LEGALITAS
3.1 Sejarah dan Landasan Filsafati Asas Legalitas
1 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian 1, (Rajawali Pers, Jakarta, 2002), hal. 170.
2 John Gillisen Dan Frist Gorle, Sejarah Hukum : Suatu Pengantar, (Refika Aditama, Bandung,2005), hal.177.
3 Hiariej, Eddy O.S., Asas Legalitas & Penemuan Hukum dalam Hukum Pidana, (Erlangga, Jakarta, 2009) hal.7-8.
4 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, (Rineka Cipta, Jakarta, 2000), hal. 24.
5 Ibid
rumusan delik yang dilakukan sebelum berlakunya ketentuan yang bersangkutan, maka bukan saja hal itu tidak dapat dituntut tetapi untuk orang yang bersangkutan sama sekali tidak dapat dipidana. Itulah legalitas yang mengikat perbuatan yang ditentukan secara tegas oleh undang-undang.
Makna Asas Legalitas yang tercantum di dalam Pasal 1 Ayat (1) KUHP dirumuskan di dalam bahasa Latin: ”Nullum delictum nulla poena sine praevia legi poenali”, yang dapat diartikan harfiah dalam bahasa Indonesia dengan: ”Tidak ada delik, tidak ada pidana tanpa ketentuan pidana yang mendahuluinya”. Sering juga dipakai istilah Latin: ”Nullum crimen sine lege stricta”, yang dapat diartikan dengan: ”Tidak ada delik tanpa ketentuan yang tegas”. Hazewinkel-Suringa memakai kata-kata dalam bahasa Belanda ”Geen delict, geen straf zonder een voorfgaande strafbepaling” untuk rumusan yang pertama dan ”Geen delict zonder een precieze wettelijke bepaling” untuk rumusan kedua.6 Ada dual hal yang dapat ditarik sebagai kesimpulan dari rumusan tersebut :
1) Jika sesuatu perbuatan yang dilarang atau pengabaian sesuatu yang diharuskan dan diancam dengan pidana maka perbuatan atau pengabaian tersebut harus tercantum di dalam undang-undang pidana.
2) Ketentuan tersebut tidak boleh berlaku surut, dengan satu kekecualian yang tercantum di dalam pasal 1 Ayat (2) KUHP.
Meskipun rumusan Asas Legalitas dalam bahasa Latin, namun ketentuan itu menurut Andi Hamzah, bukan berasal dari hukum Romawi. Hukum Romawi tidak mengenal Asas Legalitas, baik pada masa republik maupun sesudahnya.
Rumus itu dibuat oleh Paul Johann Aslem von Feuerbech (1775-1833), seorang pakar hukum pidana Jerman di dalam bukunya: ”Lehrbuch des peinlichen Rechts”
pada tahun 1801. Jadi asas legalitas merupakan produk ajaran klasik pada permulaan abad kesembilan belas (Beccaria).7
Adagium dari von Feuerbach itu dapat dialirkan menjadi tiga asas seperti yang dirumuskan oleh W.A. van der Donk, yaitu nulla poena sine lege, nulla poena sine crimine, nullum crimen sine poena legali. Menurut van der Donk, maksud ajaran Feuerbach ini adalah membatasi hasrat manusia untuk berbuat jahat.8 Ternyata pengaplikasian adagium ini memiliki berbagai pandangan tentang ”nulla poena sine lege”, bahwa di dalam dasar yang sama itu di satu pihak lebih menitikberatkan
6 Ibid
7 Jan Remmelink, Hukum Pidana Komentar Atas Pasal-pasal Terpenting dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Padanannya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia, 2003), hal. 356.
8 E. Utrecht, Hukum Pidana I, (Bandung: Penerbitan Universitas, 1960), hal. 195.
kepada asas politik agar rakyat mendapat jaminan pemerintah tidak sewenang- wenang (Monstesquieu dan Rousseau). Di lain pihak menitikberatkan kepada asas hukum yang terbagi atas titik berat pada hukum acara pidana dengan maksud peraturan ditetapkan lebih dahulu agar individu mendapat perlindungan dan para penerap hukum terikat pada peraturan itu. Yang paling terkenal adalah fokus yang menitikberatkan pada hukum pidana pidana materiil dengan maksud setiap pengertian perbuatan pidana dan pemidanaannya itu didasarkan pada undang- undang yang ada (Beccaria dan von Feurbach).9
Menurut Hazewinkel-Suringa, pemikiran yang terkandung di dalam rumusan tersebut ditemukan juga dalam ajaran Montesquieu mengenai ajaran pemisahan kekuasaan, bukan hakim yang menyebutkan apa yang dapat dipidana, pembuat undang-undang menciptakan hukum. Pembuat undang-undang tidak saja menetapkan norma tetapi juga harus diumumkan sebagai norma-norma sebelum perbuatan.
