BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
2. Resume Tesis
BAB I Pendahuluan Latar Belakang
Penulis mengawali latar belakang penulisan tesis ini dengan menarik pemahaman relasi muslim-kristen dari konteks lokal yaitu Indonesia dengan segala konfliknya yang tebingkai dalam termologi khusus berbasis suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Fakta ini menandakan bahwa agama menjadi salah satu isu yang rentan memicu konflik. Penulis menyatakan bahwa sejarah mencatat konflik berlatar belakang agama dan keyakinan di era reformasi diperkirakan mencapai lebih dari 200 kasus setiap bulannya. Terjadinya benturan antar agama di Indonesia, khususnya Islam dan kristen selalu bermula dari sikap eksklusif tentang agenda dakwah dan konversi (ajakan pindah agama). Penulis melihat bahwa kedua agama besar ini mempunyai perhatian dan doktrin terhadap dakwah atau misi, dan pada titik itulah keduanya berpotensi untuk saling bertabrakan.1
11 Gufron, MA, Relasi antar Kelompok Agama Berbeda; Studi tentang Perdamaian dan Ketegangan Muslim-Kristen, Tesis Seklah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah jakarta, 2015.hlm. 1-2.
2 Penulis menyadari bahwa konflik antar agama adalah persoalan yang serius yang mengundang beberapa pihak tuk membangun resolusi konflik. Salah satunya adalah dialog antar umat beragama. Namun penyelesaian dengan bentuk dialog belum sampai kepada pencapaiannya dan dialog diantara keduanya sering mengalami kebuntuan karena perbedaan teologis, baik islam maupun kristen itu sendiri. Penulis merasa dialog dengan semangat mencari kesamaan pandangan teologis antara keduanya tidak mungkin adanya, namun setidaknya dialog dilakukan dalam rangka upaya untuk saling mengenal lebih dekat antar keduannya untuk mengurangi prasangka dan kesalahpahaman sangatlah memungkinkan.2
Menurut penulis dialog yang digunakan dalam membangun relasi yang harmonis, seharusnya lebih banyak memberikan porsi pada pendekatan budaya.
Model pendekatan dialog praktis dan budaya dapat dilihat dari fenomena relasi masyarakat Islam-Kristen di Desa Tegalombo, dimana mekanisme kultural dalam membangun dialog praktis yang inklusif merupakan pencapaian atas proses panjang antara kelompok Islam dan Kristen dalam toleransi antar agama yang berbasis kepada kekuatan nilai-nilai budayanya. Perjumpaan Islam-Kristen di Tegalombo sudah berlangsung sejak era kolonialisme Belanda. Yang mana saat itu Belanda bersekutu dengan keompok misionaris kristen dan mengeluarkan dekrit yang mengatur penginjilan pada 1854, saat itulah umat islam melihat bahwa agama kristen adalah ancaman dan membuat umat islam bereaksi keras terhadapnya. Dan kondisi ini pun berbanding terbalik ketika masa kolonialisme Jepang yang membatasi pergerakan misionaris kristen dan berhubungan dekat dengan Islam. Selain itu, ketegangan Islam-Kristen kembali mengemuka paska meletusnya peristiga G 30 S PKI 1965 yang membuat masyarakat setempat banyak yang berkonversi ke agama kristen karena berlindung dirumah pendeta.3
Bagi penulis sektor kebudayaan menjadi satu strategi yang bisa dijadikan ruang untuk membangun komunikasi, interaksi dan kerjasama antar pemeluk agama berbeda. Di Tegalombo, aktivitas yang mencerminkan sikap relasi agama yang harmonis seolah menjadi tradisi, yang bukan hanya bermula dari kesadaran dan pengalaman keagamaan masyarakat, melainkan juga karena pengaruh teladan para tokoh (kyai dan pendeta) yang saling menghargai. Tradisi ini tidak terjadi secara tiba- tiba, akan tetapi melalui proses rekonsiliasi, pencarian mekanisme, membangun dan merawat relasi antar umat beragama daam waktu yang panjang. Selanjutnya, relasi keduanya sekarang telah menjangkau banyak aspek kehidupan sosial. Menurutnya, realasi ini memenuhi apa yang Michael Walzer sebut sebagai koeksistensi damai (peaceful coexistance), dimana kelompok yang berbeda secara identitas menyemai
