• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memberdayakan Masyarakat Kecil

Dalam dokumen Sejarah DPRD Kota Palu cetak.pdf (Halaman 187-198)

Setiap kelahiran memiliki isyarat simbolik yang menandai sebuah awal pro ses kehidupan baru. Para ahli astrologi secara spekulatif memberikan prediksi tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam ranah perjalanan hidup seseorang dengan merujuk pada rangkaian fenomena yang melingkupi peristiwa kelahiran seperti; waktu, tempat, lingkungan keluarga dan tanda-tan da yang terlihat pada kondisi fisik sang bayi. Umur, jodoh, keberuntungan atau kemalangan, suka duka, rejeki merupakan fenomena misteri yang dicoba untuk diungkapkan.

Ramalan atau prediksi tetaplah menjadi sebuah spekulasi yang pada kon disi tertentu dapat menjadi sumber motivasi atau ‘penjara’

masa depan, tergantung orang percaya atau tidak. Bagi Tamsil, hidup merupakan sebuah misteri dimana nasib seseorang bergerak bagaikan arena yang menghadirkan pertentangan antara takdir (ketetapan) dan kebebasan memilih (ikhtiar). Dengan memandang

174 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal

sebagai misteri berarti setiap orang ditantang untuk menentukan dan meraih impian masa depan hing ga pada akhirnya takdir memutuskan, apakah ending dari sebuah proses penca paian berakhir dengan kesuksesan atau kegagalan.

Tamsil Ismail adalah putra kelahiran Pantoloan yang lahir dari sebuah lingkungan keluarga sederhana, tepatnya pada tanggal 13 November 1964 silam. Sejak usia dini kedua orang tuanya menanamkan pendidikan karakter (akhlak) dan sifat kemandirian kepada diri dan saudaranya. Sebagaimana la zimnya anak-anak seusianya, ia pun memperoleh rangsangan dari lingkungan agar kelak menjadi orang yang sukses kelak di kemudian hari. Kenyataan hidup keluarganya membuat ia memiliki harapan atau obsesi masa depan yang realis tik. Sebagaimana diungkapkannya, “Setiap orang ingin sukses dan mandiri. Entah menjadi pegawai negeri sipil (PNS), pengusaha atau menjadi politisi”.

Kiprah di Bidang Pemberdayaan Masyarakat

Pengalaman berorganisasi ketika masih berstatus mahasiswa memberinya kom petensi tertentu, terutama bekaitan dengan proses pembentukan wawasan dan pengembangan bakat kepemimpinan.

Pada tahun 1991, menjelang akhir studi Tamsil mendapat tawaran berupa penunjukkan langsung oleh dekan pertanian untuk menjadi tenaga pendamping. Sebuah peluang penting yang menentukan arah kiprahnya di ranah publik khususnya berkaitan dengan pemberdayaan ma syarakat.

“Saya ditawari oleh dekan Pertanian untuk menjadi tenaga pendam ping di Lalundu. Kebetulan dekan sebagai pimpinan proyeknya. Pada saat itu Departemen Transmigrasi (pusat) bekerja sama dengan Uni versitas Tadulako tentang penyediaan tenaga pendamping masyarakat yang bertugas untuk melakukan kegiatan pendampingan warga trans migrasi.”

Tentu saja tawaran tersebut tidak disia-siakan olehnya. Meskipun ijazah kesarjanaan belum diterima (telah diyudisium) dan belum melalui proses wis uda, namun ia mengambil keputusan cepat untuk segera berangkat ke Lalundu. Keputusan tersebut diambil karena pertimbangan bahwa ia telah menyelesaikan pendidikannya dan

175

Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019

telah berstatus menikah. Rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap rumah tangga yang belum lama dibina menyebabkan ia barus berpikir untuk memperoleh pekerjaan. Selain alasan keluarga, ia juga menyukai sebuah pekerjaan yang menantang, jiwa adventurer menjadi pendorong utama baginya untuk berpetualangan ke tempat yang tergolong jauh.

Melaksanakan tugas pendampingan masyarakat selama 5 tahun di Lalundu merupakan pengalaman berharga yang sulit terlupakan olehnya. Dengan penuh dedikasi ia membina warga transmigrasi agar dapat bertahan menetap di sana. Melalui program pemberdayaan, masyarakat transmigrasi memperoleh pem binaan berupa; kegiatan usaha tani, koperasi, cara bercocok tanam dan peme liharaan tanaman pertanian, dan pembentukan/penguatan lembaga desa atau kemasyarakatan.

