• Tidak ada hasil yang ditemukan

Politisi Perhatian pada Kawasan Ekonomi Khusus

Dalam dokumen Sejarah DPRD Kota Palu cetak.pdf (Halaman 156-162)

142

143

Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019

semata-mata untuk mendidik. Hamsir pun tidak menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh ayahnya tersebut, berpengaruh buruk terhadap dirinya. Dari didikan sang ayat tersebut, terbangun kerangka berpikir yang matang dalam diri Hamsir dan saudara-saudaranya untuk menjalani kerasnya kehidupan.

Pada tahun 1970, Ayah Hamsir kembali bertugas di Palu. Hamsir sekeluarga pun diboyong kembali ke Palu. Di Palu, mereka menempati Asrama Polisi Palu sebagai tempat tinggal. Ayahnya bertugas di KORAK (Komando Rakyat), yang merupakan sebutan awal untuk Kepolisian Daerah (POLDA). Dari KORAK, kemudian berubah menjadi KOMTARES, Polisi Wilayah (POLWIL), kemudian POLDA.

Setahun kemudian, Hamsir dimasukkan ayahnya ke sekolah. Ia disekolahkan di SDN Teladan palu yang sekarang menjadi SD Negeri 15 Palu. Usianya saat masuk SD adalah 7 tahun. Ia satu sekolah dengan Sri Indraningsih Lalusu, anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah periode 2009-2014.

Hamsir tamat SD pada tahun 1977. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 15 Palu atau yang lebih dikenal dengan sebutan STN. Sekolah tersebut tidak begitu jauh dari rumahnya. Jarak antara sekolah dan rumahnya hanya berkisar 1 km saja. Hamsir aktif dalam mengikuti organisasi di sekolahnya. Ia tercatat sebagai anggota Pramuka. Ilmu yang didapatkan oleh Hamsir melalui Pramuka seperti keorganisasian dan kepemimpinan. Hal ini menjadi modal awal yang berharga untuk berorganisasi di kemudian hari.

Pada tahun 1980, Hamsir menamatkan pendidikan di SMP Negeri 15 Palu. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Teknik Daerah (STD) Poso. Hamsir memilih jurusan bangunan sebagai bidang keahlian yang ingin digeluti. Sekolah tempat Hamsir menuntut ilmu tersebut baru saja dibentuk dan masih dalam tahap rintisan. Di tahun yang sama, Hamsir sekeluarga pindah tempat tinggal ke Kelurahan Baiya di Tawaeli.

Pada tahun 1983, Hamsir berhasil menamatkan pendidikannya.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Tadulako. Pada saat duduk di bangku STD, Hamsir sangat menyenangi pelajaran menggambar (arsitektur). Ia pun ingin mendalami bidang tersebut.

144 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal

Namun, saat ia mendaftar, jurusan Arsitektur belum dibentuk di Fakultas Teknik. Pada saat ia masuk, Fakultas Teknik baru saja didirikan di Universitas Tadulako. Jenjangnya pun masih diploma III (D III) dan jurusan yang ada hanya Teknik Sipil.

Hamsir pun akhirnya masuk di Fakultas Teknik Universitas Tadulako dengan mengambil jurusan Teknik Sipil. Setahun kemudian, kabar gembira datang. jurusan Arsitektur dibuka. Hamsir pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dan segera pindah ke jurusan baru tersebut. Pada saat mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik, Hamsir banyak berinteraksi dengan dosen-dosen yang mumpuni, yang menempanya menjadi seorang arsitek. Dosen-dosen yang masih diingatnya antara lain; Ir. Nadjib Masiki, Ir. Fatturahman Mansyur, Ir.

Tomi Tilaar, Ir. Ramlan Salam, Ir. Arif Welang, dan Ir. Sherly Nurtanio.

Nama terakhir yang disebut merupakan dosen pembimbing skripsi Hamsir. Dalam membimbing, sang dosen banyak memberikan ide-ide tentang konsep bangunan menurut ide-ide fengshui. Skripsi yang dibuat oleh Hamsir adalah hasil penelitiannya tentang Model Perumahan Nelayan di Kecamatan Parigi. Ia melihat perumahan nelayan tersebut dari tiga konsep, yaitu; konsep sosio-kultural, fisik bangunan, dan konsep pembangunan.