2 Gufron, MA, Relasi antar Kelompok Agama Berbeda,,,, hlm. 3.
3 Gufron, MA, Relasi antar Kelompok Agama Berbeda,,,, hlm. 3-5.
3 toleransi.4 Dalam penelitian ini penulis meminjam kerangka berfikir relasi sosial yang diformulasikan Departemen Ekonomi dan Sosial PBB, relasi Islam dan Kristen di Tegalombo meliputi 6 relasi sosial, yaitu 1) fragmentasi, 2) eksklusif, 3) polarisasi, 4) ko-eksistensi, 5) kolaborasi, 6) kohesi. Yangmana tiga relasi pertama adalah mengarah kepada kondisi negatif, sementara tiga relasi lainnya menunjukan kondisi yang mendorong kepada relasi damai atau integrasi sosial.5
Rumusan Masalah
Diantara rumusan masalah yang diutarakan penulis adalah terkait peran budaya dalam memperkuat kohesi sosial dan kerukunan umat beragama, relasi sosial- keagamaan muslim-kristen di Tegalombo mencakup segala aspek pembentuk harmoni relasi Muslim-Kristen dan segala aspek yang mempengaruhi ketengangan dalam relasinya. Selanjutnya ia menjelaskan prospek relasi Muslim-Kristen di daerah tersebut.
Pembatasan Masalah
Penulis memfokuskan penelitiannya ini pada relasi sosial-keagamaan muslim- kristen mencakup segala aspek pembentuk harmoni dan segala aspek yang mempengaruhi ketengangan dalam relasinya yang dilakukan di Desa Tegalombo, Kecamatan Dukuhseti yang terletak di pesisir utara Kabupaten Pati.6
Kajian Terdahulu yang Relevan
Penulis banyak merujuk buku-buku diantaranya buku The Cross and The Crescent: The Dramatic Story of The Earliest Encounters between Christian and Muslims karya Richard Fletcher yang secara khusus membahas sejarah hubungan islam dan kristen sejak meninggalnya Nabi Muhammad hingga masa reformasi Eropa. Buku yang ditulis Jan. S. Aritoneng, Sejarah Perjumpaan Islam dan Kristen, yang membahas sejarah perjumpaan Islam-Kristen sejak dimulai dari era VOC, Hindia Belanda, hingga Reformasi. Buku Azyumardi Azra yang berjudul Konteks Berteologi di Indonesia, yang menyusun bingkai teologis yang di pakai umat Islam dalam berbagai dinamika sosialnya yang secara khusus membahas kemungkinan relasi damai antarumat beragama yang diinisiasi oleh konsep islam. Dinamika relasi Islam-Kristen dari beberapa buku yang telah dipaparkan menunjukan kepada masyarakat bahwa terdapat banyak faktor yang melatarbelakangi relasi konflik maupun damai, namun buku-buku tersebut tidak mengeksplorasi secara mendalam
4 Gufron, MA, Relasi antar Kelompok Agama Berbeda,,,, hlm. 6-7.
5 Gufron, MA, Relasi antar Kelompok Agama Berbeda,,,, hlm. 8.
6 Gufron, MA, Relasi antar Kelompok Agama Berbeda,,,, hlm. 18.
4 model yang terbentuk atas hubungan yang harmonis antar umat beragama, khususnya Islam dan Kristen.
