B. Pendekatan dalam Pendidikan Islam
1. Pendekatan Filosofis
Berdasarkan sistem pendekatan filosofis, ilmu pendidikan Islam dapat diartikan sebagai studi tentang proses kependidikan yang didasari dengan nilainilai ajaran Islam menurut konsepsi Filosofis yang bersumberkan al-Qur’an dan al-Sunnah.
Nilai-nilai ajaran Islam yang hakiki adalah yang bersumber dari kitab suci al-Qur’an dan dioperasionalkan oleh Rasulullah SAW.
dalam mendidik umatnya. Sehubungan dengan itu, para ulama salqf dan khalaf serta para ilmuan muslim terutama yang menaruh minat terhadap Ilmu Pendidikan Islam telah banyak menginterpretasikan dan menganalisis sistem nilai yang terkandung di dalam al-Qur’an dan al-Hadits menjadi ajaran dan pedoman yang mendasari proses kependidikan Islam. Sedangkan operasionalisasinya dalam bentuk- bentuk teknisnya diwujudkan dalam berbagai ragam model dan pola serta metode sesuai dengan taraf kemampuan berpikir konsepsional mereka masing-masing dari zaman ke zaman. Yang esensial dari pendekatan Filosofis ini adalah lahirnya sikap dasar dan pandangan dasar yang meyakini bahwa Islam sebagai agama wahyu (agama Samawi) mengandung konsep-konsep, wawasan-wawasan, dan ide- ide dasar yang memberi inspirasi terhadap pemikiran umat manusia dalam rangka menyelesalkan permasalahan kehidupannya.
meningkat, niali-nilai Islam tidak akan dapat berfungsi secara aktual dan kontekstual dalam proses perkembangan kehidupan di segala bidang tanpa ditransformasikan melalui proses kependidikan dalam berbagai modelnya.
Agar supaya proses transformasi nilai-nilai Islam itu berjalan konsisten ke arah tujuan pendidikan Islam, maka diperlukan suatu pedoman filosofis yang bersifat ideal tapi lentur dan kontekstual sesuai dengan tuntutan dari realitas kebutuhan manusia.
Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi dan wawasan serta pandangan hidup universal memberikan dorongan motivatif kepada manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan melalui rasio (akal pikiran) sejauh mungkin sampai pada zat Allah yang tidak mungkin dicapai oleh rasio itu. Rasio manusia dalam memperdalam dan memperluas dimensi ilmu pengetahuannya tidak terlepas dari orientasi kepada Tuhannya, karena ia menempatkan kekuasaan Allah di atas segala-segalanya, termasuk kemampuan manusia itu sendiri.
Dengan orientasi demikian, manusia tidak akan bersikap takabbur (arogan) seolah-olah dengan kemampuan akal pikirannya sendiri.
Manusia yang menyadari bahwa dirinya adalah ciptaan Allah, dalam ikhtiar mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuannya senantiasa ditujukan untuk beribadah atau berbakti kepada Allah.
Semakin sertambah ilmu pengetahuannya, ia semakin sertambah tebal keimanan kepada Tuhannya. Dalam pandangan Islam, akal pikiran harus difungsikan secara tepat guna untuk menemukan hakikat hidup selaku hamba Allah, selaku makhluk sosial dan selaku khalifah di atas bumi.
Oleh karena itu, maka Allah memerintahkan manusia untuk mempergunakan rasio (akal pikiran) nya yang disebutkan dalam kitab suci al-Qur’an sampai ± 300 kali, ± 780 kali Allah mengukuhkan pentingnya ilmu pengetahuan serta 810 kali keimanan manusia dengan ilmu pengetahuan dikukuhkan dalam ayat-ayat-Nya.
Motivasi-motivasi yang mendorong manusia untuk berilmu pengetahuan dan teknologi itu tidak terdapat di dalam kitab-kitab
bedah Prancia, Maurice Bucaille, yang menyimpulkan dari hasil studinya tentang ayat-ayat al-Qur’an dibandingkan dengan kitab Bibel sebagai berikut:
... Al-Qur’an sebagai wahyu murni secara tekstual dan material menunjukkan bahwa al-Qur’an yang diwahyukan sesudah kitab suci sebelumnya, bukan hanya bebas dari kontradiksi yang menjadi ciri-ciri khas riwayat dalam kitab Injil karena disusun oleh manusia, akan tetapi ia juga menyajikan kepada orang yang mempelajarinya secara objektif dengan mengambil petunjuk dari sains modern, suatu sifat yang khusus, yakni persesuaiannya dengan hasil sains modern ...