Skripsi tersebut kemudian berhasil dipertahankan oleh Hamsir di depan tim penguji. Pada tahun 1989, setelah enam tahun menjalani studi, Hamsir pun lulus dan berhasil meraih gelar diplomanya.

Keberhasilan ini merupakan buah ketekunan dan kerja kerasnya. Ia juga mengungkapkan bahwa jika kita menggeluti bidang yang kita senangi, pasti hasil yang kita peroleh akan maksimal.

Setelah lulus, Hamsir pun bekerja sebagai arsitek lepas untuk beberapa bangunan di Kota Palu. Ia pernah mengerjakan konsep bangunan Rumah Sakit Budi Agung, Hotel Rama, dan beberapa pertokoan di jalan Monginsidi. Hamsir benar-benar menikmati pekerjaannya tersebut.

Pada tahun 1990, Hamsir menjadi Inspektor di sebuah jasa konsultan perencanaan pembangunan swasta. Ia bertugas merancang ukuran setiap detail konsep pembangunan tersebut. Pekerjaan tersebut ia geluti hingga tahun 1995.

145

Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019

Pada tahun 1995, Hamsir menjadi tenaga teknik di sebuah jasa kontraktor. Ia diberi jabatan self manager di jasa kontraktor yang diberi nama CV. Surga Tawaeli tersebut. Pekerjaan ini ia geluti hingga tahun 1999.

Berbekal pengalaman menggeluti bidang teknik selama hampir 10 tahun, pada tahun 1999, hamsir memberanikan diri mendirikan sebuah usaha jasa kontraktor sendiri. Perusahaan tersebut ia beri nama CV. Multi Mitra Mandiri. Usaha tersebut bertahan sampai sekarang, namun sejak tahun 2008, Hamsir telah menyerahkan pengelolaannya kepada orang lain karena kesibukannya berkiprah di dunia politik.

Keterlibatannya dalam dunia politik dimulai secara tidak sengaja pada tahun 2008. Saat itu, salah seorang temannya yang merupakan pengurus partai Barisan Nasional (Barnas) sedang mencari figur untuk dijadikan calon anggota legislatif dalam pemilihan umum tahun 2009. Saat itu, partai Barnas belum menemukan caleg untuk mewakili daerah pemilihan Palu Utara.

Pengurus partai Barnas tersebut pun menemui Hamsir untuk membahas kemungkinan Hamsir menjadi caleg partai Barnas daerah pilihan Palu Utara. Setelah berdiskusi cukup panjang, Hamsir pun menerima ajakan tersebut. Menurutnya, apa salahnya kesempatan ini dicoba untuk digunakan, karena jalan hidup hanya tuhan yang tahu.

Hamsir pun maju sebagai calon anggota legislatif dari partai Barnas. Ia maju dengan nomor urut 7 dan bertarung di dapil Palu Timur-Utara. Sistem pemilu yang digunakan pada saat itu adalah sistem proporsional terbuka dengan perhitungan suara terbanyak.

Hamsir berhasil meraih kurang lebih 300 suara secara pribadi.

Setelah diakumulasikan dengan suara partai, jumlah raihan suaranya mencapai kurang lebih 1400 suara. Partai Barnas sendiri menempati peringkat ke 10 dan mendapatkan satu jatah kursi di DPRD Kota Palu.

Berdasarkan hasil perolehan suara, Hamsir pun menempati satu- satunya jatah kursi yang dimiliki oleh Partai Barnas. Di DPRD Kota Palu, ia tergabung dalam fraksi Palu Ngataku yang terdiri dari koalisi partai Barnas, PDI-P, Hanura, gerindra, PBB, dan PBR). Ia menjabat sebagai anggota fraksi. Ia juga menjadi anggota Komisi III yang membidangi masalah pembangunan.

146 Haliadi-Sadi, Syakir Mahid, Ismail Syawal

Pada pemilu tahun 2014 ini, Hamsir pindah ke partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) setelah Barnas dinyatakan tidak lolos verifikasi untuk mengikuti pemilu tahun 2014. Hamsir pun maju sebagai caleg DPRD Kota Palu mewakili Partai HANURA dengan nomor urut 1, mewakili daerah pemilihan 1 yaitu Palu Utara-Tawaeli.

