• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masa Sidang Pertama BPUPKI

Dalam dokumen MKDU4114 buku univ terbuka (Halaman 77-80)

B. PERIODE PENGUSULAN PANCASILA

1. Masa Sidang Pertama BPUPKI

Mr.Muh. Yamin pada sidang pertama hari pertama pada tanggal 29 Mei 1945 mengemukakan usul yang disampaikan dalam pidatonya yang berjudul asas dan dasar negara Kebangsaan Republik Indonesia di hadapan sidang lengkap BPUPKI. M. Yamin mengusulkan dasar negara bagi Indonesia Merdeka yang akan dibentuk meliputi Peri kebangsaan, peri kemanusiaan, peri Ketuhanan, peri kerakyatan, kesejahteraan rakyat. M. Yamin selain menyampaikan usulan dalam bentuk pidato, juga menyampaikan usulan dalam bentuk tertulis tentang lima asas dasar negara dalam rancangan Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia yang berbeda rumusan kata-kata dan sistematikanya dengan isi pidatonya. Rumusannya yang tertulis adalah sebagai berikut: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan Persatuan Indonesia, Rasa Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mr. Soepomo tanggal 31 Mei 1945 mengusulkan perihal yang pada dasarnya bukan dasar negara merdeka, akan tetapi tentang paham negaranya yaitu negara yang berpaham integralistik. Soepomo mengusulkan tentang dasar pemikiran negara nasional bersatu yang akan didirikan harus berdasarkan atas pemikiran integralistik. Pemikiran integralistik tersebut yang sesuai dengan struktur sosial Indonesia sebagai ciptaan budaya bangsa Indonesia yakni struktur kerohanian dengan cita-cita untuk persatuan hidup, persatuan kawulo- gusti, persatuan dunia luar dan dunia batin, antara mikrokosmos dan makrokosmos, antara rakyat dan pemimpin-pemimpinnya.

Negara integralistik tidak mengenal dualisme antara negara dan individu.

Individu merupakan bagian organik dari negara yang mempunyai kedudukan dan kewajiban tersendiri untuk turut menyelenggarakan kemuliaan negara.

Soepomo selanjutnya mengemukakan juga bahwa semua golongan rakyat, semua daerah memiliki keistimewaan tersendiri, akan mempunyai tempat dan kedudukan sendiri-sendiri, sebagai bagian organik dari negara keseluruhannya.

Mr.Soepomo juga menegaskan jika bangsa Indonesia hendak mendirikan negara Indonesia yang sesuai dengan keistimewaan sifat dan corak masyarakat Indonesia, maka negara harus berdasar atas aliran pikiran integralistik, yaitu negara yang bersatu dengan seluruh rakyatnya, yang mengatasi seluruh golongan-golongan dalam bidang apa pun, kepala negara dan badan-badan pemerintahan lain harus bersifat pemimpin yang sejati.

2.26 Pancasila

Negara harus bersifat badan penyelenggara dan pencipta hukum yang timbul dari sanubari rakyat seluruhnya. Negara dalam pengertian dan teori ini tidak lain adalah seluruh masyarakat atau seluruh rakyat Indonesia sebagai persatuan yang teratur dan tersusun.

Syarat mutlak bagi adanya negara menurut Soepomo adalah adanya daerah, rakyat, dan pemerintahan. Soepomo mengenai dasar negara Indonesia yang akan didirikan menjelaskan, ada tiga persoalan yakni: pertama, Persatuan negara, negara serikat, persekutuan negara. Kedua, hubungan antara negara dan agama. Ketiga, Republik atau Monarchie.

