• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mantan Aktifis Mahasiswa di Bandung

keraguan Yos berangkat ke Bandung seorang diri meskipun dengan modal finansial seadanya.

“Saya berangkat seorang diri untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke IKOPIN Bandung. Keberangkatan saya ke Bandung dalam status ikatan dinas yang mewakili utusan dari Sulawesi Tengah. Kelak setelah sarjana saya akan pulang dan menjadi pegawai negeri sipil.”

menarik perhatian baginya. Ia justeru tertarik menekuni bidang swasta.

Suatu bidang menuntut kerja keras, penuh tantangan dan menuntut keberanian mengambil resiko. Dapat dikatakan bahwa Yos mengalami perubahan orientasi cita-cita tentang masa depan. Sehingga, ketika beranjak ke semester dua ia pun mulai aktif meniti karir di bidang swata sebagai tenaga penjualan (sales marketing) khusus menjual produk konsumsi rumah tangga.

“Secara ekonomi, orang tua saya tergolong mampu, namun saya tidak ingin menggantungkan hidup pada mereka. Saya harus berusaha mencari nafkah sendiri dengan cara menjual produk konsumsi rumah tangga yang akan ditawar melalui door to door. Bahkan saya juga pernah bekerja di suatu perusahan ekspedisi pengiriman barang.”

Selain sibuk bekerja dan mengikuti rutinitas perkuliahan, Yos menenyempatkan diri aktif dalam kegiatan kemahasiswaan seperti;

demonstrasi, melakukan kajian keagamaan di mesjid Salman ITB dan menjadi pengurus Senat Ikopin Bandung dan sempat menjabat sebagai Ketua Ikatan Mahasiswa-Pelajar Sulawesi Selatan di Bandung. Sebagai aktivis, Yos banyak terlibat dalam diskursus tentang politik negara bersama teman-teman aktivisyang lain, termasuk turut mendalangi beberapa aksi demonstrasi yang berujung kisruh. Salah satu diantaranya, demonstrasi anti Arswendo yang dinilai publik telah menghina Nabi Muhammad melalui tulisan di majalah

“Detik” pada tahun 1994 lampau. Dalam tulisan tersebut menempatkan Nabi Muhammad pada urutan ke 11 dari sekian tokoh terkenal di Indonesia.

Semangat militansi dan jiwa perlawanan seorang anak mudah yang tengah mencari identitas diri. Sebuah perlawanan yang dimanifestasikan dalam bentuk gerakan demonstrasi berskala massif dan mengarah pada aksi anarkisme. Akibat dari aksi tersebut, terdapat 11 mahasiswa ditangkap oleh pihak aparat keamanan. Ia menuturkan pengalamannya sebagai berikut :

“Saya termasuk pihak yang turut mendalangi aksi demonstrasi anti Arswendo pada tahun 1994 lalu. Saya bersama 10 orang mahasiswa lainnya ditahan oleh pihak kepolisian selama dua hari. Alasan di balik penahanan tersebut terkait dengan aksi bakar ban bekas dan kegiatan pelemparan batu terhadap kendaraan umum yang kebetulan lewat di jalan raya.”

Aktif mengikuti perkuliahan, terlibat dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan dan bekerja sebagai pegawai swasta telah menempatkannya dalam situasi kesibukan yang tiada henti. Hari demi hari pun ia dilewati dengan berbagai kesibukan. Umumnya mahasiswa yang aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, biasanya menempuh pendidikan dalam waktu yang relatif panjang. Namun tidak demikian halnya dengan Yos Soedarso. Meskipun ia termasuk aktivis mahasiswa dan juga aktif bekerja sebagai pegawai swasta, tidak berarti masa penyelesaian studi menjadi tertunda karenanya. Bahkan ia berhasil meraih gelar sarjana dalam waktu ukuran normal yakni sekitar 4 tahun. Ketika itu, penyelesaian studi tercepat di IKOPIN Bandung sekitar 3,5 tahun.

Setelah menyelesaikan studi di IKOPIN Bandung dan menyandang gelar sarjana ekonomi (SE) tidak lalu kemudian ia kembali ke Palu. Yos memutuskan untuk tetap tinggal di Bandung melanjutkan kegiatan usaha yang telah dijalaninya sebagai tenaga marketing pada PT Bumi Karsa Mandiri, yaitu sebuah perusahaan developer yang bergerak di bidang perumahan. Dalam menjalankan tugasnya, Yos Soedarso terus mengasah kemampuan komunikasinya dalam menjual produk perumahan kepada setiap calon konsumen yang berhasi ditemuinya.

Menjalani pekerjaan sebagai tenagan marketing tidaklah mudah.

Dibutuhkan sebuah keterampilan komunikasi yang tinggi dan efektif. Ia harus mampu memanfaatkan momentum yang singkat untuk menjelaskan produknya secara persuasif kepada setiap calon konsumen, agar tertarik dan

mau terlibat dalam proses pembelian rumah yang ditawarkan. Dari aspek teoritis, Yos Soedarso telah mempelajari di bangku kuliah, namun dari segi praktis ia masih harus mengasah kemampuannya melalui pengalaman langsung berinteraksi dengan calon konsumen.

Entah berapa banyak orang yang ia kenal melalui profesi tersebut. Satu hal yang pasti bahwa ia mengenal beberapa pejabat penting daerah dan anggota DPRD Bandung selama aktif menjalankan pekerjaan sebagai tenaga marketing. Bukan faktor kebetulan, tetapi logika pemasaran mengharuskan mereka menjadi salah satu kelompok target market-nya. Sebab, produk perumahan yang ia pasarkan relatif mahal sehingga harus membidik lapisan ekonomi kelas menengan-atas seperti para pejabat, termasuk para anggota dewan. Melalui interaksi dengan pejabat, anggota dewan dan politisi daerah Yos Soedarso sedikit-banyak mengenal dunia politik praktis.

Pada tahun 1998 krisis ekonomi melanda Indonesia yang berimplikasi luas pada bidang politik. Bisnis perumahan yang tengah digelutinya mengalami kondisi kebangkrutan. Keinginan untuk terus menekuni bidang marketing menjadi pupus di tengah jalan seiring krisis yang dialami perusahan tempat ia bekerja. Praktis kegiatan penjualan pun mengalami stagnasi hingga tidak lagi mampu beroperasi secara normal.

Nyaris bersamaan, situasi politik di Tanah Air mengalami fase transformasi dari era politik otoritarianisme ke era reformasi dengan sistem politik yang bebas. Partai-partai politik marak didirikan mulai dari tingkat pusat hingga di tingkat daerah. Melihat fenomena tersebut, Yos mulai berpikir untuk terjun ke gelanggang politik praktis. Ia melihat begitu banyak peluang masuk ke partai politik. Pengalaman sebagai aktivis mahasiswa dan menekuni bidang marketing yang memungkinkan ia banyak bergaul dengan

kalangan politisi merupakan modal penting baginya untuk memulai sebuah babakan baru dalam kancah pertarungan politik.