• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wewenang dan Tanggung Jawab Pendidikan Islam di

B. Wewenang dan Tanggung Jawab Pelaksanaan Pendidikan

2. Wewenang dan Tanggung Jawab Pendidikan Islam di

pendidikan, maka tujuan pendidikan akan sulit tercapai. Karena itu tanggung jawab orang tua betul-betul memegang peranan dasar yang harus diberikan, ditunjukkan kepada anak sedini mungkin.

Bertolak dari hal tersebut, tanggung jawab orang tua sangatlah berat dan memerlukan perhatian yang serius, di mana anak-anak itu harus dipersiapkan sedini mungkin, terarah, teratur, dan berdisiplin.

Apabila kehidupan anak yang dicontohkan orang tua dilingkungan keluarga sudah demikian, maka anak akan memiliki pondasi yang relatif kuat untuk menangkal pengaruh dari luar terutama godaan yang dapat merusak mental Serta moral anak. Anak adalah merupakan titipan, amanat Allah SWT., amanat wajib dipertanggung jawabkan sehingga tanggung jawab orang tua terhadap anak tidaklah kecil.

Jadi, jelas bahwa wewenang dan tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak semata-mata karena perintah Allah SWT bukan untuk kepentingan lain, sebagaimana telah diungkapkan secara luas di atas, sehingga orang tua tidak menyesal nantinya di belakang hari.

Karena kewenangan dan tanggung jawab dalam mendidik tersebut, semua berdasarkan karena Allah SWT., maka setiap orang tua di lingkungan keluarga dalam mendidik putra putrinya dan melaksanakan perbuatan mendidik harus dipandang sebagai suatu perbuatan yang bernilai ibadah.

2. Wewenang dan Tanggung Jawab Pendidikan Islam di Sekolah

untuk mengantarkan anak kepada tujuan yang ditetapkan dalam pendidikan Islam. Sekolah yang dimaksud adalah untuk membimbing, mengarahkan, dan mendidik.

Adapun alasan atau sebab orang tua menyerahkan anak ke lembaga pendidikan formal (sekolah) adalah karena beberapa hal yaitu:

a. Orang tua tidak lagi memiliki kemampuan menyelenggarakan pendidikan dan atau pengajaran di rumah karena pengetahuan yang harus diajarkan kepada anak tidak dikuasai oleh orang tua.

b. Orang tua tidak memiliki banyak waktu untuk menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran dimaksud.

c. Karena pendidikan di rumah (terutama pengajaran pendidikan Islam) relatif sangat mahal dan sulit. Alasan inilah yang menyebabkan pendidikan dan pengajaran anak diserahkan ke sekolah (Asma Hasan Fahmi, 1979 : 118).

Dengan demikian, tanggung jawab orang tua beralih pada pihak guru sebagai penanggung jawab di lembaga pendidikan formal (sekolah) selama anak itu berada di sekolah. Wewenang dan tanggung jawab guru terlebih-lebih guru tersebut seorang muslim sangat berat, karena tanggung jawab guru sebagai seorang muslim terhadap anak muslim lainnya, terutama sekali dalam hal menuntut ilmu adalah merupakan kewajiban dan keharusan.

Adapun wewenang dan tanggung jawab sekolah atau guru sebagai peiaksana dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah, menurut Ahmad Tafsir (199 2: 185) meliputi pembinaan terhadap anak pada aspek jasmani (psikomotor, keteramplan) dan akal (kecerdasan, pengetahuan) aspek kejiwaan tegasnya aspek afektif anak tidak begitu diperhatikannya di sekolah, bukan karena sekolah tidak memahaml pentingnya hal itu, melainkan karena memang pembinaan aspek afektif itu tidak banyak yang dapat dilakukan di sekolah.

Pendapat Ahmad Tafsir tadi terlihat bahwa tanggung jawab dan wewenang sekolah dalam hal pembinaan anak terbatas pada beberapa aspek saja, yakni aspek jasmani meliputi psikomotor, keterampilan, dan aspek akal meliputi kecerdasan dan pengetahuan.

