• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Pendidik dalam Pendidikan Islam

Istilah pendidik seringkali diidentikkan dengan jabatan guru, sedangkan pendidik dalam Islam ialah siapa saja yang sertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik (Ahmad Tafsir, 1994 : 74).

Pengertian pendidik dalam pendidikan Islam tidak terbatas pada pendidik di lingkungan formal yang biasa disebut guru/pendidik profesional, tetapi mencakup semua orang yang sertanggung jawab terhadap perkembangan anak baik di lingkungan informal (keluarga) terutama orang tua maupun di lingkungan non formal (masyarakat).

Bahkan dalam Islam, orang yang paling sertanggung jawab terhadap perkembangan anak adalah orang tua (ayah dan ibu) anak didik. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT :

"Wahai segenap orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari ancaman api neraka". (Q.S. 66 : 6)

Ayat ini mengingatkan setiap muslim agar menjaga diri dan seluruh keluarganya – terutama anak-anaknya – yang merupakan tanggung jawabnya dari segala macam kebinasaan yang nantinya akan mengakibatkan mereka terjerumus ke dalam api neraka. Salah satu cara untuk menjaga mereka dari kebinasaan adalah dengan mendidik mereka sesuai dengan ajaran Islam. Perintah mendidik dibebankan kepada orang tua, juga disebabkan sekurang-kurangnya oleh dua faktor: pertama, karena kodrat di mana orang tua ditakdirkan menjadi orang tua anaknya. oleh karena itu, ia ditakdirkan pula pertanggung jawab mendidik anaknya, kedua, karena kepentingan orang tua, yaitu semua orang tua berkepentingan

terhadap kemajuan perkembangan anaknya, di mana keberhasilan yang diraih oleh seorang anak merupakan keberhasilan orang tuanya juga.

Tugas pendidik (orang tua) adalah mengantarkan anak didik meraih suatu kesuksesan. Dan ini merupakan tugas yang sangat berat karena harus dapat mengembangkan seluruh potensi anak (didik), baik potensi psikomotor, kognitif maupun afektifnya. Potensi itu harus dikembangkan secara seimbang sampai ke tingkat setinggi mungkin menurut ajaran Islam. Karena itulah, orang tua diposisikan sebagai pendidik pertama dan utama.

Namun akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan dan juga kemajuan teknologi, orang tua tidak mampu lagi melakukan sendiri tugas-tugas mendidik anaknya. Oleh karena ltulah, maka anak diserahkan ke sekolah yang merupakan lembaga pendidikan formal. Pendidikan di sekolah memiliki pengaruh yang besar dan meluas, akan tetapi hampir hanya pada segi perkembangan aspek kognitif (pengetahuan) dan psikomotor (keterampilan). Di sinilah pentingnya pendidikan di lingkungan keluarga (rumah tangga) yang dilaksanakan oleh orang tua untuk mendorong perkembangan aspek afektifnya, yaitu perkembangan sikap sehingga perkembangan potensi yang dimiliki anak menjadi sempurna.

Mengingat hal ini, maka perlu dijalin kerja sama yang baik antara orang tua dengan sekolah, terutama dengan pihak guru. Yang dimaksud dengan guru di sini ialah pendidik yang memberikan pelajaran kepada murid, biasanya guru adalah pendidik yang memegang mata pelajaran di sekolah.

Menurut ZakiahDarajat, guru adalah pendidik profesional, karenanya secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak orang tua (ZakiahDarajat dkk, 1992 : 39). Pendapat ini menegaskan bahwa kata guru tidak hanya mengandung arti

"pengajar" melainkan juga "pendidik", baik di dalam maupun di luar sekolah. Ia harus melaksanakan fungsi mendidiknya sebagai

Satu hal yang perlu disadari, Islam sangat menghargai profesi guru (pendidik), dan menempatkan guru setingkat di bawah kedudukan nabi dan rasul. pula Imam Al-Ghazali dalam kitab Fatihatul ‘Ulum dan Ihya Ulumuddin menjelaskan tentang sifat-sifat kesucian, penghormatan, dan menempatkan guru langsung berada setelah kedudukan para nabi.

Rasulullah saw. bersabda: “Tinta para ulama lebih baik dari darahnya para syuhada”. Begitu pula seorang penyair Arab, Syauqiy Bek mengakui pula tentang nilai seorang guru dengan pernyataannya: “Berdiri dan hormati guru dan berilah ia penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang rasul”.

Guru merupakan spiritual father bagi siswanya. Hal ini disebabkan guru memberikan bimbingan jiwa siswanya dengan ilmu, mendidik dan meluruskan akhlaknya. Menghormati guru berarti penghormatan terhadap anak-anak kita, menghargai guru berarti penghargaan terhadap anak-anak kita. Dengan guru itulah mereka hidup dan berkembang. Dasar itu, sudah selayaknya seorang guru juga menjaga kemuliaan dirinya. Ada beberapa sifat yang harapannya bisa menjadi sifat bagi semua guru. Soejono misalnya menyatakan syarat-syarat guru sebagai berikut (1982 : 63- 65):

 Umur harus sudah dewasa. Tugas mendidik adalah tugas yang amat penting karena menyangkut perkembangan seseorang dan menyangkut nasib seseorang. Oleh karena itu, tugas itu harus dilakukan secara sertanggung jawab. Hal itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah dewasa. Di negara kita, seseorang dianggap dewasa sejak ia berusia delapan belas tahun atau dia sudah kawin.

