133
Pendidikan Multikultural di Sekolah
134 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
Keberagaman (diversity) adalah kondisi dari suatu masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda dalam ras, agama, kebudayaan, jenis kelamin, sosial budaya dan lain sebagainya. Keberagaman yang muncul dalam realita kehidupan sosiokultural bangsa Indonesia mengandung konsekwensi positip namun juga bisa bernilai negative. Artinya kondisi keberagaman dalam masyarakat tidak hanya membawa dampak positif tetapi juga membawa sejumlah dampak negatif. Dampak positip dari keberagaman masyarakat multikultural antara lain menjadikan interaksi sosiobudaya menjadi lebih dinamis, menjadikan sebuah negara memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari bangsa lain, dan menjadikan hidup menjadi lebih berwarna warni.
Sedangkan dari sisi negatifnya keberagaman budaya ini dapat mengakibatkan konflik yang berujung perpecahan di dalam masyarakat. Konflik yang muncul dari keberagaman tersebut bisa menghambat pembangunan nasional, sehingga rawan memunculkan faham rasisme dan radikalime sempit.2
Keberagaman ini diakui atau tidak, dapat menimbulkan berbagai persoalan jika tidak ada langkah konkrit untuk merawatnya. Sebagaimana pernah dialami Indonesia beberapa waktu yang lalu, konflik antar suku Madura dan Suku Dayak di Sampit Kalimantan timur pada tahun 2001, konflik antar agama di Ambon tahun 1999, juga kerusuhan politik di penghujung masa orde baru tahun 1998. Semua itu terjadi karena tidak dirawatnya keberagamaan yang kita miliki sebagaimana mestinya. Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia diakhir abad 21 percikan konflik sosial terasa semakin memperuncing keadaan di sana sini, dan belum lagi konflik-konflik yang timbul dalam kehidupan politik kepartaian.
Berkaca pada berbagai persoalan sebagaimana disebutkan di atas, maka upaya mengungkap keterlibatan Muhammadiyah dalam
2 Syamsudin (2017), Gerakan Muhammadiyah Dalam Membumikan Wacana Multikulturalisme: Sebuah Landasan Normatif-Institusional. Jurnal pemberdayaan masyarakat : Media pemikiran dan Dakwah Pembangunan- ISSN 2580-863X(p):2597-7768(e) Vol.1 No.2, 2017
Soleh Amini
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 135 mengaktualisasikan semangat multikulturalisme dan demokrasi sangat signifikan dan sangat perlu dilakukan, mengingat kondisi bangsa Indonesia yang masih rawan adanya konflik sosial akibat kesalahpahaman terhadap persoalan suku agama dan antar golongan atau sara. Belum lagi permasalahan lain terkait dengan tudingan kepada Muhammadiyah yang dinyatakan sebagai ormas keagamaan yang patut diduga menentang bentuk-bentuk kebudayaan lokal tradisional dan anti terhadap upaya pengembangan kebudayaan lokal. Para penuding melihat seakan akan Muhammadiyah mengkontektualisasikan bahwa jika kebudayaan masuk pada ranah agama dan dalam pengajaran pendidikan Muhammadiyah maka akan menjadi model keberagamaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam genuine. Oleh sebab itu semua jenis kebudayaan tidak bisa diakomodir oleh Muhammadiyah menjadi sebuah kekuatan dalam pendidikan (kaagamaan) di dalam bermuhammadiyah.3
Dengan mengkaji kebijakan pendidikan multikulturalisme di Sekolah-sekolah Muhammadiyah ini maka akan dihasilkan sebuah tawaran tentang visi dan konsep bagi pengembangan kehidupan bersekolah ala Muhammadiyah bagi masyarakat Indonesia dengan bersendikan semangat multikulturalisme. Di samping itu, akan dapat dirumuskan sebuah strategi pengembangan pendidikan berbasis multikulturalisme di lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah yang compatible dengan bingkai sosiologis bangsa Indonesia yang majemuk. Dalam konteks itu, keberadaan lembaga- lembaga pendidkikan Muhammadiyah dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD), taman kanak-kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi (PTM) yang tetap dalam semangat multikulturalisme menarik untuk dikaji, karena lembaga-lembaga pendidikan muhammadiyah tersebut kini dihadapkan pada tantangan yang jauh lebih berat dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. Salah satu tantangan besar tersebut adalah
3 Zully Qodir, 2005. Reinvensi Islam Multikultural. Pusat Studi Budaya dan Perubahan sosial Universitas Muhaammadiyah surakarta.