Lima tahun melaksanakan kontrak sebagai tenaga pendampingan bukanlah waktu yang singkat bagi seseorang yang telah menikah dan jauh dari anak dan istrinya. Dalam kesibukan melakukan kegiatan penyuluhan ia tetap menyempatkan diri kembali ke Kota Palu sekali dalam sebulan demi melepas kerinduan dengan keluarganya.

Jarak tempuh yang jauh serta melewati medan jalan yang sulit dijangkau oleh kendaraan roda dua, Tamsil tetap berkomitmen untuk meluangkan waktu untuk keluarga pada setiap bulannya.

Ketika hendak berangkat ke Palu, berbagai persiapan pun dilakukan. la harus memastikan bahwa motor yang akan digunakan dalam keadaan prima, ti dak mengalami kerusakan teknis apapun, termasuk mempersiapkan satu liter oli ganti yang sewaktu- waktu harus digunakan. Menempuh perjalanan jauh, me lewati pegunungan yang terjal dan licin, tentu membutuhkan nyali yang tinggi bagi siapa saja yang akan melintasi jalur perjalanan dari Lalundu ke Kota Palu.

“Tidak menjadi masalah bagi saya yang harus melewati jalan rusak dengan jarak tempuh yang jauh, setiap bulan saya selalu menyempat kan diri pulang ke Palu demi keluarga. Apalagi ketika isteri sedang hamil dan masih dalam proses penyelesaian studi di Untad, saya ber kewajiban untuk selalu memberi perhatian dan nafkah sebagai wujud tanggung jawab terhadap keluarga”.

176 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal

Banyak pengalaman berharga yang sulit ia lupakan selama kurun waktu lima tahun masa kontrak di Lalundu. Dengan bekal pengalaman organisasi, ia tidak mengalami kesulitan berarti pada saat berhadapan langsung dengan ma syarakat. Sebelum melaksanakan tugas pendampingan, ia memperoleh pelati han singkat tentang teknik komunikasi publik. Selebihnya ia harus mengasah kemampuan komunikasi melalui proses pengalaman langsung dengan masyara- kat. Banyak hikmah yang diperoleh melalui kegiatan pendampingan seperti di ungkapkan sebagai berikut:

“Saya mendapat pengalaman berharga selama melakukan kegiatan pendampingan. Berbagai karakter masyarakat dengan latar belakang kultur berbeda telah saya pelajari. Ternyata budaya memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan kepribadian dan etos kerja seseorang. Me nurut pengamatan saya, antara transmigran dari Bali, jawa, NTB dan NTT memiliki perbedaan tingkat motivasi dalam mengikuti program pemberdayaan yang saya lakukan.

Ternyata orang Bali tampaknya lebih antusias dan memiliki etos kerja yang tinggi dibandingkan imigran lainnya”.

Perhatian, kepedulian dan naluri pengabdian mendasari setiap keterliba tannya dalam masyarakat. Ketika pertama kali aktif melaksanakan tugas seba gai pendamping, motivasi kerja atau mencari nafkah cenderung menjadi alasan utama dalam setiap aktivitasnya di lapangan. Seiring berjalannya waktu, dimana interaksi dengan masyarakat semakin intensif, secara alamiah muncul semangat baru dari dalam dirinya, bahwa kehadirannya sangat manfaatnya bagi masyarakat. Sebuah perasaan bangga dan tidak dapat dinilai hanya dengan gaji atau uang.

Perubahan orientasi tersebut membuatnya semakin bersemangat dan bekerja tanpa mengenal lelah. la merasakan seolah-olah kekuatan baru merasuki jiwanya, menjadi sumber spirit yang tidak mengenal kata menyerah dalam menjalankan tugas-tugas sebagai pelayan masyarakat. Setelah lima tahun dilewati dengan berbagai kesibukan melayani masyarakat, kontrak pendampingan pun berakhir. Pada saat yang hampir bersamaan ia mendapat tawaran baru sebagai tenaga konsultan yang ditugaskan di daerah Lalundu selama 1 tahun ke depan. Tanpa berpikir panjang tawaran kontrak ter sebut ia terima

177

Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019

dengan senang hati. Pengalaman 5 tahun mendampingi masyara- kat merupakan modal penting baginya untuk beradaptasi dengan kegiatan baru sebagai tenaga konsultan.