Hamsir berhasil menjaring kurang lebih 1101 suara secara pribadi dan 2.700 suara setelah diakumulasikan dengan suara partai. Hanura meloloskan empat calegnya untuk duduk di DPRD Kota Palu periode 2014-2019. Keempat caleg tersebut adalah; Hamsir, Erfandi, Ridwan Basatu, dan Bey Arifin. Dari empat nama tersebut, Hamsir dan Erfandi lolos dengan status incumbent.

Setelah kembali berhasil duduk dalam jajaran anggota DPRD Kota Palu, Hamsir mengutarakan bahwa geliat pembangunan harus lebih ditingkatkan. Menurutnya, pembangunan tidak boleh jalan di tempat. Untuk kawasan Palu Utara dan tawaeli, Hamsir menilai bahwa dua wilayah ini harus mengejar ketertinggalan dari wilayah lainnya di Kota Palu. Untuk itu perlu pemerataan pembangunan di kedua wilayah tersebut.

Menyoal keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus di salah satu wilayah tersebut, Hamsir menegaskan bahwa KEK perlu dikawal pelaksanaannya agar hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Selain menyoal masalah KEK, Hamsir juga melirik lebih dalam kepada masalah pendidikan. Menurutnya, UPT Sanggar Kegiatan Belajar perlu dikembangkan dan penting untuk membantu proses pendidikan kepada masyarakat. Hal ini menurut Hamsir, sangat urgent untuk segera direalisasikan guna menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan mumpuni.

Hamsir juga menyoroti perihal konflik yang terjadi di beberapa titik di Kota Palu akhir-akhir ini. Menurutnya, pemicu konflik tersebut adalah kesadaran masyarakat perihal bahaya konflik yang masih kurang. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh karakterisktik masyarakat kota palu yang sebagian besar adalah masyarakat suku Kaili yang menurutnya mudah terpancing. Ini adalah sifat lahiriah yang menurut Hamsir seharusnya diarahkan kepada hal-hal yang positif.

147

Sejarah DPRD Kota Palu dan Gagasan Anggota Terpilih Untuk Pembangunan Kota Palu Periode 2014-2019

Melihat keterlibatan pemerintah dalam penanganan konflik, Hamsir melihat bahwa pemerintah harus lebih aktif dalam mensosialisasikan perihal bahaya dan kerugian serta akar-akar pemicu konflik agar masyarakat dapat mengenali dan mencegah potensi-potensi terjadinya konflik. Menurut Hamsir, pemerintah juga wajib melakukan pencegahan terhadap akar-akar pemicu konflik seperti narkoba, minuman keras, dan lain-lain.

Ketika ditanyakan perihal masalah sengketa tanah yang akhir- akhir ini terjadi di wilayah kelurahan Baiya yang merupakan wilayah KEK, Hamsir mengutarakan bahwa KEK ini sebenarnya telah lama dirindukan oleh masyarakat dan diharapkan dapat menyerap tenaga kerja dari masyarakat sehingga jumlah pengangguran dapat berkurang.

Namun, dalam teknis pelaksanaannya, pemerintah kelurahan, dan kecamatan tidak mampu mengatasi persoalan menyangkut sengketa tanah yang akan dijadikan lokasi KEK. Badan Pertanahan pun selaku pihak pemegang otoritas pun seakan tidak tegas dalam mengambil tindakan. Hal ini dibuktikan dengan gampangnya pengeluaran SKPT.

Persoalan sengketa tanah yang ada dibiarkan berlarut-larut di tingkat kelurahan/kecamatan tanpa ada penyelesaian. Hal ini juga diperparah dengan banyaknya tanah dengan status kepemilikan yang tidak jelas. Pemerintah setempat juga tidak pernah sekalipun mengkonsultasikan masalah tersebut ke DPRD sehingga persoalan yang ada seringkali tidak transparan. Hal ini juga diperparah dengan adanya praktek penjualan tanah secara sembunyi-sembunyi.

148

Dalam dokumen Sejarah DPRD Kota Palu cetak.pdf (Halaman 156-162)