Seorang pakar ilmu politik bernama Miriam Budiardjo dalam pengamatannya mengenai operasionalisasi demokrasi di Indonesia mengatakan pemilu 1992 telah berlangsung dalam suasana yang agak berbeda dengan suasana Pemilu 1987. Pertama, masyarakat yang memberikan suara telah mengalami peningkatan pendidikan.
Kedua, telah mulai tumbuh—sekalipun masih dalam embrio—suatu kelas menengah (yang sering merupakan pilar bagi demokrasi) yang berpendidikan lebih tinggi dan karena itu pula bersifat kritis. Ketiga, suatu proses keterbukaan telah dimulai beberapa waktu yang lalu dan telah direstui oleh pemerintah. Proses ini mencerminkan keinginan masyarakat akan demokratisasi dalam sistem politik kita1. Perbedaan dan perkembangan yang terjadi dalam pemilu 1987 dan 1992 tidak merubah posisi Partai Golongan Karya sebagai pemilik suara terbanyak.
1 Miriam Budiardjo, 1994 “Demokrasi di Indonesia; Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Pancasila”, PT. Gramedia Pustaka Utama. Hal. 43-44
57
Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019
Partai yang berlambang pohon beringin ini mampu memonopoli jalannya perpolitikan Indonesia sebelum adanya era reformasi.
Keberhasilan partai Golkar pada masa orde baru merupakan suatu pembuktian keperkasaan partai yang banyak melahirkan partai- partai baru saat ini. Keunggulan Partai yang dirintis oleh presiden kedua Indonesia ini dibuktikan dengan banyaknya kader-kader yang siap mengemban tugas rakyat dengan baik. Pengakuan bahwa Golkar memiliki banyak kader berkualitas ternyata tidak hanya pada internal partai Golkar, Partai-partai lain pun secara objektif menyatakan bahwa Golkar unggul dalam kepemilikan kader berkualitas. Bahkan fakta ini diakui pula oleh berbagai elemen masyarakat yang memposisikan diri di luar partai seperti para pengamat politik yang tenar di Indonesia.
Partai Golkar merupakan partai yang paling dikenal oleh masyarakat Kota Palu, bahkan partai yang berlambang pohon beringin ini menjadi partai yang populer di seluruh wilayah Indonesia bagian Timur, bila di bandingkan dengan kepopuleran partai lain di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, menjadi salah seorang kader dari partai yang besar membuat Mohammad Iqbal Andi Magga, SH siap bertarung di pemilihan calon legislatif tahun 2014. Besarnya kepercayaan dari partainnya, dan banyak jumlah dukungan dari rakyat Kota Palu membuat beliau berkesempatan duduk di antara beberapa anggota DPRD Kota Palu lainnya. Tentunya dengan usaha, doa, niat yang baik, dan cita-cita mulialah yang membuat Mohammad Iqbal Andi Magga, SH terpilih menjadi anggota DPRD Kota Palu dari Dapil II (kecamatan Palu Barat – Ulujadi). Pencapaian ini membuktikan bahwa beliau bisa bersaing dengan politisi-politisi ulung yang lebih dulu di Sulawesi Tengah, khususnya di Kota Palu.
Keluarga dan Pendidikan
Politisi yang sangat ramah ini lahir di Kota Palu pada tanggal 21 Juni 1973, keberadaan beliau di jajaran legislatif adalah bentuk kecintaannya terhadap Kota yang berjuluk “Kota teluk” itu. Di daerah ini pula beliau bertemu dengan seorang perempuan yang cantik dan cerdas bernama Saryawati, SH. Msi. Pertemuan beliau dengan ibu Saryawati bermula ketika politisi muda ini masih berprofesi sebagai wartawan handal yang meliput salah satu partai politik berkampanye
58 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal
di Kota Palu. Setelah pertemuan tersebut, pasangan ini menjalin kasih dan kemudian memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
Mohammad Iqbal Andi Magga, SH bersama sang istri kemudian membina keluarga kecilnya dalam bingkai keluarga muslim yang taat.