Lebih dari itu, dapat dibuktikan bahwa al-Qur’an mengandung pernyataan ilmiah yang sangat modern yang tidak masuk akal, jika dikatakan bahwa orang yang hidup pada waktu al-Qur’an itu diwahyukan itu adalah penyusunannya. Dengan demikian, maka ilmu pengetahuan modern memungkinkan kita untuk menafsirkan dan memahami ayat-ayat tertentu dalam al-Qur’an yang sampai sekarang tidak dapat ditafsirkan orang. Banyak pernyataan al-Qur’an yang mempunyai aspek ilmiah itu tak dapat dibayangkan sebagai karya manusia, karena keadaan pengetahuan manusia pada zaman Nabi Muhammad SAW. tidak memungkinkan hal itu.
Maka jelas bahwa pendidikan Islam sebagai ilmu dalam pengembangannya perlu diorientasikan kepada ilmu pengetahuan dan teknologi, karena di samping kemampuan manusia untuk berpikir rasional yang menjadi salah satu persyaratan dalam ilmu dan teknologi. Orientasi pengembangan ilmiah dari ilmu pendidikan Islam, secara ringkas bersumber kepada (Uhbiyati, 1997 : 163):
a. Orientasi, pengembangan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang menjadi sumber segala ilmu pengetahuan.
b. Orientasi ke arah kehidupan sosial manusia. Dalam hal ini, pergaulan antara manusia (muamalah bain al-nas) semakin kompleks dan luas ruang lingkupnya sebagai akibat pengaruh kemajuan iptek modern yang maju pesat.
Allah untuk kepentingan hidup umat manusia. Mengandung berbagai macam kekayaan alam yang harus dikelola dan dimanfaatkan oleh manusia bagi kesejahteraan hidupnya di dunia untuk mencapai kebahagiaan di akhirat
Berdasarkan orientasi di atas, maka model pendidikan Islam secara teoritis dapat dibentuk sesuai dengan sistem pendidikan filosofis, yakni sebagai berikut:
a. Aspek filosofis; manusia selaku manusia didik hamba Tuhan telah diberi kemampuan dasar yang disebut fitrah yang bersifat dinamis dan berkecenderungan sosial-religius dalam struktur psiko-fisik (jasmamahrohaniah) patuh dan menyerahkan diri kepada yang Maha Pencipta secara total pada tingkat perkembangan yang optimal.
b. Aspek epistemoloiag; manusia diberi kemampuan dasar untuk berilmu pengetahuan dan beriman kepada yang Maha Pencipta sesuai dengan kemampuan derajat kemanusiaan yang menjadi sibgah (bentuk atau pola dasar) ke-Islaman yang membenicorak kernuhaan derajat, melebihi yang lain.
c. Aspek pedagogis; manusia adalah makhluk belajar sepanjang hayat di mana sepenuhnya didasarkan pada nilai-nilai Islam.
Proses belajar yang Islami Itu berlangsung secara dialog kepada tuntunan Tuhan dan kepada tuntutan perubahan sosial sehingga cenderung ke arah pola hidup harmonis (seimbang) antara kepentingan hidup duniawi dan ukhrawi dan sejalan dengan tugas pokoknya sebagai khalifah di bumi.
Oleh karena itu, model kurikuler yang direncanakan dalam proses kependidikan Islam, mau tidak mau harus mengandung idealitas yang dijabarkan dalam materi pelajaran sesuai dengan pendekatan filosofis tersebut di atas. Sedangkan, proses operasionalisasinya dapat dideskripsikan sebagai berikut:
a. Content (materi) lebih difokuskan pada permasalahan sosio- kultural masa kini untuk diproyeksikan ke masa depan. Materi pelajaran menantang anak didik untuk melakukan evaluasi dan
memecahkan problema-problema kehidupan nyata di mana nilai-nilai kemanusian selaku hamba Tuhan lebih dikedepankan, lalu kehidupannya ditata kembali sesuai dengan persepsinya yang baru. Pengalaman-pengalaman berikutnya memperkokoh persepsinya yang baru sehingga pada gilirannya mendorong untuk mengadakan re-evaluasi dan menawarkan solusi terhadap problema yang timbul. Jadi, materi kurikulum mengandung tantangan untuk berpikir kritis tanpa menghilangkan kesadarannya selaku hamba Allah yang patuh kepada tuntunan-Nya. Materi pelajaran agama dijadikan sumber pendorong berpikir kritis-ilmah menuju pengembangan pribadi yang harmonis antara tuntunan Tuhan dan masyarakatnya.