Cukup sudah waktu 5 tahun digunakan untuk menjalani tugas pendam pingan masyarakat ditambah dengan satu tahun sebagai tenaga konsultan. Ber kat pengabdian yang dilakukan maka masyarakat mengharapkan kiranya Tamsil tetap tinggal menetap di Lalundu.

Masyarakat menjanjikan tempat tinggal, ke bun bahkan sekiranya ia dapat menikah lagi. Dengan berat hati niat baik ia harus menolak tawaran masyarakat agar menetap di Lalundu. Kerinduan untuk kem- bali berkumpul dengan keluarga di Palu tidak dapat tertahankan lagi.

Akhirnya, ia pun kembali ke Palu membawa sejuta kenangan indah saat masih bersama masyarakat Lalundu.

Mengawali Profesi Baru di Bidang Usaha Percetakan

Setelah kembali dari Lalundu, praktis ia tidak memiliki kesibukan selain mengisi waktu kebersamaan dengan keluarganya. Demi tanggung jawab sebagai kepala rurnah tangga, ia pun menjajaki peruntungan baru dengan mencoba membuka usaha di bidang percetakan. Profesi tersebut dipilih karena pada saat itu ia dia jak oleh seorang sahabatnya bekerjasama menekuni usaha sablon dan perceta kan. Sejak itu Tamsil mulai belajar tentang teknik menyablon pakaian sebagai profesi baru yang memberinya sumber nafkah baginya dan keluarganya.

Tidak cukup hanya bekerja di bidang percetakan dan sablon, ia juga per nah membuka usaha sebagai penjual air mineral. Semua itu dilakukan semata- mata untuk menunjukkan rasa tanggung jawab yang tinggi dalam memenuhi kebutuhan nafkah bagi keluarganya.

Meskipun ia memiliki kedua orang tua dan ayah mertua yang relatif sanggup membantu memenuhi nafkah keluarganya, namun beliau sadar bahwa membangun keluarga baru harus disertai oleh kesadaran tentang kemandirian.

Ketergantungan ekonomi pada orang tua atau mertua bukan tanpa resi ko, jika hal itu terjadi, maka ia harus kehilangan otonomi sebagai kepala rumah tangga dalam keluarganya. Potensi konflik biasanya sulit

178 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal

untuk dihindari dalam keluarga semacam itu. Namun, Filosofi inilah yang mendasari kesadaran dirinya untuk rela mengerjakan apa saja selagi halal dan tidak melanggar norma sosial atau merugikan orang lain, demi keberlangsungan kehidupan ekonomi keluar ganya. Pantang baginya menjadi kepala keluarga berstatus ‘pengangguran’ yang setiap hari hanya berpangku tangan menerima bantuan dari orang lain.

Demi keluarga, ia pun pernah beberapa kali mencoba peruntungan dengan melamar pekerjaan sebagai colon pegawai negeri sipil (PNS).

Keinginan menjadi PNS telah lama ia idam-idamkan. Sejak masih aktif sebagai tenaga pen dampingan di Lalundu, beliau tidak pernah melewatkan kesempatan ini untuk mendaftarkan sebagai peserta dalam mengikuti ujian tes CPNS.

“Beberapa kali saya mengikuti ujian CPNS di Kantor Gubernur namun dinyatakan tidak lulus. Beberapa teman satu angkatan dengan saya juga ikut dalam ujian tersebut. Diantara mereka ada yang lulus meski pun prestasi akademiknya (IPK) jauh lebih rendah dari saya. Bahkan waktu mengikuti ujian CPNS di Kabupaten Donggala, saya memperoleh hasil ujian tertinggi diantara ribuan peserta ujian”.

Dengan optimisme yang tinggi, Tamsil pernah menjadi salah satu dari sekian banyak pe serta ujian seleksi CPNS di Universitas Tadulako.

Dua kali mengikuti tes namun hasilnya tetap nihil (tidak lulus).

Ternyata hasil ujian yang tinggi bahkan menempati urutan pertama dalam kompetisi memperebutkan kuota PNS, bukan menjadi jaminan dapat lulus. Tamsil sadar sepenuhnya bahwa untuk lulus menjadi pegawai negeri sipil mustahil dapat diraih jika hanya bermodalkan prestasi akademik dan kompetensi akademik semata tanpa faktor lain seperti; modal uang dan modal koneksitas. Hal tersebut merupakan fenomena umum di setiap instansi pemerintah, khususnya di Pemda tingat I dan II, dimana ujian seleksi CPNS hanya formalitas belaka.