 Kesehatan harus sehat jasmani dan rohani. Jasmani yang tidak sehat akan menghambat pelaksanaan pendidikan, bahkan dapat membahayakan anak didik bila mempunyai penyakit menular. Dari segi rohani, orang gila berbahaya bila ia mendidik. Orang idiot juga tidak mungkin mendidik

karena ia tidak akan mampu bertanggung jawab.

 Kemampuan mengajar. Ini penting sekali bagi pendidik, termasuk guru. Orang tua di rumah sebenarnya perlu sekali mempelajari teori-teori ilmu pendidikan. Dengan pengetahuannya mereka mampu menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anaknya di rumah. Seringkali terjadi kelainan pada anak didik disebabkan oleh kesalahan pendidikan di dalam rumah tangga.

 Harus berkesusilaan dan berdedikasi tinggi. Syarat ini amat penting dimiliki untuk melaksanakan tugas-tugas mendidik selain mengajar. Bagaimana guru akan memberikan contoh- contoh kebaikan bila ia sendiri tidak baik perangainya?

Dedikasi tinggi tidak hanya diperlukan dalam mendidik selain mengajar. Dedikasi tinggi diperlukan juga dalam meningkatkan mutu mengajar.

Syarat-syarat ini merupakan syarat-syarat guru pada umumnya.

Dan semua syarat-syarat tersebut juga berlaku dalam pendidikan Islam. Hanya saja mengenai syarat kesehatan jasmani, Islam dapat menerima guru yang cacat jasmani, asalkan cacat itu tidak merintangi tugasnya dalam mengajar.

Munir Mursi sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Tafsir (1994 : 81) menyatakan syarat terpenting bagi guru dalam pendidikan Islam adalah syarat keagamaan. Dengan demikian, syarat guru dalam pendidikan Islam ialah: (a) umur harus sudah dewasa; (b) kesehatan, harus sehat jasmani dan rohani; (c) keahlian, harus menguasai bidang yang diajarkannya dan menguasai ilmu mendidik (termasuk ilmu mengajar); (d) harus berkepribadian muslim.

Secara terperinci, saya melihat bahwa syarat-syarat menjadi seorang pendidik apabila dibreakdown dapat dirinci sebagai berikut:

 Zuhud dalam arti tidak mengutamakan materi, dan mengajar karena mencari keridlaan Allah semata. Berkaitan dengan

penghidupan yang layak bagi para guru dengan seluruh fasilitas kehidupan yang memadai.

 Kebersihan guru harus senantiasa dijaga. Artinya seorang guru harus bersih tubuhnya, jauh dari perbuatan maksiat, dosa, dan kesalahan. Bersih jiwanya, terhindar dari dosa besar, sifat riya’, dengki, permusuhan, perselisihan dan sifat- sifat lain yang tercela. Rasulullah saw. bersabda: “Rusaknya umatku karena dua macam manusia, yaitu seorang alim yang durjana dan seorang shaleh yang jahil, orang yang paling baik adalah ulama yang baik dan orang yang paling jahat adalah orang- orang yang bodoh

 Ikhlas dalam pekerjaan. Keikhlasan dan kejujuran merupakan kunci bagi keberhasilan seorang guru dalam menjalankan tuganya. Ikhlas artinya sesuai antara perkataan dan perbuatan, melakukan apa yang ia katakan dan tidak malu untuk menyatakan ketidaktahuan. Seorang alim adalah orang yang selalu merasa harus menambah ilmunya dan menempatkan dirinya sebagai pelajar untuk mencari hakikat, di samping itu ia ikhlas terhadap murid dan menjaga waktunya. Tidak ada halangan seorang guru belajar dari muridnya, karena seorang guru dalam pendidikan Islam adalah seorang yang rendah hati, bijaksana, tegas dalam kata dan perbuatan, lemah lembut tanpa memperlihatkan kelemahan, keras tanpa memperlihatkan kekasaran.

 Pemaaf. Ia sanggup untuk menahan kemarahan, menahan diri, lapang hati, sabar, dan tidak pemarah.

 Seorang guru merupakan bapak/ibu, saudara, dan sahabat sebelum ia menjadi guru

 Seorang guru harus mengetahui tabiat murid

 Menguasai materi pelajarannya.

 Kreatif dalam memberikan pengajaran kepada siswanya, sehingga siswa mudah dalam menerima transfer pemikiran yang diberikan.

 Harus menaruh kasih sayang terhadap murid dan memperhatikan mereka seperti terhadap anak sendiri.

 Memberikan nasihat kepada murid dalam setiap kesempatan.

 Mencegah murid dari akhlak yang tidak baik dengan jalan sindiran, terus terang, halus dengan tidak mencela.

 Guru harus memperhatikan tingkat kecerdasan muridnya dan berbicara dengan mereka dengan kadar akalnya, termasuk di dalamnya berbicara dengan bahasa mereka.

 Tidak menimbulkan kebencian pada murid terhadap suatu cabang ilmu yang lain.

 Guru harus mengamalkan ilmu dan selarasnya kata dengan perilaku.