• Tidak ada hasil yang ditemukan

Politisi Bugis di DPRD Kota Palu

Dalam dokumen Sejarah DPRD Kota Palu cetak.pdf (Halaman 134-141)

120

121

Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019

Pada tahun 1952, Kota Palu memiliki status wilayah sebagai Kota dalam Swatantra Donggala berdasarkan Undang-Undang nomor 29 tahun 1952. Selanjutnya pada tahun 1964, Kota Palu sebagai Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 tanggal 13 April 1964. Kota Administratif Palu dibentuk pada tanggal 27 September 1974 dengan berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1974. Dalam status Kotifnya ini Kota Palu memiliki empat fungsi yakni: (1) meningkatkan dan menyesuaikan penyelengaraan pemerintah dengan perkembangan politik, social dan bidang perkotaan, (2) membina dan mengarahkan pembagunan sesuai dengan perkembangan social dan fisik Kota, dan (3) mendukung dan merangsang secara timbal balik pembangunan wilayah Provinsi Dati I Sulawesi Tengah pada umumnya dan Kabupaten Dati II Kabupaten Donggala.

Palu sebagai Kota Administratif berlaku berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 1979 tanggal 2 Juli 1994 berdasarkan pada Undang-Undang nomor 4 tahun 1994. Pada tahun 1994 sampai sekarang Kota Palu berstatus sebagai Kota Madya, awal terbentuknya Kota Madya tingkat II Palu terdiri dari empat Kecamatan, yakni Kecamatan Palu Utara, Palu Selatan, Palu Barat, dan Palu Timur. Dari empat Kecamatan tersebut Kota Administratif Palu terdiri atas 28 kelurahan dan masih 8 Desa. Kota Palu sebagai Kota, baru terealisasi pada tahun 2000 lalu dan lengkap dengan DPRD-nya.

Dari apa yang dijelaskan sebelumnya, bisa dikatakan bahwa Kota Palu ini merupakan kota yang tergolong mudah dalam system pemerintahannya. Itu karena Dewan Perwakilan Rakyat Derah Kota Palu baru terealisasi setelah berumur puluhan tahun lamamnya, yakni tahun 1995. Dari tahun inilah mempunyai system pemerintahan yang lengkap sebagai suatu Politik Lokal. Meskipun itu adanya, hal ini tidak membuat anggota DPRD Kota Palu tertinggal dari kota-kota lain.

Dalam pemilihan umun bulan Juni kemarin terpilih 34 anggota DPRD Kota Palu yang masing-masing Perempuan berjumlah 5 orang dan laki-laki 29 orang. Dari 34 anggota tersebut kita sebut saja Drs.

Syamsu Alam dari Partai Nasional Demokrat (NASDEM) dan juga yang akan menjadi konsentarsi dari tulisan ini.

122 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal

Pergulakan Hidup di Negeri Orang

Dalam perjalanan hidup manusia, ditentukan oleh manusia itu sendiri namun tidak terlepas dari tangan Tuhan Yangn Maha Esa. Syamsu Alam adalah anak dari kedua pasangan suami istri Andi Baso dan Ade, beliau adalah keturunan Suku Bugis Palopo, Sulawesi Selatan. Syamsu Alam lahir di Palopo 10 Oktober 1956. Beliau menjalani hidupnya lain dari anak-anak sebayanya, ini dikarenakan sejak dari kecil kedua orang tua beliau meninggal dunia. Di umur yang masih tergolong anak-anak Syamsu Alam meninggalkan kampung halaman yang merupakan tradisi dari bangsa bugis yang sering disebut Merantau. Beliau ikut dengan kaluarga (kakak) ke Palu, Sulawesi Tengah. Di daerah inilah Syamsu Alam memulai hidupnya yang baru dengan penuh tantangan tanpa adanya kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Anak laki-laki dari keluarga ini tumbuh sebagai anak yang mandiri.

Bermain bersama kawan-kawan kecilnya, dan juga saudara-saudara dengan ceria. Seakan mereka lupa bahwa di luar daerah (tempat tinggal) mereka ada orang lain yang juga bermain dengan asyiknya.

Ia menghabiskan masa kecilnya di Kota Palu yang saat itu merupakan pusat dari Provinsi Sulawesi Tengah.

Diusia 9 (sembilan) tahun, putera kelahiran Palopo ini mengalami sebuah revolusi paling penting dalam hidupnya. Tahun 1964, ia mengawali kehidupan baru sebagai seorang murid di Sekolah Dasar (Muhammadiyah) di Palu. Dari sekian banyak Sekolah Dasar yang ditawarkan keluarganya beliau memilih Sekolah Dasar Muhammadiyah (Swasta). Dengan demikian, Syamsu Alam menjadi murid di sekolah tersebut yang biasa disebut SD Muhammadiyah saja.

Sejak masih duduk di Sekolah Dasar Syamsul Alam melewati beberapa peristiwa penting di Kota Palu salah satunya, dihapuskannya pemerintahan Swapraja dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 1 tahun 1959 dan Undang-Undang Nomor 249 Tahun 1959, serta Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang terbentuknya daerah Provinsi Sulawesi Tengah dan ditetapkannya Kota Palu sebagai Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah. Peristiwa itu masih tersimpan kuat dalam ingantan beliau.