136 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
bagaimana sekolah-sekolah Muhammadiyah sebagai institusi pendidikan kader dan lembaga dakwah Islam mampu mengiplemntasikan dan menjaga konsistensi dan komitmennya dalam menterjemahkan kebijakan pendidikan multikulturalisme di lembaga pendidikan Muhammadiyah yang jumlahnya sangat banyak dan tersebar hampir diseluruh wilayah Negara Republik Indonesia, dan bahkan hingga ke luar negeri. Dengan demikian maka akan dapat dipahami pengertian pendidikan multikultural sesuai dengan kerangka budaya Muhammadiyah, dan selanjutnya atas dasar pemahaman tersebut dapat di lihat bagaimana model kebijakan pendidikan multikultural di lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah, serta untuk menemukan problem problem pendidikan multikultural di lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah. Baik pada permasalahan-permasalahan yang berbasis masalah sosiologis, pedagogis maupun permasalahan teknis implementatifnya. Selain daripada hal tersebut, pembahasan atau kajian ini juga dapat digunakan untuk melihat konsistensi implemantasi kebijakan pendidikan multikultural dilembaga- lembaga pendidikan Muhammadiyah di seluruh wilayah Indonesia, maupun yang berada di luar negeri.
Pendidikan Multikultural
Akar kata multikultural adalah kebudayaan. Pengertian kebudayaan menurut para ahli sangat beragam, namun dalam konteks ini kebudayaan dilihat dalam perspektif fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan manusia. Dalam perspektif kebudayaan tersebut, maka multikulturalisme adalah ideologi yang dapat menjadi alat atau wahana untuk meningkatkan derajat manusia dalam kemanusiannya. Multikulturalisme mengakui dan mengedapankan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan4. Multikulturalisme memandang sebuah masyarakat mempunyai kebudayaan yang
4 Parsudi Suparlan (2002), “Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural,”
Makalah. Disampaikan pada Simposium Internasional Bali ke 3, Jurnal Antropologi Indonesia, Denpasar Bali, 16-21 Juli 2002.
Soleh Amini
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 137 berlaku umum yang coraknya seperti sebuah mosaik. Di dalam mosaik tercakup semua kebudayaan dari masyarakat-masyarakat lebih kecil yang membentuk terwujudnya masyarakat yang lebih besar, yang mempunyai kebudayaan seperti sebuah mosaik tersebut.5 Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperjuangkan multikulturalisme adalah melalui pendidikan yang multikultural.
Pendidikan multikultural terdiri dari dua terma, yaitu pendidikan dan multikultural. Pendidikan berarti proses pengembangan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan diri melalui pengajaran, pelatihan, proses dan cara mendidik. Multikultural diartikan sebagai keragaman (diversity) kebudayaan, aneka kesopanan, tata susila, tata nilai dan seni bahkan agama dan kepercayaan.
Sedangkan secara terminologi, pendidikan multikultural berarti proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitasnya sebagai konsekwensi keragaman budaya, etnis, suku dan aliran (agama). Pengertian seperti ini mempunyai implikasi yang sangat luas dalam pendidikan, karena pendidikan dipahami sebagai proses tanpa akhir atau proses sepanjang hayat (long life education). Pendidikan multikultural adalah pendidikan yang sangat menghendaki penghormatan dan penghargaan setinggi-tingginya terhadap harkat dan martabat manusia.6
Dalam konteks mendidik, pendidikan multikultural semestinya mampu membawa perubahan pada karakter peserta didik, baik dalam aspek berpikir maupun berperilaku. John Deway mengatakan , jika dalam proses pendidikan tidak ada pengaruh yang positif terhadap alam (lingkungan) dan masyarakat (peserta didik) , maka janganlah hal tersebut disebut pendidikan karena pendidikan harus memberikan pengaruh perubahan dan
5 Reed (1997) dalam Suparlan (2002)
6 Husniyatus Salamah (2017).Pendidikan Multikultural: Upaya Membangun Keberagaman Inklusif Di Sekolah.
138 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
pertumbuhan. Secara filosofis Musa Asy’arie ((2017) memperingatkan bahwa pendidikan tidak boleh miskin misi dan fungsi rahmatan lil’alamin dengan membiarkan terjadinya gap antara kecerdasan akal dan kecerdasan spiritual (pikir dan dzikir) dalam strategi pembelajaran, sebab ketika peradaban (budaya berpendidikan) dapat dibangun dengan dzikir (yuzakkikum) dan pikir (yu’allimukum) , maka ilmu pengetahuan dan teknologi akan berdampak pada rahmatan lil’alamin. Oleh karena itu desain pendidikan multikultural di sekolah perlu mendapat sentuhan penguat yang berbasis spritual cultural. Pembiasaan berpikir kritis yang berdasarkan pada integrasi kekuatan kecerdasan akal- kultural-spiritual harus dikembangkan dalam budaya pendidikan.
