28 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
demikian, terorisme tidak bisa mengakar dan tidak memiliki jaringan kompleks.
Akhirnya antara radikal dan terror merupakan satu makna yang saling berkaitan. Radikal merupakan embrio dari gerakan terror. Artinya ketika memiliki pola pikir atau menganut paham radikal maka akan berpeluang besar dalam menelorkan aksi terror.
Hingga pola pikir ini sudah menjadi satu dan masyarakat tidak perlu repot dalam membedakan radikalisme dan terorisme yang terjadi di Indonesia.
Meskipun secara signifikan pendidikan multikultural dapat mempengaruhi tujuan pendidikan itu sendiri. Namun kenyataannya bahwa pendidikan semacam ini belum menjadi rumusan yang sistematis dan operasional. Apalagi dibarengi oleh pemahaman dan kesadaran dalam masyarakat masih jauh dari harapan. Dari segi kualitas dan kuantitas pendidikan multikultural membawa dampak negatif dan merugikan yang semakin meningkat dan meluas. Hal ini ditandai dengan adanya kemajuan teknologi dan ilmu pengatahuan, konflik sosial dan radikalisme serta gerakan teroris.6
Konteks diatas menunjukkan bahwa peran sekolah dan lembaga pendidikan sangatlah diperlukan dalam menghentikan laju pertumbuhan radikalisme Islam. Pendidikan multikultural membantu siswa dalam mengembangkan sikap dan tata laku untuk mendewasakan diri. Oleh karena itu keterlibatan berbagai elemen masyarakat untuk mengatasi dan menangani persoalan radikalisme dan terorisme sangatlah diharapkan, karena akan mempersempit dan memperkecil ruang gerak radikalisme dan terorisme atau bahkan dilenyapkan sama sekali.
Gadis Deslinda
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 29 seseorang melalui pengajaran, pelatihan dan perbuatan melalui rangkaian pengembangan sikap dan tata laku individu atau sekelompok orang.7 Sedangkan multikultural secara etimologis memiliki beragam budaya dan etnis. Dari rangkaian kata tersebut, pendidikan multikultural sebagai proses pendewasaan dan pengekplorasian seluruh potensi manusia yang menghormati dan menghargai adanya heterogenitas dan pluraritas sebagai akibat dari keberagaman budaya, suku, etnis dan aliran agama.8
Keberagaman budaya tidak hanya terbatas pada unsur-unsur yang ada di masyarakat seperti mengenai perbedaan suku, agama, ras dan perbedaan antar golongan. Namun keragaman budaya hadir juga dalam lingkup antar pribadi, keluarga, kelompok, regional dan negara. Bisa dikatakan bahwa keragaman budaya meliputi hal yang sangat kompleks sehingga unsur-unsur yang terlibat begitu banyak seperi latar belakang pendidikan, jenis kelamin, taraf ekonomi, etika dan moral, toleransi, daya analisa dan logika, hobi dan selera, gaya hidup, dan sebagainya.9
Sejalan dengan itu, pendidikan multikultural harus memperkenalkan pemahaman dan pengetahuan mengenai berbagai macam organisasi dan kelompok yang menentang adanya pengeksploitasian dan penganiayaan terhadap hasil karya dan ide- ide yang mendasarinya. Dengan demikian, pendidikan multikultural menitikberatkan pada pentingnya keberagaman budaya dan etnis, gender, legitimasi bangsa dan agama, dan usia dalam pembentukan kehidupan individu dan kelompok kelas social.10
7Batubara, H.H dan Ariani, D.N. (2018). Desain Pengembangan Pendidikan Multikultural di Sekolah Dasar. Banjarmasin: Journal.uin-alauddin Juli 2018
8 Ibrahim, R. (2008). Pendidikan Multikultural: Upaya Meminimalisir Konflik dalam Era Pluralitas Agama. EL TARBAWI, 1(1), 115-127.
9 Maksum, A. Pulral dan Multikultural Paradigma Baru Pendidikan Agama Islam di Indonesia (Yogyakarta: Aditya Media, 2011)
10 Swiniarski, L., Breitborde, M., & Murphy, J. (1999). Educating the global village:
Including the young child in the world. Upper Saddle River, NJ: Merrill/Prentice Hall.
