• Tidak ada hasil yang ditemukan

Batas-batas Pendidikan Islam

Pendidikan merupakan suatu proses panjang untuk mengaktualkan seluruh potensi diri manusia sehingga potensi kemanusiaannya menjadi aktual. Arifin, dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam, mengatakan bahwa pendidikan Islam bertujuan untuk mewujudkan manusia yang berkepribadian muslim baik secara lahir maupun batin, mampu mengabdikan segala amal perbuatannya untuk mencari keridhaan Allah SWT. Dengan demikian, hakikat cita-cita pendidikan Islam adalah melahirkan manusia-manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan, satu sama lain saling menunjang.

Pada hakikatnya, proses pendidikan merupakan proses aktualisasi potensi diri manusia. Sistem proses menumbuhkembangkan potensi diri itu telah ditawarkan secara sempurna dalam sistem ajaran Islam, ini yang pada akhirnya menyebabkan manusia dapat menjalankan tugas yang telah dibebankan Allah. Manusia dicoba didewasakan dan di-insan kamil- kan melalui pendidikan sebagai elemen yang berpretensi positif dalam pembangunan kehidupan yang berkeadaban. Dari pemikiran ini, maka pendidikan merupakan tindakan sadar dengan tujuan memelihara dan mengembangkan fitrah serta potensi (sumber daya) insani menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil).

Oleh karena dasarnya yang demikian, Islam melihat bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang sangat krusial yang dapat dipahami secara normatif dari pelbagai penjelasan Al-Qur’an maupun al-Hadist; juga tentunya perilaku para cendekiawan awal muslim. Wahyu pertama sarat dan dintrodusir sebagai spirit bagaimana usaha-usaha pendidikan dimulai. Dalam konteks masyarakat Arab, kedatangan Islam merupakan transformasi besar.

Sebab, masyarakat Arab pra-Islam pada dasarnya tidak mempunyai sistem pendidikan formal. Dari segi historis, salah satu tugas dari Nabi Muhammad adalah melaksanakan pendidikan Islam terhadap umatnya. Dan Allah Swt telah mendidik dan mempersiapkannya untuk melaksanakan tugas tersebut secara sempurna, malalui pengajaran, pengenalan, serta dalam kehidupan masyarakat dan

lingkungan budayanya (Azra, 1999: vii). Tema pendidikan ini secara implisit dapat dipahami dari wahyu yang pertama diturunkan kepada Nabi sebagai spirit terhadap tugas kependidikan yang pertama dan utama yang dilakukan Nabi.

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari gumpalan darah. Bacalah demi Tuhanmu yang paling Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Yang mengajar manusia apa-apa yang tidak diketahui.” (Q.S. Al-‘Alaq: 1 – 5).

Oleh karena Alquran memuat sejumlah dasar umum pendidikan, maka Alquran sendiri pada prinsipnya dapat dikatakan sebagai pedoman normatif-teoritis dalam pelaksanaan pendidikan Islam.

Ayat-ayat yang tertuang dalam Alquran merupakan prinsip dasar yang kemudian diterjemahkan oleh para ahli menjadi suatu rumusan pendidikan Islam yang dapat mengantarkan pada tujuan pendidikan yang sebenarnya. Secara eksplisit, percakapan dalam Alquran tentang pendidikan sudah pasti melabar kepada pujian Alquran terhadap orang-orang beriman dan kepada ilmu-ilmu itu sendiri.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di atara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Q.S. Al- Mujadalah: 11).

Pada kenyataanya, struktur dari peradaban Islam, dari semenjak perkembagan Islam paling awal secara keseluruhan berasal dari spirit Al-Quran di samping konsep-konsep ilmu yang ada dalam Alquran.

Kemudian prinsip ini dijadikan sebagai Weltanschauung yang melatarbelakangi keberadaan manusia secara global dan diinspirasikan dari era bagaimana konsep ilmu itu didefinisikan.

Lebih dari itu, konsep serupa ini memformulasikan model pikiran dan penelitian yang dilakukan oleh umat Islam dalam rangka melihat realitas mengembangkan masyarakat yang tentunya lewat usaha- usaha pendidikan sepanjang hayat. Hal ini senada dengan pernyataan Lodge yang menyatakan bahwa "hidup adalah pendidikan, dan pendidikan adalah hidup itu sendiri" (Mastuhu,

education" atau dalam istilah Islam "uthlub al-ilma min al-mahdi ila al- lahdi".

