C. PANCASILA SEBAGAI OBJEK STUDI ILMIAH
3. Pendekatan Filosofis
Masalah pendekatan filosofis ini kita tidak perlu membicarakan seluruh ilmu filsafat yang sangat luas cakupan dan cabang-cabangnya. Penjelasan pendekatan filsafati ini sebagai pengantar ke pendekatan filsafat yang akan dideskripsikan sebagai berikut.
Pengertian filsafat sebagai suatu istilah perlu ditelusuri secara etimologis.
Istilah filsafat memiliki padanan kata falsafah (dalam bahasa Arab), dalam kosakata bahasa Inggris philosophy. Tinjauan penggunaannya dalam bahasa Yunani terdapat dua pengertian, tetapi secara semantis memiliki makna yang sama. Filsafat sebagai kata benda merupakan perpaduan kata majemuk philos (sahabat, cinta) dan Sophia (pengetahuan yang bijaksana, kebijaksanaan).
Filsafat sebagai kata kerja merupakan paduan dari philein (mencintai) dan sophos (hikmah, kebijaksanaan). Filsafat dari pengertiannya sebagai kata kerja adalah cinta kepada pengetahuan yang bijaksana, sehingga mengusahakannya.
Kaelan (1996: 3) menjelaskan, bahwa istilah filsafat pada mulanya merupakan suatu istilah yang secara umum dipergunakan untuk menunjukkan suatu usaha menuju kepada keutamaan mental, the pursuit of mental excellence. Istilah filsafat dalam perjalanan sejarah yang panjang, sebagai ilmu berguna bagi sikap kritis dan analitis, sehingga lingkup pengertian filsafat semakin berkembang dan bermacam-macam. Beberapa pendapat ada yang
1.30 Pancasila ⚫
menggunakan pengertian filsafat sebagai pandangan hidup, sebagai suatu kebijaksanaan yang rasional, sekelompok teori dan sistem pemikiran, sebagai proses kritis dan sistematis dari pengetahuan manusia, dan sebagai usaha memperoleh pandangan yang menyeluruh. Masing-masing penggunaan istilah filsafat tersebut memiliki ciri-ciri berpikir yang tertentu.
Kegiatan berpikir adalah aktivitas yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, namun tidak semua kegiatan berpikir adalah kegiatan berfilsafat. Kegiatan berpikir filsafati tidak semata-mata ditandai dengan merenung dan berkontemplasi yang tidak bersangkut paut dengan realitas.
Berpikir secara filsafati senantiasa berkaitan dengan masalah-masalah manusia yang bersifat aktual dan hakiki. Misalnya dewasa ini banyak orang menginginkankan demokrasi, maka makna demokrasi dalam arti yang sesungguhnya dapat ditemukan dengan kontemplasi kefilsafatan. Bagaimana menciptakan demokrasi yang tidak menimbulkan gejolak, mencari keserasian antara stabilitas dan dinamika, hubungan antara yang berkuasa dengan rakyat dan sebagainya. Bidang-bidang ilmu pengetahuan lain juga selalu berkaitan dengan realitas, seperti bidang ilmu kedokteran, ekonomi. Konskwensinya berpikir secara kefilsafatan di samping berkaitan dengan ide-ide juga harus memperhatikan realitas konkret. Ciri-ciri berpikir filsafati antara lain: bersifat kritis, bersifat terdalam, konseptual, koheren, rasional, komprehensif, universal, sistematis, spekulatif, bebas dan bertanggung jawab (Kaelan, 1996:
8-13).
Salah satu contoh pendekatan Pancasila dari sisi filsafat yang dapat diajukan adalah pendekatan etika, sebab etika adalah cabang dari filsafat yang erat kaitannya dengan moral. Misal, ada ketentuan hukum yang mewajibkan warga negara membayar pajak (Alhaj, 1998: 13). Kewajiban tersebut tidaklah kita terima begitu saja sebagai ketentuan yang ditetapkan oleh penguasa. Jika kita membayar pajak itu dikarenakan hanya alasan mesti patuh atau terpaksa, maka dapatlah diperkirakan di antara kita akan ada yang mengingkarinya.
