• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tokoh PKB Dukung Pemberantasan Kemiskinan

Dalam dokumen Sejarah DPRD Kota Palu cetak.pdf (Halaman 113-119)

99

H. ALIMUDDIN H. ALI BAU: 8

Tokoh PKB Dukung Pemberantasan

100 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal

ayah merupakan seorang tentara. Ayahnya memutuskan pensiun dini tepatnya di tahun 1970. Sedangkan sang ibu adalah seorang ibu rumah tangga.

Saat memutuskan untuk pensiun dini sang ayah memutuskan untuk memasuki dunia usaha. Ayahnya ikut terlibat dalam pelelangan danau. Adat di kampungnya, setiap tahunnya akan dilakukan pelelangan terhadap kepemilikan danau. Ayahnya menjadi pemenang dan menjadi pemilik danau selama dua (2) periode atau dua (2) tahun. Setiap warga yang ingin melakukan penangkapan ikan dalam danau harus membayar kepada pemilik. Ini merupakan budaya yang masih terus berkembang hingga sekarang.

Berlatar belakang keluarga tentara tentu sangat disiplin. Ia selalu diajarkan untuk selalu disiplin dalam segala hal. Kedisiplinan merupakan kunci kesuksesan. Alimuddin mulai bersekolah diusianya yang ketujuh. Ia bersekolah di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Panca Lautang. Sebuah sekolah yang terdapat di desanya. Alimuddin memiliki kebiasaan ketika duduk di bangku sekolah dasar. Sepulang sekolah bersama teman-temannya ia sering bermain di tepi danau.

Di danau mereka dapat berenang dan memancing. Bermain air merupakan kesukaan setiap anak, begitu pula dengan Alimuddin dan teman-temannya.

Alimuddin memiliki prestasi yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang menonjol. Namun, pendidikan dasar dapat diselesaikannya dengan tepat waktu. Enam tahun lamanya bersekolah di sekolah dasar, dan ia menamatkan di tahun 1983.

Ditahun yang sama ia mendaftar diri di sekolah yang berada di kampungnya. Di sekolah ini ia hanya belajar selama satu (1) tahun lebih. Saat memasuki kelas dua (2) SMP ia mengikuti keluarganya hijrah ke Kota Palu. Di Kota Palu ia bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 6 Palu.

Kepindahan keluarganya dari Sidrap ke Palu berawal dari sepak terjang keluarga yang telah lebih dulu berada di Kota Palu. Mereka dilihat berhasil terutama dalam melakukan usaha. Akhirnya keluarga kecilnya memutuskan untuk hijrah ke Kota Kaledo dan membuka usaha di sana. Sebelumnya, Alimuddin sudah sering menginjakkan

101

Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019

kakinya di Kota Palu sejak tahun 1978. Ia sering melakukan menghadiri acara keluarga.

Melihat potensi dalam bidang usaha di Kota Palu sangat besar tidak disiasiakan oleh ayah dan ibunya. Setelah berada di Palu, seperti halnya orang Bugis yang gemar dalam berusaha, sang ayah membuka usaha. Sang ayah mengawali usahanya sebagai pengusaha kayu. Usaha ini dilihat masih sangat kurang sedangkan kebutuhan masyarakat akan kayu sangat besar. Usaha tersebut akhirnya berhasil.

Meski telah hijrah semangat sekolah tentu tidak pudar dalam diri Alimuddin. Ia tetap melanjutkan sekolah. Ia mendaftar di SMP Negeri 6 Palu. Sebagai siswa pindahan tentulah ia belum memiliki teman.

Namun, bukan Alimuddin namanya kalau tidak bisa mendapatkan teman dengan cepat. Ia cepat bergaul. Beberapa temannya memiliki hobby yang sama dengan dirinya. Mereka sering bermain sepak bola dan kemping. Disinilah ia dapat akrab dan mendapatkan teman- teman. Dalam waktu singkat ia telah memiliki banyak teman.

Pendidikan Menengah Pertama diselesaikan tepat pada waktunya. Di tahun 1986 Alimuddin menamatkan sekolahnya di SMP.

Lulus dengan nilai yang memuaskan. Dan melanjutkan pendidikannya kembali di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Palu.

Saat masih duduk di SMA ia telah memiliki cita-cita untuk membuka usaha. Ternyata, keberhasilan sang ayah membuatnya termotifasi. Jiwa untuk membuka usaha terus dikembangkan.

