• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pandangan Musa Asy’arie

Dalam dokumen Lurus Jalan Terus, 70 Tahun Musa Asy'arie (Halaman 115-120)

Menurut Musa Asyárie, pendidikan multikultural adalah proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat.

Dengan pendidikan multikultural diharapkan adanya kekenyalan

2 Zakiyuddin Baidhawy, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, (Jakarta:

Erlangga, 2005), 6-8.

3 Abdullah Aly, Model Kurikulum Pendidikan Islam Multikulturaldi Pondok Pesantren Modern Islam Assalam Surakarta, Jurnal Varia Pendidikan, Vol. 24, No. 1, Juni 2012, 23-33.

4 Almarhum juga tercatat sebagai dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Kholiq Asyhuri

Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 91 dan kelentural mental bangsa menghadapi benturan konflik sosial, sehingga persatuan bangsa tidak mudah patah dan retak.

Dalam konteks Indonesia yang dikenal dengan muatan yang sarat kemajemukan, maka pendidikan multikultural menjadi sangat strategis untuk dapat mengelola kemajemukan secara kreatif, sehingga konflik yang muncul sebagai dampak dari transformasi dan reformasi sosial dapat dikelola secara cerdas dan menjadi bagian dari pencerahan kehidupan bangsa ke depan.

Jika kita menengok sejarah Indonesia, maka realitas konflik sosial yang terjadi sering mengambil bentuk kekerasan sehingga mengancam persatuan dan eksistensi bangsa. Pengalaman peperangan antara kerajaan-kerajaan sebelum kemerdekaan telah membentuk fanatisme kesukuan yang kuat. Sedangkan terjadinya konflik sosial setelah kemerdekaan, sering bertendensi politik dan ujungnya adalah keinginan untuk melepaskan diri dari kesatuan wilayah negara kesatuan. Bahkan buntutnya masih terasa hingga sekarang baik yang di Aceh maupun Papua. Tanpa pendidikan multikultural, maka konflik sosial yang destruktif akan terus menjadi suatu ancamana yang serius bagi keutuhan dan persatuan bangsa.

Konflik, kata Musa Asy’arie tidak boleh dibiarkan berkembang menjadi liar dan kemudian merusak tatanan kehidupan masyarakat, apalagi tatanan berbangsa dan berbangsa yang menjadi konsensus nasional. Karena itu manajemen politik yang ada seharusnya mamu mengendalikan konflik sehingga menjadikannya sebagai kekuatan yang mencerahkan, bukan kekuatan yang menghancurkan.

Konflik sosial yang mewarnai pasang surutnya persatuan Indonesia, harus menjadi perhatian dan perlu diwaspadai oleh kemampuan manajemen politik bangsa agar tidak berkembang menjadi kekuatan yang memecah belah persatuan Indonesia. Salah satu caranya yang strategis adalah pendidikan multikultural yang dilakukan secara aktual, cerdas, dan jujur.

92 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie

Pendidikan apapun bentuknya, tidak boleh kehilangan dimensi multikulturalnya, termasuk di dalamnya pendidikan keagamaan dan keilmuan, karena realitas dalam kehidupan pada hakikatnya bersifat multidimensional. Demikian juga halnya manusia sendiri pada hakikatnya adalah sebagai makhluk yang multidimensional. Karena itu, pendekatan kepada manusia dan untuk mengatasi problem kemanusiaan yang ada, tidak bisa lain kecuali dengan menggunakan pendekatan yang multidimensional.

Dan, di dalamnya adalah pendidikan multikultural.5

Sejalan dengan Musa Asy’arie, H.A.R. Tilaar menyatakan bahwa pendidikan multikulural di Indonesia adalah dalam perspektif pluralitas bangsa Indonesia. Berbeda dengan negara- negara Eropa dan Barat, di sana pendidikan multikultural seakan- akan bertentangan dengan budaya mainstream yang homogen dan merupakan jawaban kebutuhan masyarakat setempat. Sebaliknya pendidikan multikultural di Indonesia, dimaksudkan untuk menghadapi masalah-masalah global serta membangun Indonesia baru berdasarkan nasionalisme Indonesia baru.6

Memperkuat dua pandangan di atas, Azyumari Asra mendefinikan pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk/tentang keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan. Istilah pendidikan multikultural (muticultural education), dapat digunakan pada tingkat deskriptif dan normatif, yang menggambarkan isu-isu dan masalah-masalah pendidikan berkaitan dengan masyarakat multikultural. Lebih jauh ia juga mencakup pengertian tentang pertimbangan terhadap kebijakan-kebjakan dan strategi-strategi pendidikan bagi peserta didik di dalam masyarakat multikultural.

Dalam konteks deskriptif dan normatif ini, maka kurikulum pendidikan multikultural mestilah mencakup subyek-subyek

5Musa Asyárie, “Pendidikan Multikultural dan Konflik Bangsa,” Harian KOMPAS, Jumat, 3 September 2004: 5 kolom 1-6.