Nepotisme merupakan gejala yang mewarnai atmosfir penerimaan pegawai setiap ta hunnya.

Kegagalan meraih impian sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), bukan berarti harus ke hilangan harapan atau masa depan yang lebih baik. Gagal menjadi Pegawai Negeri bukan pertanda suram baginya.

179

Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019

Justru Tamsil sangat yakin dengan kekuatan Sang Ilahi melalui doa dan perjuangan. Hidup memang merupakan sebuah teki-teki yang sulit ditebak, tetapi masa depan tidak sepenuhnya sadar pada ketetapan takdir atau nasib. Hidup baginya harus diperjuangkan melalui upaya (kerja keras) tanpa kenal kata menyerah dengan keadaan apa pun.

Mengapa Harus Memilih Hijrah ke Ambon?

Lima tahun bekerja sebagai tenaga pendampingan di Lalundu tidak terlalu sulit bagi Tamsil, sebab anak dan isterinya masih menetap di Kota Palu. Setiap bulan ia berkesempatan pulang menjenguk keluarganya.

Tetapi pilihan hijrah ke Ambon merupakan sebuah keputusan berat.

Seandainya bukan karena alasan ter tentu yang dipandang sangat penting, mustahil ia dan keluarganya memutuskan hijrah kesana.

Apakah karena alasan “kalah/menyerah” menghadapi persaingan hidup yang demikian kompetitif di Kota Palu, sehingga pilihan harus hijrah demi men cari peluang kerja di daerah lain seperti Masohi, Maluku Utara? Alasan tersebut sungguh di luar alasan pertimbangannya. Kepindahan ke Ambon ternyata tidak mengubah profesinya di bidang percetakan dan sablon. Pekerjaan yang ia geluti di Palu kemudian dilanjutkan di Ambon, kecuali kesibukan mengajar di sekolah mulai dijalani setelah hijrah kesana.

Hijrah dari Palu ke Pulau Seram semata-mata karena demi karir sang isteri yang beruntung diterima sebagai guru berstatus pegawai negeri sipil pada tahun 1997. Oleh karena sang isteri memperoleh tugas dinas mengajar di Ambon, suka atau tidak, pilihan hijrah kesana tetap harus dilakukan. Di Ambon sang isteri ditempatkan mengajar di SMA Pertanian Makariki, dengan jarak 7 kilo me ter dari Kota Masohi.

Setelah setahun menetap di Masohi bersama keluarga, Tamsil juga menekuni profesi sebagai guru honorer yang setiap hari mengajarkan mata pelajaran Biologi dan Kimia pada sekolah SMA di Masohi. Dua tahun menjadi tenaga guru honorer di SMA Muhammadiyah dan SMA Matlaul-anwar, keadaan sosial dan keamanan kota Masohi dan Ambon menjadi kacau dan tidak menentu. Pada tanggal I Januari 2000 pecah kerusuhan di Masohi yang berskalasi luas dengan korban nyawa puluhan orang.

180 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal

Di tengah situasi kota Masohi yang mencekam, Tamsil sekeluarga merasa kan kecemasan yang sangat tinggi. Tujuan hijrah ke Masohi demi merintis masa depan yang lebih baik, ternyata harus menerima kenyataan dimana ia sekelu arga menghadapi kekacauan keamanan akibat dari konflik berdarah. Hari demi hari dilewati dengan perasaan yang terancam. Setiap saat ia menyaksikan jenazah korban kerusuhan, dan tidak ada jaminan bahwa ia sekeluarga aman dari ancaman yang sama pada hari berikutnya.

Bahkan situasi yang kacau memaksanya harus beradaptasi dengan tuntutan untuk menjadi bagian konflik sosial. Ketika terjadi polarisasi besar an tara pihak bertikai, aman atau tidak, tidak ada pilihan lain kecuali memihak salah satu dari kelompok tersebut.

Sebagai muslim yang tergolong fanatik terhadap agamanya, pada saat yang sama ia pun memiliki kesadaran anti kekerasan bera gama.

Namun keadaan terus memaksa dimana ia dan keluarganya harus terli bat aktif mengambil peran dalam setiap aksi kekerasan bernuansa konflik antar penganut agama (Muslim vs Kristiani).

