• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan

D. Tela’ah Pustaka

Sepanjang pengetahuan penulis tesis ini, belum ada buku yang membahas amanah secara sistematis dan menyeluruh. Begitu juga penulis belum mendapatkan tesis atau disertasi yang meneliti tentang amanah dalam perspektif para mufassir. Sekalipun demikian, pembahasan tentang amanah banyak didapatkan dalam buku- buku tafsir, baik buku-buku tafsir klasik seperti kitab tafsir Jâmi’ al-Bayân yang terkenal dengan Tafsir ath-Thabarî dan tafsir Ibnu Katsîr, maupun buku-buku tafsir modern seperti kitab tafsir Fî Zhilâl al-Qur’ân, at-Tafsîr al-Munîr, dan Tafsir al- Mishbâh . Hanya saja sebagaimana layaknya buku-buku tafsir, pembahasan amanah dilakukan sesuai dengan ayat-ayat tentang amanah yang terpencar dalam beberapa surat al-Qur’an, tidak secara sistematis dan terpadu.

Di samping kitab-kitab tafsir, pembahasan amanah dapat ditemukan juga dalam kitab-kitab akhlak. Di antara kitab-kitab akhlak yang melakukan pebahasan tentang amanah adalah kitab al-akhlâq al-Islâmiyyah wa Ususuhâ yang ditulis oleh ‘Abd ar-Rahmân Hasan Habannakah al-Maydânî.

Dalam buku ini dibahas tentang pengertian amanah, sikap Islam tentang sifat amanah, ruang lingkup amanah, sifat amanah merupakan sifat fitrah dan hasil usaha, teks-teks al-Qur’an dan hadits tentang amanah dan juga membahas khianat sebagai lawan dari amanah. Selain buku tersebut, penulis mendapatkan juga pembahasan amanah dalam buku Islâmunâ yang ditulis

3 Asnin Syafiuddin, “Amanah.... hal. 10

4 Asnin Syafiuddin, “Amanah.... hal. 11

4 oleh Sayyid Sâbiq. Dalam buku ini, dibahas tentang urgensi memiliki sifat amanah, ajakan untuk memiliki sifat amanah, dan luasnya ruang lingkup amanah. Namun kedua karya di atas tidak membahas amanah secara luas dan menyeluruh.5

E. Metodologi Penelitian

Penelitian ini menyangkut tafsir secara langsung, maka sumber utama penelitian ini adalah tafsir Fî Zhilâl al-Qur’ân oleh Sayyid Quthb, at-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa asy-Syarî’ah wa al-Manhaj oleh Wahbah az- Zuhaylî, dan Tafsir al-Mishbâh oleh M. Quraish Shihab. Untuk memperdalam pembahasan dan mempertajam analisa sebagaimana telah dikemukakan di atas, maka tidak menutup kemungkinan dipergunakan juga kitab-kitab tafsir yang lain, seperti Tafsîr al-Qur’an al-‘Azhîm yang terkenal dengan Tafsir Ibnu Katsir oleh Ibnu Katsir, at-Tafsir al-Marâghî, oleh Mushthafâ al- Marâghî, dan tafsir al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân oleh al- Qurthubî. Karena objek pemabahasan penelitian ini utamanya adalah ayat- ayat al- Qur’an, maka metode yang digunakan penulis untuk menganalisa data-data yang dihimpun adalah metode at-tafsir al-muqâran (metode perbandingan), dimana penulis mengemukakan penafsiran ayat-ayat al- Qur’an yang berbicara tentang amanah yang ditulis oleh sejumlah para mufassir dalam kitab tafsirnya, terutama oleh ketiga mufassir yang telah disebutkan di atas. Kemudian penafsiran mereka dikaji dan diteliti serta diperbandingkan untuk mendapatkan kesimpulan tentang topik yang dibahas.6

F. Sistematika Penulisan

Pembahasan penelitian ini terdiri dari lima bab yang disusun secara sistematis. Bab Pertama memaparkan pendahuluan yang meliputi uraian tentang latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, tela’ah pustaka, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab kedua membahas tentang pengertian amanah secara etimologi dan terminologi serta urgensinya dalam kehidupan.

Bab ketiga membahas tentang ruang lingkup amanah, yang meliputi amanah terhadap Allah, amanah terhadap sesama manusia dan amanah

5 Asnin Syafiuddin, “Amanah.... hal. 13

6 Asnin Syafiuddin, “Amanah.... hal. 15

5 terhadap diri sendiri.

Bab keempat membahas metode al-Qur’an dalam mendorong umat bersikap amanah, yaitu menanamkan nilai-nilai keimanan, perintah amanah dan janji bagi pelakunya, larangan khianat dan ancaman bagi pelakunya.

