H. Anggota DPRD Sebagai Elite Politik Lokal
I. DPRD Kota Palu Sebagai Pilar Demokrasi Lokal
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) merupakan lembaga politik dan anggota DPRD yang merupakan hasil proses konversi hasil pemilu legislatif umum adalah insan politik. DPRD, insan politik dan partai politik merupakan unsur utama dan penting dalam proses demokratisasi di daerah.
Dalam konteks warga negara, semua unsur dan stakeholders berkewajiban menegakkan kedaulatan rakyat dalam membangun pembangunan politik yang lebih adil, dan harmonis. Pembangunan politik yang baik berarti memberikan pencerahan hak dan kewajiban setiap warga negara terhadap bangsa dan negara. Kewajiban terhadap bangsa dan negara yang dimanifestasikan dalam pengelolaan pemerintahan kearah peningkatan kesejahteraan rakyat.
DPRD Kota Palu dalam menjalankan tugasnya sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-undang Pemerintahan Daerah 32 Tahun 2004, selain
fungsi legislasi, anggaran dan kontrol sosial, juga membangun hubungan harmonis kerja dengan Pemerintah Daerah. DPRD dan Pemerintah Daerah merupakan mitra kerja dalam kerangka unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Tugas dan wewenang Kepala Daerah dan fungsi DPRD, pada Pasal 25 UU Nomor 32 Tahun 2004, sebagai berikut:
a. memmimpin penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD;
b. mengajukan rancangan Perda;
c. menetapkan Perda yang telah mendapat persetujuan bersama DPRD;
d. menyusun dan mengajukan rancangan Perda tentang APBD kepada DPRD untuk dibahas dan ditetapkan bersama;
e. mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah
f. mewakili daerahnya di dalam dan luar pengadilan, dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan; dan
g. melaksanakan tugas dan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Sementara itu, tugas, wewenang dan fungsi DPRD
Pada sisi lain, menurut Pasal 1 butir keempat UU Nomor 32 Tahun 2004 disebutkan bahwa:”Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat sebagai unsur penyelenggara pemeritahan daeah”. Pasal tersebut menunjukkan bahwa DPRD mempunyai kedudukan yakni sebagai wakil rakyat dan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Kedua kedudukan tersebut dalam prakteknya seringkali menimbulkan konflik kepentingan yang mempersulit posisi anggota DPRD (Wasistiono dan Wiyoso, 2009: 43).
DPRD mempunyai tugas dan wewenang yang diatur dalam UU No 22 Tahun 2003,Pasal 62 dan 78, yaitu:
a. Membentuk PERDA yang dibahas dengan Kepala Daerah untuk mendapat persetujuan bersama
b. Menetapkan APBD bersama dengan Kepala Daerah
c. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan PERDA, peraturan perundang-undangan lainnya, Keputusan Kepala Daerah, APBD, kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah, dan kerjasama internasional di daerah;
d. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi Gubernur dan melalui Gubernur bagi bupati/walikota
e. Memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional yang menyangkut kepentingan daerah;
f. Meminta laporan keterangan pertanggung jawaban kepada Kepala Daerah dalam pelaksanaan tugas desentralisasi.
Selanjutnya menurut UU No 32 Tahun 2004 Pasal 42, tugas dan wewenang DPRD, dalam membangun proses demokratisasi pada aras lokal, yaitu:
a. Memilih Wakil Kepala Daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan Wakil Kepala Daerah;
b. Memberikan persetujuan terhadap rencana kerjasama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah;
c. Membentuk panitia pengawas pemilihan Kepala Daerah;
d. Melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan Kepala Daerah;
e. Memberikan persetujuan terhadap rencana kerjasama antara daerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah (Wasistiono dan Wiyoso, 2009: 44).
Ekesistensi DPRD dalam pembangunan politik (political development) amat strategis proses demokratisasi di daerah dalam membangun kedaulatan rakyat. Penyelenggara pemerintahan daerah dan penyokong utama terlaksananya Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilu Kada) di daerah.
Oleh karena itu, DPRD Kota Palu sebagai pilar penyelenggara demokrasi pada aras daerah amat penting dalam melahirkan pemimpin masyarakat lokal yang legisimasinya cukup kuat. Hal ini ditunjukkan suksesnya dalam pemilihan Presiden/Wakil Presiden RI tahun 2009 dan Pemilihan Walikota/ Wakil Walikota Palu tahun 2010 serta Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2011.
DPRD Kota Palu bersama Pemerintah Daerah Kota Palu serta segenap masyarakat Kota Palu telah sukses menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (Wali Kota dan Wakil Walikota Palu) tahun 2010 dan memilih pemiminnya secara demokratis tanpa adanya riak-riak konflik, meskipun banyak pihak meragukan kesuksesan tersebut, bahkan memprediksi akan terjadinya konflik sosial antar pendukung. Oleh karena itu, suksesnya DPRD dan segenap masyarakat dalam mengawal dan menyuseskan penyelenggraan event politik demokrasi rakyat tersebut, merupakan prestasi yang cukup berarti dalam mengawal desentralisasi politik di Kota Palu pada era reformasi saat ini.
Tabel 08
Rekapitulasi Perolehan Suara Pasangan Calon Walikota dan Walikota Palu Pada Pemilu Kada Tahun 2010 di Kota Palu
No Nama Pangan Calon Walikota dan Wakil Walikota
Jumlah Akhir
1. Drs. Hidayat, M.Si dan Drs. M. Muhlis, MM. 25.855 2. H. Rusdy Mastura dan
H. A. Mulhanan Tombolotutu,SH
43.411
3. H. Helmi D. Yambas,SE, MH dan H. Hadiyanto Rasyid, SE
17.177
4. H. Kamil Badrun AR, SE, M.Si dan H. Yoes Soedarso Mardjuni, SE
6.283
5. Hj. Habsa Yanti Ponulele, ST, M.Si dan H. Arman Djanggola, S.Sos
38.287
6. Rusman Lamakasusa, S.Sos dan Irianto Agan
4.884
Jumlah 135.897
Sumber: Komisi Pemilihan Umum Kota Palu, 2012
Pemilihan Kepala Daerah Kota Palu dengan memilih Walikota dan Wakil Walikota Palu tahun 2010 dengan suara pemilih sah berjumlah 135. 897 yang diikuti enam pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Palu, dimenangkan oleh pasangan H. Rusdy Mastura dan H.A. Mulhanan Tombolotutu, SH dengan perolehan suara 43.411. Urutan kedua ditempati pasangan Hj. Habsa Yanti Ponulele, ST, M.Si dan H. Arman Djanggola, S.Sos dengan perolehan suara 38.287, (secara berturut peringkat perolehan suara pada kandidat, dapat dilihat pada tabel diatas).
BAGIAN KEDUA BIOGRAFI ANGGOTA DPRD
Kota Palu