Pasangan suami istri yang selalu tampil mesra ini kemudian dikaruniai oleh tuhan 5 orang anak soleh-soleha. Beliau beserta keluarganya hidup sederhana dan bahagia di kediamannya yang beralamat jalan Basuki Rahmat 1 lorong Menara no. 9 Palu.
Beliau mengungkapkan bahwa Pendidikan adalah sebuah tiket untuk membuka pintu masa depan yang lebih cerah, olehnya itu beliau mananamkan pada anak-anaknya untuk menimbah ilmu dengan sungguh-sungguh guna meraih tiket masa depan tersebut.
Taraf pendidikan beliau di mulai pada tingkat Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Kelurahan Baru. Di sekolah ini beliau menghabiskan masa kecilnya sebagai siswa berprestasi dan pada tahun 1986 beliau kemudian dinyatakan lulus dengan nilai yang memuaskan. Setelah lulus dari sekolah dasar, ditahun yang sama beliau mendaftarkan diri di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 3 Palu. Mohammad Iqbal Andi Magga, SH dimata teman-teman sekolahnya dikenal sebagai anak yang sangat aktif di berbagai organisasi intra sekolah dan hobi membaca buku-buku sejarah perjuangan Indonesia. Setelah tiga tahun menimbah ilmu di SMP Negeri 3 Palu, di tahun 1989 beliau dinyatakan lulus dari sekolah tersebut.
Setamatnya di SMP Negeri 3 Palu, sekolah berbasis Islami bernama Madrasah Aliyah Negeri 1 Palu di pilihnya untuk menimbah ilmu pengetahuan. Di sekolah ini, Mohammad Iqbal Andi Magga, SH dikenal sebagai anak yang baik dan pintar dalam pelajaran agama Islam, selain itu beliau juga tergolong pandai di beberapa mata pelajaran lainnya. Selama tiga tahun di MAN 1 Palu beliau menyenangi buku-buku perjuangan dan pergerakan. Setelah lulus dari MAN 1 Palu, Mohammad Iqbal Andi Magga, SH kemudian melanjutkan Pendidikannya Ke jenjang Perguruan Tinggi (S1) di Universitas terbesar di Kota Palu yaitu Universitas Tadulako. Pada tahun 2002 Mohammad Iqbal Andi Magga dinyaakan lulus sebagai Sarjana (S1) Fakultas Hukum dengan titel SH.
59
Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019
Dari Mahasiswa hingga Wartawan
Semenjak menempuh pendidikan di MAN 1 Palu, Muhammad Iqbal Andi Magga telah memiliki jiwa oraganisasi yang kuat, hal ini dibuktikan setelah beliau beberapa kali menempati posisi strategis dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah. Kesenangan beliau membaca buku-buku perjuangan, membuatnya dikenal sangat vokal dalam berpidato. Sesekali beliau memperkenalkan konsepsi pemikiran dari tokoh-tokoh perjuangan yang membuat jiwa teman-temannya membara. Beliau menambahkan bahwa sebenarnya penderitaan, penindasan, kesenjangan itu adalah masalah klasik yang hingga kini masih merambah masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Kota Palu itu sendiri.
Pemikiran-pemikiran perjuang yang beliau bawa dari MAN 1 Palu tidak surut ketika masuk menjadi Mahasiswa, melainkan semakin bertambah. Terlebih lagi senior-senior beliau memperkenalkan pemikiran-pemikiran Karl Marx tentang pertentangan kelas, Michel Foucout dengan teori wacananya, Sutan Sjahrir yang sosialis dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang merubah dunia dengan pemikirannya.
Bagi beliau, menjadi mahasiswa itu tidak harus monoton pada ruang kuliah, harus menambah aktivitas dengan cara mengikuti diskusi, dialog interaktif, dan kajian-kajian serta banyak lagi kegiatan-kegiatan Mahasiswa. Rutinitas beliau saat menjadi mahasiswa bertambah ketika beliau mendirikan sebuah organisasi yang bernama “Lembaga Pers Mahasiswa (LPM)”..