Misalnya karena ada kebutuhan lainnya yang kita anggap sebagai lebih penting daripada membayar pajak. Kasus ini dapat kita teropong dari ilmu filsafat terutama cabang etika, kita harus kritis dan mempertanyakan “apa hakikatnya pajak itu, kenapa saya harus membayar pajak, untuk apa pajak itu dibayar, apa gunanya, bagaimana akibatnya jika tidak dibayar (akibat bagi saya, masyarakat, dan negara). Dalam mendiskusikan jawaban tersebut tentulah kita harus sampai pada pemecahan yang mendasar, misalnya ternyata pajak itu untuk kebaikan kita bersama, sehingga menyadarkan si wajib pajak untuk
⚫ MKDU4114/MODUL 1 1.31
membayar dan pembayaran dilakukan bukan karena rasa takut, rasa terpaksa, didorong orang lain, tetapi sudah merupakan keputusan pribadi yang otonom, berdasar hati nurani dan akal budi kita. Bahwa dengan melaksanakan kewajiban ternyata kita merasa bebas, tidak dikejar-kejar oleh rasa bersalah, rasa sesal dan lain-lain.
Contoh persoalan penting lain misalnya pengujian secara ilmiah akademis mengenai kemampuan Pancasila sebagai payung berdirinya negara dan bangsa Indonesia, lebih-lebih jika ingin dikembangkan ke arah masa depan yang penuh dengan tantangan-tantangan dan kesempatan-kesempatan, sebab Pancasila sendiri merupakan bidang moral dan kajian yang memang berada pada masyarakat Indonesia dalam arti luas. Persoalan pertama, kita mengetahui Pancasila secara de yure baru dikenal sesudah tanggal 18 Agustus 1945 sebab pada tanggal tersebut Pancasila dimaksudkan secara eksplisit sebagai dasar negara dalam artian lebih bersifat sosio-politis daripada yang lain, walaupun secara de facto Pancasila dalam artian nilai-nilai, sudah berlangsung lama dan hidup dalam masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu.
Persoalan kedua adalah kecenderungan orang untuk membandingkan Pancasila di satu sisi dengan agama di sisi lain bahkan mempertentangkan keduanya.
Yang pertama, terdapat perbedaan pendapat yang beragam dalam menamakan Pancasila sebagai suatu falsafah negara ataukah hanya sekedar persetujuan politik. Sutan Takdir Ali Syahbana (sosialis) menyatakan bahwa adalah berlebih-lebihan untuk menganggap Pancasila sebagai suatu falsafah negara karena bukan saja sila-silanya bersifat heterogen, tetapi juga Pancasila itu sendiri tidak bebas dari kontradiksi dalam dirinya. Semua prinsip- prinsipnya bukan merupakan suatu kesatuan yang logis, tetapi tinggal terletak berderai-derai, bahkan Takdir pernah mengatakan bahwa Pancasila hanyalah kumpulan paham-paham yang berbeda-beda untuk menentramkan semua golongan pada rapat-rapat BPUPKI. Tetapi pembicaraan ini memilih Pancasila sebagai dasar negara adalah karena ia merupakan suatu kompromi politik yang telah menolong bangsa Indonesia dalam menghadapi saat kritis dan menentukan dalam sejarahnya.
Pernyataan Sutan Takdir tentang Pancasila itu mendapat sambutan hangat dari wakil-wakil Islam. Hamka (Masyumi misalnya, mengomentari bahwa seorang sarjana dan sastrawan mengajui paradoksnya Pancasila, tetapi partainya (sosialis) menerimanya sebagai dasar negara adalah menurut tafsirnya sendiri, dan tidak keberatan jika sila-silanya ditambah. Dengan
1.32 Pancasila ⚫
demikian menurut Hamka penerimaan Takdir akan Pancasila sebenarnya merupakan beban yang dipikulkan partai atas pundaknya sekalipun hal itu berlawanan dengan hasil renungan bebasnya. Sejalan dengan penilaian Hamka, Saifuddin Zuhri (NU) mengatakan bahwa bagian pidato Takdir Ali Syahbana tidaklah perlu dibubuhi komentar karena sudah cukup jelas bahwa Pancasila masih banyak kekurangan-kekurangan serta di dalamnya mengandung pertentangan-pertentangan disebabkan tiadanya kebulatan pikiran, seperti Natsir yang menyayangkan penerimaan Takdir terhadap Pancasila sebagai dasar negara, padahal sila-silanya masih berderai-derai.
Sikap semacam ini menurut Natsir seharusnya tidak diambil oleh seorang pemikir terkenal seperti Sutan Takdir Ali Syahbana karena masalah dasar negara adalah masalah yang sangat serius. Maka Natsir menganggap Pancasila sebagai sekuler karena sumber-sumber silanya bukanlah wahyu Allah.