123

Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019

Selama di SD Muhammadiyah, Syamsu Alam tidak pernah tinggal kelas. Dia termasuk salah seorang murid yang cerdas. Kemampuan intelektualnya berada di atas rata-rata. Dan hal itu diakui oleh beberapa orang kawannya sewaktu di Sekolah Muhammadiyah.

Kecerdasan biasanya menjadi pemicu timbulnya animo dan motivasi untuk menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi. Enam tahun berlalu di SD Muhammadiyah seperti tidak terasa, terlewati begitu saja dengan sejumlah kelakuan-kelakuan yang unik dan lucu jika diingat sekarang ini. Akhirnya pada tahun 1970, ia dan seluruh murid di SD Muhammadiyah tersebut dinyatakan lulus.

Lulus Sekolah Dasar, beliau melanjutkan ke Yayasan Pendidikan Sulawesi Tengah yang setingkat dengan Sekolah menengah Pertama ditahun 1970. Yayasan Pendidikan Sulawesi Tenagh pada saat itu merupakan salah satu sekolah favorit di Kota Palu. Di sekolah ini, Syamsu Alam menunjukkan kemampuannya. Ia kemudian dikenal sebagai salah seorang anak yang cerdas. Namun hal itu tidak membuatnya jumawa. Semua itu dijadikannya cambuk untuk meraih kesuksesan di masa akan datang.

Seperti yang lazimnya dalam Tingkat Menengah Pertama. Selama tiga tahun, ia menuntut ilmu di Sekolah tersebut. Dengan berbagai peristiwa yang terjadi baik dalam skala nasional maupun daerah, hal ini tidak membuat proses belajar mengajar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tidak mengalami penurunan dalam artian tidak mengalami gangguang yang berarti. Dan pada tahun 1973, Syamsu Alam dinyatakan lulus dari Yayasan Pendidikan Sulawesi Tengah atau yang biasa disebut YPST tersebut dengan nilai yang membanggakan diri serta keluarganya.

Dengan modal yang seadanya serta bekal yang didapatnya selama 9 (sembilan) tahun mengeyam pendidikan. Setelah lulus YPST ditahun 1973, ditahun yang sama beliau melanjutkan sekolahnya. Harapan dan semangat yang tinggi, serta ditunjang dengan nilai yang cukup memuaskan, Syamsu Alam mendaftar di Sekolah Cokroaminoto Kota Palu. Sekolah ini merupakan yayasan milik Cokroaminoto dengan status sekolah swasta yang Setingkat dengan Sekolah Menengah Atas.

124 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal

Sekolah ini tersebar dari beberapa Kota/Kabupaten di Sulawesi Tengah diantaranya (1) Kota Palu namun keberadaan sekolah ini sudah tidak diketahui lagi, (2) di Donggala, yayasan ini mulai dari SD, SMP, SMA sampai pada Perguruan Tinggi, namun nasibnya sama dengan yang ada di kota Palu, (3) di Tolitoli, yayasan ini sampai sekarang masih berjalan seperti sekolah-sekolah lainnya yang ada di Tolitoli, yayasan ini berada di Kompleks Pantakapal Maloso Kecamatan Baolan, Kurahan Baru.

Kala itu sekolah Cokro yang ada di Palu hanya memunpang di sekolah lain dan tergolong sekolah peralihan saja sedangkan muridnya dicap sebagai murid yang hanya tau membuat onar (kekacauan).

Namun, hal itu diabaikan begitu saja oleh Syamsu Alam. Dalam pendidikan itu bukan dilihat dari kondisi sekolah dan muridnya yang memiliki pengetahuan yang pas-pasan tapi dilihat dari ketekunan dan kerajinan mereka dalam megikuti setiap pelajaran. Semua sekolah itu sama, mungkin itu yang ada di benak seorang Syamsu Alam hingga kenapa memilih sekolah di Yayasan Cokroaminoto ini. Syamsu Alam membuktikan bahwa sekolah itu tidak seperti yang dikatakan, beliau lulus lebih cepat dari perkiraan teman-temannya dengan 2 tahun lebih. Beliau lulus di tahun 1975.

Setelah lulus dijenjang Sekolah Menengah Atas. Memilih menganggur 1 (satu) tahun. Tahun 1976, atas kemauan keluarga dari Pak Syamsu Alam beliau mendaftarkan diri di Universitas Tadulako (UNTAD) yang merupakan satu-satunya Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Kota Palu. Dengan bekal pengetahuan yang didapat di bangku sekolah, beliau langsung diterimah. Di UNTAD waktu itu ada dua fakultas yang yang menjadi populer di kalangan calon dan bahkan mahasiswa itu sendiri yakni Fakultas Hukum dan Fakultas Sosial Politik. Syamsu Alam mengambil konsetrasi studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (Fisip) yang pada waktu itu disebut Sosial Politik (SosPol). Dalam pergulakan politik yang terjadi pada masa Orde Baru waktu itu tergolong cukup keras dan menantang serta kesejatraan rakyat yang terkadang menyimpang dari jalur negara, mungkin sebab itulah Syamsu Alam mengambil Studi Sosial Politik.