Di lembaga pers mahasiswa, beliau banyak mendapatkan ilmu praktis serta pengalaman bertemu orang-orang besar. Beliau menuturkan bahwa pers itu memiliki nilai tambah, dari sekian banyak mahasiswa di Universitas Tadulako hanya kami dari pers- lah yang sering ketemu rektor dan jajarannya. Ketika kami tanyakan kepada beliau, apakah bapak juga ikut berdemonstrasi dan apa yang menyebabkan bapak ikut berdemonstrasi? Beliau menjawab
“pernah” dan menjelaskan pada kami bahwa pada saat itu masa Orba mencapai puncaknya, beliau ikut dengan menyerukan “hanya satu kata, LAWAN”. Hal ini beliau lakukan karena menganggap
“penderitaan masyarakat di masa Orba karena pemerintah salah
60 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal
urus”. Beliau melanjutkan “perluh diingat bahwa Mei 1968 adalah peristiwa dimana mahasiswa melakukan protes yang menghancurkan wacana politis tradisional Prancis” dan semuanya itu dilakukan karena kebijakan pemerintahan yang tidak baik.
Keterlibatan beliau di pers mahasiswa membawanya masuk kedunia jurnalistik sebagai wartawan, yang menarik dari beliau adalah liputan berita-beritanya selalu menyangkut protes terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah, sengketa tanah masyarakat dengan sebuah perusahaan, dan tindakan-tindakan yang dianggap merugikan masyarakat. Beberapa tahun bekerja sebagai wartawan, membuatnya banyak berinteraksi dengan masyarakat, dari semua kasus yang ada di tengah-tengah masyarakat itu hanya sebagian yang selesaikan oleh pemerintah, terkadang stake holder yang terkait tidak tahu yang terjadi di masyarakat.
Jurnalistik yang ia geluti juga memberikan ruang untuk kenal dengan beberapa pejabat dan petinggi partai di provinsi ini. Kedekatan beliau ini awalnya bermula ketika terjadi rolling atau pergantian pos liputan, beliau pernah menjajali semua pos-pos seperti ekonomi, pendidikan, kejaksaan, dan lain-lain. Ketika beliau ditugaskan di pos politik, yang pertama kali diwawancara adalah H. Aminuddi Panulele, politisi senior partai Golkar di Sulawesi Tengah. Keseharian beliau di jurnalistik inilah yang membuat beliau dekat dengan politisi-politisi partai dan bisa bergabung didalamnya.
Menjajal dunia Politik
Apa yang membuat Muhammad Iqbal Andi Magga terjun kedunia politik, bukankah dulunya adalah mahasiswa yang sering berdemonstrasi menentang pemerintah? Memperjuangkan hak rakyat dengan cara “frontal” yang bisa menyebabkan anarkis, hanya akan membuat kita tidak didengar dan tidak ditindak lanjuti tuntutannya. Beliau menambahkan bahwa “Negara kita adalah Negara politik, jadi memperjuangkan rakyat dengan politik juga”.
Peralihan sistem politik di tahun 1997-1998 yang disebut
“Reformasi” dan adanya Undang-undang No. 22 tahun 1999, yang kemudian diganti dengan UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah
61
Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019
Daerah atau yang lebih dikenal “Otonomi daerah” telah memberikan peluang besar bagi putra-putri daerah untuk memikirkan kesejateran rakyat dan dapat berpartisipasi di dalamnya. Kesempatan ini sangat di manfaatkan oleh Muhammad Iqbal Andi Magga karena gagasannya tentang kesejateraan rakyat haruslah diwujudkan. Beliau mengatakan bahwa menjadi aktivis adalah jiwa saya, kalaupun saya masuk di dunia politik karena itu adalah jalannya.
