka anak yang mengalami disabilitas mental. Praktik multikulturalisme dalam sejarah memberikan paradigma yang luas, bahwa multikulturalisme menyangkut berbagai aspek kehidupan manusia yang menjadi kesadaran setiap manusia.
60 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
sosial disampaikan melalui perintah tuhan melalui iqra, membaca fenomena sosial yang beragam.
Membaca yang diperintahkan Allah SWT. yang dimaksud bukan membaca huruf-huruf al Quran yang pada waktu itu teks al Quran belum turun. Nabi membaca fenomena yang hadir di tengah masyarakat yang jahiliyah untuk melanjutkan misi kenabiannya yaitu membangun peradaban. Dengan kejujurannya, dalam mengemukakan kebenaran dengan tidak ada tendensi kepentingan mampu membangun masyarakat arab yang terbelakang.
Bertanggungjawab untuk memberikan perubahan dan kesetaraan dengan menyampaikan solusi atas problem teologis dan sosial masyarakat menjadi spirit seorang utusan. Berbekal kecerdasannya dia mampu menciptakan masyarakat yang beraneka ragam menjadi Negara yang makmur. Bernalar profetik harus menjadi landasan berfikir dalam membangun Negara dengan segudang problem distruptif khususnya problem sosial yang hadir seperti intoleransi, diskriminasi, radikalisme dan lain sebagainya.
Masyarakat ulilalbab adalah masyarakat yang dicita-citakan karena dengan modal itulah Negara akan maju baik dalam peradaban ilmu pengetahuan. Kecerdasan yang bangun bukan hanya kecerdasan spiritual tetapi juga kecerdasan sosial, karena pada hakikatnya manusia yang bertaqwa adalah manusia yang mampu dekat tuhan dan dekat dengan manusia. Hubungan vertical seimbang dengan hubungan horizontal sehingga menjadi manusia yang antroposentris transedental.
Membangun sikap kesadaran multikultutral dengan tetap merujuk pada teks-teks agama perlu untuk menggunakan tafsir sosial. Meminjam pemikirannya Musa Asy’arie bahwa tidak ada tafsir yang sempurna didunia ini karena tafsir akan berkembang sesuai fenomena dan konteks perubahan dunia. Keikutsertaan pada tafsir yang ada hanya mengkungkung pemikiran bebas akal manusia, manusia sebagai kholifah filard diartikan sebagai manusia yang kreatif. Manusia boleh berfikir karena berfikir adalah hak
Hakiman
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 61 azasi manusia, karena menurut Musa Asy’arie berfikir liar akan menjadikan manusia kritis dan paham akan dinamika sosial.
Manusia harus bisa membedakan antara teks dan tafsir, teks adalah bersifat mutlak sedang tafsir bersifat tidak mutlak, sehingga siapapun boleh menafsirkan Al quran. Penulis sepakat bahwa tafsir itu tidak mutlak karena semua penafsiran seseorang dilatbelakangi oleh keadaan emosi dan latarbelakang sosialnya sehingga memunculkan keragaman penafsiran. Tetapi disisi lain tidak ada kewenangan penuh untuk menafsirkan al quran secara gradual dan parsial, karena terikat oleh etika ilmu.
Perlu adanya tafsir teks yang lebih progreshif dan tidak monoton, sehingga teks dapat menjadi ruang dialektika antara kehidupan manusia masa lalu, masa sekarang dan masa depan.
Perlu menempatkan paradigma tafsir sosial Islam yang mengedepankan pemaknaan-pemaknaan dinamis, progresif, dan toleran sehingga dunia teks dan relaitas sosial empirik berkorelasi secara mutual dan kritis tanpa harus saling mengsubordinasi satu sama lain.21
Kebebasan berfikir tidak terbatas ruang dan waktu karena dimanapun manusia bisa berfikir. Fisik boleh dibatasi oleh keadaan tetapi berfikir tidak akan berhenti pada keadaan, inilah yang dicontohkan Rasululullah. Berfikir yang rasional transendental adalah contoh berfikir yang diajarkan Nabi, dimana realitas dimaknai secara rasional dengan mengedepankan ilmu pengetahuan yang dapat diperdebatkan dan didiskusikan.
