Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dalam sejarah perkembangannya mengalami tiga kali perubahan hukum dasarnya. Pancasila dalam perubahan hukum dasar tersebut tetap berlaku sebagai dasar filsafat negara, walaupun dengan rumusan yang berbeda namun inti mutlaknya tetap sama yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.
1. Mukadimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat 1949
Perubahan ketatanegaraan yang pertama adalah dari bentuk negara kesatuan menjadi negara serikat dengan sistem kabinet parlementer. Negara Indonesia bernama Negara Republik Indonesia Serikat, yang terdiri atas beberapa negara bagian, salah satu negara bagiannya adalah Negara Republik Indonesia dengan ibu kota Yogyakarta yang masih tetap menggunakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, negara- negara bagian lainnya menggunakan Konstitusi Republik Indonesia Serikat 1949.
Pancasila dalam Negara Republik Indonesia Serikat tetap menjadi dasar filsafat negara, yang terkandung dalam Mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat (KRIS) 1949 alinea ketiga, sedangkan sistem pemerintahannya menggunakan sistem kabinet parlementer, yang berlaku mulai 27 Desember 1949. Rumusannya adalah: Ketuhanan Yang Maha Esa, Peri Kemanusiaan, Kebangsaan, Kerakyatan, Keadilan Sosial.
2.36 Pancasila ⚫
Rumusan Mukaddimah KRIS 1949 secara lengkap adalah sebagai berikut:
“Kami Bangsa Indonesia semenjak berpuluh-puluh tahun lamanya bersatu padu dalam perjuangan kemerdekaan, dengan senantiasa berhati teguh berniat menduduki hak-hidup sebagai bangsa yang merdeka berdaulat.
Kini dengan berkat dan rahmat Tuhan telah sampai kepada tingkatan sejarah yang berbahagia dan luhur. Maka demi ini kami menyusun kemerdekaan kami itu dalam suatu piagam negara yang berbentuk republik federasi, berdasarkan pengakuan Ketuhanan Yang Maha Esa, Perikemanusiaan, Kebangsaan, Kerakyatan dan Keadilan Sosial.
Untuk mewujudkan kebahagiaan kesejahteraan, perdamaian dan kemerdekaan dalam masyarakat dan negara hukum Indonesia Merdeka yang berdaulat sempurna”.
Negara Republik Indonesia serikat beserta Mukaddimah KRIS 1949 berlaku sangat pendek sekali, karena memang tidak sesuai dengan jiwa proklamasi kemerdekaan yang menghendaki negara kesatuan, tidak menginginkan negara dalam suatu negara, sehingga beberapa negara bagian meleburkan diri lagi dengan Republik Indonesia. Kesemuanya ini merupakan bukti semangat kekeluargaan dan kebersamaan untuk mewujudkan kesatuan dan persatuan yang dijiwai Pancasila tetap ada dalam diri bangsa Indonesia, walaupun Belanda memecah belah melalui pembentukan negara-negara bagian, dalam mengakui Indonesia Merdeka. Semangat kekeluargaan dan kebersamaan itu terlihat adanya penetapan Presiden Republik Indonesia Serikat tentang penggabungan negara-negara bagian ke Republik Indonesia, yaitu:
a. Tanggal 9 Maret 1950, negara bagian dan daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Madura, Subang, dan Padang masuk ke dalam Republik Indonesia.
b. Tanggal 11 Maret 1950, memasukkan negara Pasundan menjadi daerah Republik Indonesia.
c. Tanggal 24 Maret 1950, memasukkan Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan menjadi daerah Republik Indonesia.
d. Tanggal 4 April 1950, Bangka, Belitung, Riau, Banjar, Dayak Besar, Kota Waringin, Kalimantan Tenggara, masuk daerah Republik Indonesia.
Akhirnya hanya negara bagian Indonesia Timur dan negara bagian Sumatera Timur saja yang belum masuk ke dalam Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta.