James Banks (2010) telah membumikan konsep pendidikan multikultural menjadi ide persamaan pendidikan. Substansi pendidikan multikultural adalah pendidikan untuk kebebasan (as education for freedom) sekaligus sebagai penyebarluasan gerakan inklusif dalam rangka mempererat hubungan antar sesama (as inclusive and cementing movement).7 Pendidikan multikultural adalah cara memandang realitas dan cara berpikir, dan bukan hanya konten tentang beragam kelompok etnis, ras, dan budaya.
Dengan demikian maka pengertian pendidikan multikultural dapat dimaknai sebagai pendidikan people of color. Artinya pendidikan multikultural adalah konsep pendidikan yang mengekplorasi perbedaan sebagai suatu keniscayaan (sunatullah), untuk kemudian bagaimana kita mampu mensikapi perbedaan tersebut dengan toleran dan semangat egaliter. Pendidikan multikultural adalah konsep, ide atau falsafat dari suatu rangkaian kepercayaan (set of belive) dan penjelasan yang mengakui dan menilai pentingnya keragaman budaya dan etnis didalam membentuk gaya hidup, pengalaman sosial, identitas pribadi, kesempatan- kesempatan pendidikan dari individu, kelompok maupun negara.8
7 James A. Banks (2010). Multicultural Education (7th) Issues and Perspectives, New york and London Routledge.
8 James A. Banks (2010). Multicultural Education (7th) Issues and Perspectives, New york and London Routledge.
Soleh Amini
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 139 Pendidikan multikultural juga dapat diartikan sebagai sebuah gerakan reformasi yang dirancang untuk menghasilkan transformasi cultural educational di sekolah sehingga peserta didik baik dari kelompok gender maupun dari kelompok budaya dan etnik yang berbeda akan mendapat kesempatan yang sama untuk menyelesaikan sekolahnya.
Pengertian ini senada dengan pengertian yang dikemukakan oleh Sleeter (1984) bahwa pendidikan multikultural adalah sekumpulan proses yang dilakukan oleh sekolah untuk menentang kelompok yang menindas terhadap kelompok lain yang berbeda atau tidak sama dengan dirinya, baik berbeda dalam bahasa, agama maupun kebudayaan, warna kulit.9
Andersen dan Cusher menyatakan bahwa pendidikan multikultural adalah pendidikan mengenai keragaman kebudayaan.10 Sementara itu Paul Gorski (2001) merupakan pendekatan progresif untuk mengubah pendidikan secara holistic dengan mengkritik dan memusatkan perhatian kepada kelemahan, kegagalan, dan praktek diskriminatif didalam pendidikan.11 Pendidikan multikultural memberikan keadilan sosial, persamaan pendidikan dan mewujutkan semua potensinya secara penuh dan mewujutkan manusia yang sadar dan aktif secara lokal, nasional dan global.
Sementara itu Hilda Hernandez (2012), memberikan penegasan bahwa pendidikan multikultural sebagai perspektif yang mengakui realitas politik, sosial, budaya maupun ekonomi yang dialami oleh masing-masing individu dalam pertemuan manusia yang komplek dan beragam secara kultural dan merefleksikan pentingnya budaya, ras, gender, etnisitas, agama, status sosial, ekonomi, dan pengecualian-pengecualian dalam
9 Sleeter, dalam G. Burnett, Varieties of Multicultural Education: an Introduction
10 Andersen dan Cusher, “Multicultural and Intercultural Studies” dalam C. Marsh (ed), Teaching Studies of Society and Environment (Sydney: Prentice-Hall, 1994)
11 Gorski, Paul.. Six Critical Paradigm Shiifd for Multicultural Eucation and the Question we should Be Asking. http//www.Edchange.org/multicultural, 2001
140 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
proses pendidikan.12 Dengan kata lain pendidikan multikultural adalah merupakan ruang pendidikan sebagai media tranformasi ilmu pengetahuan (transfers of knowledge) yang mampu memberikan nilai-nilai multikulturalisme dengan cara saling menghargai dan menghormati atas realitas yang beragam atau plural, baik latar belakang maupun basis sosio budaya yang melingkupinya.
Sedangkan menururt Tilaar, fokus pendidikan multikultural, tidak lagi diarahkan semata-mata kepada kelompok rasial, agama dan kultural domain atau mainstream.13 Fokus seperti ini pernah menjadi tekanan pada pendidikan interkultural yang menekankan peningkatan pemahaman dan toleransi individu-individu yang berasal dari kelompok minoritas terhadap budaya mainstream yang dominan yang pada akhirnya menyebabkan orang-orang dari kelompok minoritas terintegrasi ke dalam masyarakat mainstream.
