• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Alat dalam Pendidikan Islam

mengantarkan anak didik kepada kedewasaan yang diridhai Allah SWT.

Dari uraian-uraian terdahulu jelaslah bahwa kedewasaan sebagai tujuan pendidikan adalah standar yang berisi nilai-nilai, yang harus di penuhi oleh setiap satu diri (individu) untuk menjalankan kemandiriannya (individualitas) dan sosialitasnya sebagai manusia yang bertakwa pada Allah SWT. Pendidik harus berusaha membantu, menolong dan mengarahkan agar anak (subyek) dididik dalam perkembangannya dapat mencapai standar tersebut. Sebahliknya subyek (anak) didik dengan upayanya sendiri, harus pula mewujudkan standar tersebut dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi.

memahami fungsi-fungsi dari keseluruhan komponen fisik tersebut, serta cara-cara pemanfaatannya, sehingga kegiatan pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien.

Karena kegiatan pembelajaran, baik secara konseptual maupun operasional harus memenuhi tiga fungsi – pemenuhan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorikmaka tidak mungkin pembelajaran itu berjalan efektif tanpa dukungan fasilitas belajar yang sistematis dan berdayaguna. Karena itu, penyediaan dan pengaturan fasilitas pendidikan memiliki arti penting bagi pencapaian tuivan pembelajaran secara efektif dan seimbang. Juga, sepanjang menyangkut kebutuhan pembelajaran, jenis-jenis fasilitas yang akan digunakan itu, harus sesuai dengan aspirasi pendidikan, bersifat edukalif. Dengan demikian setiap pemanfaatan dari jasa-jasafasilitas pendidikan yang diaediakan oleh sekolah, turut membantu dalam mempercepat pertumbuhan kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik. Lembaga pendidikan seperti ini kiranya dapat merespons kebutuhan, masyarakat dan tantangan lingkungannya.

Tempo pembelajaran di sekolah relatif pendek, sementara beban pencapaian kurikulum begitu padat. Tampaknya hampir mustahil peserta didik mampu mengelola sejumlah informasi dan data-data secara sistematis, tanpa bantuan fasilitas yang memadai. Oleh karena itu, sekolah harus siap menjadi wahana pembelajaran dengan berbagai konsekuensi dan tanggung jawabnya untuk pengembangan keseluruhan potensi peserta didik. Kesiapan itu, antara lain mampu menyediakan fasilitas pembelajaran yang bersifat teknologi, sehingga kelak mereka tidak pula terasingkan oleh kehadiran teknologi.

Mereka harus belajar Bagaimana teknologi itu dapat membantu meringankan beban kehidupan, dan kecerdasannya (Djuwaeni, 1998 : 19).

Sebagaimana kita, ketahui bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan penemuan tertinggi dalam kebudayaan dan menjadi sarana ampuh dalam memajukan kehidupan manusia. Jasa- jasa teknologi telah terlihat manfaatnya bagi kemajuan suatu bangsa.

Pada era globalisasi seperti sekarang ini perkembangan teknik tidak

lagi merupakan "benda aneh", melainkan sebagiannya telah masuk dalam dunia pendidikan, dan bahkan merupakan bagian dari pendidikan. Sepanjang teknologi itu merupakan alat bantu bagi kehidupan manusia, khususnya dalam kegiatan pembelajaran, maka kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya alienasi dan degenerasi daya pikir peserta didik kiranya masih dapat terantiaipasi. Sebab alat- alat itu disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, bukan sebaliknya.

Relasi. Relasi pada dasarnya berarti kemampuan atau kecerdasan pendidik dalam menciptakan dunia bersama, yang tampak dari muncul dan berkembangnya rasa hormat, rasa segan dan kepercayaan dari anak (peserta didik) kepada pendidik (Nawawi, 1993 : 126). Oleh karena ltu, relasi disebut sebagai alat pendidikan.

Relasi ini merupakan faktor penting karena tanpa faktor ini tidak akan terjadi sentuhan (pertemuan) pendidikan. Dalam realitasnya, tanpa relasi orang dewasa tidak dapat disebut pendidik. Demikian pula halnya dengan anak didik tidak dapat disebut peserta didik, apabila berada di luar relasi tersebut. Tanga relasi pendidik dan anak didik berada terpisah dalam dunia masing-masing. Relasi antara keduanya memungkinkan terjadinya dunia bersama sebagai pertemuan pedagogis.

