77
78 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal
dan neneknya bernama Yamalera merupakan seorang wanita asal kelurahan Petobo. Kakek MJW yang bernama Lamacca bin Ladjonco Wartabone inilah yang menurunkan darah Wartabone dalam dirinya.
Dengan demikian, keluarga MJW dapat dikatakan sebagai keluarga pluralis sebab terdiri dari etnis Kaili, Bugis, Kulawi, dan Gorontalo. Di Indonesia, bahkan seluruh dunia, sistem perkawinan semacam inilah yang telah merekatkan serta memperluas hubungan antara berbagai etnis yang ada.
Sosok orang tua MJW adalah sosok yang dikenal sangat demokratis, terekam atas dukungan yang senantiasa diberikan kepada anaknya pada setiap aktivitas serta apa saja yang dikerjakannya termasuk dalam pilihan MJW menjadi santri di Pesantren Alkhairat Dolo sampai Pesantren Darud Tauhid Malang Jawa Timur. Bahkan pilihan beliau untuk berkiprah dalam dunia politik saat itu tidak lepas dari restu orang tuanya.
Haus akan ilmu pengetahuan
Masa kecil dan remaja MJW banyak dihabiskan untuk mempelajari ilmu agama di lembaga pendidikan Islam naungan Perguruan Islam Alkhairat. Hal itu dimulai dari pendidikan tingkat dasar Madrasah Ibtidaiyah Alkhairat di Kecamatan Kulawi. MJW kemudian melanjutkan pendidikannya di Pesantren Madinatul Ilmi Dolo, cabang Alkhairat pusat. Melalui bimbingan Kyai. H. Suaib Bendera yang juga merupakan murid langsung Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua), MJW diperkenalkan dengan banyak hal yang terkait dengan ilmu agama, khususnya pemahaman tentang syariat-syariat dan akidah-akidah dalam Islam.
Beberapa tahun “nyantri” di Alkhairat Sulawesi Tengah, MJW mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya di Pesantren Darrut Tauhid Malang, Jawa Timur. Kesempatan itupun tidak disia-siakan olehnya. Dengan restu kedua orangtua serta ustadnya, MJW akhirnya berangkat menuju ke Malang. MJW mampu beradaptasi dengan baik di tempat yang baru dikunjunginya dalam rangka menimba ilmu agama. Perbedaan budaya serta kebiasaan dengan tempat asalnya tidak menjadi penghalang baginya untuk bersosialisasi dengan santri lain ataupun masyarakat sekitar. Ada
79
Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019
benang merah yang dapat ditarik antara tempat belajarnya yang dulu (Alkhairat) dan tempat belajarnya yang sekarang (Pesantren Darrut Tauhid), yakni pondok pesantren ini didirikan oleh seorang ulama besar kelahiran Pelawa, yakni Al-Syaikh Abdullah Bin Awadh Abdun yang juga merupakan murid Guru Tua, sehingga pengaruh “ajaran- ajaran” Guru Tua tetap terasa di pesantren ini.
Selama di Malang MJW juga belajar pada tokoh sufi yang bernama Muhammad Bin Abdul Kadi Al-Habsyi. Dari tokoh sufi inilah MJW belajar tentang keikhlasan, tawadu, dan esensi hidup hanya untuk pengabdian kepada Allah S.W.T Tuhan Yang Maha Kuasa.
Artinya, apapun profesi kita di dunia ini seharusnya kita arahkan atau kita niatkan sebagai pengabdian kepada Allah S.W.T., karena dunia ini ibarat terminal untuk menuju kehidupan abadi.
Selesai menimba ilmu agama di Malang, MJW memutuskan pulang ke kampung halamannnya, Palu. Usaha MJW untuk menuntut ilmu terus berlanjut. Kehausan beliau terhadap ilmu pengetahuan, membuat MJW melanjutkan pendidikan strata satu (S1) di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Panca Bakti dan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palu. Hal lain yang membuktikan beliau sebagai orang yang tak lelah dalam menimbah ilmu adalah ketika beliau terpilih menjadi anggota DPRD Kota Palu di tahun 2008, namanya tercatat sebagai lulusan Program Magister Hukum Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar dengan tesis mengenai masalah Poligami dalam kajian Islam. Selain itu, beliau merupakan mahasiswa aktif Program Doktor di Universitas Hasanuddin Makasaar dengan konsentrasi Hukum Tata Negara.
Aktif di organisasi Islam dan organisasi kemahasiswaan MJW aktif dalam bidang organisasi Islam. Semua itu diperoleh dari bimbingan sang ayah yang juga merupakan guru agama madrasah Alkhairat di Kulawi. Di masa remaja, MJW senantiasa mengabdikan dirinya menjadi pengurus masjid. Keaktifannya dalam mengurus
“rumah Tuhan” terbawa hingga ia nyantri ke Malang. Kebiasaannya tersebut barangkali salah satu faktor yang menjadikannya terpilih sebagai Ketua Ikatan Santri Kota Malang pada tahun 1997.
