Memberikan nasihat kepada murid dalam setiap kesempatan.
Mencegah murid dari akhlak yang tidak baik dengan jalan sindiran, terus terang, halus dengan tidak mencela.
Guru harus memperhatikan tingkat kecerdasan muridnya dan berbicara dengan mereka dengan kadar akalnya, termasuk di dalamnya berbicara dengan bahasa mereka.
Tidak menimbulkan kebencian pada murid terhadap suatu cabang ilmu yang lain.
Guru harus mengamalkan ilmu dan selarasnya kata dengan perilaku.
Tidak ada perubahan pada fitrah Aialh (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya". Disamping itu terdapat pula Hadits Rasulullah SAW. yang menerangkan tentang fitrah tersebut yaitu: "Tiap-tiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka ibu bapaknyalah yang mendidiknya menjadi orang yang beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi" (HR. Muslim).
Pada ayat dalam Surat al-Rum di atas, fitrah mengandung implikasi kependidikan yang berkonotasi pada "paham nativisme"
walaupun ada perbedaan mendasar dalam proses pendidikan selanjutnya. Karena, kata fitrah mengandung makna "kejadian" yang di dalamnya berisi potensi dasar beragama yang benar dan lurus, yaitu Islam. Potensi ini tidak dapat diubah oleh siapapun atau lingkungan manapun karena fitrah itu merupakan ciptaan Allah yang tidak akan mengalami perubahan baik isi maupun bentuknya dalam tiap pribadi manusia (Arifin, 1991: 89). Berdasarkan interpretasi yang demikian, maka bisa dikatakan bahwa ilmu pendidikan Islam tidak menolak "paham nativisme", yaitu suatu paham yang menyatakan bahwa perkembangan manusia dalam hidupnya secara mutlak ditentukan oleh potensi dasarnya. Sedangkan pada pemahaman hadits di atas, implikasi kependidikan Islam mengarah juga pada
"paham empirisme" di mana lingkungan sangat menentukan perkembangan anak didik.
Dengan memadukan pemahaman kita tentang ayat dan hadits di atas, maka implementasi kependidikan Islam adalah perpaduan antara "paham nativisme" dengan "paham empirisme", dalam arti kata bahwa potensi/pembawaan yang dimiliki anak sejak lahir dan lingkungan (pendidikan) sama-sama berpengaruh terhadap perkembangan anak didik. Oleh karena itulah, pendidikan dalam Islam, antara lain, berusaha untuk mengembangkan alat-alat potensial dari manusia tersebut seoptimal mungkin untuk dapat difungsikan sebagai sarana bagi pemecahan masalah-masalah hidup dan kehidupan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya manusia dan pengembangan sikap iman dan takwa kepada Allah SWT.
Alat-alat potensial dan berbagai potensi dasar atau fitrah manusia tersebut harus ditumbuhkembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan sepanjang hidupnya.
Pertumbuhan dan perkembangan alat-alat potensial dan fitrah manusia itu dipengaruhi oleh faktor-faktor hereditas lingkungan alam dan geografis, lingkungan sosio kultural, sejarah dan fakta-fakta temporal. Dalam ilmu pendidikan, terdapat lima faktor yang sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan pendidikan yaitu; faktor tujuan, pendidik, peserta didik, alat pendidikan dan millieu (lingkungan) (Tajdab, 1996 :4 5).
Di samping manusia memiliki potensi dasar atau fitrah yang baik yang harus ditumbuhkankembang, manusia juga harus menyadari bahwa manusia memiliki kelemahan atau segi-segi negatif yang harus dikendalikan dan dihilangkan agar tidak sampai mendominasi dalam kehidupannya. Segi-segi negatif yang sekaligus merupakan cerminan kekurangan dan kelemahan manusia itu antara lain :
Manusia adalah memiliki sifat dhalim dan bodoh, sebagaimana firman Allah dalam (Q.S. al-Ahzab : 72). Manusia suka menganiaya diri sendiri, sifat yang suka membangkang, tidak mau meletakkan sesuatu pada tempatnya atau tidak proporsional, dan tidak mau taat dan tunduk terhadap ajaran Allah dan rasulnya sehingga merugikan dirinya sendiri. Manusia telah diberi berbagai alat-alat potensial dan potensi-potensi dasar untuk ditumbuh kembangkan melalui aktivitas pendidikan dan untuk diaktualkan dalam kehidupan nyata, tetapi masih banyak pula yang tidak mau (acuh tak acuh dan masa bodoh) untuk melakukannya. Manusia juga telah diberi amanah oleh Allah untuk dilaksanakan dan diwujudkan dalam kehidupan nyata di dunia ini, tetapi ia berkhianat atau tidak tahu menahu terhadap amanah tersebut, dan tidak mau melaksanakannya dengan sebaik- baiknya sehingga berakibat parah dan menimbulkan maiapetaka yang membahayakan bagi diri, masyarakat dan lingkungan hidupnya.