Bab kelima mengemukakan kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dikemukakan dalam bab-bab terdahulu, serta saran-saran yang penulis anggap perlu.7

BAB II

PENGERTIAN AMANAH DAN URGENSINYA DALAM KEHIDUPAN

Dalam Bahasa Indonesia, selain kata amanah digunakan juga kata amanat. Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, amanah ialah sesuatu yang dititipkan kepada orang lain, sesuatu yang dipercayakan kepada orang lain; dapat dipercaya. Sedangkan amanat ialah titipan atau suatu kepercayaan yang dibebankan kepada orang lain (pesan atau perintah yang disampaikan kepada orang lain) keseluruhan makna suatu pembicaraan, gagasan yang mendasari isi karya sastra.

Dalam terminologi Islam, terdapat beberapa ungkapan para ulama tentang amanah:

1. Menurut Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaylî: Setiap yang dibebankan kepada manusia dari Allah seperti kewajiban-kewajiban agama, atau dari manusia seperti titipan harta.

2. Menurut M. Quraish Shihab: Amanat adalah sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain untuk dipelihara dan dikembalikan bila tiba saatnya atau bila diminta oleh pemiliknya.

3. Menurut Mushtafâ al-Marâghî: Amanah ialah segala sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang berupa perintah dan larangan baik dalam urusan agama maupun dunia.

4. Menurut 'Abd ar-Rahman Hasan Habannakah al-Maydanî: Amanah dari sisi kejiwaan ialah sifat akhlak yang melekat dalam jiwa yang dengannya seseorang menjaga diri dari sesuatu yang bukan haknya, walaupun kondisi untuk berbuat pelanggaran mendukungnya tanpa dihadapkan kepada adanya pembuktian di hadapan orang banyak; dan

7 Asnin Syafiuddin, “Amanah.... hal. 16

6 menunaikan kewajibannya atau hak orang lain yang ada padanya, walaupun ia mampu menguranginya tanpa dihadapkan kepada adanya pembuktian di hadapan orang banyak.

Pengertian-pengertian amanah yang dikemukakan oleh ketiga mufassir diatas pada dasarnya sama. Pendekatan mereka adalah penafsiran terhadap ayat-ayat yang berbicara tentang amanah yang konteksnya kewajiban, tugas, atau beban yang harus ditunaikan seseorang, baik yang menyangkut dengan Allah maupun yang menyangkut sesama manusia. Dari beberapa pengertian itu dapat disimpulkan bahwa amanah mempunyai dua arti:

Pertama: Tugas atau beban yang diberikan kepada seseorang, baik diberikan oleh Allah atau oleh sesama manusia.

Kedua : Kredibilitas atau sifat dapat dipercaya yang ada pada seseorang dalam menunaikan tugas atau beban tersebut.8

Kekuatan iman akan memberikan dorongan yang kuat kepada seseorang untuk bersikap amanah; karena amanah lahir dari keimanan sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa betapa kuat hubungan amanah dengan iman.

Kekuatan mental spiritual akan memberikan kekuatan kepada seseorang dalam bersikap amanah; karena bersikap amanah suatu hal yang berat terutama di zaman sekarang ini. Kekuatan ilmu pengetahuan dan wawasan akan memberikan bekal pengetahuan kepada seseorang dalam merencanakan dan melaksanakan amanah. Sedangkan kekuatan pisik dapat melahirkan pemikiran yang sehat sebagaimana pepatah mengatakan : " Akal yang sehat terletak pada tubuh yang sehat ", di samping dapat melahirkan kewibawaan bagi pelaksana amanah.9

BAB III

RUANG LINGKUP AMANAH A. Amanah terhadap Allah

Sayyid Quthub menyebutkan tiga macam amanah: amanah fithrah manusia, amanah kesaksian dan amanah dalam berinteraksi dengan sesama manusia.

Dari ketiga macam amanah ini, jelas bahwa amanah yang pertama dan kedua termasuk amanah terhadap Allah. Di atas juga telah dijelaskan bahwa az-Zuhaylî menyebutkan beberapa hal yang berkaitan dengan amanah

8 Asnin Syafiuddin, “Amanah.... hal. 22-23

9 Asnin Syafiuddin, “Amanah.... hal. 42-43

7 terhadap Allah yaitu : melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan- Nya, menggunakan perasaan dan anggota badan pada sesuatu yang dapat diri kepada Allah. terhadap Tuhannya. Begitu juga M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa masing-masing amanah –termasuk di dalamnya amanah terhadap Allah– memiliki rincian, dan beliau menyebutkan amanah antara manusia dengan Allah, antara lain adalah aneka ibadah, seperti nazar.10 B. Amanah terhadap Sesama Manusia

Amanah terhadap sesama manusia memiliki cakupan yang luas, baik dari sisi orang yang menjadi sasaran amanah maupun dari sisi bentuk- bentuk amanah. Dalam pembahasan ini, penulis tesis membatasi pada bentuk-bentuk amanah yang mencakup amanah dalam harta, amanah dalam fisik dan nyawa, amanah dalam kehormatan, amanah dalam rahasia, amanah dalam kekuasaan dan jabatan, serta amanah dalam ilmu pengetahuan.11