Ir. Soekarno pada hari berikutnya yakni tanggal 1 Juni 1945 juga mengusulkan lima dasar bagi negara Indonesia yang disampaikannya melalui pidato mengenai Dasar Indonesia merdeka. Lima dasar itu atas petunjuk seseorang ahli bahasa yaitu Mr. Muh Yamin yang pada waktu itu duduk di samping Ir. Soekarno diberi nama Pancasila. Lima dasar yang diajukan Bung Karno ialah Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau perikemanusiaan, Mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, Ketuhanan yang berkebudayaan. Lima rumusan tersebut menurutnya dapat diringkas menjadi tiga rumusan yang diberi nama Tri-Sila yakni dasar pertama, kebangsaan dan perikemanusiaan (nasionalisme dan internasionalisme) diperas menjadi satu diberi nama sosio-nasionalisme. Dasar kedua, demokrasi dan kesejahteraan diperas menjadi satu diberi nama sosio-demokrasi. Dasar ketiga, ketuhanan yang berkebudayaan yang menghormati satu sama lain disingkat menjadi Ketuhanan.

Sosio-nasionalisme adalah paham kebangsaan yang berperikemanusiaan atau nasionalisme yang berinternasionalisme, yaitu bangsa yang hidup bersama dalam kekeluargaan bangsa-bangsa. Sosio-demokrasi adalah paham demokrasi persamaan seluruh rakyat dan warga, baik dalam lapangan politik, sosial, ekonomi, kebudayaan maupun agama. Ketuhanan yang dimaksudkan di sini adalah untuk menjiwai dasar sosionasionalisme dan sosiodemokrasi. Tri sila ini juga masih dapat diringkas lagi menjadi satu dengan sebutan eka sila yaitu gotong-royong, suatu istilah diambil dari istilah Indonesia asli. Istilah ini menurut Bung Karno sebagai berikut: gotong-royong adalah paham yang dinamis menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, satu karya, satu gawe bersama-sama. Gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama- sama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama, amal semua kepentingan semua, keringat semua buat semua.

MKDU4114/MODUL 2 2.27

Eka sila yang berisi prinsip gotong-royong ialah mendirikan negara gotong royong, yang berarti satu buat semua, semua buat satu, semua buat semua.

Hasil dari masa sidang pertama, dengan usulan dasar negara baik dari Muh Yamin dan Soekarno, dan paham negara integralistik dari Soepomo maka untuk menampung perumusan-perumusan yang bersifat perorangan, dibentuklah panitia kecil penyelidik usul-usul yang terdiri atas sembilan orang yang diketuai Soekarno, yang kemudian panitia ini disebut juga Panitia Sembilan. Panitia sembilan atau disebut juga panitia kecil beranggotakan tokoh-tokoh nasional sebagai perwakilan golongan-golongan Islam dan nasionalis, yakni Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, AA Maramis, KH Wachid Hasyim, Abdul Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, Abikusno Tjokrosujoso, Mr.

Achmad Soebardjo, dan Mr. Muhammad Yamin.

Panitia Sembilan pada tanggal 22 Juni 1945 berhasil merumuskan Rancangan mukaddimah (pembukaan) Hukum Dasar, yang oleh Mr.

Muhammad Yamin dinamakan Jakarta Charter atau Piagam Jakarta.

Rancangan mukaddimah pada alinea keempat memuat rumusan Pancasila yang tata urutannya tersusun secara sistematis:

b. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk- pemeluknya;

c. Kemanusiaan yang adil dan beradab;

d. Persatuan Indonesia;

e. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan;

f. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Piagam Jakarta pada alinea ketiga juga memuat rumusan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang pertama berbunyi “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya”. Kalimat ini merupakan cetusan hati nurani bangsa Indonesia yang diungkapkan sebelum Proklamasi kemerdekaan, sehingga dapat disebut sebagai declaration of Indonesian Independence.

Rumusan secara lengkap mukaddimah Rancangan Mukaddimah Hukum Dasar atau Piagam Jakarta adalah sebagai berikut:

2.28 Pancasila

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang bebahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, yang merdeka, besatu adil dan makmur.

Atas berkat rahmat Allah Yang maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Hukum Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan Rakyat, dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syari’at islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Piagam Jakarta yang berintikan Pancasila ini merupakan perjanjian luhur bangsa Indonesia hasil kesepakatan tokoh-tokoh bangsa Indonesia dari golongan Islam dan golongan Nasionalis.

Dalam dokumen MKDU4114 buku univ terbuka (Halaman 77-80)