Dalam proses pendidikan, kenyataan ada pendidik (guru) yang disayangi dan dihormati oleh murid atau santrinya, pengajarannya dirasakan mudah diterima, nasehatnya didengar dan dirasakan menyejukkan. Sebaliknya, ada juga guru yang selalu ingin dihindari, bahkan seandainya boleh, murid atau santrinya menginginkan pelajarannya ditiadakan. Di samping itu, relasi itu juga menyebabkan ada santri atau murid yang menyenangi pelajaran yang dinilainya sulit, sebaliknya ada mata pelajaran yang sebenarnya mudah, tetapi dibenci dan selalu dihindari, hanya karena guru tidak mampu mewujudkan relasi yang berhasil menciptakan sentuhan pendidikan (pertemuan pedagogis).

Relasi sebagai alat pendidikan berarti juga kesediaan saling

juga saling menyayangi. Hubungan kedua belah pihak berlangsung akrab, namun membatasi diri sesuai posisi dan peranan masing- masing, sehingga rasa segan sebagai wibawa pendidik tetap terpelihara. Dengan demikian, keakraban harus diupayakan dan dikembangkan pendidik dalam relasinya dengan anak didik. Dengan didasari oleh saling pengertian dan saling menyayangi satu dengan lain.

Komunikasi dan Motivasi. Selain relasi komunikasi dan motivasi juga merupakan komponen non material yang memiliki peran penting dalam kegiatan pendidikan. Tanpa komunikasi dan motivasi edukasi, pendidikan menjadi rusak. Sebab, pendidikan bisa berlangsung dengan baik, manakala di dalamnya terjadi komunikasi timbal batik (two ways communication) antara guru (tenaga pengajar) dan peserta didik. Tak terbayangkan apa jadinya pendidikan, bila tanpa komunikasi. Sekolah yang diawali dengan "perjumpaan", mungkin dalam sekejap akan berubah menjadi arena "pemaksaan"

dengan menjejalkan serangkaian tugas-tugas dari para pengajar kepada peserta didik, dengan tugas-tugas yang tidak dipahaminya.

Kondisi sekolah seperti Ini telah kehilangan fungsi pendidikannya yang menjadi jiwa dari pembelajaran.

Komunikasi dalam pendidikan merupakan kebutuhan fundamental, sebab hanya melalui komunikasi, kegiatan pendidikan dapat berfungsi untuk mengantarkan peserta didik dalam menemukan hidup yang bermakna. Karena pendidikan merupakan proses komunikasi, maka guru tidak dapat memaksakan pikirannya pada mereka. Pemaksaan apa pun jenisnya, tidak akan mampu menggali dan menumbuhkan motivasi belajar pada peserta didik.

Bahkan celakanya akan mendorong lahirnya sikap "membeo" di kalangan kaum terpelajar, suatu keadaan yang kadang tidak disadari para pendidik. Malahan mereka yang mengindoktrinasi, agar peserta didik mampu menyesuaikan dirinya dengan kondisi yang tidak memungkinkan tumbuhnya sikap kritia dan kecerdasan.

Sikap "membeo" merupakan dampak yang tak terhindari dari mampetnya komunikasi pendidikan. Ia juga merupakan cermin

gagalnya kegiatan pembelajaran dalam membantuk peserta didik mengintegrasikan dirinya dengan lingkungan pendidikan. Sebab, perlu dibedakan antara konsep integrasi dengan adaptasi. Integrasi dicirikan oleh adanya keterlibatan mereka dalam merubah realitas lingkungan. Sedangkan adaptasi ditandai oleh kuatnya penekanan dari luar diri anak didik, dan mereka hanya menyesuaikan dirinya dengan keadaan yang tidak dapat dipahami ujung pangkalnya.

Kondisi sekolah seperti ini akhirnya dicirikan oleh ketidakmampuan peserta didik dalam mewujudkan dirinya secara kritia. Mereka dicekam oleh ketakutan yang senantiasa membayangi perasaan dan persepsinya tentang sekolah. Mereka juga merasa "terpaksa"

bersekolah, karena tidak ada motivasi yang menumbuhkan kegairahan belajar dan semangat pengembangan diri.

