• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan Keagamaan

B. Pendekatan dalam Pendidikan Islam

2. Pendekatan Keagamaan

Selain itu dalam menghadapi era milenium ketiga ini nampaknya pendidikan Islam harus menyiapkan sumber daya manusia yang lebih handal yang memiliki kompotensi untuk hidup bersama dalam era global. Menurut Djamaluddin Ancok (1998 : 5), "salah satu pergeseran paradigma adalah paradigma di dalam melihat apakah kondisi kehidupan di masa depan relatif stabil dan bisa diramalkan (predictability). Pada milenium kedua orang selalu berpikir bahwa segala sesuatu bersifat stabil dan bisa diprediksi. Tetapi, pada milenium ketiga semakin sulit untuk melihat adanya stabilitas tersebut. Apa yang terjadi di depan semakin sulit untuk diprediksi karena perubahan menjadi tidak terpolakan dan tidak lagi bersifat linier". Maka, pendidikan Islam sekarang ini disainnya tidak lagi bersifat linier tetapi harus didisan bersifat lateral dalam menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat dan tidak terpolakan. Untuk itu, lebih lanjut, Djamaluddin Ancok yang mengutip Hartanto : 1997:

Hartanto, Raka & Hendroyuwono, 1998, mengatakan bahwa pendidikan (termasuk pendidikan Islam) harus mempersiapkan ada empat kapital yang diperlukan untuk memasuki milenium ketiga, yakni kapital intelektual, kapital sosial, , dan kapital spiritual.

Tantangan ini tidak muda untuk penyelesaiannya, tidak seperti membalik telapak tangan. Untuk itu, pendidikan Islam sangat perlu mengadakan perubahan atau mendesain ulang konsep, kurikulum dan materi, fungsi dan tujuan lembaga-lembaga, proses, agar dapat meneuhi tuntatan perubahan yang semakin cepat.

Oleh karena itu, corak pendidikan Islam mestinya bersifat inovatif (innovative learning), bukan belajar melestarikan apa yang ada (maintance learning), konservatif dan pasif serta dogmatis.

sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya, dapat berkembang ke arah pola kehidupan yang bertakwa kepada khatik- Nya serta tidak melakukan pembangkangan.

Allah hanya memberikan dua alternatif pilihan yaitu jalan hidup yang benar atau jalan hidup yang sesat untuk dipilih oleh manusia melalui pertimbangan akal pikiran yang dibantu oleh fungsi-fungsi psikologis lainnya. Bila ia memilih jalan kebenaran, maka dijamin oleh Allah akan memperoleh kebahagiaan hidup dunia-akhirat dan bila memilih jalan sesat, maka ia diancam oleh Allah dengan siksaan- Nya yang menyengsarakan hidupnya di dunia dan akhirat.

“Sesungguhnya kami telah menunjuknya (manusia) jalan itu, ada kalanya ia mensyukurinya (mengikutinya) dan ada kalanya ia mengkufurinya (mengingkarinya)” (Q.S. al-Insan : 3).

Ayat tersebut merupakan contoh sumber inspirasi dan motivasi dalam proses pendidikan Islam. Manusia dengan petunjuk Allah SWT, melalui kitab suci-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya dapat memilih jalan yang dikehendakinya (kesesatan atau kebahagiaan) yang penuh dengan dinamika hidup sepanjang hayat.

Untuk mencapai kebabagiaan hidup, Allah telah menganugerahkan kepada tiap diri manusia suatu kemampuan dasar yang disebut Fitrah yang tidak berubah dan dapat dipengaruhi perkembangannya oleh pendidikan Islam. Agar pengaruh itu efektif sangat tergantung pada sikap dan penlaku pendidik itu sendiri. Sikap dan perilaku pendidik berpusat pada kelemahlembutan dan rasa kasih sayang. Dari sikap ini akan timbul perasaan dekat antara peserta didik dengan pendidik.

Prinsip seperti ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam mendidik kaumnya di Mekkah dan di Madinah. Prinsip ini terbukti sangat efektif dalam proses mempengaruhi umat sehingga dalam rentan waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari, Rasulullah berhasil membentuk masyarakat Islam yang berdasarkan Ukhuwah Islamiyah yang kokoh dalam wadah negara Islam yang thayyibah di bawah ampunan Allah yang membahagiakan saat itu. Semua penyakit

dapat berkembang dan mempengaruhi pola hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan sesama manusia, dan alam sekitarnya.

Menurut Sayyid Quthb, moralitas Islam itu memandang bahwa dosa dan perbuatan keji adalah merupakan belenggu yang menghukum jiwa manusia dan menjatuhkan serta menyeret manusia ke dasarnya dosa yang paling dalam. Pelepasan diri dari ikatan nafsu rendah adalah pembebasan yang hakiki (Sayyid Quthb, ttp : 31)

Moralitas Islami itu pada hakikatnya bukanlah hanya terdiri dari kumpulan larangan atau pembatasan-pembatasan, melainkan merupakan kekuatan konstruktif dan bersifat positif, yang mendorong ke arah perkembangan yang berkesinambungan bagi pribadi yang berada di dalam proses perkembangan tersebut dan perkembangan ini diwarnai dengan kemurnian yang menyeluruh dan utuh (Quthb, ttp: 29-30).