Mendengar berita bahwa kerusuhan Ambon tak kunjung selesai, pihak keluarga besar di Palu merasa cemas dan khawatir akan keselamatan Tamsil sekeluarga. Berbagai upaya persuasi dilakukan agar ia meninggalkan Kota Ambon dan segera melakukan evakuasi ke daerah lain, termasuk seruan kedua orang tuanya agar kembali ke Palu.

Merespon situasi yang semakin tidak menentu serta desakan keluarga be sar di Palu, akhirnya ia mengambil tindakan awal dengan memindahkan tempat sekolah bagi anak-anaknya ke Palu. Kemudian bersama isterinya ia mengeva kuasi diri ke Pulau Buru (tempat pengasingan Bung Karno), sambil mengurus proses pemindahan tugas isterinya ke Palu. Melalui perjuangan yang panjang dan berliku, hingga harus mengurus ke Jakarta agar isterinya diizinkan pindah tugas ke Palu dengan alasan keamanan yang tidak kondusif.

“Saya berangkat ke Jakarta mengurus pemindahan isteri saya ke Palu.

Hanya berselang satu minggu setelah pulang dari Jakarta, izin pe- mindahan tugas dinas turun. Istri saya diizinkan pindah ke Palu dan ditempatkan di SMP Mulole Pertanian Pantoloan. Dialah satu-satunya sarjana bergelar Insinyur di Kota Palu yang mengajar di tingkat SMP Padahal idealnya ia harus mengajar di tingkat SMA pertanian”.

181

Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019

Pergumulan Panjang di Bidang Pemberdayaan Masyarakat

Tahun 2003, setibanya di Kota Palu merupakan pertanda awal dari perjuangan hidup baru setelah melewati face krisis menghadapi pertarungan hidup di Ambon. Apa kesibukan baru Tamsil di tempat asal kelahirannya? la tetap melanjutkan usaha yang telah lama dirintis yakni membuka kembali usaha percetakan dan sablon di rumah kediamannya sendiri.

Hal baru yang ia lakukan membuka lembaga pendidikan luar sekolah. Inisiatif tersebut muncul ketika ia menyaksikan banyak anak-anak usia sekolah yang seharusnya mengenyam pendidikan formal tetapi karena berbagai alasan dan kendala terpaksa mereka menjadi anak putus sekolah. Dalam benaknya tumbuh kegelisahan dan kekhawatiran memandang masa depan anak-anak pu tus sekolah di kampung halamannya. Gayung bersambut tiba dimana keinginan membuka lembaga pendidikan luar sekolah direspon positif oleh Pemerintah tingkat Propinsi Sulawesi Tengah. Melalui program Pusat Kegiatan Belajar Masy arakat (PKBM), Pemda Propinsi Sulteng memberikan support pendanaan untuk tujuan operasional kegiatan.

PKBM yang didirikan mengelola paket A, B dan C dengan status kesetaraan. Ketika itu ia dipercaya menjabat sebagai ketua pengelola di tingkat keca matan. la juga menjadi Ketua Komite sekolah di SMA Negeri 9 Pantoloan. Mela lui kepengelolaannya PKBM tergolong sukses sehingga tidak sedikit alumninya yang lulus dengan predikat memuaskan, bahkan banyak yang telah melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. khusus yang mengikuti program paket B dan paket C jumlahnya telah mencapai ribuan siswa, menyebar di beberapa wilayah sekitar Wani dan Pantoloan.

Di tengah kesibukan mengelola PKBM, ia pun aktif di kegiatan pemberdayaan masyarakat yang kini dikenal dengan nama PNPM Mandiri. Selama dua periode aktif sebagai koordinator di tingkat kelurahan Pantoloan. Beberapa ke giatan pemberdayaan yang telah dilakukan diantaranya; pengadaan air bersih untuk masyarakat, pembuatan jalan dan program bedah rumah khusus bagi ka langan masyarakat ekonomi lemah. Kini ia menjabat sebagai BKM dan berhasil membangun kantor BKM yang megah dengan bangunan berlantai dua.

182 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal

Catatan Akhir: Tamsi, Wakil Rakyat Kota Palu

Mungkin ada pihak yang bertanya-tanya. Mengapa Tamsil yang sekian tahun la manya mengabdi di jalur pemberdayaan masyarakat seperti mendirikan PKBM dan aktivis PNPM Mandiri, kini memasuki gelanggang politik praktis? Dari per spektif idealis ia telah kehilangan dedikasinya dan “melirik” kekuasaan yang berpusat pada kesadaran diri (egoisme). Sebuah persepsi yang mewarnai alam pikiran publik yang memandang sinis jabatan anggota dewan jangan keliru. Tamsil berada di luar persepsi negatif tersebut. Proses awal memulai karir sebagai politisi tidak tanpa tujuan yang jelas. Pada mulanya ia memang ragu dan tidak berminat masuk ke partai politik (dalam hal ini PAN). Kuatnya desakan masyarakat dan keinginan mengabdi yang lebih optimal telah mendorongnya untuk menerima tawaran sebagai Wakil Ketua Pengurus PAN tingkat Kota Palu pada tahun 2009 lalu.