⚫ MKDU4114/MODUL 2 2.37
Kenyataan ini membuktikan bahwa dengan jiwa proklamasi yang dilandasi Pancasila, bangsa Indonesia menghendaki adanya persatuan dan kesatuan. Untuk melaksanakan keinginan bangsa ini, maka disusunlah Piagam Persetujuan antara Pemerintahan Republik Indonesia Serikat yang sekaligus mewakili negara bagian Indonesia Timur dan Sumatera Timur dengan Republik Indonesia, pada tanggal 19 Mei 1950. Piagam tersebut menyatakan untuk menyetujui dalam waktu sesingkat-singkatnya bersama-sama melaksanakan negara kesatuan, sebagai penjelmaan dari Republik Indonesia berdasarkan proklamasi 17 Agustus 1945. Persetujuan ini ditindaklanjuti dengan terbentuknya negara kesatuan dengan berdasarkan Undang-Undang Dasar Sementara 1950 tanggal 17 Agustus 1950. Jadi berlakunya Mukadimah KRIS 1949 ini hanya sampai tanggal 19 Agustus 1950 saat mulai berlakunya Undang-Undang Dasar Sementara 1950.
2. Mukadimah UUDS 1950
Perubahan kedua ketatanegaraan Indonesia adalah pada tahun 1950, yaitu bentuk negara serikat menjadi negara kesatuan lagi, dengan sistem kabinet parlementer. Pancasila dalam perubahan kedua ini, juga tetap sebagai dasar filsafat negara dan termuat dalam Mukaddimah Undang-Undang Dasar Sementara 1950 (Mukaddimah UUDS 1950), yang rumusan dan tata urutannya sama dengan yang termuat dalam Mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat. Rumusan lima sila itu tercantum pada alinea keempat Mukaddimah Undang-Undang Dasar Sementara 1950. Rumusan ini berbeda sama sekali dengan alinea keempat Undang-Undang Dasar 1945, sedangkan dua alinea pertama rumusannya sama. Rumusan Mukaddimah Undang-Undang Dasar Sementara 1950 secara lengkap adalah sebagai berikut:
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang bebahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, yang merdeka, bersatu adil dan makmur.
Dengan berkat dan rahmat Tuhan tercapailah tingkatkan sejarah dan berbahagia dan luhur.
Maka demi ini kami menyusun kemerdekaan kami dalam suatu piagam negara yang berbentuk republik-kesatuan, berdasarkan pengakuan Ketuhanan
2.38 Pancasila ⚫
Yang Maha Esa, Perikemanusiaan, Kebangsaan, Kerakyatan dan Keadilan Sosial, untuk mewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian dan kemerdekaan dalam masyarakat dan Negara hukum Indonesia Merdeka yang berdaulat sempurna”.
Mukaddimah Undang-Undang Dasar Sementara 1950 berlaku mulai tanggal 17 Agustus 1950 sampai tanggal 5 Juli 1959. Berdasarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka Undang-Undang Dasar 1945 berlaku kembali.
Bentuk negara dalam Undang-Undang Dasar Sementara 1950 yang berlandaskan Pancasila adalah mewujudkan negara kesatuan, akan tetapi sistem pemerintahannya menggunakan sistem parlementer yang tidak cocok dengan jiwa Pancasila, sehingga kabinetnya jatuh bangun. Rata-rata umur setiap kabinet hanya lebih kurang 1 (satu) tahun. Pergantian kabinet dari tahun 1950 sampai 1959 telah terjadi sebanyak 7 kali. Kabinet-kabinet selama pelaksanaan Undang-Undang Dasar Sementara 1950 ialah:
a. Kabinet Natsir, mulai 6 September 1950 sampai dengan 27 April 1951.
b. Kabinet Sukiman mulai 27 April 1951 sampai dengan 3 April 1952.
c. Kabinet Wilopo mulai 3 April 1952 1 sampai dengan Agustus 1953.
d. Kabinet Ali Sastroamidjojo I mulai 1 Agustus 1953 sampai dengan 12 Agustus 1955.
e. Kabinet Burhanuddin Harahap mulai 12 Agustus 1955 sampai dengan 24 Maret 1956.
f. Kabinet Ali Sastrohamidjojo II mulai 24 Maret 1956 sampai dengan 9 April 1957.
g. Kabinet Djuanda mulai 9 April 1957 sampai dengan 10 Juli 1959.
Apabila dalam tahun 1950 sampai 1959 terjadi pergantian kabinet sampai tujuh kali, maka kiranya dapat dipastikan bahwa stabilitas nasional sangat terganggu, karena bangsa Indonesia pada waktu itu belum memiliki landasan yang kondusif bagi penghayatan dan pengamalan Pancasila.