30 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
Pendidikan multikultural merupakan suatu ide atau konsep kepercayaan dan penjelasan tentang pengakuan dan penilaian akan keberagaman budaya dan etnis, yang bertujuan mengubah struktur pendidikan agar para siswa yang berasal dari etnis, ras, dan kultur yang berbeda, baik laki-laki maupun perempuan ataupun siswa yang berkebutuhan khusus juga memiliki hak yang sama untuk mencapai prestasi akademis di sekolah.11 Selain itu, pendidikan multikultural sebagai proses mendidik bagaimana cara hidup menghormati, bersikap tulus, toleransi terhadap perbedaan dan keberagaman budaya yang hidup dan berkembang di masyarakat plural sehingga pendidikan ini kelak membawa dampak pada kekenyalan dan kelenturan mental bangsa dalam menyikapi konflik social di masyarakat.12
Asy’arie menambahkan bahwa hakekat pluraritas itu tunggal dan merupakan realitas kehidupan itu sendiri, yang tidak bisa dihindari apalagi ditolak. Penolakan terhadap plurarisme sama artinya menolak kehidupan itu sendiri, dua hal yang sama persis dari berbagai sisi dan aspeknya. Ketegangan pluraritas dan konflik merupakan sesuatu yang alamiah dan wajar. Jika setiap konflik harus disikapi dengan bijak maka dapat dikembangkan untuk mencari bentuk-bentuk sintetik yang baru, sebagaimana yang terjadi dalam mekanisme alam, dimana konflik menjadi basis pertumbuhan untuk memunculkan bentuk-bentuk kehidupan yang baru, yang lebih baik. Dalam setiap konflik dan ketegangan yang bersifat horizontal, telah menempatkan posisi semua aliran pemikiran dan konsep ideologi sebagai sesuatu yang tidak mutlak kebenarannya. Karenanya diperlukan dialog terbuka, sehingga terjadi proses sintetik, bulat dan integratif, karena pada hakekatnya nilai suatu kebenaran tidak bisa ditentukan oleh kekuasaan dan
11 Banks, J.A and Banks, C.A. McGee., Multikultural Education, Issues and Perspectives (RDD Crawfordvbille, USA, 2010) seventh Edition
12 Musa Asy’arie dalam Ruslan Ibrahim. Pendidikan Multikultural: Upaya meminimalisir konflik dalam Era Pluralitas Agama. El-Tarbawj Jurnal Pendidikan Islam, No. 1. Vol. 1 (Yogyakarta, 2008)
Gadis Deslinda
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 31 kekuatan, tetapi oleh aktualisasinya dalam lapangan kehidupan yang praktis.13
Dalam perspektif Islam, pengembangan pendidikan multikultural merupakan manifestasi imani dalam merespon kehendak Allah SWT yang telah dengan sengaja menciptakan keberagaman dalam ciptaan-Nya dengan tanpa maksud menciptakan konflik, melainkan sebagai wahana untuk membangun sikap dan tindakan saling tolong menolong, atau saling melengkapi, sehingga tercipta suatu kehidupan yang dinamis dan berkeseimbangan. Firman Allah dalam Surat Al -Hujurat ayat 13 menunjukkan adanya pluralitas sebagai suatu keniscayaan dalam kehidupan.14
َلِٕىۤاَبَق َّو اًب ْوُعُش ْمُكٰنْلَعَج َو ىٰثْنُا َّو ٍرَكَذ ْنِ م ْمُكٰنْقَلَخ اَّنِا ُساَّنلا اَهُّيَآٰٰي - ٌرْيِبَخ ٌمْيِلَع َ هاللّٰ َّنِاۗ ْمُكىٰق ْتَا ِ هاللّٰ َدْنِع ْمُكَم َرْكَا َّنِا ۚ ا ْوُف َراَعَتِل
Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.15
Pada ayat tersebut menggambarkan penciptaan manusia dalam kehidupan duniawi untuk saling mengenal melalui keberagaman bangsa-bangsa, suku-suku dan keberagaman budaya.
Derajat manusia tidak ditetapkan melalui spesifikasi fisikal melainkan melalui ketakwaannya kepada Allah itu sendiri. Dengan demikian, tidak ada manusia yang istimewa di kehidupan