Mengapa harus partai Golkar? Partai berlambang pohon beringin ini memiliki visi misi kepartaian yang sangat memperjuangkan rakyat, hal inilah yang membuat beliau ikut bergabung karena memiliki persamaan visi misi dengan motto hidup beliau. Partai yang sangat besar di negara Indonesia ini, memenangkan pemilu selama Orde Baru (1971-1997) dengan perolehan suara 60%-70%. Dalam pemilu 1999, untuk kali pertama kalah dan hanya meraih 22% suara. Dalam pemilu 2004, meski memperoleh suara turun menjadi 21,6 %, Golkar kembali ke posisi nomor wahid2 dan di pemilu 2014 harus menjadi nomor 2. Partai yang didirikan pada tanggal 20 Oktober 1964 ini memiliki karakter calon legislatif yang intelektualis, 93% caleg Golkar adalah sarjana S1-S33. Komposisi suku dan agama partai Golkar menyesuaikan dengan daerah masing-masing, namun partai ini mengikis primordialisme caleg dalam tindakan maupun pemikirannya.
Bergabungnya Muhammad Iqbal Andi Magga dalam partai sebesar Golkar tidaklah bertujuan untuk membesarkan namanya maupun terbesit dalam hati kecilnya untuk memuluskan jalannya, melainkan beliau menganggap partai Golkar adalah partai yang sangat seimbang dan tidak melihat suku, kekayaan, membedakan antara yang tua dan yang muda. Gerak-gerak patrai Golkar yang sejalan dengan pemikiran beliaulah yang menjadi alasan utama. Jiwa kritis dan partai politik Golkar telah membangun sikap politik Muhammad Iqbal Andi Magga, berbagai godaan yang dapat menyeretnya kedalam “permainan proyek” yang bersumber dari APBD di tolak.
Beliau menganggap bahwa kalau anggota legislatif mengerjakan
2 Majalah Tempo, edisi- 5 April 2009. Hal, 59.
3 Ibid. Hal. 59.
62 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal
atau menjadi broker proyek, pasti akan menghilangkan daya kritis terhadap kebijakan eksekutif, bahkan cenderung untuk berkolusi.
Jejak langkah Muhammad Iqbal Andi Magga dari Partai Golongan Karya yang kritis dan berani menyatakan apa yang sebenarnya di butuhkan oleh rakyat. Karena pemikiran yang berkenaan dengan rakyat tidak hanya di ucapkan dalam slogan “dari rakyat untuk rakyat”
atau yang disebut “demokrasi”. Pemikiran Muhammad Iqbal Andi Magga tentang hal ini lebih mengarah ke George Bernard Shaw, aktivis politik dan dramawan termasyhur Inggris. George Bernard Shaw mengatakan bahwa “Demokrasi telah mengubah cara menentukan penguasa dari penujukkan oleh kelompok kecil yang korup menjadi pemilihan orang banyak yang tak kompoten”4. Konsepsi Bernard inilah yang menginspirasi beliau mencalonkan diri pada pemilihan calon legislatif. Perjuangan hak masyarakat yang beliau cita-citakan dibuktikan dengan cara mencalonkan diri di badan Legislatif, baginya
“Legislatif adalah medan untuk memperjuangkan masyarakat, karena di legislatiflah kita bisa membuat kebijakan pro masyarakat yang akan di laksanakan oleh badan Eksekutif”.
Membangun Masyarakat Sejahtera
Negara Indonesia dibangun dengan niat tulus serta cita-cita yang mulia, salah satu cita-cita mulia itu tercantum di dalam pembukaan UUD 45, yaitu: memajukan kesejahteraan umum, kesejateraan masyarakat Indonesia. Dalam mewujudkan cita-cita tersebut, Negara bergerak berdasarkan kedaulatan rakyat dan asas Pancasila. Untuk itu beliau selalu menegaskan bahwa “negara kita adalah negara demokasi dan demokrasi kita adalah demokrasi konstitusional, bukan demokrasi berdasarkan suara terbanyak (constitutional democracy, not majoritarian democracy) dan bahwa negara ini adalah negara hukum (rule of law) bukan sekedar mengikuti hukum positif (rule by law) tetapi juga memenuhi rasa keadilan”. Beliau melanjutkan bahwa sebenarnya persoalan kita hingga saat ini adalah sistem politik yang belum selesai dibangun, belum sejalan dengan amanat konstitusi negara. Substansi yang diusungnya belum cukup benar mengikuti nilai
4 Ibid., hal. 21
63
Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019
dan moral Pancasila. Kultur serta etika politik kita masih jauh dari ciri demokrasi yang menghargai kebebasan berpendapat, persaudaraan kebangsaan dan kesantunan. Selain itu kebijakan-kebijakan kita masih amat terpasung oleh kebiasaan dan beban masa lalu, sehingga kesulitan mengemban amanat supremasi hukum yang diembankan oleh konstitusi. Predictability dan equality, adalah 2 prinsip negara hukum, belum mengemuka. Ketidak-mangkusan (tidak efektif) pemerintahan, kekerasan, pelanggaran hukum dan korupsi masih mengganggu serta menghambat upaya menghadirkan rasa aman, menegakkan keadilan dan mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat.