Diskusi di atas jika dipikirkan kembali, orang mungkin akan mengajukan pertanyaan: Apakah tidak mungkin untuk mereligiuskan Pancasila, yaitu dengan memberikan kepadanya nilai-nilai transenden tertentu sebagaimana yang diajarkan dalam agama-agama. Analogi untuk kerja semacam ini barangkali dapat juga diambilkan dari sejarah permulaan Islam, sekalipun tidak sepenuhnya persis. Konsep syura misalnya bukanlah ciptaan Islam untuk pertama kalinya, karena telah ada sebelumnya di Arab, lalu al-Qur’an mengambil dan mengislamkannya. Apabila diterapkan dalam konteks Pancasila, maka konversi semacam ini bukanlah sesuatu yang mustahil, karena sila-silanya dapat juga dijumpai dalam ajaran Islam. Jika sila Ketuhanan Yang Maha Esa dipercayai sebagai sumber sila-sila yang lain, maka barangkali masalahnya mendekati penyelesaian. Usaha ke arah itu sayangnya tidak dilakukan secara serius oleh golongan mana pun. Hubungan antara kepercayaan kepada Tuhan YME dengan prinsip keadilan sosio-ekonomis adalah ibarat hubungan antara dua sisi mata uang yang sama. Jika jalan analisis ini dapat diterima, maka kemudian persoalannya adalah bersediakah Pancasila untuk menaikkan dirinya dengan mengambil nilai-nilai moral fundamental seperti diajarkan oleh agama-agama wahyu. Selanjutnya jika Pancasila hanya seperti apa adanya dengan sila-sila yang berderai-derai, maka mungkin akan sulit baginya untuk mengklaim dirinya sebagai dasar negara, falsafah negara.
Posisinya hanyalah sebagai sebuah persetujuan politik bagi aliran-aliran ideologi yang bermacam-macam sebagai mana yang didalilkan oleh beberapa anggota konstituante.
⚫ MKDU4114/MODUL 1 1.33
Pembela Pancasila dalam majelis konstituante yang lain seperti Roeslan Abdul Gani berbeda pendapat dengan sutan Takdir Ali Syahbana yang berpendapat bahwa dasar negara adalah suatu metafor. Roeslan Abdul Gani memandang bahwa dasar negara merupakan suatu prinsip dasar, yang merupakan jiwa dari seluruh ayat dalam konstitusi dan perundang-undangan serta peraturan-peraturan lainnya. Ia menolak pendapat yang mengatakan bahwa Pancasila tidak mempunyai kesatuan logika. Dalam menguatkan posisi argumennya, Abdul Gani mengutip pendapat Kahin yang mengatakan bahwa Pancasila adalah sebuah sintesis dari gagasan-gagasan seperti dijumpai dalam penduduk Indonesia asli. Juga, bersandar pada pendapat Kahin, Abdul Gani mengatakan bahwa Pancasila adalah suatu filsafat sosial yang sudah dewasa.
Persoalan kedua, kecenderungan orang membandingkan Pancasila dan bahkan membandingkannya dengan agama. Sukarno sendiri bahkan telah mengakui bahwa ia menggali Pancasila itu jauh sebelum kedatangan Islam. Ini menunjukkan tidak ada keterkaitan yang organis antara agama dengan Pancasila (Ahmad Syafii Maarif, 1985: 144). Maka bagi Syafii Maarif Pancasila versi Sukarno itu melulu merupakan refleksi kontemplatif dari warisan sosiohistoris Indonesia yang kemudian dirumuskan ke dalam lima prinsip. Termasuk prinsip Ketuhanan menurut jalan pikiran Sukarno ini bersifat sosiologis, tidak ada kaitan organik dengan doktrin sentral agama yang mana pun. Dengan kata lain konsep Ketuhanan Sukarno bersifat relatif sehingga dapat diperas menjadi konsep gotong royong seperti yang dikemukakan dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia tanggal 1 Juni 1945. Pancasila yang sekarang berlaku dalam sudut pandang dimensi ideal telah teruji dengan adanya prinsip-prinsip umum universal yang pasti diterima di dunia. Nilai ketuhanan pada sila pertama, nilai kemanusiaan sila kedua, dan keadilan dalam sila kelima merupakan nilai-nilai universal yang pasti diakui sebagai nilai yang ideal di manapun, sedangkan komitmen untuk mempertahankan negara memerlukan nilai persatuan dan demokrasi (kerakyatan) yang tercermin dalam sila ketiga dan keempat. Pancasila oleh karena itu sebaiknya dijadikan prinsip-prinsip mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan kapasitasnya sebagai dasar dan ideologi negara.