Rumusan Pancasila dalam Mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia dan dalam Undang-Undang Dasar Sementara 1950 dapat dikatakan sebagai rumusan keenam dalam sejarah perumusan Pancasila, dan merupakan rumusan yang formal kedua dan ketiga, sebagai dasar negara Indonesia.
3. Dekrit Presiden 5 Juli 1959
Pemilihan umum pertama di Indonesia diadakan pada tanggal 29 September 1955 untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dan 25
⚫ MKDU4114/MODUL 2 2.39
Desember 1955 untuk memilih wakil-wakil rakyat yang duduk di dalam Dewan Konstituante yang akan membentuk Undang-Undang Dasar Baru sebagai pengganti Undang-Undang Dasar Sementara 1950.
Konstituante sebagai Dewan Penyusun Undang-Undang Dasar dalam sidangnya sejak tahun 1956 sampai tahun 1959 belum berhasil mencapai kesepakatan untuk merumuskan Undang-Undang Dasar baru. Pihak-pihak yang berbeda-beda pendapatnya tidak ada yang mencapai suara dua pertiga dari jumlah anggota Konstituante. Presiden Soekarno dengan memperhatikan keadaan yang demikian itu berusaha mencari jalan keluar dengan menyampaikan amanatnya pada tanggal 22 April 1959 yaitu kembali ke Undang-Undang Dasar 1945. Konstituante Republik Indonesia telah berkali- kali diminta untuk menanggapi anjuran Presiden tersebut, dan ternyata tidak mendapat dukungan suara lebih dari dua pertiga. Kegagalan Konstituante tersebut akan menimbulkan akibat bahaya bagi keutuhan negara kesatuan, persatuan serta keselamatan bangsa, maka Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959.
Kebijaksanaan Presiden Soekarno dengan dukungan dari sebagian terbesar rakyat Indonesia mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 ini dimaksudkan untuk mempertahankan negara kesatuan dan keutuhan bangsa Indonesia, yang sekaligus ditandai sebagai perubahan ketatanegaraan ketiga dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia.
Diktum Dekrit Presiden itu ialah:
a. Menetapkan Pembubaran Konstituante.
b. Menetapkan UUDNRI 1945 berlaku lagi terhitung mulai tanggal penetapan Dekrit, dan tidak berlaku lagi UUDS 1950.
c. Menetapkan dalam waktu sesingkat-singkatnya pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) dan Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS).
Dekrit 5 Juli 1959 ini kemudian diterima dengan suara bulat oleh Dewan Perwakilan Rakyat dalam sidangnya pada tanggal 22 Juli 1959, yaitu kembali ke Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hal ini berarti bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah diterima oleh seluruh rakyat Indonesia dengan suara bulat.
2.40 Pancasila ⚫
4. Rumusan Pancasila dalam Masyarakat
Rumusan Pancasila yang digunakan dengan kembali ke Undang-Undang Dasar 1945 secara formal adalah seperti yang terkandung dalam Pembukaan UUDNRI 1945. Akan tetapi kalangan masyarakat luas menggunakan rumusan lain yang tidak sama seperti dalam Pembukaan UUDNRI 1945 maupun dalam mukaddimah KRIS 1949 dan Mukaddimah UUDS 1950. Rumusan dalam masyarakat itu sudah ada sebelum Dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang dipelajari juga di pendidikan formal. Rumusannya hampir sama dengan yang terkandung dalam Mukaddimah UUDS 1950, hanya sila keempat dirumuskan “Kedaulatan Rakyat”. Rumusan keseluruhannya adalah sebagai berikut:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa 2. Perikemanusiaan
3. Kebangsaan 4. Kedaulatan Rakyat 5. Keadilan Sosial.
Rumusan dalam masyarakat ini merupakan rumusan ketujuh dalam sejarah perumusan Pancasila. Rumusan Pancasila ini tidak begitu jelas dari mana asalnya, namun demikian sekitar tahun 1959 banyak dituliskan pada tugu-tugu halaman kecamatan maupun kantor kabupaten. Kenyataan ini menunjukkan bahwa Pancasila itu memang betul-betul terlekat dalam hati rakyat Indonesia, meskipun dasar hukum rumusannya tidak jelas.