Dengan basis teori seperti ini, dapat dipahami bahwa sesungguhnya tidak batasan dalam pendidikan Islam. Secara operasional, muncul beberapa pendapat batas awal pendidikan Islam, sekalipun terkait dengan batas akhir pendidikan Islam tidak muncul friksi yang tajam di kalangan berbagai pakar (muslim) yang concern dengan kependidikan Islam. Untuk lebih jelasnya mengenai batas awal dan batas akhir pendidikan Islam, dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Batas Awal Pendidikan Islam

Mengenai batas awal pendidikan Islam ini, Fahmi (1979 : 118) mengemukakan bahwa dikalangan ahli pendidikan Islam terdapat perbedaan pendapat kapan anak mulai dapat didik. Sebagian di antara mereka mengatakan setelah anak berusia empat tahun, akan tetapi al-Abrasyi dalam bukunya "Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam"

(al-Abrasyi, 1977: 160) menceritakan sebagai berikut:

“Pada suatu ketika, Mufadal bin Zaid melihat anak seorang wanita Islam dari desa, maka beliau terpesona melihat wajahnya dan kesempurnaan bentuk badannya. Kemudian Zaid bertanya kepada ibunya mengenai anak tersebut dan dijawab: "Ketika ia berumur lima tahun saya telah menyerahkannya kepada seorang guru didik, di mana ia belajar menghafal al-Qur’an, kemudian disuruh mempelajari syair dan sesudah itu diberikan kepadanya untuk mempelajari sejarah arah nenek moyang dan kaumnya dan membaca jasa-jasa serta kemegahan mereka hingga sampailah ia ke usia dewasa, kemudian ia dilatih mengendarai kuda dan mempergunakan senjata. Setelah ia mahir dalam soal-soal memakai senjata, disuruh berjalan dari rumah ke rumah, dan kemudian ia mendengar suara orang minta tolong, maka dengan cepat ia membantu dan menolong.”

Dari jawaban ibu tersebut dapat disimpulkan bahwa anak dapat dididik mulai sejak usia lima tahun atau setelah ia berumur lima tahun dengan urutan-urutan ilmu yang diberikan: mulai dari Al-

Qur’an, kemudian syair, sejarah nenek moyang (baca: pelajaran sejarah), baru mengendarai kuda, dan kemudian menggunakan senjata. Adapun menurut al-Abdari anak mulai dididik dalam arti yang sesungguhnya setelah ia berusia tujuh tahun. Oleh karena itu, ia mengkritik orang tua yang menyekolahkan anaknya pada usia yang masih terlalu muda, yaitu sebelum berusia tujuh tahun.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat di simpulkan bahwa belum ada kesepakatan di kalangan para ahli pendidikan Islam tentang kapan anak mulai dapat dididik. Namun jika diterapkan dalam praktek pendidikan formal, maka dapat dipakai pedoman atau standar sebagai berikut: untuk dapat memasuki pendidikan pra sekolah sebaiknya setelah anak berusia lima tahun, sedangkan untuk dapat memasuki pendidikan dasar maka sebaiknya setelah anak berusia tujuh tahun.

2. Batas Akhir Pendidikan Islam

Ali Asraf sebagai tokoh pendidikan Islam mencoba menjawab berbagai permasalahan pendidikan Islam, dalam bukunya Horison Pendidikan Islam, termasuk di dalamnya batas akhir pendidikan Islam.

Menurut Ali Asraf pendidikan adalah sebuah aktivitas yang memiliki maksud tertentu, diarahkan untuk mengembangkan individu sepenuhnya. Lebih lanjut Ali Asraf menyatakan bahwa konsep pendidikan Islam tidak dapat dipahami tanpa terlebih dahulu memahmai penafsiran Islam tentang pengembangan individu sepenuhnya. Manusia adalah wakil Allah di muka bumi. Dalam Al- Quran Allah menjelaskan tentang nama-nama benda, mengajarkan norma-norma kepada mansuia pilihan yaitu para Nabi. Norma norma dan prinsip-prinsip serta metode-metod etentang pembelajaran dan pengetahuan telah Allah turunkan melalui wahyu.

Firman Allah merupakan sumber hukum untuk dipatuhi manusia.

Pendidikan bertujuan menimbulkan pertumbuhan seimbang kepribadian manusia melalui latihan spiritual, intelek, rasional diri, perasaan dan kepekaan tubuh manusia. Oleh karena itu, pendidikan

segala aspeknya, seperti spiritual, intelektual, imaginative, fisikal, ilmiah, linguistik, baik secara individual maupun secara kolektif dan memotivasi semua aspek untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Menurut Ali Asraf tujuan terakhir pendidikan muslim adalah perwujudan penyerahan mutlak kepada Allah, pada tingkat individual, masyarakat dan kemanusiaan. Dasar itu, sulit untuk memberikan batasan akhir pendidikan Islam. Tampaknya, para ahli pendidikan Islam tidak berbeda pendapat atau sepakat bahwa batas, akhir pendidikan Islam adalah sampai batas akhir hidup manusia atau sampai akhir hayat sebagaimana yang dapat dipahami (secara substantif) dari pelbagai pesan Al-Qur’an, Hadist, dan tradisi keilmuan yang pernah dipraktekkan oleh pendulum (baca: pendahulu) Islam.

Begitu besarnya perhatian Islam terhadap pentingnya pendidikan ini, sampai Rasulullah SAW memerintahkan kepada umatnya yang sedang menunggui orang yang akan sakaratul maut supaya menuntunnya membaca kalimah "la ilaha illa Allah". Hal ini dapat dilihat dalam sabda Rasulullah yang artinya: "Ajarilah orang yang akan meninggal dunia dengan kalimat "la ilaha illa Allah".