6 Ibid., Tilaar, Multikulturalisme, 126-127.

Kholiq Asyhuri

Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 93 semacam: toleransi; bahaya diskriminasi; penyelesaian konflik dan mediasi; HAM; demokrasi dan pluralitas; kemanusiaan universal;

tema-tema tentang perbedaan etnokultural, agama; dan subyek- subyek lain yang relevan.7

Secara historis pengelolaan keragaman dalam tataran politik di Indonesia mengalami pasang surut. Pada awal kemerdekaan nuansa persatuan dan kesatuan yang dikedepankan. Hal ini terlihat ketika perumusan dasar Negara Pancasila sila pertama ada kata- kata: "kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya"

sudah disepakati oleh semua anggota rapat. Namun ketika usai kemerdekaan akan dikukuhkan menjadi Dasar Negara ada keberatan sekelompok penduduk dari bagian timur Indonesia atas pencantuman kata-kata tersebut dalam sila pertama. Oleh karena itu, atas dasar pertimbangan keutuhan dan persatuan bangsa, maka kelompok muslim menyetujui penghapusan kata-kata tersebut kemudian diubah menjadi: ”Ketuhanan Yang Maha Esa.” Kalimat atau kata-kata selebihnya dicoret.8

Setelah reformasi, seiring dengan semaraknya upaya demokratisasi dalam segala aspek, maka mulai muncul berbagai konflik antargolongan baik berupa suku, agama, etnis dan identitas lainnnya. Hal itu, menurut Yudi Latif menunjukkan bahwa Indonesia masih tetap merupakan proyek kebangsaan yang belum tuntas. Perjuangan pemuda kerap lebih berhasil untuk menjebol, tapi belum ampuh untuk membangun. Untuk itu, perlu konsepsi nasionalisme yang lebih positif dan progresif. Nasionalisme yang tidak melulu bersandar pada apa yang bisa kita lawan, melainkan juga pada apa yang bisa kita tawarkan. Nasionalisme sejati

7 Azyumardi Azra, Pendidikan Agama: Membangun Multikulturalisme Indonesia, dalam Zakiyuddin Baidhawy, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, VIII- X.

8 Lihat Himpunan Risalah Rapat PPKI tanggal 18 bulan 8 tahun 2605, (Jakarta:, Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1998).

94 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie

haruslah berarti bukan sekadar mempertahankan melainkan juga memperbaiki keadaan negeri.9

Adapun tentang keragaman kebudayaan Indonesia, diyakini sebagai takdir. Ia tidak diminta, melainkan pemberian Tuhan Yang Mencipta, bukan untuk ditawar tapi untuk diterima (taken for granted). Indonesia adalah negara dengan keragaman etnis, suku, budaya, bahasa, dan agama yang nyaris tiada tandingannya di dunia. Selain enam agama yang paling banyak dipeluk oleh masyarakat, ada ratusan bahkan ribuan suku, bahasa dan aksara daerah, serta kepercayaan lokal di Indonesia. Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, secara keseluruhan jumlah suku dan sub suku di Indonesia adalah sebanyak 1331, meskipun pada tahun 2013 jumlah ini berhasil diklasifikasi oleh BPS sendiri, bekerja sama dengan Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS), menjadi 633 kelompok suku besar.

Terkait jumlah bahasa, Badan Bahasa pada tahun 2017 juga telah berhasil memetakan dan memverifikasi 652 bahasa daerah di Indonesia, tidak termasuk dialek dan sub-dialeknya. Sebagian bahasa daerah tersebut tentu juga memiliki jenis aksaranya sendiri, seperti Jawa, Sunda, Jawa Kuno, Sunda Kuno, Pegon, Arab-Melayu atau Jawi, Bugis-Makassar, Lampung, dan lainnya. Sebagian aksara tersebut digunakan oleh lebih dari satu bahasa yang berbeda, seperti aksara Jawi yang juga digunakan untuk menuliskan bahasa Aceh, Melayu, Minangkabau, dan Wolio. Meski agama yang paling banyak dipeluk dan dijadikan sebagai pedoman hidup oleh masyarakat Indonesia berjumlah enam agama, yakni: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu, namun keyakinan dan kepercayaan keagamaan sebagian masyarakat Indonesia tersebut juga diekspresikan dalam ratusan agama leluhur dan penghayat kepercayaan. Jumlah kelompok penghayat kepercayaan,

9 Yudi Latif, “Pasang-Surut Komitmen Kebangsaan,” dalam Islam Keindonesiaan &

Civil Society, (Yogyakarta:Padma Books, Januari 2011), 80-82.

Kholiq Asyhuri

Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 95 atau agama lokal di Indonesia bisa mencapai angka ratusan bahkan ribuan.10

Seiring dengan tingkat pluralitasnya bangsa Indonesia seperti tergambar di atas, maka pendidikan multikultural (khususnya di persekolahan) bisa dimaknai sebagai pendidikan yang memberikan hak dan perlakuan kesejajaran atas pluralitas (perbedaan) peserta didik dalam hal kasta, ideologi, warna kulit, etnis, suku, agama, bangsa, bahasa, budaya, adat-istiadat, kepercayaan, gender, fisik, status sosial-ekonomi, maupun kecerdasan dan lain-lain perbedaan. Jadi, secara singkat pendidikan multikultural adalah pluralisme dalam pluralitas dan heteroginitas peserta didik.11

Kemudian Musa Asy’arie menekankan bahwa multikulturalisme pada dasarnya merupakan kekuatan pemikiran yang memandang bahwa pluralitas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat itu ada dan harus tetap dijaga keberadaanya agar keseimbangan kehidupan berbangsa tidak jatuh pada ekstrimisme ideologi tertentu saja. Jika pemikiran multikulturalisme itu terjaga, maka akan terjadi pengayaan spiritualitas untuk memperkuat pandangan kesatuan dalam keberagaman yang sesungguhnya telah mendasari bagi kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara.12

Dalam dokumen Lurus Jalan Terus, 70 Tahun Musa Asy'arie (Halaman 115-120)