80 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal
Di Palu, MJW pernah menjadi Ketua Remaja Masjid (RISMA) Jami Darussalam Tatura Utara tahun 1998. Masjid ini terletak di pertigaan jalan Emi Saelan dan pasar Masomba. Masjid ini memiliki ukuran yang terbilang besar. Selain digunakan sebagai tempat ibadah sholat lima waktu, masjid ini biasanya menjadi tempat istirahat dan berteduh setelah menunaikan kewajiban sholat, terutama di waktu siang. Posisi MJW sebagai Ketua Remaja Masjid (RISMA) di masjid tersebut telah menjadikan jaringan sosialnya (bahkan dengan tokoh-tokoh politik) terbangun dengan baik. Selanjutnya pada tahun 2001, MJW pernah menjadi sekertaris pondok pesantren jamiyatu qurra walhufazz Palu dan wakil sekertaris pimpinan wilayah Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) Sulawesi Tengah tahun 2002.
Selain aktif di Ormas, MJW aktif di organisasi kemahasiswaan.
beliau pernah menjabat sebagai sekertaris umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STISIPOL Panca Bhakti pada tahun 2002, ketua bidang politik dan ekonomi Himpunan Mahasiswa Administrasi Negara (HIMAN), dan pada tahun yang sama, beliau terpilih sebagai ketua presidium (KOMI) Kongres Mahasiswa se-indonesia yang di selenggarakan di Yogyakarta. Selanjutnya menjadi presiden mahasiswa atau Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STISIPOL Panca Bhakti Palu di tahun 2003 dan di tahun yang sama beliau menjabat sebagai ketua (koordinator) Presidium Forum Komunikasi Mahasiswa Indonesia (FKMI) Kota Palu.
Keaktifan beliau dalam berorganisasi juga dituntukkan dengan bergabung di beberapa organisasi eksternal kampus, misalnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia pernah menjabat sebagai sekertaris umum HMI komisariat STIE STISIPOL Panca Bhakti serta pernah menjadi salah satu pengurus HMI Cabang Palu dengan posisi sebagai ketua departemen pengkajian keIslaman. Selain itu, MJW juga pernah menjabat sebagai Ketua di Angkatan Muda Islam Indonesia (AMII) Kecamatan Palu Selatan, Ketua Cabang Himpunan Pemuda Al-Khairat (HPA) Kecamatan Palu Selatan pada tahun 2003, Ketua Forum Silaturahmi Dan Komunikasi Anak Bangsa (FISIDKAB) Kota Palu, Sekertaris Dewan Pimpinan Daerah Angkatan Muda Islam Indonesia (AMII) Kota Palu pada tahun 2004, Wakil Ketua Komite
81
Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019
Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Palu periode 2005-2008, Sekertaris Komisariat Daerah (KOMDA) Al-Khairat Kota Palu, Wakil Ketua (Tanfidziyah) pengurus cabang Nahdatul Ulama (NU) Kota Palu periode 2008-2013, Ketua Ikatan Alumni Al-Khairat Kota Palu periode 2008-2011, Asisten Administrasi Pengurus KOMDA Al-Khairat Kota Palu periode 2008-2013, Wakil Ketua Markas Daerah Komando Perjuangan Merah Putih Propinsi Sulawesi Tengah 2012-2018, Wakil Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Propinsi Sulawesi Tengah 2007-2010, Wakil Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) propinsi sulawesi tengah 2011-2013, Wakil Ketua Komisi Bela Negara Tahun 2005-2009.
Merambah Dunia Politik: Dari Pengurus Masjid ke Pengurus “Pohon Beringin”
Di tengah aktifitas MJW sebagai pengurus masjid, dirinya juga menjadi staf pengajar membantu bapak Drs. H. Adjimin Ponulele yang akhirnya memperkenalkannya dengan partai Golkar di Kota Palu terutama di Palu selatan. Mulai saat itu MJW mulai merambah ke dunia politik dan memutuskan untuk “berteduh” di bawah partai berlambang pohon beringin itu. Karir politik MJW betul-betul dimulai dari bawah. Ketika itu MJW diberi tugas oleh bapak Drs. Lahade Romu (sekertaris DPC Partai Golkar Palu Selatan periode 1998-2003) sebagai kurir surat di partai Golkar. Karena ketekunannya, MJW akhirnya diangkat sebagai Sekertaris DPC Partai Golkar berdasarkan musyawarah yang digelar di Kecamatan Palu Selatan tahun 2001.