13 Musa Asy’arie. Filsafat Islam. Sunnah Nabi dalam berpikir. Penerbit: LESFI.
Yogyakarta, 2017
14 Ansori, M. Model Pendidikan Islam Berbasis Multikultural. Jurnal Al-Yasini, Vol.
03, No.02, November 2018
15 QS. Al-Hujurat:13
32 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
pluralnya, merasa superior, merasa paling benar serta arogan terhadap individu lain.16
Multikultural merupakan pilar-pilar demokrasi, kebebasan dan kesamaan serta wawasan plurarisme yang mendapat perhatian dan respons dari ajaran Islam yang mengandung konsep dan nilai kemanusiaan yang mendalam. Respons dan perhatian ini diberikan oleh Islam, agar konsep multikulturalisme dengan pilar-pilar tersebut tunduk pada nilai-nilai yang terdapat dalam peraturan perundangan, adat istiadat, moral, dan agama.17
Pendidikan merupakan jalan yang paling efektif dalam menyikapi permasalahan yang kompleks diantaranya diskriminasi dan tindakan membeda-bedakan pihak tertentu. Pendidikan juga merupakan jalan yang paling efektif dalam menyajikan kaidah- kaidah dan nilai-nilai multikultural pada siswa. Dengan adanya pendidikan multikultural diharapkan mampu menginternalisasi nila-nilai tersebut dan tidak hanya angan belaka. Tentunya hal ini tidak terlepas dari adanya kerjasama dari pihak-pihak yang terkait seperti tenaga pengajar, siswa dan masyarakat yang komprehensif.18
Karena itu, adanya bentuk pemberian dukungan mutlak terhadap sebuah ideologi, individu, kelompok, bentuk lainnya yang tidak dilandasi oleh logika dan akal sehat. Pemahaman yang keliru mengenai perkataan, perbuatan dan pemikirannya sebagai suatu kebenaran yang mutlak dan akan berusaha meyakinkan ideologi tersebut kepada orang lain. Adanya kebenaran mutlak terhadap aliran pemikiran, kelompok, dan golongan masing-masing dan adanya kecenderungan untuk menyalahkan, menyesatkan dan
16 Afif, A. Model Pengembangan Pendidikan Islam Berbasis Multikultural. Tadris Vol 7 nomor 1 Juni 2012
17 Ibid., 5
18 Thoyib, M. Model Pengembangan Pendidikan Islam Multikultural di Indonesia.
Nadi Offset (Yogyakarta 2016)
Gadis Deslinda
Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie | 33 menghakimi orang yang beda faham sebagai lawan, bahkan tidak jarang dijadikan sebagai sasaran kekerasan.19
Lebih lanjut Asy’arie menyatakan kebanggaan atas ideologi sebagai pengikat publik pendukungnya membentuk fanatisme yang sempit dan masing-masing kelompok saling membanggakan diri, sementara pihak lainnya melakukan hal yang serupa. Fanatisme yang sempit telah mendorong untuk memutlakkan kebeneran ideologi sendiri-sendiri dengan saling menyesatkan satu sama lain dan menempatkan satu sama lain sebagai lawan. Akibatnya terjadi konflik sosial yang semakin meluas dan seringkali menimbulkan konflik kekerasan yang berdarah-darah.20
Munculnya kelompok Islam aliran keras, tidak adanya sikap menghargai adanya perbedaan, pembenaran diri yang paling kuat justru sering melakukan terror, memunculkan kegelisahan dalam masyarakat dan juga dalam dunia Pendidikan. Dalam penelitian dinamakan sebagai Islam radikal. Dalam Islam radikal penambahan anggota semakin banyak meskipun tidak selalu melakukan terror.
Hal ini ditandai dengan semakin mudahnya ditemukan kelompok Islam yang terang-terangan ingin menggantikan ideologi dasar negara dengan dasar agama dan tidak sedikit pula yang berani menyebut orang lain sebagai orang kafir, ahli bid’ah, ṭāghūt, ahli neraka dan lain sebagainya.21
Pada hakekatnya multikulturalisme merupakan politik kebudayaan yang memperjuangkan nasib kaum minoritas yang memiliki keanekaragaman budaya, etnik, suku dan perbedaan agama serta lain sebagainya yang tinggal dalam suatu negara yang memiliki kebudayaan yang berbeda yang dianut dengan kaum minoritas tersebut. Oleh karena itu, untuk menjamin keberlangsungan hidup dan keamanan budaya yang dianut kalangan monoritas maka dibutuhkan kebudayaan lain yang
19 Musa Asyarie. Rekonstruksi Metodologi Berpikir Profetif, Persepktif Sunnah Nabi. Lembaga Studi Filsafat Islam (Yogyakarta, 2017)
20 Ibid, hal 24
21 Rokhmad, A. Radikalisme Islam dan Upaya Deradikalisasi Paham Radikal.
Walisongo, Vol 20, No.1, Mei 2012. Hlm 105
34 | Lurus Jalan Terus: 70 Tahun Musa Asy’arie
berfungsi sebagai pengerat, penghubung dan pengendali kebudayaan tersebut.22
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pendidikan multikultural adalah pendidikan yang memberikan wawasan dan pengetahuan mengenai ada perbedaan budaya, suku, ras dan agama kepada masyarakat. Pendidikan multikultural juga memberikan pemahaman dan perhatian terhadap sikap toleransi dan demokrasi terhadap heterogenitas dan pluraritas dari keberagaman etnis, budaya dan agama. Pendidikan multikultural mampu menginternalisasikan nilai-nilai dan ideologi bangsa sehingga tercipta masyarakat yang komprehensif.