• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN KEBERADAAN PANCASILA

Dalam dokumen MKDU4114 buku univ terbuka (Halaman 111-119)

3.10 Pancasila

a. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah ketuhanan yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, berpersatuan Indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan/perwakilan dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

b. Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kemanusiaan yang ber- Ketuhanan Yang Maha Esa, berpersatuan Indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan/perwakilan dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

c. Sila Persatuan Indonesia adalah persatuan yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan/perwakilan dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

d. Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan/ perwakilan adalah kerakyatan yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berpersatuan Indonesia, dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

e. Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah keadilan yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berpersatuan Indonesia, dan berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan/perwakilan (Notonegoro, 1975: 43-44).

MKDU4114/MODUL 3 3.11

Agar Pancasila sungguh-sungguh merupakan satu dasar negara, maka bukan hanya sila-silanya yang merupakan kesatuan, tetapi juga landasan kesatuannya. Landasan kesatuan sila-sila Pancasila adalah subjek pendukung adanya Pancasila, yaitu manusia. Hakikat manusia adalah makhluk monopluralis yang terdiri dari pasangan monodualis, susunan kodrat, sifat kodrat, dan kedudukan kodratnya tersebut.

Pengertian tentang hakikat manusia monopluralis adalah pengertian yang abstrak, sehingga tidak dapat ditangkap keberadaannya oleh indra, tetapi dapat dimengerti oleh pikiran atau akal. Akal mampu merumuskan pengertian tentang hakikat manusia melalui abstraksi terhadap data empiris hasil pengamatan indra tentang hidup manusia yang nyata. Unsur-unsur yang mutlak terdapat pada manusia mempunyai arti yang menentukan dalam hal- hal pokok kenegaraan, yaitu hakikat dan sifat negara, susunan, tujuan, tugas, dan susunan pemerintahan negara (Notonegoro, 1971).

Kesatuan sila-sila Pancasila sebagai sistem filsafati bukan hanya merupakan kesatuan formal logis saja, tetapi yang lebih mendasar mempunyai dasar kesatuan makna atau isi hakikatnya yang filsafati. Kesatuan sila-sila Pancasila yang formal logis adalah dasar kesatuan sila-sila Pancasila yang hirarkhis-piramidal untuk menggambarkan hubungan hirarkhis sila-sila Pancasila dalam urutan keluasan isinya (kuantitasnya). Sila-sila Pancasila juga memiliki kesatuan dasar makna isinya yang hakikat, yaitu landasan keberadaannya (ontologisnya) yang bersumber pada pengertian tentang hakikat manusia (Kaelan, 2002).

Perumusan landasan ontologis Pancasila diperlukan sebagai dasar pemahaman untuk menganalisis asal mula Pancasila, bentuk kesatuannya, sifat dasarnya, pengertiannya yang filsafati, hubungan pengetahuan Pancasila dengan indra dan akal, serta sifat-sifat tetap yang terlekat pada Pancasila.

Asal mula Pancasila adalah sebab bagi adanya Pancasila sebagai dasar filsafat negara. Setiap hal berada di dalam waktu artinya dahulu tidak ada kemudian menjadi ada, sehingga setiap hal tentu mempunyai permulaan. Sila- sila Pancasila bukan hasil ciptaan, tetapi diketemukan pada kehidupan bangsa Indonesia. Pancasila adalah hasil perenungan jiwa yang dalam dan penelitian cipta akali yang seksama atas dasar pengetahuan dan pengalaman hidup yang luas. Unsur-unsur Pancasila telah terdapat dalam adat kebiasaan, kebudayaan, dan agama-agama bangsa Indonesia.

Kesatuan sila-sila Pancasila sebagai dasar negara adalah kesatuan organis. Kesatuan organis adalah kesatuan yang terdiri atas bagian-bagian

3.12 Pancasila

(sila-sila) yang tidak terpisahkan. Sila-sila Pancasila dalam kesatuan organis tersebut bersusun hirarkhis-piramidal. Sifat dasar Pancasila adalah sifat kodrati monodualis kemanusiaan, karena yang ber-Pancasila adalah manusia yang bersatu sebagai bangsa Indonesia. Pancasila dalam kesatuan organis mempunyai konsekuensi, bahwa arti masing-masing sila mandapat tambahan empat sifat dari empat sila lainnya. Pancasila dalam kesatuan hirarkhis- piramidal mempunyai konsekwensi, bahwa sila yang bersifat lebih abstrak menjiwai dan mendasari sila-sila yang bersifat lebih konkrit.