Hal yang demikian ada relevansinya dengan tujuan dari eksistensi sekolah itu sendiri, di mana tujuan penyelenggaraan sekolah adalah

”... untuk mempersiapkan anak-anak menghadapi tugas-tugasnya di dalam masyarakat lingkungannya, dan atau membantu mereka yang sedang tumbuh dan berkembang ke arah kedewasaan agar menjadi warga negara yang mampu membina kebahagiaan hidup lahir dan bathin, baik sebagai individu dan anggota masyarakat maupun sebagai makhluk Allah" (Hadari Nawawi, 1981 : 9).

Bertolak dari tujuan penyelenggaraan sekolah tersebut, maka masalah pokok yang perlu dikaji untuk memperoleh kejelasan dari adanya wewenang dan tanggung jawab sekolah atau guru yakni proporsi bentuk/jenis wewenang dan tanggung jawab sekolah atau guru dalam hal penyelenggaraan pendidikan Islam. Masalah ini sangat terasa, yang selama ini terdapat indikasi bahwa tanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan Islam cenderung lebih besar pacia, pemerintah dan sementara itu terjadi pula kecenderungan penambahan beban biaya penyelenggaraan pendidikan Islam tersebut. Penyelenggaraan pendidikan Islam di sekolah banyak menglkut sertakan keluarga dan masyarakat khususnya dalam pengelolaan pendidikan, terutama sekali dalam hal pengembangan kurikulumnya. Kenyataan ini akan membawa implikasi permasalahan dalam segi mutu, penguasaan anak, dan relevansinya dilihat dari perkembangan tuntutan dan kebutuhan dunia kerja dan pembangunan pada umumnya.

Kalau ditelusuri lebih jauh, kegagalan pendidikan Islam di lingkungan sekolah sebenarnya terletak pada kurang hormatnya murid-murid kepada gurunya, di samping guru itu sendiri kurang berwlbawa di hadapan murid. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmad Tafsir (1992 : 188) bahwa kurang berwlbawanya guru dapat

guru itu sendiri. Kepribadian yang kuat terutama sekali dibentuk berciasarkan atas atau oleh keimanan yang kuat.

Pernyataan atau pendapat di atas, bila dikaji dan di simak secara cermat merupakan suatu informasi tragedi pendidikan Islam yang disajikan oleh para guru di sekolah. Sementara wewenang dan tanggung jawab pendidikan Islam yang diberikan oleh para guru di sekolah adalah pendidikan agar murid-murid itu beriman, yang berarti membina hatinya bukan hanya membina akalnya. Dengan demikian, guru yang betul-betul memiliki wewenang dan tanggung jawab harus memiliki kebijaksanaan, dalam arti tidak hanya membina aspek kognitif saja yang dipentingkan pada diri anak-anak di sekolah, dan bukan hanya aspek psikomotor saja, tetapi juga aspek afektif yang sangat penting dan aspek afektif ini sangat sulit. Bila aspek afektif ini sudah mendarah mendaging dan membudaya dalam diri kehidupan anak-anak, maka dalam penguasaan aspek kognitif dan psikomotor akan diwarnai oleh aspek afektif, yang setiap saat guru berwenang dan bertanggung jawab memperingatkannya.

Berdasarkan uraian di atas, maka tanggung jawab guru di lingkungan sekolah sangat berat, karena secara implisitt guru telah mereiakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang dipikul di pundak para orang tua. Mereka (para orang tua) ketika menyerahkan anaknya ke sekolah, sekaligus berarti pelimpahan sebagian tanggung jawabnya kepada guru. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang tua tidak mungkin menyerahkan anaknya kepada sembarang guru/sekolah karena tidak semua orang dapat menjabat profesi sebagai pendidik.

3. Wewenang dan Tanggung Jawab Pendidikan Islam di Masyarakat