Karena itu, jika sekolah merupakan instrumen pencerdasan anak- anak bangsa, mestinya proses pembelajarannya berlangsung secara komunikatif (dialog). Melalui dialog inilah pendidikan akan mewujudkan wajahnya yang humanitas, penuh cinta terhadap peserta didik, dan akhirnya mampu menggali dan menumbuhkan motivasi belajar pada murid. Kondisi ini akan menciptakan interaksi pendidikan di mana guru dan murid sama-sama menjunjung tinggi nilainilai demokratia dan manusiawi. Bagi anak didik, kondisi demikian menumbuhkan kepercayaan diri, karena hidupnya merasa bermakna, serta apa yang mereka hasilkan tidak sia-sia, melainkan mendapat penghargaan yang setimpal.

Komponen Kurikulum. Definisi kurikulum menurut Undang- Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No.2 tahun 1989 adalah: ”... seperangkat rencana dan pengaturan mengenai iai dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar" (UUSPN Pasal 1).

Dalam rumusan tersebut, agaknya yang menjadi inti kurikulum adalah iai (bahan pelajaran), serta cara penyelenggaraannya dalam kegiatan pembelajaran di masing-masing jenjang pendidikan.

Permasalahannya kemudian, Bagaimana penyelenggaraan kegiatan

pelajar dalam semua jenjang pendidikan? Pertanyaan ini ingin menyatakan bahwa kondisi umum masyarakat bersifat dinamis, dan kebutuhannya pun terhadap materi pendidikan selalu mengalami proses perubahan yang responsif. Hal ini menuntut tingkat kesesuaian isi dari kurikulum, serta cara pengembangannya di lapangan. Sebab menurut pesan UUSPN (Pasal 27) menyebutkan:

"Kurikulum diausun untuk tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta keseman, sesuai dengan jenis dan jenjang pendidikan masing-masing satuan pendidikan".

Namun, pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa apa yang sudah digariskan tidak bisa selamanya dilaksanakan. Semakin jauh ke daerah, nampaknya tingkat kesenjangan antara rencana dan pelaksanaan itu semakin jauh, khususnya pada tingkat dasar dan menengah. Hal itu terjadi, tidak hanya mengenai pendidikan agama Islam saja, tetapi juga hampir seluruh bidang studi lain. Kelemahan ini mungkin tidak hanya bersumber pada iai kurikulum itu sendiri, tetapi jauh lebih kompleks, menyangkut kualitas guru, fasilitas pendidikan yang kurang lengkap, kondisi lingkungan sekolah yang tidak kondusif dan berbagai faktor lainnya.

Dalam rangka membentuk pembelajaran yang efektif, tampaknya masih perlu pengkajian kurikulum secara khusus. Mungkin para guru di lapangan harus menyediakan waktu luang untuk mengkaji dan memahami kembali keseluruhan kurikulum, agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan setempat. Juga hal itu dimaksudkan untuk membuat sistem perencanaan pembelajaran yang sistematis. Yang terakhir ini penting dilaksanakan, mengingat kajian kurikulum perlu penjabaran detail dan teknia secara lebih rinci menjadi pokok bahasan. Pokok dan sub pokok bahasan yang terlalu banyak akan membuat kegiatan belajar-mengajar tidak efektif, sehingga bhsil belajar tidak maksimal. Pokok dan sub pokok bahasan kurikulum secara esensial perlu dipilih berdasar kriteria tertentu, antara lain: (1) menyangkut aspek kognitif; (2) menyangkut

pengembangan dan penerapan nilai-nilai dasar kehidupan (iman dan takwa) atau aspek afektif, dan (3) mengembangkan kemampuan psikomotorik.

Ketiga aspek tersebut harus terintegrasi dan mengisi setiap aktivitas program pembelajaran. Karena itu di dalam menyusun kerangka perencanaan Satuan Pelajaran (SP) aspek-aspek tersebut harus ditempatkan secara seimbang pada masing-masing pokok bahasan. Artinya setiap pokok bahasan harus dapat memenuhi jawaban atas ketiga aspek tersebut. Inilah pentingnya dilakukan perencanaan program pembelajaran, sehingga isi kurikulum itu mampu memenuhi kebutuhan warga belajar (anak didik), serta langkah-langkahnya yang sistematis. Dengan demikian diharapkan kegiatan pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien.

Faktor Lingkungan dalam Pendidikan Islam. Dalam kegiatan pendidikan, faktor lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar.