Dengan demikian maka pendidikan multikultural sebenarnya merupakan sikap perduli dan mau mengerti (difference) atau political of recognition , yaitu politik pengakuan terhadap orang- orang dari kelompok minoritas. Menurut Tilaar pendidikan multicultural berawal dari berkembangnya gagasan dan kesadaran tentang interkulturalisme pasca peristiwa perang dunia kedua.14 Hal tersebut, selain terkait dengan perkembangan politik internasional yang menyangkut masalah hak asasi manuisia (HAM), kemerdekaan dari kolonialisme, dan diskriminasi rasial, juga karena meningkatnya pluralitas (keberagaman) di negara-negara barat sebagai akibat dari peningkatan migrasi dari negara-negara yang baru merdeka ke Amerika dan Eropa.
Syafig Mugni menyatakan bahwa pada prinsipnya pendidikan multikultural adalah pendidikan yang menghargai
12 Multicultural Educational : A Teacher Guide to Linking Context, Process, and Content
13 Tilaar, H.A.R.. Multikulturalisme; Tantantangan Global masa Depan Dalam Tranformasi Pendidikan Nasional, Jakarta, Grafindo, 2002.
14 Syafiq Mughni (2016) Epilog Pendidikan Multikultural. Pustaka pelajar, Jogyakarta
Soleh Amini
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 141 perbedaan.15 Pendidikan multikultural senantiasa berusaha menciptakan struktur dan proses dimana setiap kebudayaan dapat melakukan ekpresi bagi kebudayan pendidikannnya. Pendidikan multikultural pada intinya adalah pendidikan yang memberikan penekanan terhadap proses penanaman cara hidup yang saling menghormati, tulus dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup dan berkembang ditengah-tengah masyarakat dengan tingkat pluralitas yang tinggi. Ada dua hal untuk mewujutkan pendidikan multikultural yang mampu memberikan ruang kebebasan bagi semua kebudayaan untuk berekpresi. Pertama adalah dialog, dalam pendidikan multikultuaral, setiap peradaban dan kebudayan yang ada berada dalam posisi yang sejajar dan sama. Tidak ada kebudayaan yang lebih tinggi atau dianggap lebih superior dari kebudayaan yang lain. Dialog akan meniscayakan adanya kesamaan dan perbedanya diantara pihak-pihak yang terlibat. Anggapan bahwa kebudayan tertentu lebih tinggi dari kebudayaan lain akan melahirkan fasisme dan chauvinisme. Dengan dialog akan terjadi sumbangan pemikiran yang akan memperkaya kebudayaan atau peradaban tersebut. Disamping sebagai pengkayaan atau enrichment , dialog dalam pendidikan multikultural ini juga sangat penting untuk mencari titik temu atau kalimatun sawa antar peradaban dan kebudayaan yang ada, karena pada dasarnya kebudayaan manusia itu mempunyai nilai-nilai yang sama, yang berbeda hanyalah kemasan atau bungkusannya saja.
Dengan dialog akan dapat diketemukan titik-titik persamaan sambil memahami titik-titik perbedaan antar kebudayaan. Bila semangat ini terbangun sejak awal, maka akan terjadi relasi yang harmonis antar peradaban dan kebudayaan dalam berbagai kebijakan pendidikan, khususnya pendidikan di lembaga lembaga pendidikan Muhammadiyah. Hubungan dialektis antara self and other ini, pada tahap selanjutnya akan membentuk suatu entitas yang hakiki, membentuk satu hidup dan satu nafas. Dengan demikian maka kebijakan kebijakan pendidikan pada lembaga
15 Ibid.
142 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
lembaga pendidikan muhammadiyah akan bernuansakan multikulturalis yang humanis.16
Kedua adalah toleransi, yaitu sikap menerima bahwa orang lain yang berbeda dengan kita. Dialog dan toleransi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bila dialog itu adalah bentuknya, maka toleransi itu isinya. Toleransi diperlukan tidak hanya pada tatataran konseptual, melainkan juga pada tataran operasional. Hal inilah yang sejak lama tidak ada dalam sistem pendidkan di Indonesia, termasuk didalam kebijakan pendidikan di lembaga- lembaga pendidikan Muhammadiyah. Sistem pendidikan kita selama ini menitik beratkan pada pengkayaan pengetahuan dan ketrampilan tetapi kurang memberi perhatian pada penghargaan atas nilai-nilai budaya dan tradisi bangsa.