Dengan posisi yang diemban MJW sebagai Sekertaris, maka intensitasnya dalam partai ini semakin tinggi. Seiring berjalannya waktu, jaringan yang dibangun oleh MJW di internal partai Gokar semakin luas. MJW mempunyai kedekatan dengan petinggi-petinggi partai Golkar Sulawesi Tengah diantaranya Prof. Drs. Hi. Aminudin Ponulele, MS, H. Baso Lamakarate, H. Rusdi Mastura, H. Suardin Suebo, SE dan H.Andi Mulhanan Tombolotutu, SH.
Adapun jabatan yang pernah diemban oleh MJW pada partai ini antaralain: Ketua Pimpinan Kecamatan Partai Golkar Palu Selatan periode 2004-2009, Ketua Pimpinan Kecamatan AMPG Palu periode
82 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal
2001-2003, Wakil Ketua AMPG Kota Palu periode 2004-2009, Wakil Ketua DPD partai Golkar Kota Palu Periode 2009-2014, serta Ketua Lembaga Pengelolaan Kader (LPK) Partai Golkar Kota Palu Periode 2009-2014.
Bertekad Mementingkan Ummat
Sebagai seorang santri MJW juga berjuang untuk kepentingan kesejahteraan umat, sehingga dapat melahirkan kedamaian dan kesejukan dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Kesibukan MJW dalam dunia politik ternyata tidak menghalangi aktifitasnya untuk turun di tengah masyarakat. Kegiatan-kegiatan kemasyarakatan selalu diperhatian seperti gerakan bersih se-Kota Palu, tabligh akbar, safari ramadhan, pelaksanaan lomba tahunan serta pertandingan sepak bola di wilayah Kota Palu dan sekitarnya.
Kepeduliaan terhadap umat itulah yang membuat dirinya kembali terpilih pada periode kedua sebagai wakil rakyat Kota Palu periode 2009-2014. Pada periode ini MJW telah menjabat sebagai Ketua Fraksi Golkar DPRD Kota Palu.
Terjun ke dunia politik tidak membuatnya larut dalam hal-hal keduniawian. MJW tetap menjalankan dakwah ditengah-tengah aktifitas politiknya. Hal ini dimanifestasikan dengan membuka taman pengajian dan Majelis Ta’lim di Dusun Lompio Desa Maranata Kecamatan Sigi Biromaru. Ia pun menjadi guru serta mengajar di Pesantren yang didirikannya.
MJW adalah sosok yang memiliki kepedulian dengan dunia pendidikan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia. Ia pernah menjadi guru madrasah tsanawiyah Sis-Aljufri di kelurahan Tatura Utara pada tahun 1998 hingga tahun 2002. Selanjutnya menjadi guru pada sekolah menengah kejuruaan atau STM Bina Potensi Palu.
Pada tahun 2000 hingga 2004 ia menjadi pengasuh pondok pesantren Iqra Palu. MJW juga menjadi salah satu staf pengajar di Sekolah Tinngi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Panca Bhakti Palu sejak tahun 2005.
83
Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019
Kualitas SDM Menjadi Agenda Politik ke Depan
Sejak pertama kali terpilih sebagai anggota DPRD Kota Palu periode 2004-2009 MJW senantiasa memfokuskan perjuangannya dalam pembangunan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Kota Palu. MJW memandang bahwa perpolitikan di Sulawesi Tengah harus memperhatikan sumber daya manusia. Ia berpendapat bahwa jika ingin lebih maju dalam bidang politik yang wajib dipertahankan adalah pengembangan sumber daya manusia secara strategis. Jika proses politik yang diinginkan di negeri ini bekerja dengan baik, maka lembaga DPRD harus dipenuhi orang-orang yang memiliki kemampuan sumber daya manusia yang handal.
MJW melihat sebuah kenyataan yang membuktikan bahwa tidak adanya keseimbangan dari segi sumber daya manusia dalam struktur pemerintahan dengan orang-orang yang ada di DPRD menjadi problem dalam kemajuan proses politik yang ada di negeri ini.
Kenyataan ini terlihat bahwa di eksekutif dipenuhi oleh orang yang memiliki potensi sumber daya manusia yang tinggi berbeda halnya dengan sumber daya manusia yang ada di legislatif.
Dalam rangka membangun sebuah proses legislasi dan perumusan kebijakan yang berkualitas, maka orang-orang yang duduk di legislatif harus berkualitas pula. Sebagai upaya untuk mendudukkan orang-orang yang berkualitas di legislatif, penentuan siapa saja atau kriteria apa saja yang bisa duduk di legislatif merupakan penentu dan kunci utama. Terkait dengan hal tersebut MJW berpandangan bahwa diperlukan sebuah pola yang tersusun secara rapi dan berjenjang dalam proses rekrutmen calon-calon legislatif yang hendak maju dalam pemilihan anggota DPRD, sehingga dengan cara tersebut sangat potensial melahirkan sosok wakil rakyat berkualitas atau sosok negarawan di lembaga legislatif.
84