Jadi, orientasi dari pendekatan keagamaan ini adalah mencari keridhaan Allah SWT, tanpa pamrih kepada kepentingan pribadi dan lain keuntungan. Pendidikan Islam dengan orientasi puristik kepada keridhoan Allah mengharuskan kepada proses kependidikan yang mampu menginternalisasikan nilai-nilai ubudiyah yang menggerakkan perbuatan muamalah di antara sesama manusia berdasarkan niat ibadah kepada Allah dalam seluruh lapangan hidup. Dalam kaitannya dengan ibadah kepada Allah secara pribadi, orientasi demikian dapat menghilangkan kecenderungan- kecenderungan nafsu egocentros, eros dan polemos (nafsu lawwamah, sufijah, dan ammarah).

Berdasarkan pendekatan keagamaan, tujuan pendidikan Islam adalah pengabdian dan penyerahan diri secara total kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah: "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku" (Q.S. Dzariat: 56).

Adapun model yang ideal bagi proses pendidikan Islam sejalan dengan nilai-nilai religius islami di atas, dapat dideskripsikan secara prinsipil sebagai berikut:

a. Pandangan religius di mana tiap manusia adalah makhluk

berketuhanan yang mampu mengembangkan dirinya menjadi manusia yang bertakwa dan taat kepada Allah.

Dengan kecenderungan yang kembar dalam jiwanya, manusia dapat menyimpangkan fitrahnya ke arah jalan yang sesat, yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Manusia dapat terjerumus ke dalam perbuatan dosa yang mempergelap jiwanya sehingga mengalami derita hidup yang berkepanjangan. Namun sesuai dengan fitrahnya pula, manusia mampu menjadi hamba Allah yang mengabdi dan berserah diri ia mampu membersihkan jiwanya dengan mengamalkan agama Islam. Mendapatkan keridhaan Allah adalah menjadi cita-cita hidup seorang muslim. Oleh karena itu, seluruh tingkah lakunya mengandung niat yang ikhias untuk beribadah kepada- Nya.

b. Proses kependidikan, diarahkan kepada terbentuknya manusia muslim yang dedikatif kepada Allah dan yang bersikap menyerahkan diri secara total kepada-Nya.

Dirinya dan keseluruhan hidupnya adalah milik Allah semata. Materi pendidikan Islam harus bersifat mendorong manusia-didik untuk menyadari tentang asul-usul kejadiannya, dari mana, di mana dan ke mana ia harus kembali. Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan dapat mengenal Tuhannya. Juga pengenaian terhadap lingkungan alam dan lingkungan sosialnya akan menyadarkan dirinya kepada posisi hidupnya selaku hamba Allah yang harus menyembah Allah, Maha Pencipta makhluk di dalam alam semesta termasuk dirinya sendiri.

ia akan menyadari fungsinya sebagai "khalifah" Allah di atas bumi yang harus membangun duma ini untuk bekal hidup akhirnya kelak.

komunikatif kepada Maha Pencipta alam, serta mendorong manusia-didik untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Seluruh aktivitas belajar-mengajar diprogramkan untuk mendalami makna hakiki dari eksistensi manusia-didik, dikaitkan dengan kebutuhan hidup rohaniah yang semakin mendalam dan meluas ke arah dimensi ukhrawiah.

Dimensi kehidupan diniawi hanya diletakkan pada perioritas kedua sebagai instrumen, sementara bagi tujuan hidup abadi yang mengandung nilai spiritual yang lebih tinggi.

d. Strategi operasionalisasinya adalah meletakkan manusia- didik berada dalam proses pendidikan sepanjang hayat dari sejak lahir sampai meninggal dunia. Belajar tidak dibatasi dalam bentuk institusi atau formal, melainkan berada dalam kebebasan sepanjang hayat. Sekolah hanya merupakan bentuk institusional kependidikan yang formalistik yang mempersiapkan manusiadidik untuk menerjuni samudera kehidupan yang lebih luas. Dalam kehidupan itulah dijumpai makna edukatif bagi pengembangan hidup keagamaannya, sedang pendidikan formal yang diperoleh adalah untuk merentangkan makna kehidupannya selaku hamba Allah yang taat. Motto yang dijadikan pegangan adalah firman Allah: "Sungguh kehidupan akhirat, lebih baik daripada kehidupan dunia"

(Q.S. Adh-Dhuha : 4).

Dalam strategi penyusunan kurikulum, pendidikan Islam meletakkan sikap zuhud manusia-didik terhadap materi dan duniawi pada prioritas pertama yang pada gilirannya akan mengembang menjadi pola kepribadian, yang dinamis yang berorientasi kepada kepentingan hidup ukhrawi, dan menjadikan hidup duniawi hanya bersifat temporer (sementara).