• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paradigma Pembebasan dan Pemaksaan dalam Pendidikan A. Pembebasan dan Pemaksaan Pendidikan

Azra menyatakan bahwa manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk rasional dan sekaligus mempunyai hawa nafsu kebinatangan, sehingga manusia bisa menjadi pribadi yang dekat dengan Tuhan, tetapi jika manusia tidak mampu mengendalikan nafsu kebinatangannya bisa menjadi makhluk yang paling hina. Maka perlu adanya pembatasan terhadap kebebasan manusia agar terhindar dari berbuat jahat, salah satu cara membatasinya melalui pemaksaan.

(hlm. 29)

Anderson menyatakan, ada dua pendekatan yang digunakan dalam pemaksaan, yaitu pemaksaan sebagai penekanan terhadap kemauan dan pemaksaan sebagai penegakan. Maka menurut penulis, salah satu cara pembebasan adalah melalui pemaksaan, sehingga pendidikan bukan merupakan pembebasan tetapi pemaksaan yang kemudian membuat sebuah pertanyaan, pendidikan merupakan pembebasan atau pemaksaan. (hlm. 30)

1. Pembebasan Pendidikan

Ciri pendidikan yang membebaskan menurut Pring adalah guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan

5 mendorong siswa menjadi kreatif, sehingga siswa tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab. (hlm. 31)

Pendidikan yang membebaskan bukanlah pendidikan dengan memberikan kebebasan sepenuhnya kepada siswa, tetapi pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang mendorong siswa untuk mendekati Allah dan mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya. Prinsipnya, pendidikan merupakan proses pembebasan, namun terdapat perbedaan dalam memberikan arti kebebasan. Sebagian berpendapat bahwa pendidikan dengan pembebasan adalah peserta didik diberikan kebebasan dalam menentukan berlangsungnya proses pendidikan. Tetapi sebagian lain berpendapat, pendidikan pembebasan adalah pendidikan dengan memberikan kesempatan kebebasan kepada siswa untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya agar menjadi manusia yang bertanggung jawab. Maksud pembebasan pendidikan dalam penelitian ini merujuk maksud yang kedua. (hlm. 33)

2. Pemaksaan Pendidikan

Pemaksaan dalam pendidikan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sebagai bentuk pembiasaan. Penulis mengutip pendapat Pierce dan Cheney bahwa pembiasaan adalah proses perilaku yang terjadi karena sejarah filogengetik. Hal ini dapat terjadi melalui pengulangan suatu kejadian. Secara fisioologi, pembiasaan terjadi karena sudah ada pembangunan refleks pada diri seseorang. (hlm. 36)

Maka pemaksaan dalam pendidikan menurut penulis disertasi merupakan suatu cara pembatasan kebebasan siswa melalui pemberian sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan, memberitahukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dan adanya kontrol yang ketat terhadap aktivitas siswa. Pemaksaan pendidikan dapat dilakukan kepasa siswa menengah ke bawah yaitu SMA – SD.

Masa remaja menurut UNICEF merupakan masa transisi yang menyebabkan terjadinya perubahan multi dimensi yaitu perubahan biologis, psikologis dan sosiologis. Dengan demikian pendidikan pada anak usia remaja perlu dilakukan melalui pemaksaan. (hlm. 36)

B. Pendidikan Humanistik dan Behavioristik 1. Pendidikan Humanistik

Humanisme menurut Syariati adalah aliran filsafat yang mempunyai tujuan pokok untuk keselamatan dan kesempurnaan manusia, sehingga humanisme merupakan ungkapan sekumpulan nilai ilahiyah yang ada pada manusia. Sementara Satre mendefinsikan humanisme bahwa manusia menjadi penentu dirinya, tidak ada legislator kecuali manusia sendiri, manusialah yang memutuskan untuk dirinya sendiri. (hlm. 37)

6 Pendekatan humanistik merupakan pendekatan dengan teori pembelajaran konstruktivisme yaitu proses pembelajaran dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun materi yang telah dipelajari dengan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, dalam pembelajaran ini, siswa tidak hanya sebagai penerima pengetahuan, tetapi juga diberikan kebebasan untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. (hlm. 38)

Pembelajaran konstruktivisme berbeda dengan pembelajaran tradisional.

Dalam pembelajaran tradisional menurut Ratna Wilis Dahar, untuk menjadikan murid tahu tentang apa yang kita ketahui dengan memindahkan pengetahuan secara utuh dari pikiran guru ke murid, sedangkan dalam konstruktivisme, pengetahuan dibangun dalam pikiran murid. Pembelajaran kontruktivisme juga berbeda dengan pembelajaran behaviorisme atau pendekatan perilaku. (hlm. 39)

Larochelle menyatakan, guru dalam pembelajaran kontruktivisme berhasil merubah kebiasaan siswa dan siswa mengkonstruksikan alternatif keadaan. Guru mengajarkan kepada siswa beberapa konteks, kemudian pikiran siswa dan guru didistribusikan dalam tindakan dan siswa diberi kebebasan dalam merekonstruksikan kembali. Dalam pembelajaran ini, hal yang terpenting bukan pengetahuan, tetapi juga kemampuan siswa menciptakan beberapa kemungkinan dari materi yang disampaikan guru. (hlm. 40)