Pengertian Pancasila yang kefilsafatan adalah pengertian sila-sila Pancasila yang abstrak umum universal. Pengetahuan Pancasila yang kefilsafatan adalah hasil abstraksi akal terhadap data yang ditangkap oleh indra maupun akal. Sifat-sifat yang melekat pada Pancasila adalah sifat-sifat tetap yang dilekatkan pada kata-kata pokok sila-sila Pancasila sebagai dasar negara.

Kata pokok ke-Tuhanan setelah mendapat tambahan sifat tetap menjadi sila pertama Pancasila yang rumusan lengkapnya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila kedua Pancasila kata pokoknya kemanusiaan, kemudian rumusan lengkapnya adalah Kemanusiaaan yang adil dan beradab. Sila ketiga Pancasila kata pokoknya persatuan, kemudian rumusan lengkapnya adalah Persatuan Indonesia. Sila keempat Pancasila kata pokoknya kerakyatan, kemudian rumusan lengkapnya adalah Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan. Sila kelima Pancasila kata pokoknya keadilan, kemudian rumusan lengkapnya adalah Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pandangan filsafati Pancasila yang sesuai dengan keyakinan bangsa Indonesia apabila dibandingkan dengan teori Hylemorfisme ada kesamaannya, tetapi juga ada perbedaannya. Pancasila mempunyai pandangan yang sama dengan teori Hylemorfisme, bahwa hal-hal konkrit yang dapat diamati merupakan kenyataan yang sungguh-sungguh ada, bukan hanya semu atau khayal belaka. Pancasila mempunyai pandangan yang berbeda dengan teori Hylemorfisme, bahwa hal-hal abstrak yang bersifat tetap merupakan kenyataan yang sungguh-sungguh ada, bukan hanya semu atau khayal belaka.

Apabila dianalisis lebih lanjut, maka terbukti bahwa Pancasila berisi pandangan yang ada kesamaannya dan perbedaannya dengan Idealisme murni Plato. Pancasila mempunyai pandangan yang sama dengan Idealisme Plato, bahwa hal-hal abstrak yang bersifat tetap merupakan kenyataan yang sunguh- sungguh ada, bukan hanya semu atau khayal belaka. Pancasila mempunyai pandangan yang berbeda dengan Idealisme Plato, bahwa hal-hal konkret yang

MKDU4114/MODUL 3 3.13

dapat diamati merupakan kenyataan yang sungguh-sungguh ada, bukan hanya semu atau khayal belaka. Pancasila mempunyai pandangan, bahwa hal-hal konkret yang dapat diamati dan hal-hal yang abstrak dan bersifat tetap merupakan kenyataan yang sungguh-sungguh ada.

Dasar pandangan Pancasila sesuai dengan keyakinan bangsa Indonesia tentang adanya hakikat abstrak manusia, satu, rakyat, dan adil, serta bentuk- bentuk kesempurnaan, dan adanya alam hakiki sama dengan Idealisme, tetapi dengan ciri khas yang mengakui keberadaan hal-hal konkret yang dapat diamati juga sebagai keberadaan yang sungguh-sungguh ada. Unsur hakikat yang abstrak merupakan inti hal-hal yang konkrit. Pandangan Pancasila yang monodualistis tersebut sangat berguna untuk menyusun konsep tentang aktualisasi Pancasila.