Sebagaimana diketahui, anak sejak dilahirkan sampai menjadi manusia dewasa, menjadi orang yang bisa berdiri sendiri dan sertanggung jawab di dalam masyarakat terus mengalami perkembangan. Baik dan buruknya perkembangan itu tidak lepas dari pengaruh lingkungannya.

Lingkungan dalam arti luas menurut Zakiah Darajat (1992 : 63) mencakup iklim dan geografis, tempat tinggal, adat istiadat, pengetahuan, pendidikan, dan alam. Dengan kata lain, lingkungan adalah segala sesuatu yang tampak dan terdapat dalam siam kehidupan yang senantiasa berkembang. Lingkungan adalah seluruh yang ada baik manusia maupun benda buatan manusia atau alam yang bergerak atau tidak bergerak, kejadian atau hal-hal yang mempunyai hubungan dengan seseorang. Sejauh mana seseorang berhubungan dengan lingkungan, maka sejauh itu pula masuknya pengaruh lingkungan kepadanya. Dan satu hal yang harus diwaspadai, tidak selamanya keadaan lingkungan itu bernilai pendidikan, artinya mempunyai nilai positif bagi perkembangan seseorang, karena dapat saja malah merusak perkembangannya.

sebagaimana dikutip Zainuddin (1991 : 88) ialah segala sesuatu yang berada di luar individu yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan dan pendidikan peserta didik.

Bertolak dari pengertian lingkungan di atas, maka dapat dipahami bahwa faktor lingkungan pendidikan Islam memiliki cakupan yang luas, yaitu seluruh yang berada di luar diri manusia.

Semua proses atau kejadian yang terjadi di alam inimerupakan ajang untuk mendidik manusia dalam rangka untuk mengenal penciptanya. Karena luasnya cakupan dari lingkungan pendidikan Islam, maka dalam uraian ini akan dibatasi pada faktor lingkungan sosio kultural yang dianggap sangat berpengaruh dalam proses pendidikan di samping lingkungan yang lain.

Proses pendidikan tidak pernah terlepas dari struktur kemasyarakatan dan kebudayaan di sekitarnya. Struktur masyarakat dan kebudayaan yang berbeda-beda itu, merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi situasi pendidikan, di samping faktor-faktor yang telah diuraikan terdahulu.

Faktor ini berpengaruh pada proses pendidikan Islam karena secara langsung memberikan warna pada pendidik dan anak (subyek) didik, yang sikap, cara berfikir dan tingkah lakunya berbeda antara lingkungan masyarakat dan kebudayaan yang satu dengan yang lain. Di dalam masyarakat dan kebudayaan tertentu selalu terdapat kebiasaan (habit), adat istiadat atau tradisi dan sejarah yang mendasari cara menjalankan dan menjalam hidup dan kehidupan manusia. Dalam masyarakat yang berbudaya tersebut sudah pasti masuk juga dalam cara melaksanakan pendidikan, bagianak-anak di lingkungan masyarakat dan kebudayaan masing-masing. Pada tahap yang lebih tinggi dan kompleks di masyarakat terdapat berbagai konsep-konsep berpikir yang disebut ideologi, yang membuat manusia berkelompok-kelompok dengan menjadikan ideologinya sebagai falsafah dan pandangan hidup kelompok masing-masing. Di antara ideologi-ideologi itu ada yang bersumber dari agama, termasuk agama Islam, dan tidak sedikit sumbernya hanya dari kemampuan manusia berfikir, setelah sertahun-tahun mengamati

(memikirkan) gejala alam dan kehidupan manusia, yang mungkin diaadari atau tidak diaadarinya bahwa semua gejala itu berasal dari Allah SWT. Ideologi yang disebut terakhir di antaranya ada pula yang bertentangan dengan petunjuk Allah SWT yang terhimpun di dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW. Ideologi-ideologi atau isme-isme seperti itu tidak sedikit pengaruhnya dalam perbuatan yang disebut mendidik.

Terbentuknya kelompok manusia berdasarkan adat istiadat, kebiasaan, tradisi dan ideologi, yang di dalam masyarakat tampak beragam, Allah SWT membaginya menjadi dua golongan besar.