1.34 Pancasila ⚫
1) Sebutkan syarat-syarat pengetahuan ilmiah!
2) Apa yang dimaksud dengan objek formal?
3) Berilah contoh bahwa objek material bidang-bidang ilmu tertentu dapat sama tetapi berbeda objek formalnya!
4) Apakah arti suatu ilmu haruslah bersifat sistematis?
5) Uraikan rumusan yang digunakan pada Pancasila sebagai pengetahuan ilmiah, terutama pada analitiko sintetik?
6) Pancasila memiliki 3 nilai universal pokok atau utama dan 2 nilai universal pendukung, sebutkan!
7) Apakah maksudnya. Pancasila memiliki sifat sebagai susunan kesatuan organis?
8) Apa maksudnya. Pancasila yang bersifat hierarkis dan berbentuk piramidal?
9) Apakah artinya salah satu ciri berpikir kefilsafatan adalah bebas dan bertanggung jawab?
10) Berikan contoh pendekatan filsafati dari cabang etika!
Petunjuk Jawaban Latihan
1) a. Berobjek b. Bermetode c. Bersistem d. Bersifat universal 2. Objek formal (focus of interest, point of view) merupakan titik pusat
perhatian pada segi-segi tertentu sesuai dengan ilmu yang bersangkutan.
3) Misalnya jenis pengetahuan yang memiliki objek material manusia dengan titik pusat perhatian atau objek formalnya tentang jiwa menimbulkan cabang Psikologi.
4) Bersifat sistematis berarti merupakan suatu kebulatan dan keutuhan yang bagian-bagiannya merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dan tidak berkontradiksi sehingga membentuk kesatuan keseluruhan
5) Cara menguraikan rumusan-rumusan yang ada untuk dibuktikan kebenarannya terhadap kehidupan sehari-hari. Dari penelitian ini setiap fakta digabungkan untuk dirumuskan secara umum dan dipakai sebagai pedoman hidup.
LAT IH A N
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
⚫ MKDU4114/MODUL 1 1.35
6) Nilai universal pokok a. Nilai ketuhanan b. Nilai kemanusiaan, dan c.
Nilai keadilan, sedangkan nilai universal pendukung d. Nilai persatuan, dan e. nilai keadilan
7) Lima sila yang merupakan satu kesatuan atau suatu keseluruhan yang di antara sila satu dengan lainnya tidak saling bertentangan, secara bersama- sama menyusun suatu keseluruhan, kesatuan dan keutuhan. Tiap-tiap silanya merupakan suatu bagian yang mutlak dari Pancasila. Oleh karena itu jika satu sila saja terlepas dari sila lainnya maka hilanglah fungsi kesatuan sila-sila Pancasila tersebut, sehingga bilamana satu sila saja terlepas dari sila lainnya maka pada dasarnya bukan lagi merupakan Pancasila. Jadi, tiap sila tidak dapat dipisah-pisahkan.
8) Sila ke-1 menjiwai dan mendasari sila ke-2, ke-3, ke-4 dan ke-5, dan seterusnya. Sila kedua diliputi dan dijiwai oleh sila pertama, menjiwai dan meliputi sila ke-3, 4 dan 5, demikian seterusnya sehingga.
9) Dalam berfilsafat manusia bebas memikirkan apa saja sehingga aspek kreativitasnya dapat tumbuh kembang dengan baik, tetapi kebebasan harus dipertanggungjawabkan, misalnya pertama-tama dipertanggung- jawabkan kepada suara hati, hati nuraninya.
10) Contohnya jika seseorang membayar pajak seharusnya mengerti dan memahami hakikat pajak sehingga ia sepenuhnya bersikap otonom dalam membayar pajak itu.
Pengetahuan dikatakan ilmiah jika memenuhi syarat-syarat ilmiah yakni berobjek, bermetode, bersistem, dan bersifat universal. Berobjek terbagi dua yakni objek material dan objek formal. Objek material berarti memiliki sasaran yang dikaji, disebut juga pokok soal (subject matter) merupakan sesuatu yang dituju atau dijadikan bahan untuk diselidiki.