Metode Penelitian
Penulis disini menggunakan penelitian lapangan, yang mana ia terlibat aktif dilokasi penelitian untuk melihat dan merasakan situasi sosial untuk mendapatkan data-data terkait tujuan penelitiannya. Pendekatan yang digunakan oleh penulis adalah kajian sosio-historis dengan menelusuri pengalaman sejarah masyarakat Tegalombo yang sedikit banyak pempengaruhi terjadinya konflik dan perdamaian Islam-Kristen. Sumber utama yang digunakan adalah data-data tentang konflik, ketegangan dan perdamaian antar kelompok Islam dan Kristen. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui proses wawancara mendalam, observasi live in, dan kajian data tertulisdari berbagai dokumen.
Sistematika Penulisan
Bab Pertama memaparkan pendahuluan yang meliputi uaraian tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, ruang lingkup dan pembatasan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, kajian terdahulu yang relevan, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab Kedua berisikan perdebatan akademik tentang konteks teologis dan sosiologis relasi antar umat beragama yang diawali denga menjelaskan tipologi sikap keagamaan, titik temu dan seteru relasi Islam-Kristen, dan diakhiri dengan pembahasan tentang peluang rekonsiliasi konflik melalui dialog antar agama.
Bab Ketiga membahas tentang Evangelisme di Tegalombo, Revitalisasi Penduduk Muslim, Mensyari’atkan Agama dalam Perspektif Tokoh Agama, Isu Konversi Agama, dan Agama dan Kontestasi Politik.
Bab Keempat membahas tentang relasi sosial-keagamaan Muslim-Kristen dengan melihat Harmoni Relasi Muslim-akristen, Ketegangan dalam Relasi Muslim- Kristen, dan Prospek Relasi Muslim-Kristen.
Bab Kelima merupakan penutup berupa uraian kesimpulan dari bab-bab sebelumnya, daftar pustaka dan glosarium.7
7 Gufron, MA, Relasi antar Kelompok Agama Berbeda,,,, hlm. 22.
5 BAB II
Konteks Teologis dan Sosiologis Relasi Antarumat Beragama A. Tipologi Sikap Keagamaan
Penulis mengambil bentuk pengklasifikasian teolog Alan Race dalam kajian teologi agama-agamanya yaitu inklusivisme, eksklusivisme, dan pluralisme yang mana pandangan ini berasal dari teologi kristen yang melihat konteks dan tantangan dalam hubungan antar agama, atau yang dikenal tipologi tripolar. Menurut penulis tipologi ini bukan sesuatu yang baru dalam islam, mengingat secara teologis dan historis agama ini tidak terlepas dari sejumlah agama lainya.8
Inklusif dan Pluralisme: Keputusan fatwa MUI nomor: 7/ MUNAS VII/
MUI/ II/ 2005 menyatakan pengharaman Pluralisme sudah jauh-jauh hari di prediksi oleh John Howard Hick. Hick menyebutkan bahwa agama monoteis seperti Islam, Yahudi, dan Kristen mempunyai corak teologi ekslusif yang kerap memicu konflik.
Menurut Azyumardi Azra, dalam dunia Muslim teologi tak hanya terbatas pada diskursus ketuhanan saja, karenanya bukan tidak mungkin teologi berbicara dalam ranah kerukunan antar umat beragama, dengan mencari titik temu dalam berbagai aspek atau yang sering disebut teologi inklusif. Hick dan Nasr mengemukakan bahwa pluralisme agama dapat menjadi panduan bagi masyarakat religius untuk menciptakan toleransi agama, perdamaian, juga dialog. Dalam konteks ini klaim kebenaran agama hanya relevan dutujukan untuk kepentingan internal agama itu sendiri, agar tebentuknya situasi saling berlatih tuk hidup dalam perbedaan, dan memahami konsep agree in disagreement agar terhindar dari konflik.9
Eksklusif dan Klaim Kebenaran Agama: Sejarah konflik tidak lain terkait dinamika antar agama-agama dalam perebutan klaim atas kekuatan simbolik yaitu kebenaran dan keselamatan. Doktrin eksklusif ditemukan dalam berbagai konsep keagamaan, diantaranya adalah konsep monoteisme atau keesaan tuhan, polemik tentang Yesus dan Isa, tentang pertaubatan dan jalan keselamatan, dimensi politik dan lain sebagainya, yang pada akhirnya dapat membentuk persepsi dan sikap klaim kebenaran atas agama yang di anutnya lah yang paling benar. Charles Kimball menyebutkan bahwa klaim kebenaran secara mutlak merupakan salah satu tanda agama menjadi jahat. Karena agama dalam posisi ini bisa menginspirasi seseorang atau kelompok untuk berperilaku intoleran.10