Ketika tiba masa pendaftaran sebagai calon anggota dewan, ia pun terdaftar sebagai caleg dengan urutan kedua untuk daerah pemilihan (Dapil) Palu Utara. Dalam melakukan aktivitas kampanye ia tidak memiliki modal pendana an yang cukup menggalang dukungan suara pemilih di dapilnya. Meskipun de mikian, banyak pihak yang simpatik dan memprediksi bahwa ia akan terpilih sebagai anggota dewan. “Saya tidak punya cukup uang untuk kampanye. Ada memang sedikit uang, itupun digunakan untuk menyewa mobil yang saya pakai keliling saat kampanye. Namun tidak jarang pula sopir angkot turut berpartisi pasi meskipun tanpa dibayar”.

Bukan faktor kebetulan dimana nasib baik memihak kepadanya sehingga berhasil menjadi anggota DPRD Kota Palu masa bhakti 2009- 2014. Pengalaman panjang sebagai aktivis sosial merupakan modal berharga baginya melebihi se kedar uang untuk diandalkan dalam meraih simpati dan dukungan pemilih. Jika banyak anggota dewan terpilih karena mengeluarkan banyak uang kampanye, maka tidak demikian halnya dengan Tamsil. Pendabdian dan ketulusan menja- lankan misi pemberdayaan menjadikan dirinya sebagai figur publik yang disukai dan dihormati.

Ketika terpilih, Tamsil tidak lalu berubah karakter. Bahkan ia merasa bahwa dipundaknya terpikul amanat yang harus diembannya.

183

Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019

Dukungan masy arakat yang demikian tinggi tidak ingin ia sia-siakan.

Kiprahnya sebagai aktivis sosial tidak berkurang karena alasan kesibukan sebagai anggota dewan. Melalui jabatan sebagai anggota dewan, ia selalu memainkan peran secara maksimal agar masalah- masalah sosial mendapat perhatian serius dari Pemkot Palu.

“Saya sangat konsen pada masalah pertanian yang kini belum menda pat perhatian serius. Sebahagian masyarakat kita masih menggantung kan hidup pada bidang pertanian. Untuk itu, pembangunan ekonomi Kota Palu ke depan seharusnya memberi perhatian memadai pada sek tor ini”.

Berdasarkan pengamatan di masyarakat, ditemukan banyak permasa salah terkait dengan bidang pertanian. Telah terjadi transformasi masyarakat petani menjadi penambang, kususnya, komunitas petani yang berada di sekitar kawasan tambang Poboya. Demikian pula halnya terjadi pada masyarakat di se kitar pelabuhan Taipa.

Dalam rapat-rapat komisi dengan mitra kepala dinar terkait, Tamsil sangat artikulatif dalam merespon berbagai isu publik seperti masalah pendidikan dan kesehatan masyarakat. Terkadang ia harus menerima kenyataan dinilai sebagai pribadi yang terkesan egois.

Semua itu di lakukan bukan untuk dirinya sendiri, tetapi semata-mata membawa misi perjuangan bagi kepentingan masyarakat.

Sangat sempit ruang untuk mengungkap kisah perjalanan hidup dan kiprah perjuangannya baik di ranah pemberdayaan masyarakat maupun melalui jabatan sebagai anggota dewan. Namun semoga cerita singkat ini dapat menjadi inspirasi bagi siapa pun yang hendak menempuh perjuangan membela hak dan kepentingan masyarakat.

Selamat berjuang, doa masyarakat akan terus dipan jatkan demi kesuksesan bapak pada masa yang akan datang3.

3 Baca Darwis, Dkk., DPRD Pilar Dekokrasi Lokal Di Kota Palu: Biografi dan Memori DPRD Kota Palu Masa Bakti 2009-2014. Palu: LP2k-OTDA, 2012. hal, 245-254.

Dalam dokumen Sejarah DPRD Kota Palu cetak.pdf (Halaman 187-198)