Sementara itu bersifat Transendental terletak dapa teologis yang berujung pada pengakuan ketauhidan yaitu iman yang dimaknai secara dinamis yang meberikan kebermanfatan bagi kehidupan bermasyarakat.
Meminjam pemikirannya Musa Asy’arie bahwa transendental berkaitan dengan keimanan sang Nabi yang memberikan kebermanfatan bagi kehidupan bersama bukan untuk kepentingan
21 Fajar Riza ul Haq, Membela Islam Membela Kemanusiaan, (Bandung: MIzan, 2017), hal 3-5.
62 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
egoisme manusia, egoisme sektoral yang memecah belah ummat demi kepentingan politik kekuasaan dan pragmatisme.22 Hal ini tentu jauh berbeda dengan pemikiran Auguste Comte yang menyarankan bahwa berfikir manusia harus mengesampingkan dari tradisi teologis dan tradisi metafisik untuk menghasilkan pengetahuan baru.
Menghilangkan tradisi teologis dalam cara berfikir manusia, sama saja dengan berjalan tanpa kaki atau berjalan di tengah kegelapan. Cara berfikir Islam yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad merupakan cara berfikir yang ideal, karena menyentuh berbagai dimensi. Berfikir profetik mampu masuk dalam ruang dan waktu tanpa batas. Dalam ketegangan destrupsi yang hadir ditengah masyarakat memberikan ruang supaya kita dapat bernalar profetik, dengan nalar profetik kita dapat membuka ruang dialektika dan membendung disimformasi di era digital.
Ditengah jaman kesimpangsiuran dengan berbagai imformasi yang distruptif menuntun kita untuk mengedepankan pola pikir profetik. Disintegrasi imformasi yang dibangun dalam narasi kepentingan akan menggangu keragaman yang ada, sehingga menjadi tanggung jawab semua elemen masyarakat untuk menyikapinya. Kaum intelektual harus menjadi oposisi netral di antara banyak kubu yang berkepentingan. Seorang terpelajar harus mampu membawa keluar opini yang dikendalikan oleh para aktor kepentingan ke zona opini netral. Dosen, Guru, Ustadz, dan Mahasiswa yang mempunyai mempunyai idealisme dapat menjadi pelaku penetralisir terhadap opini yang berkembang.
Mengantisipasi opini yang tidak sesuai dengan fakta yang mengarah pada pelintiran kebencian.
Pelintiran kebencian (hate spin) merupakan usaha yang sengaja dibuat oleh para pengobar kebencian untuk mengadakan atau merekayasa kebencian yang sebenarnya tidak ada. Pelintiran kebencian menjadi strategi politik yang menggunakan rekayasa
22 Musa Asy’arie, Rekonstruksi Metodologi Berfikir Profetik, (Yogyakarta: LESFI, 2016), hal 123.
Hakiman
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 63 ketersinggungan atas nama agama dengan cara mengekploitasi identitas kelompok, untuk memobilisasi masa pendukung.
Pelintiran kebencian akan merusak tatanan kehidupan manusia, kenapa demikian? karena akan merendahkan harkat dan martabat manusia, menyuburkan prasangka dan diskriminasi, dapat menimbulkan kekerasan, memicu konflik dan menyalahi bhineka tunggal ika. Ajaran agama manapun tidak membenarkan hal tersebut, maka siapapun harus menjadi garda terdepan untuk melawannya.
Bersifat profetik perlu menjadi landasan berfikir dan praktik dalam menyikapi kondisi distruptif. Kejujuran dalam mengambil dan membaca opini harus senantiasa dikedepankan oleh siapapun khususnya oleh para pelaku pengetahuan. Kejujuran yang bersumber dari hati nurani akan memberikan pemahaman yang tidak memihak, sehingga akan memberikan penilaian yang objektif terhadap setiap opini yang berkembang. Jujur dalam menyampaikan informasi, sehingga terhindar dari unsur-unsur kebencian.