Pandangan Pancasila yang monodualistis tersebut sangat berguna untuk menyusun konsep tentang aktualisasi Pancasila. Aktualisasi Pancasila terutama untuk kehidupan masa yang akan datang penting untuk diperjelas dengan menyintesiskan barbagai pandangan tentang pengertian Pancasila yang abstrak umum universal dan pelaksanaannya dalam kehidupan nyata yang konkrit. Aktualisasi Pancasila untuk mengembangkan nilai-nilainya yang abstrak menurut Notonegoro dapat ditempuh melalui dua jalan, disebut aktualisasi objektif dan subjektif. Pertama, aktualisasi Pancasila melalui jalan penyelenggaraan negara dan perundang-undangan disebut pelaksanaan bersifat objektif. Norma atau pengatur pelaksanaan Pancasila di dalam hidup kenegaraan adalah perundang-undangan. Kedua, pelaksanaan Pancasila pada diri pribadi warga bangsa Indonesia yang dapat menyusun atau membentuk kepribadian Pancasila disebut aktualisasi bersifat subjektif. Aktualisasi Pancasila yang objektif adalah menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai sumber hukum bagi perundang-undangan di Indonesia. Nilai-nilai Pancasila dijadikan sebagai sumber bahan dan nilai bagi hukum dan perundang- undangan di Indonesia. Aktualisasi Pancasila yang subjektif adalah aktualisasi nilai-nilai Pancasila untuk warga bangsa Indonesia dalam membina kehidupan berbangsa dan bernegara pada masa sekarang dan yang akan datang.

Pancasila sebagai asas-asas kehidupan adalah cita-cita hidup yang abstrak, maka seharusnya diupayakan untuk dilaksanakan dalam kehidupan nyata. Pelaksanaan Pancasila yang bersifat subjektif adalah pengembangan nilai-nilai Pancasila pada diri pribadi untuk membentuk kepribadian yang sesuai dengan Pancasila. Masing-masing rakyat Indonesia sebagai pribadi adalah subjek bernegara. Bangsa Indonesia telah menemukan kepribadiannya

3.14 Pancasila

sendiri, yaitu kepribadian Pancasila, maka kepribadian Pancasila tersebut harus tetap menjadi kepribadian bangsa Indonesia untuk masa sekarang dan yang akan datang.

Jelaskan pengertian Pancasila sebagai:

1) dasar negara Republik Indonesia

2) pengertian Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum 3) pengertian Pancasila sebagai suasana kebatinan UUD NRI Tahun 1945 4) pengertian Pancasila sebagai sumber cita-cita hukum

Petunjuk Jawaban Latihan

Untuk dapat menjawab soal latihan di atas secara tepat, baca dan pahami materi Kegiatan Belajar 1 Modul 3` dengan cermat mengenai pengertian system dan filsafat dari Pancasila, apabila masih belum paham baca kembali dan diskusikan dengan teman-teman atau tutor Anda

Dasar negara merupakan alas atau fundamen yang menjadi pijakan dan mampu memberikan kekuatan kepada berdirinya sebuah negara.

Negara Indonesia dibangun juga berdasarkan pada suatu landasan atau pijakan yaitu Pancasila. Pancasila, dalam fungsinya sebagai dasar negara, merupakan sumber kaidah hukum yang mengatur negara Republik Indonesia, termasuk di dalamnya seluruh unsur-unsurnya yakni pemerintah, wilayah dan rakyat. Pancasila dalam kedudukannya seperti inilah yang merupakan dasar pijakan penyelenggaraan negara dan seluruh kehidupan negara Republik Indonesia.

Pancasila sebagai dasar negara mempunyai arti menjadikan Pancasila sebagai dasar untuk mengatur penyelenggaraan pemerintahan.

Konsekuensinya adalah Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum. Hal ini menempatkan Pancasila sebagai dasar negara yang berarti

LAT IH A N

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!

RA NG KUM AN

MKDU4114/MODUL 3 3.15

melaksanakan nilai-nilai Pancasila dalam semua peraturan perundang- undangan yang berlaku. Konskwensinya, semua peraturan perundang- undangan di negara Republik Indonesia sudah seharusnya bersumber pada Pancasila.

Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia mempunyai implikasi bahwa Pancasila terikat oleh suatu kekuatan secara hukum, terikat oleh struktur kekuasaan secara formal, dan meliputi suasana kebatinan atau cita-cita hukum yang menguasai dasar negara (Suhadi, 1998). Cita-cita hukum atau suasana kebatinan tersebut terangkum di dalam empat pokok pikiran Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 di mana keempatnya sama hakikatnya dengan Pancasila. Empat pokok pikiran Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 tersebut lebih lanjut terjelma ke dalam pasal-pasal Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.

Barulah dari pasal-pasal Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 itu diuraikan lagi ke dalam banyak peraturan perundang- undangan lainnya, seperti misalnya ketetapan MPR, undang-undang, peraturan pemerintah dan lain sebagainya.

1) Yang dimaksud dengan “dasar negara” ialah alas atau fundamen yang, kecuali ....