Demi untuk mewujudkan kesejateraan bagi masyarakat, hal pertama yang beliau katakan adalah tumbuhkan rasa cinta terhadap daerah kita, sekarang dan untuk seterusnya. Mengapa harus bermula dari daerah? Pembangunan daerah tentunya akan menopang pembangunan nasional, dan kecintaan terhadap daerah akan memupuk kecintaan kita terhadap Negara Indonesia. Bagi beliau
“Kota Palu adalah miniatur Negara Indonesia, untuk membangunnya diperlukan rasa cinta terhadap daerah”. Dari pandangan-pandangan tersebut, Muhammad Iqbal Andi Magga, SH telah memilih rancangan untuk mewujudkan kesejateraan bagi masyarakat yang diberi tema
“Gerakan Cinta Palu”.
Rancangan Gerakan Cinta Palu ini, dapat diwujudkan dalam bentuk mengorbitkan Tokoh-tokoh yang berjasa kepada daerah ini, seperti Abd. Azis Lamadjido, Baso Lamakarate, Sahabuddin Labaco dan tokoh-tokoh lainnya. Pengaplikasian rancangan ini, dapat berupa pemberian penghargaan atas jasa-jasa tokoh tersebut, menjadikan nama-nama tokoh tersebut sebagai nama jalan, ataupun membuat monumen-monumen tokoh-tokoh berjasa tersebut. Hal ini beliau pertimbangkan setelah melihat dinamika anak-anak Kota Palu yang hanya mengenal tokoh-tokoh nasional dan sangat jarang yang mengetahui tokoh-tokoh berjasa di daerahnya sendiri. Dengan mengorbitkan tokoh-tokoh berjasa tersebut kita telah menghormati jasa-jasa tokoh pahlawan daerah kita serta dapat membangkitkan rasa cinta masyarakat Kota Palu terhadap daerahnya dan meningkatkan itegritas nasional.
64 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal
Selain mengorbitkan tokoh-tokoh berjasa, beliau juga memandang penting kebudayaan di Kota Palu. Beliau beranggapan bahwa kebudayaan haruslah dilestarikan karena selain menjadi ciri khas daerah kita, kebudayaan dapat membangun memori kolektif masyarakat Kota Palu. Dalam mewujudkannya beliau hendak mengadakan “Pekan Budaya Kota Palu” yang diselenggarakan oleh kerjasama antara pemerintah dengan budayawan dan sanggar- sanggar Kota Palu. Selain itu, beliau berniat untuk membumikan bahasa Daerah di kalangan anak-anak di Kota Palu, hal ini bertujuan untuk membentuk putra-putri daerah yang fasih berbahasa Internasional, Nasional dan Daerah.
Selain rancangan diatas, beliau juga melihat adanya kesempatan menjajalkan hasil dari budaya daerah dengan cara menghimbau setiap steack holder untuk turut berpartisipasi, misalnya hotel- hotel yang ada di Kota Palu. Memberikan souvenir-souvenir yang bertuliskan Aku Cinta Palu. Hal seperti ini juga dapat meningkatkan pendapatan para pedagang lokal Kota Palu yang menjual berbagai macam souvenir-souvenir bercirikan Kota Palu itu sendiri. Keinginan tulus beliau untuk mewujudkan masyarakat Kota Palu yang sejahtera ini membutuhkan dukungan dari masyarakat dan stake holder yang terkait.
65