Mempunyai rasa tanggungjawab untuk membendung setiap opini yang mengandung kebencian dalam penyebarannya, supaya tidak terjadi perselisihan. Bertanggungjawab untuk menyadarkan siapapun supaya tidak terjebak dari opini yang salah.
Mengkonsumsi opini yang salah serta meyakininya akan mengakibatkan kekacauan di masyarakat. Mengajak kepada siapapun untuk ikut bertanggungjawab pada terciptanya persatuan dan perdamaian di masyarakat.
Cerdas dalam melihat setiap opini, serta kritis dalam menganalisanya harus menjadi landasan sifat berfikir dalam menemukan kebenaran imformasi. Selalu meragukan serta mempertanyakan kebenaran setiap opini dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Mengedepankan anilisis kritis dari berbagai perspektif, sehingga dapat menempatkan opini pada porsinya. Menggunakan intelektualitas dalam menyikapi setiap
64 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
fenomena yang terjadi, kemudian mengambil hikmahnya untuk menjadi pelajaran hidup.
Menyampaikan opini yang sesuai dengan fakta, untuk menyajikan informasi yang benar. Memberikan informasi yang tidak memihak secara politik kepada siapapun untuk menjaga kemartabatannya. Opini yang bermanfaat adalah informasi yang menuntut ummat kejalan yang benar, sehingga tidak menyampaikan informasi yang tidak jelas sumber kebenarannya.
Sifat kejujuran (sidik) dan bertanggung jawab (amanah), menyampaikan kemaslahatan (tabligh) dengan menegedepankan kecerdasan (fathonah) baik spiritual dan sosial serta mengedepankan dialog merupakan metode yang diajarkan Nabi.
Melihat makna realitas di balik keragaman yang ada diperlukan pemikiran yang bebas, kebebasan dalam berfikir akan membuka tabir belenggu dan hegomoni tunggal. Dengan berfikir bebas akan menemukan hikmah besar dibalik realitas keragaman yang ada. Berfikir dalam kontek hikmah menurut Musa Asy’arie adalah berfikir yang otentik yaitu berfikir yang bebas dari kekuasaan hawa nafsu, bebas dari kepentingan politik kekuasaan dan kekayaan.23
Melihat pluralitas yang ada dalam nalar profetik merupakan bagian dari hikmah dan ujian bagi sendi kehidupan manusia, supaya mereka kreatif dan arif dalam melihatnya. Kondisi multikulturalitas kebangsaan seperti pedang bermata dua, disisilain ia dapat menjadi modalitas yang memberikan energy positif, tetapi disisi yang lain manakala keberagaman itu tidak bisa dikelola dengan baik dan bijak akan menjadi ledakan desruptif yang dapat menghacurkan sendi pilar-pilar kebangsaan (disintegrasi bangsa).24 Menempatkan multikulturalisme pada posisi yang tepat menjadi keharusan dalam menjaga marwahnya.
Multikultural jangan dikonsepsikan sebagai paham liberal, sehingga multikultural dibenturkan dengan sekulerisme.
23 Ibid, hal 106.
24 Chorul Mahfud, Of.cit, hal 80.
Hakiman
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 65 Kebablasan dalam pluralitas mengakibatkan gesekan di masyarakat sehingga memerlukan nalar kritis multidimensional.
Kritis berarti selalu mempertanyakan tentang segala sesuatu dengan membuka ruang dialektika yang bersandar pada pemahaman dan literasi ilmiah.
Melihat sesuatu dalam berbagai perfektif dibarengi dengan kritis merupakan keniscayaan yang harus ada pada diri seseorang, semakin banyak persfektif maka akan semakin bijak seseorang menyikapi sesuatu. Berfikir multidimensional dapat dimulai dalam dunia pendidikan sejak dini yaitu dengan menghindari doctrinal dalam mengajar. Pendidikan (problem possing) hadap masalah yang diusung Paulo Freire bisa dijadikan alternative dalam menjadikan peserta didik kritis.