125

Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019

Sifat dari Syamsu Alam selama kuliah tidak jauh bedah waktu beliau duduk dibangku sekolah. Dimata para teman-teman Syamsu Alam dikenal sebagai orang yang jujur, tekun, dan rapi disetiap harinya.

Setelah 4 (empat) tahun di Fisip, Syamsu Alam berhasil mendapat gelar sebagai Sarjana Muda di tahun 1980. Selepas kuliah di tahun 1980 s/d 1982 dilaluinya dengan membantu keluarganya. Perkembangan pendidikan yang melaju pesat membuat Syamsu Alam sadar bahwa gelar yang didapatnya sekarang akan tidak ada gunanya dikemudian hari. Setelah dua tahun menganggur dengan status Sarjana Muda.

Barulah beliau melanjutkan pendidikannya S1 di Universitas yang sama dan mengambil konstrasi pendidikan yang sama pula. Dalam pencarian pengetahuannya itu beliau membutuhkan yang sama dengan beliau mendapatkan Sanjana Muda yakni 4 (empat) tahun.

Hidup yang modern ini kesejatraan umat manusia dipengaruhi oleh tuntutan ekonomi yang tinggi. Syamsu Alam menyadari hal itu, setelah tiba tawaran menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), masa depan dan hari tua lebih menjamin. Beliau pun pada akhirnya menggeluti pekerjaanya tersebut dan berlahan meninggalkan harapan untuk kembali melanjutkan kuliahnya. Jabatan terakhir yang di dapatnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yakni sebagai Kepala Bidang Kesejatraan Rakyat di Pemeritah Daerah Kota Palu.

Tanggal 1 November 2012 beliau pensiun menjadi Pegawai Negeri Sipil di umur 56 tahun. Setelah pensiun sebagai PNS, ditahun yang sama beliau langsung masuk menjadi anggota Partai Politik (Partai Nasional Demokrat). Teringat kata salah dosen Pendidikan Sejarah bahwa “untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara bukan hanya lewat PNS, dan ketika Pensiun PNS hanya tinggal duduk di rumah saja, alangka baiknya ketika pensiun itu masuk dalam dunia pemerintahan”. Dalam wacana tersebut terbukti dengan apa yang dilakukan oleh seorang Syamsu Alam. Tahun 2014 beliau mencoba ikut serta dalam pergulakan pemilihan legslatif untuk Kota Palu dengan Dearah Pemilihan (Dapil) Kecamatan Palu Selatan dan Kecamatan Tatanga dengan mewakili Partai Nasional Demokrat dengan nomor Urut 5. Hal ini didukun oleh Andi Tenri Uleng Said, SH selaku isrti tercinta beliau dan ketiga anak mereka masing-masing:

Muhammad Imam Darmawan lahir 6 Juni 1988, Muhammad Mahmud

126 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal

Juliansa lahir 28 Juni 1989, dan anak bungsunya yang bernama Aisyah Tasaputri kelahiran Palu 26 Juli 1998 yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP Al-Ashar, serta dari teman-teman dari Partainya dan juga warga disekitar tempat tinggalnya di Jl. Mutiara.

Keberanianya sebagai politisi baru patut diajukan jempol, dan keberaniaanya itu membuahkan hasil yang tak terduga dari keluarga beliau. Pada pemungutan hasil pemilihan legislatif beliau mendapat 3074 suara. Jumlah suara itu mengantarkannnya menjadi anggota DRPD Kota Palu periode 2014-2019. Dalam jabatan sebagai Anggota DPRD Kota Palu Syamsu Alam berada di Fraksi Restorasi Pembangunan dengan diketuai oleh Rudi Permesta dari Parta Nasdem juga.

Latar belakang sebagai Kepala Bidang Kesejatraan rakyat, beliau ingin menjadikan Kota Palu sebagai kota yang sehat dan bersahaja.

Saat ditemui dikediamannya beliau mengutarakan hal bahwa “kita sebagai anggota DRPD Kota Palu harus mendukung apa yang menjadi program dari Walikota itu sendiri, sebab kita sebagai bagian yang utuh dari dan harus saling mendukung apa yang menjadi kepentingan rakyat”. Dalam hal ini beliau harus adanya kerja sama yang tepat, khususnya dalam hal kesehatan rakyat. Beliau menganggap bahwa Jamkermas yang ada sekarang ini penerapannya tidak merata dan pelayanannya pun demikian bahkan ada pula masyarakat kecil yang tidak dapat merasakan Jamkesmas sama halnya dengan Jamkesda. Inilah yang menjadi keprihatinan seorang Syamsu Alam.

Beliau inginkan bahwa Jamkesmas dan Jamkesda itu merata dalam implementasinya di lapangan bukan hanya sekedar proyek untuk mensejahtrakan masyarakat dan diri sendiri.

127

H. KADIR P.H. SAMAUNA: 12

Dalam dokumen Sejarah DPRD Kota Palu cetak.pdf (Halaman 134-141)