b. Pendidik bertanggung jawab terhadap penciptaan situasi komunitas yang dialogis interdependen dan terpercaya. ia menyadari bahwa pengetahuan dan pengalamannya lebih dewasa dan lebih dalam dan luas serta bersama-sama dengan anak didik berada dalam situasi belajar yang memperhatikan satu sama lain. Pada suatu situasi tertentu, ia berada pada posisi murid dan murid juga berada pada posisi sebagai guru.
Di mata pendidik, anak didik dipandang sebagai sumber pengetahuan sehingga mereka tidak dipandang sebagai objek pendidikan yang pasif, melainkan juga sebagai subyek yang satu sama lain saling pengaruh mempengaruhi dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, pandangan lama yang menganggap guru serba mengetahui yang harus digugu dan ditiru, diubah menjadi partner dalam proses belajar mengajar.
c. Anak didik, dalam proses belajar-mengajar melakukan hubungan dialogis dengan yang lain (guru, teman-teman sebaya dan orang dewasa serta alam sekitar). Mereka belajar secara interdependen dan bersama-sama menghayati persepsi terhadap realitas kehidupan dan memperhatikan persepsi orang lain kemudian merevisi sikap pandangannya sendiri dari
Selain daripada itu, hal lain yang mesti mendapat perhatian Pertama, lembaga-lembaga pendidikan Islam perlu mendisain ulang fungsi pendidikannya, dengan memilih apakah (1) model pendidikan yang mengkhususkan diri pada pendidikan keagamaan saja untuk mempersiapkan dan melahirkan ulama-ulama dan mujtahid- mujtahid tangguh dalam bidangnya dan mampu menjawab persoalan-persoalan aktual atau kontemporer sesuai dengan perubahan zaman, (2) model pendidikan umum Islami, kurikulumnya integratif antara materi-materi pendidikan umum dan agama, untuk mempersiapkan intelektual Islam yang berfikir secara komprehensif, (3) model pendidikan sekuler modern dan mengisinya dengan konsep-konsep Islam, (4) atau menolak produk pendidikan barat, berarti harus mendisain model pendidikan yang betul-betul sesuai dengan konsep dasar Islam dan sesuai dengan lingkungan sosial-budaya Indonesia, (5) pendidikan agama tidak dilaksanakan di sekolah-sekolah tetapi dilaksanakan di luar sekolah, artinya pendidikan agama dilaksanakan di rumah atau lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat berupa kursur-kursus, dan sebagainya.
Kedua, disain "pendidikan harus diarahkan pada dua dimensi, yakni : (1) dimensi dialektika (horisontal), pendidikan hendaknya dapat mengembangkan pemahaman tentang kehidupan manusia dalam hubungannya dengan alam atau lingkungan sosialnya.
Manusia harus mampu mengatasi tantangan dan kendala dunia sekitarnya melalui pengembangan Iptek, dan (2) dimensi ketunduhan vertikal, pendidikan selain menjadi alat untuk memantapkan, memelihara sumber daya alami, juga menjembatani dalam memahamai fenomena dan misteri kehidupan yang abadi dengan maha pencipta. Berati pendidikan harus disertai dengan pendekatan hati (M.Irsyad Sudiro, 1995 : 2).
Ketiga, sepuluh paradigma yang ditawarkan oleh Prof. Djohar, dapat digunakan untuk membangun paradiga baru pendidikan Islam, sebagai berikut : Satu, pendidikan adalah proses pembebasan.