Ketika pendidikan menengah atas diselesaikan yaitu di tahun 1989, Alimuddin tidak melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Ia lebih memilih masuk dalam dunia usaha.

Setamat SMA Alimuddin telah memiliki modal usaha. Modal ini diperoleh dari kerja dan tambahan dari orang tunya. Ia terkonsentrasi dengan usaha berdagang. Alimuddin selalu memegang sebuah filosofi bugis yaitu “Resoppa temmangingi namalomo natelei pamasse dewata”

artinya bekerja keras insya Allah dapat menghasilkan yang baik. Dari filosofi hidup inilah yang terus mendorongnya untuk tidak henti-hentinya bekerja. Dorongan kerja dan kerja terus mengiang dalam dirinya.

Sukses dalam dunia usaha tidak membuatnya lupa dengan pendidikan. Ia masih ingin bersekolah. Terutama saat mendapat isu

102 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal

bahwa untuk menjadi calon legislatif (caleg) harus kuliah. Karena telah memiliki tekad untuk menjadi anggota caleg, maka di tahun 2008 Alimuddin melanjutkan sekolahnya di perguruan tinggi. Alimuddin mendaftar di Universitas Muhammadiyah (UNISMUH) Palu.

Walau telah lama meninggalkan dunia pendidikan ia tetap mampu dapat menyesuaikan diri. Tidak sulit bagi seorang Alimuddin.

Alhasil, ia berhasil menyelesaikan pendidikan selama tiga tahun setengah (3,5 tahun). Alimuddin tamat di tahun 2011. Gelar sarjana telah diperolehnya dengan waktu yang singkat.

Alimuddin menikah dengan seorang perempuan Bugis juga di tahun 1989. Ia menikah saat usianya masih muda. Tepat di tahun kelulusan SMA-nya. Sebelumya, Alimuddin telah dijodohkan. Dan perempuan yang dijodohkan dengannya tidak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Istrinya bernama Hj. Suryani, A. Pekerjaan sang istri adalah sebagai ibu rumah tangga, menjaga kedua buah hatinya.

Bersama istrinya, kini Alimuddin tinggal di Jalan Setia Budi No.126 Palu.

Pernikahannya dengan Suryani dikarunia dua orang anak perempuan. Anak pertama bernama Hj. Aryani A. H. Ali Bau dan anak keduanya bernam Aryanti. Hj. Aryani lahir pada tanggal 24 Mei 1990 dan kini telah berkeluarga. Sedangkan Aryanti lahir dua tahun setelah putri pertamanya yaitu pada tanggal 10 November 1992. Kini, putri keduanya tengah terdaftar sebagai mahasiswa Kedokteran di Universitas Tadulako (UNTAD) Palu.

Sepak terjang Alimuddin dalam dunia organisasi tidak dapat dipandang sebelah mata. Ia aktif dalam organisasi kerukunan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) maupun Partai Politik. Semuanya dilakukan bertahap namun tetap terus eksis dalam semuanya.

Di kerukunan Alimuddin aktif di kerukunan ke daerahan. Hingga kini ia terdaftar di Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), Ikatan Masyarakat Sidrap, dan Pemuda Sidenreng Rappan. Iapun dipercayakan menjadi pengurus di ketiga organisasi tersebut. Di Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) ia masuk dalam unsur pengurus sejak 1999 dan bertahan selama lima belas (15) tahun hingga sekarang. Dalam Ikatan Masyarakat Sidrap terpilih menjadi Wakil Ketua sejak 2010 hingga sekarang (2010-2014). Selain itu, ia

103

Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019

juga dipercayakan menjabat Ketua Pemuda Sidenreng Rappang.

Jabatan itu dipegang sejak lima (5) tahun terakhir.

Semangat bela negara dimiliki oleh ayah kedua anak ini. Ia ingin mengabdikan dirinya pada negara tercinta. Dalam LSM dia tercatat sebagai Panglima Laskar Merah Putih Sulawesi Tengah. keterlibtannya di LSM yang berkutat pada program bela negara ini sejak tahun 2004 dan aktif hingga sekarang. Suatu perjuangan yang sangat mulia.