Ruang kelas menjadi miniatur masyarakat, dimana masalah sosial, homogenitas dan iteraksi koopratif yang mnegedepankan penghargaan dan saling pengertian. Berfikir multidimensional secara perlahan akan menghilangkan cara berfikir yang linier, yaitu cara berfikir satu arah. Berfikir multidimensional akan menghilangkan egocentrisme sehingga akan meghilangkan Judgement, yaitu gambang menghukumi orang bersalah, kafir, dungu, kampret, kardun, primitif dan lain sebagainya.
Melihat isu dalam berbagai dimensi akan mengurangi kegaduhan karena apa yang dipikirkan dan ditrasnformasikan menjadi imformasi yang utuh dan banyak pilihan. Masyarakat harus diberikan berbagai pilihan jawaban atas masalah yang dihadapinya sehingga mereka bisa memilih mana yang terbaik untuk dirinya dan untuk negaranya tanpa mengesampingkan solusi yang dipilih orang lain.
Berfikir multidimensional seperti manusia yang berjalan menuju puncak gunung, dia berjalan menuju puncak melalui satu jalan tetapi setelah di puncak dia akan melihat ternyata banyak jalan menuju puncak yang bisa laluinya. Semua manusia mempunyai tujuan yang sama tetapi jalan yang digunakan berbeda
66 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
sesuai dengan selera dan kapasitasnya, sehingga kita harus menghormati jalan yang ditempuh orang lain.
Berfikir multidimensional akan menyadari tentang kapasitasnya dalam setiap isu, karena hari ini banyak orang yang mengaku ahli dalam semua bidang. Bukan seorang dokter berbicara tentang kesehatan, bukan seorang ulama bicara tentang fatwa, bukan seorang ahli hukum tetapi membuat hukum dan lain sebagainya. Menyerahkan sesuatu bukan pada ahlinya hanya akan memberikan kehancuran. Berbicaralah sesuai fakta dan kapasitasnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam ruh multidimensional.
Walaupun isu yang hadir ditengah masyarakat terlahir karena ada sebab dan sebabnya ibisa beraneka ragam, tetapi kita harus mampu menempatkan diri kita dalam kapasitasnya. Isu yang ada dapat dipengaruhi oleh politik, agama, ekonomi, budaya, prilaku, pendidikan, hukum dan yang lainnya, maka tugas kita adalah darimana akan memberikan analisa kritis dari hal tersebut.
Multidimensional melihat isu dan fenomena dalam berbagai persfektif dan membuka ruang dialog kritis menjadi ruhnya, sehingga pemahaman keragaman dan pluralitas pada saat bersamaan akan membentuknya. Mulukulturalisme yang dicita- citakan akan terbangun dengan sendirinya dengan berbagai dimensi dan persfektif.
Menurut penulis hari ini masayarakat Indonesia terbagi dalam tiga kubu besar yaitu: pertama, masyarakat separatis yang ingin memisahkan diri negara kesatuan indonesia seperti masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Kedua adalah masyarakat yang ingin menggantikan ideologi pancasila dengan syariat Islam atau mereka ingin menjadikan negara Indonesia menjadi negera Islam. Adapun kelompok masyarakat yang ketiga adalah masyarakat nasionalis yang ingin tetap konsisten menjadi bagian dari negara kesatuan republik Indonesia dan berideologikan pancasila.
Hakiman
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 67 Masing-masing kelompok mempunyai hujjah dan argumen yang kuat!. Yang menjadi pertanyaannya adalah mampukah mereka berdialog secara kritis untuk kemajuan Indonesia. Apakah jawabannya cukup dengan kesadaran multikultural sehingga masing-masing sadar bahwa mereka berada di negera yang sama, sehingga masing-masing dari mereka mempunyai hak yang sama.
Ataukah akan membiarkan semuanya hadir dalam kehidupan, sehingga waktulah yang akan menjawab semuanya sesuai dengan kepetingannya masing-masing.