Manusia adalah makhluk yang lemah, tidak punya daya dan
kekuatan (Q.S. an-Nisa’: 28, Al-Kahf i: 39). Karena itu, tidak sepantasnya manusia berlaku sombong dan lupa diri, baik sombong karena kekayaan, jabatan, hasil budaya ilmunya dan sebagainya.
Manusia adalah makhluk yang banyak membantah dan menentang ajaran Allah yang telah menciptakannya dan yang telah memberi berbagai macam nikmat (Q.S. al-Kahf i: 54). Manusia telah diberi alat- alat potensial misalnya, panca indra, akal pikiran, dan lain-lain, tetapi justru digunakan untuk membantah dan menentang ajaran Tuhannya.
Manusia itu bersifat tergesa-gesa (Q.S. al-Isra’ : 11). Dalam arti suka menuntut suatu kebaikan dan keuntungan apa saja dengan segera, dan suka mengambil jalan pintas dalam meraih sesuatu atas dorongan hawa nafsunya.
Manusia itu sering mengingkari ni'mat (lihat Q.S. al-Hajj : 66) dan mengingkari kebenaran ajaran Allah (lihat Q.S. al-lsra' : 89). Manusia telah diberi berbagai macam ni'mat oleh Allah untuk disyukuri oleh manusia, dalam arti digunakan dan dimanfaatkan seoptimal mungkin sesuai dengan tujuan diciptakannya ni'mat itu dan kehendak si pemberi ni'mat itu, tapi tetapi kebanyakan manusia masih mengingkarinya, tidak mau menggunakan dan memanfaatkan ni'mat itu seoptimal mungkin, dan tidak mau mengakui kebenaran ajaran Tuhannya. Karena pengingkarannya itu, maka akibatnya ditanggung sendiri oleh manusia yang menimbulkan kerugian dan malapetaka bagi manusia sendiri.
Manusia itu sudah gelisah dan banyak keluh kesah serta sangat kikir (Q.S. al-Ma'aarij: 19-21, al-Isra’ : 100), dalam arti manusia itu mudah cemas dan tidak tahan dalam menghadapi musibah, sangat mudah merasa resah dan gelisah serta kehilangan keseimbangan mental ketika ditimpa musibah. Tapi ketika diberi rahmat oleh Tuhan, yang berupa rejeki yang melimpah, maka ia bersifat serakah, dan sangat kikir tidak memiliki kepedulian sosial (Tadjab dkk, 1996 : 52-53).
Dengan adanya sifat-sifat negatif pada manusia ini, pendidikan dalam Islam antara lain bertugas untuk membimbing dan
manusia yang serba terbatas, serta menumbuhkan sikap iman dan takwa kepada Allah yang serba Maha tak terbatas. Demikian pula, dalam menuntut ilmu yang merupakan proses pendidikan, Islam juga meletakkan beberapa kewajiban yang harus diperhatikan dan dilaksanakan oleh peserat didik, sebagaimana yang dikemukakan oleh al-Abrasy (1977 : 140-141) dan Asma Hasan Fahmi (1979 : 174- 175) itu sebagai berikut:
1. Seorang murid harus membersihkan hatinya dari segala kotoran atau sifat buruk sebelum menuntut ilmu.
2. Hendaklah tujuan belajar itu ditujukan untuk menghias jiwa dengan sifat keutamaan, mendekatkan diri kepada Allah SWT. dan bukan untuk menonjolkan diri, berbangga dan gagah-gagahan.
3. Pelajar harus tabah dalam mempelajari ilmu bila perlu harus merantau untuk mencari guru dan dinasehati pula agar tidak terlalu cepat berganti guru.
4. Seorang pelajar harus menghormati dan memuliakan gurunya karena Allah dan senantiasa berupaya untuk menyenangkan hali gurunya.
5. Seorang pelajar harus bersungguh-sungguh dan tekun dalam belajar.
6. Pelajar harus bertekad untuk belajar hingga akhir hidupnya dan jangan meremehkan suatu cabang ilmu.
Selain keenam sifat/kewajiban yang harus dilaksanakan pelajar di atas, Syaiabi (1973 : 313) menambahkan dengan sifat-sifat yaitu:
1. Pelajar yang masih berada pada tingkat permulaan hendaklah menjauhi pertikaian-pertikaian pendapat karena hal itu akan menimbulkan ketegangan dalam pikirannya. Perdebatan atau perbedaan pendapat tersebut dapat dipelajari bila ia telah berpengalaman dan mempunyai ilmu yang luas dan mendalam.
2. Pelajar juga menumbuhkan rasa cinta kepada ilmu, sehingga ia benar-benar menyenangi ilmu tersebut dan mempelajarinya dengan penuh kesetiaan, hingga ilmu itulah yang menjadi kelezatan dan hiburannya.
Dari apa yang dikemukakan di atas, tentang pendidik dan peserta didik terdapat dua hal penting yakni : (a) akhlak menempati tempat yang lebih penting dari ilmu dan ini merupakan prinsip dasar yang harus dipraktekkan oleh pendidik maupun peserta didik secara bersama-sama; (b) memiliki perhatian yang besar dalam mempererat hubungan dan saling mengasihi antara pendidik dan peserta didik.