A. menjadi landasan operasional penyelenggaran pemerintah-an negara B. menjadi tumpuan dan memberi kekuatan kepada berdirinya negara C. menjadi landasan konstitusional penyelenggaraan pemerintahan

negara

D. ditetapkan oleh presiden sebagai kepala pemerintahan negara 2) Di dalam dasar negara terkandung prinsip-prinsip dasar yang menjadi

induk, pangkal tolak dan pengontrol, kecuali ....

A. haluan negara B. kehidupan negara

C. jalannya pemerintahan negara D. kehidupan warga negara

3) Pancasila, dalam kapasitasnya sebagai “dasar negara”, merupakan sumber kaidah hukum konstitusional yang, kecuali....

A. merupakan landasan kehidupan negara TES F ORM AT IF 1

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

3.16 Pancasila

B. mengatur rakyat, wilayah dan pemerintah C. mengutamakan pertimbangan akal manusia

D. merupakan suasana kebatinan bagi Undang-Undang Dasar 1945 4) Implikasi Pancasila sebagai dasar filsafat negara Indonesia ....

A. dapat diperas menjadi trisila ataupun ekasila B. terkait dengan struktur kekuasaan secara informal C. meliputi suasana kebatinan atau cita-cita hukum D. mempunyai kekuatan mengikat secara moral

5) Implikasi suasana kebatinan atau cita-cita hukum dari kedudukan Pancasila sebagai dasar filsafat negara Indonesia, antara lain, kecuali ....

A. pasal-pasal UUD NRI Tahun 1945 dijelmakan dalam peraturan hukum dan peraturan perundangan yang tidak tertulis

B. cita-cita hukum termaksud terangkum dalam empat pokok pikiran Pembukaan Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945

C. empat pokok pikiran Pembukaan Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945 pada hakikatnya adalah Pancasila

D. empat pokok pikiran Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dijelmakan dalam pasal-pasal UUD NRI Tahun 1945

6) Pancasila sebagai dasar negara mempunyai kedudukan formal sebagaimana tersirat di dalam ....

A. alinea IV Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 B. alinea III Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 C. alinea II Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 D. alinea I Pembukaan UUD NRI Tahun 1945

7) Konsekuensi kedudukan Pancasila sebagai dasar negara yang terlekat dengan Proklamasi 17 Agustus 1945, maka ....

A. Pancasila dapat berubah sesuai sifatnya yang dinamis B. Pancasila tidak dapat diubah karena berarti bubarnya negara C. Pancasila bersifat fleksibel dengan kondisi zaman

D. Pancasila tidak dapat berubah karena karunia Tuhan

8) Notonegoro mengatakan bahwa asas kerohanian Pancasila memiliki kedudukan yang sangat istimewa karena ....

A. Pancasila di dalam norma hukum mempunyai hakikat dan kedudukan yang sifatnya tetap, kuat dan dapat berubah bagi negara yang dibentuk B. Pancasila di dalam norma hukum dan norma kesusilaan memiliki sifat

yang kuat, elastis dan tetap

MKDU4114/MODUL 3 3.17

C. Pancasila di dalam norma hukum mempunyai kedudukan yang sifatnya kuat, tetap dan tidak berubah bagi negara yang dibentuk D. Pancasila di dalam norma sopan-santun dan norma hukum memiliki

kedudukan yang sifatnya tetap, kuat dan tidak berubah bagi negara yang dibentuknya.

9) Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara memiliki konsekuensi antara lain, kecuali ....

A. sumber dari segala sumber hukum B. suasana kebatinan UUD NRI Tahun 1945

C. cita-cita hukum dasar negara baik tertulis/tidak tertulis D. suasana kebatinan bangsa Indonesia

10) Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum Indonesia maka ia tercantum dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 yang terjelma lebih lanjut di dalam ....

A. Batang Tubuh UUD NRI Tahun 1945

B. pokok-pokok pikiran Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 C. perundang-undangan RI

D. alinea IV Pembukaan UUD NRI Tahun 1945

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai.

Tingkat penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar 100%

Jumlah Soal 

3.18 Pancasila

Kegiatan Belajar 2

Pancasila Sebagai Pandangan

Hidup Bangsa Indonesia

Dalam dokumen MKDU4114 buku univ terbuka (Halaman 111-119)