Sedangkan objek formal adalah titik perhatian tertentu (focus of interest, point of view) merupakan titik pusat perhatian pada segi-segi tertentu sesuai dengan ilmu yang bersangkutan. Bermetode atau mempunyai metode berarti memiliki seperangkat pendekatan sesuai dengan aturan- aturan yang logis. Metode merupakan cara bertindak menurut aturan tertentu. Bersistem atau bersifat sistematis bermakna memiliki kebulatan dan keutuhan yang bagian-bagiannya merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dan tidak berkontradiksi sehingga membentuk kesatuan keseluruhan. Bersifat universal, atau dapat dikatakan bersifat
RA NG KUM AN
1.36 Pancasila ⚫
objektif, dalam arti bahwa penelusuran kebenaran tidak didasarkan oleh alasan rasa senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju, melainkan karena alasan yang dapat diterima oleh akal. Pancasila memiliki dan memenuhi syarat-syarat sebagai pengetahuan ilmiah sehingga dapat dipelajari secara ilmiah.
Di samping memenuhi syarat-syarat sebagai pengetahuan ilmiah.
Pancasila juga memiliki susunan kesatuan yang logis, hubungan antarsila yang organis, susunan hierarkis dan berbentuk piramidal, dan saling mengisi dan mengkualifikasi.
Pancasila dapat juga diletakkan sebagai objek studi ilmiah, yakni pendekatan yang dimaksudkan dalam rangka penghayatan dan pengamalan Pancasila yakni suatu penguraian yang menyoroti materi yang didasarkan atas bahan-bahan yang ada dan dengan segala uraian yang selalu dapat dikembalikan secara bulat dan sistematis kepada bahan- bahan tersebut. Sifat dari studi ilmiah haruslah praktis dalam arti bahwa segala yang diuraikan memiliki kegunaan atau manfaat dalam praktik.
Contoh pendekatan ilmiah terhadap Pancasila antara lain: pendekatan historis, pendekatan yuridis konstitusional, dan pendekatan filosofis.
1) Suatu objek material dari ilmu pengetahuan dapat sama tetapi dapat juga berbeda dalam hal-hal sebagai berikut, kecuali ....
A. sudut pandang B. objek formal C. metodenya D. universal
2) Pancasila itu dalam dirinya sendiri merupakan kesatuan yang majemuk tunggal, dalam arti ini Pancasila memenuhi salah satu syarat ilmiah yakni ....
A. contradictionis B. bersistem C. bermetode D. spesifik/unik
TES F ORM AT IF 2
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
⚫ MKDU4114/MODUL 1 1.37
3) Kelima sila dalam Pancasila ditetapkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menjadi dasar negara, dasar tersebut kuat dan kokoh karena ….
A. digali dan dirumuskan dari nilai kehidupan rakyat Indonesia yang merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa Indonesia B. merupakan suatu perjanjian luhur yang harus dipatuhi tanpa kecuali,
baik oleh pemerintah maupun seluruh rakyat Indonesia
C. dari sejarah ketatanegaraan terbukti bahwa Pancasila mampu mempersatukan bangsa kita yang majemuk
D. merupakan warisan penjajah yang telah berpengalaman dan mengetahui karakteristik bangsa Indonesia
4) Pancasila terdiri atas lima sila, sebagai satu keutuhan, adalah ....
A. kesatuan majemuk tunggal B. kesatuan saling mengkualifikasi C. kesatuan bhinneka tunggal ika D. kesatuan majemuk
5) Berikut adalah rumusan tentang kesatuan sila-sila Pancasila yang bersifat hierarkis dan berbentuk piramidal kecuali ....
A. Sila Ketuhanan yang Maha Esa, adalah mendasar, meliputi dan menjiwai sila-sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan/perwakilan serta Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
B. Sila Persatuan Indonesia adalah didasari, diliputi dan dijiwai oleh sila Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab dan mendasari, meliputi dan menjiwai sila-sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan/perwakilan serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
C. Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah didasari, diliputi dan dijiwai sila Ketuhanan yang Maha Esa, dan didasari, diliputi dan dijiwai sila-sila Sila Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan/perwakilan serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
D. Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang berdasarkan ketuhanan, kemanusian, persatuan
6) Pentingnya pendekatan sejarah terhadap Pancasila adalah ....