8 Gufron, MA, Relasi antar Kelompok Agama Berbeda,,,, hlm. 24.
9 Gufron, MA, Relasi antar Kelompok Agama Berbeda,,,, hlm. 24-32.
10 Gufron, MA, Relasi antar Kelompok Agama Berbeda,,,, hlm. 33-39.
6 B. Titik Temu dan Titik Seteru dalam Sosio Politik.
Menurut penulis meski kerap diwarnai konflik dan ketegangan, kondisi damai diantara keduanya juga sering kita jumpai. Ada sebuah titik temu yang menyebabkan relasi yang harmonis karena aspek teologi kerukunan yang ada dalam doktrin masing- masing agama dan situasi sosial-budaya dalam masyarakat yang juga menjadi salah satu fragmen perdamaian antar kedua agama tersebut.
Konflik Agama dalam Perspektif Historis-Politis: konflik merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang dinamis. Ia harus di selesaikan hingga keakar-akarnya dengan cara analisa guna menemukan akar konflik yang terjadi, kemudian upaya bina damai atas konflik tersebut. Perang Salib adalah perang terbesar antara bangsa Eropa Barat dan banga Arab yang bermotifkan dua agama besar Kristen dan Islam yang tercatat sejarah. Di Indonesia awal disharmoni antara dua agama besar ini adalah ketika masa kolonial Belanda yang memperalat salah satu komunitas agama. Kemudian, awal era Orde baru dibawah Pemerintahan Soeharto konflik Islam-Kristen kembali mencuat. Sedangkan paska G 30 S PKI dianggap sebagai masa karunia bagi Kristen di Indonesia. Pada orde baru dan Reformasi, konflik Islam- Kristen di Tegalombo lebih bernuansa kompetisi saling memperkuat anggota komunitasnya.11
Budaya sebagai Fragmen Perdamaian: Elisa Boulding mengartikan bahwa budaya perdamaian adalah aksi untuk mempromosikan keanekaragaman damai.
Budaya tersebuta meliputi lifeways, bentuk keyakinan, nilai-nilai, perilaku, dan aturan kelembagaan yang saling peduli dan setara termasuk apresiasi terhadap perbedaan. Istilah yang sering terdengar untuk merujuk pada fungsi budaya sebagai fragmen perdamaian adalah kearifan lokal.12
Dialog Antarumat Beragama: konflik yang terjadi dalam relasi Islam dan Kristen telah membuat dinding pemisah diantara keduanya, yang berdampak pada dekonstruksi pola hubungan dan kepercayaan dari kedua belah pihak. Salah satu strategi untuk menyelesaikan konflik ialah dengan berdialog, yang dimaksudkan sebagai proses komunikasi dan diskusi antar pemeluk agama untuk membahas persoalan bersama baik secara praktis hingga ranah humaniora.13
11 Gufron, MA, Relasi antar Kelompok Agama Berbeda,,,, hlm. 40-46.
12 Gufron, MA, Relasi antar Kelompok Agama Berbeda,,,, hlm. 47-51.
13 Gufron, MA, Relasi antar Kelompok Agama Berbeda,,,, hlm. 52-56.
7 BAB III
Antara Evangelisme dan Amar ma’ruf Nahi Munkar
Menurut penulis Integrasi dan konflik merupakan kenyataan sosial yang sepaket. Hal ini juga terjadi di desa Tegalombo dimana kedua kelompok agama yang berbeda (Islam dan Kristen) berbaur dalam kehidupan sosial. Dalam berinteraksi, situasinya menunjukkan harmoni juga terkadang sebaliknya.14