Golongan pertama yang diridhai-Nya, karena kebudayaannya bersumber dari ajaran Allah SWT, dan kehidupannya sejalan atau sesuai dengan ajaran-Nya, adapun golongan kedua tidak diridhai- Nya karena mengingkari ajaran-Nya, baik secara terang-terangan maupun tersembunyi. Dalam usaha menciptakan dan mengembangkan pendidikan, kedua golongan terikat pada aspek kebudayaan yang beragam dalam kehidupan bermasyarakat, yang pasti berpengaruh secara langsung ataupun tidak langsung.

Berikutnya kenyataan lain menunjukkan bahwa di dalam masyarakat terdapat pula struktur yang diciptakan sesuai dengan perkembangan dan dinamikanya masing-masing. Pada suatu saat, struktur itu mungkin disebabkan perbedaan derajat keturunan seperti adanya kaum ningrat dan bukan ningrat. Pada saat lain yang dominan mungkin berupa perbedaan tingkat pendidikan, berupa munculnya kaum elite yang terdiri dari orang-orang berpendidikan tinggi dan rakyat biasa yang pendidikannya rendah. Demikian pula struktur karena status sosial ekonomi masing-masing, berupa kelas orang-orang kaya, menengah dan makin. Struktur itu yang paling sederhana ditampilkan berupa, perbedaan jenis kelamin, lelaki dan perempuan.

Kondisi-kondisi yang menggambarkan struktur kemasyarakatan itu, tidak pernah dan tidak boleh dihilangkan karena Allah SWT memang menciptakan segala sesuatu itu berpasang-pasangan.

perbedaan itu tidak menjadi terlalu tajam. Allah berfirman dalam Surat Yasin [36] sebagai berikut :

”Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan segalanya serba berpasangan, baik untuk tumbuh-tumbuhan bumi, baik diri mereka sendiri, maupun sesuatu yang tidak mereka ketahui”.

Dalam penciptaan segala sesuatu yang berpasang-pasangan itu, di muka bumi di antaranya berkembang pula dengan berbagal variasi, seperti kaya dan miskin bukanlah dua kondisi yang bersifat diskrit karena di antara keduanya terdapat variasi yang luas.

Struktur masyarakat seperti yang telah diuraikan itu sangat besar pengaruhnya terhadap pelaksanaan proses pendidikan. Satu di antaranya mengenai hak kaum perempuan dan kaum laki-laki, yang dalam sejarah ummat manusia di banyak negara, termasuk Indonesia, selalu menimbulkan persoalan, meskipun pada abad modern sekarang ini sudah tidak setajam dulu. Namun perbedaan jenis kelamin ini tetap akan berpengaruh dalam menciptakan relasi pendidikan, sejak dahulu, sekarang dan hingga akhir zaman. Relasi antara pendidik laki-laki dengan anak (subyek) didik perempuan, tidaklah sama dengan relasi jika pendidiknya juga perempuan.

Demikian pula sebaliknya, yang tidak akan sama efisiensi dan efektivitasnya jika relasi berlangsung antarpendidik dengan subyek (anak) didik yang jenis kelaminnya sesama lelaki atau sesama perempuan.

Struktur masyarakat lainnya antara lain berupa perbedaan status sosial ekonomi, terutama antar subyek (anak) didik. Status sosial ekonomi yang berbeda berupa sangat kaya, sedang dan miskin atau sangat miskin yang bervariasi, dapat menimbulkan sikap, cara berpikir dan tingkah laku yang berbeda dalam menghormati, menghargai dan rasa segan kepada pendidik. Kondisi itu menuntut kemampuan yang semakin tinggi pada pendidik dalam menciptakan relasi pendidikan yang efektif dan efisien. Dalam hubungan ini, relasi pendidikan harus mampu menumbuhkan kesadaran subyek (anak) didik untuk memiliki kesediaan dan kemampuan saling menghargai,

saling menghormati, dan penuh tenggang rasa, dengan tidak merendahkan pihak lain, atau sebaliknya merasa lebih mulia hanya karena perbedaan status sosial ekonomi.

Demikianlah kenyataannya bahwa semua faktor sosio kultural sebagai faktor di dalam situasi pendidikan, ternyata sangat besar pengaruhnya. Pendidikan harus mampu mendayagunakan struktur masyarakat yang sesuai dengan ajaran Islam, dalam setiap upayanya untuk membantu anak (subyek) didik mencapai kedewasaannya.

Demikian pula harus mampu mendayagunakan kebudayaan yang dilandasi oleh ajaran Islam untuk menolong dan mengarahkan anak (subyek) didik mencapai kedewasaan yang diridhai Allah SWT.