Dua, pendidikan sebagai proses pencerdasan. Tiga, pendidikan menjunjung tinggi hak-hak anak. Empat, pendidikan menghasilkan
tindakan perdamaian. Lima, pendidikan adalah proses pemberdayaan potensi manusia. Enam, pendidikan menjadikan anak berwawasan integratif. Tujuh, pendidikan wahana membangun watak persatuan. Delapan, pendidikan menghasilkan manusia demokratik. Sembilan, pendidikan menghasilkan manusia yang peduli terhadap lingkungan. Sepuluh, sekolah bukan satu-satunya instrumen pendidikan (Djohar, 1999 : 12).
Tiga hal yang dikemukakan di atas merupakan tawaran desain pendidikan Islam yang perlu diupayakan untuk membangun paradigma pendidikan Islam dalam menghadapi perkembangan perubahan zaman modern dan memasuki era milenium ketiga.
Karena, "kecenderungan perkembangan semacam dalam mengantisipasi perubahan zaman merupakan hal yang wajar-wajar saja. Sebab kondisi masyarakat sekarang ini lebih bersifat praktis- pragmatis dalam hal aspirasi dan harapan terhadap pendidikan"
(S.R.Parker, 1990), sehingga tidak statis atau hanya berjalan di tempat dalam menatap persoalan-persoalan yang dihadapi pada era masyarakat modern dan post masyarakat modern. Untuk itu, Pendidikan dalam masyarakat modern, pada dasarnya berfungsi untuk memberikan kaitan antara anak didik dengan lingkungan sosiokulturalnya yang terus berubah dengan cepat, dan pada saat yang sama, pendidikan secara sadar juga digunakan sebagai instrumen untuk perubahan dalam sistem politik, ekonomi secara keseluruhan. Pendidikan sekarang ini seperti dikatakan oleh Ace Suryadi dan H.A.R. Tilar (1993), tidak lagi dipandang sebagai bentuk perubahan kebutuhan yang bersifat konsumtif dalam pengertian pemuasan secara langsung atas kebutuhan dan keinginan yang bersifat sementara. Tapi, merupakan suatu bentuk investasi sumber daya manusia (human investment) yang merupakan tujuan utama ; pertama, pendidikan dapat membantu meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan untuk bekerja lebih produktif sehingga dapat meningkatkan penghasilan kerja lulusan pendidikan di masa mendatang. Kedua, pendidikan diharapkan memberikan pengaruh
Selain itu dalam menghadapi era milenium ketiga ini nampaknya pendidikan Islam harus menyiapkan sumber daya manusia yang lebih handal yang memiliki kompotensi untuk hidup bersama dalam era global. Menurut Djamaluddin Ancok (1998 : 5), "salah satu pergeseran paradigma adalah paradigma di dalam melihat apakah kondisi kehidupan di masa depan relatif stabil dan bisa diramalkan (predictability). Pada milenium kedua orang selalu berpikir bahwa segala sesuatu bersifat stabil dan bisa diprediksi. Tetapi, pada milenium ketiga semakin sulit untuk melihat adanya stabilitas tersebut. Apa yang terjadi di depan semakin sulit untuk diprediksi karena perubahan menjadi tidak terpolakan dan tidak lagi bersifat linier". Maka, pendidikan Islam sekarang ini disainnya tidak lagi bersifat linier tetapi harus didisan bersifat lateral dalam menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat dan tidak terpolakan. Untuk itu, lebih lanjut, Djamaluddin Ancok yang mengutip Hartanto : 1997:
Hartanto, Raka & Hendroyuwono, 1998, mengatakan bahwa pendidikan (termasuk pendidikan Islam) harus mempersiapkan ada empat kapital yang diperlukan untuk memasuki milenium ketiga, yakni kapital intelektual, kapital sosial, , dan kapital spiritual.
Tantangan ini tidak muda untuk penyelesaiannya, tidak seperti membalik telapak tangan. Untuk itu, pendidikan Islam sangat perlu mengadakan perubahan atau mendesain ulang konsep, kurikulum dan materi, fungsi dan tujuan lembaga-lembaga, proses, agar dapat meneuhi tuntatan perubahan yang semakin cepat.
Oleh karena itu, corak pendidikan Islam mestinya bersifat inovatif (innovative learning), bukan belajar melestarikan apa yang ada (maintance learning), konservatif dan pasif serta dogmatis.