2. Pendidikan Humanistik menurut Liberalisme, Eksistensialisme, Marxisme dan Agama Islam

a. Pendidikan Humanistik menurut paham Liberal

Menurut Lynch, pada masyarakat Liberal, pendidikan merupakan komoditas pasar, sehingga sekolah murni sebagai bisnis. Tujuan pendidikan dalam paham ini lebih kepada keuntungan semata dan manajemen yang digunakan adalah manajemen perusahaan. (hlm. 41)

b. Pendidikan Humanistik menurut paham Marxisme

Pendidikan menurut paham ini bahwa pendidikan adalah untuk memberikan kebebasan kepada manusia dengan sebebas-bebasnya tanpa ada batasan yang ditentukan. (hlm. 42)

c. Pendidikan Humanistik menurut paham Eksistensialisme

Menurut paham ini, tidak ada yang bisa memberikan batasan terhadap kebebasan manusia karena manusia satu-satunya pemegang kebenaran dan tidak ada satupun yang dapat menghalangi kebebasan manusia. Pendidikan menurut eksistensialis adalah pendidikan yang memberikan kebebasan para privasi masing-masing siswa dengan pemberian kurikulum yang bersifat liberal. (hlm.

43)

7 d. Pendidikan Humanistik menurut Agama Islam

Humanisme dalam pandangan Islam menempatkan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang memiliki jiwa ilahi dan memiliki jiwa bersih.

Manusia mempunyai tempat sebagai pengganti Tuhan di bumi dan bahkan Malaikat bersujud kepadanya. Manusia memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya, manusia adalah makhluk yang mempunyai pengetahuan dan manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab. (hlm. 44)

3. Pendidikan Behavioristik

Penulis menyebutkan pendapat Rostami bahwa orientasi pembelajaran behavioristik terfokus dalam pengembangan potensi ketrampilan psikomotorik dan melakukan pengamatan perilaku yang dapat diukur, sehingga menurut pembelajaran behavioristik latihan bersifat pengulangan akan menjadi kebiasaan.

(hlm. 45)

Penulis juga menyebutkan pendapat Abudin Nata bahwa menurut teori behavioristik manusia tidak memiliki apa-apa sejak kelahirannya, perkembangan manusia ditentukan oleh lingkungannya, baik lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, manusia, alam, budaya serta religi yang membentuknya. Islam tidak sepaham dengan pandangan behavioristik karena manusia dianggap sebagai tong kosong, makhluk tidak berjiwa atau seperti robot yang digerakkan sepenuhnya oleh keinginan sang dalang. (hlm. 46)

C. Pendidikan Menurut Paul Freire dan menurut Konsep Bank (Banking Concept Education)

1. Pendidikan Menurut Paul Freire

Paul Freire berpendapat bahwa pendidkan merupakan praktik kebebasan karena pendidikan dapat membebaskan pendidik dari perbudakan dan monolog.

Melalui pendidikan, pendidik mulai belajar untuk mengetahui dirinya bahwa diri mereka sebagai makhluk berharga. (hlm. 46)

Menurut Osman, pendidkan menurut Freire merupakan praktik kebebasan sehingga ada perbedaan antara manusia dan hewan. Menurut Tropiano, pendidkan menurut Freire adalah pendidikan yang mengembangkan perubahan sosial sebagai tujuan utama pendidikan. Dan menurut Abudin Nata, Freire ingin menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk membebaskan masyarakat dari kepentingan kelompok elit yang menginginkan masyarakat menjadi objek kepentingannya, sehingga terjadi kesenjangan antara kaum elit dengan masyarakat pada umumnya. (hlm. 47)

Freire menganggap bahwa pendidikan tradisional merupakan model pembelajaran yang memperlakukan siswa hanya sebagai penerima pengetahuan, mengingatnya dan mengulanginya, pembelajaran seperti ini disebut dengan konsep bank. Freire menawarkan konsep akternatif yaitu pendidikan yang

8 berdasarkan kepada kenyataan dan keadaan kehidupan mereka, dengan kurikulum berdasarkan kepada minat dan kebutuhan siswa yang kemudian dikenal dengan istilah pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning). (hlm. 48)

2. Pendidikan menurut Konsep Bank

Banking Concept Education adalah nama yang diberkan Freire terhadap model pembelajaran tradisional, karena pada model pembelajaran ini seperti orang yang sedang menabungkan uangnya di bank, siswa dianggap wadah kosong yang siap menerima tabungan pengetahuan dari gurunya. Tropiano mendefinisikan model ini sebagai model pembelajaran dimana siswa diharuskan mengikuti aturan pembelajaran yang telah ditetapkan dan siswa yang belajar di bawah model bank merasa tidak mempunyai kekuatan karena mereka hanya menerima pengetahuan dari guru kepada siswa dalam suatu kerangka yang telah ditentukan. (hlm. 49)