Alimuddin juga aktif dalam partai politik. Ia memilih Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk meniti kariernya. Awal keterlibatannya lima (5) tahun lalu saat diajak oleh seorang teman, Kadir Kadrin. Ajakan Kadir Kadrin sangat mengenal dan membuatnya tergiur. Ia akhirnya masuk dalam partai ini. Dan dikenal sebagai anggota yang aktif.

Tahun pertama keterlibatannya di PKB, Alimuddin dipercayakan menjadi ketua Dewan Suro Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB untuk Kota Palu. Suatu prestasi yang membanggakan. Dan kepercayaan yang sangat besar. Jabatan sebagai Ketua Dewan Suro DPC PKB diembannya selama dua (2) tahun.

Setelah Musyawarah Daerah (Musda) PKB Alimuddin kembali terpilih menjadi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di partai yang telah membesarkan dirinya itu. Tepatnya di tahun 2011 ia mendapatkan amanat itu.

Lima tahun bergelut dalam partai politik membuatnya ingin berbuat lebih jauh lagi kepada masyarakat. Kepentingan rakyat kecil mendorongnya untuk ikut memperjuangkan aspirasi jumlah penduduk terbanya di Indonesia ini. Naluri dan berdasarkan kepentingan rakyat tadi membuatnya untuk masuk dalam bursa calon anggota dewan bersaing memperebutkan salah satu kursi bersama ratusan orang lainnya. Melalui partai PKB-lah yang mengusungnya mengikuti pesta demokrasi itu.

Iapun masuk dalam bursa calon dengan beberapa kader dari partai pengusung yang sama. Alimuddin melewati masa-masa kampanye. Ia sangat antusias. Bermodalkan dan tujuan kesejahteraan masyarakat membuatnya tidak kenal lelah dan tak terpikir sedikitpun mundur.

Alimuddin mendapatkan daerah pemilihan (Dapil) Kecamatan Palu Selatan. Setelah perhitungan suara, Alimuddin memperoleh 3.339

104 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal

suara. Berdasarkan jumlah suara yang ada jelas masyarakat sangat menaruh harapan kepadanya. Dan dari hasil suara yang diperoleh, Alimuddin mendapatkan satu buah kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu pada periode 2014-2019, daerah pemilihan III (Palu Selatan dan Tatanga).

Alimuddin tidak sendiri. Ia didampingi oleh kedua orang kader partai dari bendera yang sama. Di periode ini, PKB mendapatkan tiga kursi untuk DPRD Kota Palu. Berbeda dengan periode sebelumya, PKB tidak mendapatkan satu kursipun di DPRD Kota. Kedua orang yang berkesempatan mencicipi kursi kedewanan itu adalah H. Asir Daeng Gain dan H. Nanang. Dalam Fraksi PKB di dewan tetap dipercayakan kepada H. Alimuddin H. Ali Bau untuk menempati posisi ketua fraksi.

Ketiga orang ini mewakili partainya dan tentu saja amanah rakyat yang terletak di atas pundak mereka.

Keterlibatannya dalam lembaga tertinggi tingkat daerah tidak hanya sekedar ikut-ikutan saja. Ada suatu pegangan dan tujuan yang ingin dicapai. Ia melihat kemiskinan merupakan pekerjaan rumah oleh setiap pemimpin di Indonesia. Angka kemiskinan yang meningkat setiap tahun harus mendapatkan perhatian. Ide-ide untuk mengurangi bahkan menuntaskan kemiskinan harus terus dimiliki.

Ia selalu mendorong agar semua lapisan terutama para pemimpin negeri ini dapat melihat dan mempertimbangkan semua itu. Tidak hanya melihat, semua juga harus dilakukan dengan tindakan nyata.

Kita harus mempunyai jalan keluarnya.

Kemiskinan sebagai perjuangan utama yang dipikirkan oleh Alimuddin menjadikannya terus mendorong dan mendukung siapa saja yag sependapat dengan dia. Ia sangat sepakat dengan WaliKota Palu, Rusdi Mastura, dalam memikirkan tentang kemiskinan.

Menurutnya, WaliKota Palu sangat baik dalam memikirkan pemberantasan kemiskinan. Program yang dilakukan dengan menyiapkan lahan pekerjaan adalah salah satu cara memberantas kemiskinan. Tidak hanya mengurangi jumlah kemiskinan, program ini juga dapat mengurangi angka pengangguran yang juga merupakan masalah utama negeri ini.

105

Dalam dokumen Sejarah DPRD Kota Palu cetak.pdf (Halaman 113-119)