A. untuk mengetahui sejarah secara lengkap
B. membuat nyata kejadian-kejadian di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia terkait dengan Pancasila
1.38 Pancasila ⚫
C. untuk mengungkapkan fakta yang ada kaitannya dengan proses pertumbuhan dan pelaksanaan nilai-nilai pelaksanaan nilai-nilai Pancasila
D. untuk mengungkapkan fakta seutuhnya
7) Pembahasan Pancasila dari sisi hukum dan hukum ketatanegaraan sangatlah penting artinya untuk dipelajari sebabnya adalah sebagai berikut kecuali ....
A. hukum mengatur kegiatan hidup kita sebagai warga masyarakat dan negara, hukum harus dimengerti dengan baik agar dapat mengamalkan Pancasila dengan baik pula
B. Pancasila sebagai dasar negara merupakan sumber dari segala sumber hukum dalam segenap aspek kehidupan.
C. Peraturan perundang-undangan secara hierarkis menjiwai dari nilai- nilai Pancasila
D. Peraturan perundang-undangan di Indonesia secara hierarkis dijiwai dan tak boleh bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945
8) Pengertian filsafat menurut Kaelan yang juga dikutip oleh Ali Mudhofir adalah ....
A. suatu usaha menuju keutamaan mental, the pursuit of mental excellence
B. cinta kepada pengetahuan yang bijaksana sehingga mengusahakannya
C. sekelompok persoalan dapat dipecahkan dengan cara merenung D. pengetahuan yang bijaksana
9) Kegiatan berpikir secara kefilsafatan ditandai mempertanyakan sesuatu, tidak mudah menerima suatu jawaban tanpa dipikirkan secara baik hingga clear and distinct, jelas dan terpilah, mengenai persoalan-persoalan yang dihadapi manusia. Hal yang merupakan ciri kegiatan pemikiran kefilsafatan adalah....
A. sifat kritis B. dinamis C. komprehensif D. virasional
⚫ MKDU4114/MODUL 1 1.39
10) Jika ada ketentuan hukum yang mewajibkan warga negara membayar pajak, maka kewajiban tersebut tidaklah kita terima begitu saja sebagai ketentuan yang ditetapkan. Hal ini dari segi pendekatan etika beralasan karena ....
A. diharapkan suatu ketentuan dilaksanakan setelah ada ketentuan hukum yang mengaturnya
B. pembayaran pajak dilakukan bukan karena rasa takut, rasa terpaksa, didorong orang lain, tetapi merupakan keputusan pribadi yang otonom, berdasar hati nurani dan akal budi kita
C. pembayaran pajak adalah kewajiban yang harus dilakukan tanpa perlu dibantah
D. pembayaran pajak dilakukan karena takut sangsi bagi pelanggarnya.
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang belum dikuasai.
Tingkat penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar 100%
Jumlah Soal
1.40 Pancasila ⚫
Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif 1
1) A. Tujuan perkuliahan Pancasila adalah untuk memberikan pemahaman, penghayatan, dan pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 dalam kehidupan sehari-hari, serta menguasai pengetahuan dan pemahaman tentang beragam masalah dasar kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
2) B. Menjalani pendidikan adalah salah satu cara untuk mempelajari dan mengembangkan Pancasila.
3) C. Kausal adalah tentang sebab akibat.
4) B. Pengetahuan esensial berhubungan dengan inti sari atau makna terdalam dari Pancasila.
5) A. Perguruan tinggi memiliki peran yang besar di dalam mempersiapkan warga masyarakat memasuki kehidupan masa depan.
6) A. Pembelajaran Pancasila mengajarkan cara untuk bersikap dan berperilaku.
7) B. Sikap anti-Tuhan dan anti-keagamaan adalah sikap yang tidak sesuai dengan sila pertama.
8) B. chauvinistik adalah paham kebangsaan yang sempit.
9) B. Sila keempat mengandung maksud bahwa Indonesia menganut sistem demokrasi tidak langsung
10) D. Sikap mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan adalah sikap yang bertentangan dengan makna sila kelima Pancasila.
Tes Formatif 2
1) B. Perbedaan objek formal ilmu pengetahuan menjadi penentu perbedaan satu ilmu dengan ilmu yang lain.
2) B. Pancasila yang majemuk tunggal adalah bentuk dari Pancasila sebagai satu sistem.
3) A. Kelima sila Pancasila digali dan dirumuskan dari nilai kehidupan rakyat Indonesia.
4) A. Kesatuan majemuk tunggal adalah wujud kesatuan dari sila-sila Pancasila.
5) C. Sila Kedua dijiwai dan diliputi oleh sila pertama, serta menjiwai sila ketiga, keempat, dan kelima.