Manifestasi pertama kali di dalam Konstitusi Amerika pada tahun 1783 dan kemudian di dalam Pasal 8 Declaration desdroits de l’homme et du citoyen tahun 1789. Akhirnya muncul di dalam Pasal 4 Code Penal dan WvS Belanda yang kemudian turun ke KUHP Indonesia, dan KUHP Belgia pada Pasal 2.10
Asas Legalitas dalam KUHP Indonesia (yang berasal dari WvS. Ned.) sebenarnya merupakan peraturan yang tercantum dalam Declaration Des Droits De L’Homme Et Du Citoyen tahun 1789, yang berbunyi: ”Tidak ada orang yang dapat dipidana selain atas kekuatan undang-undang yang sudah ada sebelumnya”.
Pandangan ini dibawa oleh Lafayette dari Amerika ke Prancis setelah ia membaca dan mempelajari Bill of Rights Virginia tahun 1776 (Bill of Rights = Piagam Hak Asasi Manusia).11 Dalam Bill of Rights hanya ditentukan, tidak ada orang yang boleh dituntut atau ditangkap selain dengan dan dalam peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam undang-undang. Jadi asas ini memberikan perlindungan terhadap tuntutan dan penangkapan sewenang-wenang.
Jauh sebelum lahirnya asas legalitas, prinsipal hukum Romawi memperlihatkan wajah tatanan hukum yang individualistis, sedangkan dalam bidang politik kebebasan warga negara semakin dibelenggu.12 Pada zaman itu hukum pidana sebagian besar tidak tertulis sehingga dengan kekuasaan raja
9 Ibid, hal. 194.
10 D. Hazewinkel-Suringa, Inleiding tot de studie van het Nederlandse Strafrecht, (Gouda Quint, 1996), hal. 380.
11 Lilik Mulyadi, Asas Legalitas dalam Perspektif Hukum Pidana dan Kajian Perbandingan Hukum Pidana, http://
gagasanhukum.wordpress.com/2010/07/19/asas-legalitas-dalam-perspektif-hukum-pidana-dan-kajian-perbandingan- hukum-bagian-ii/, diakses pada 05/06/2013
12 John Gillisen dan Frist Gorle, Sejarah Hukum : Suatu Pengantar, (Refika Aditama, Bandung, 2005), hal. 177.
yang absolut dapat menyelenggarakan pengadilan dengan sewenang-wenang.
Penduduk tidak mengetahui secara pasti mana perbuatan yang dilarang dan mana perbuatan yang tidak dilarang. Proses pengadilan berjalan tidak fair karena hukum ditetapkan menurut perasaan hukum hakim yang mengadili.13 Pada saat yang bersamaan muncul para ahli pikir Montesquieu dan J.J. Rousseau yang menuntut agar kekuasaan raja dibatasi dengan undang-undang tertulis. Pasca revolusi Prancis struktur hukum mulai dibangun dengan adanya hubungan antara yang memerintah dan yang diperintah, antara kekuasaan negara dan individu.14
Melihat situasi dan kondisi lahirnya asas legalitas, maka dapat dikatakan asas tersebut adalah untuk melindungi kepentingan individu sebagai ciri utama tujuan hukum pidana menurut aliran klasik.15 Franz von Liszt, seorang juris pidana terkenal dari Jerman menyatakan “the nullum crimen sine lege, nulla poena sine lege principles are the bulwark of the citizen against the State’s omnipotence; they protect the individual against the brutal force of the majority, against the Leviathan”.16 Aliran klasik yang menghendaki hukum pidana tersusun sistematis dan menitikberatkan pada kepastian hukum, lahir sebagai reaksi terhadap ancien regime yang abritrair pada abad ke-18 di Prancis yang pada saat itu banyak menimbulkan ketidakpastian hukum, ketidaksamaan dalam hukum dan ketidakadilan.17
Dalam perjalanan sejarah, Belanda pun yang menganut asas itu di dalam KUHP, di dalam situasi yang darurat, pernah meninggalkan asas itu, yaitu pada tanggal 22 Desember 1943 di London saat dikeluarkan Keputusan Luar Biasa tentang Hukum Pidana (S.d 61), mengenai beberapa delik terhadap keamanan negara dan kemanusiaan diberlakukan ketentuan yang berlaku surut.18 Pidana mati yang tidak dikenal di dalam KUHP Belanda dapat dikenakan sebagai hukum negara dalam keadaan darurat, sebagaimana kita kenal dengan istilah “abnormal recht voor abnormal tijden”. 19
13 Bambang Poernomo, Asas-asas Hukum Pidana, (Ghalia Indonesia, Jakarta,1992), hal. 24.
14 Rene David and John E.C Brierley, Major Legal Systems In The World Today,Third Edition (Steven & Sons, London,1985), hal. 63.
15 Jan Remmelink, Hukum Pidana : Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia, (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003), hal. 44.
16 Antonio Cassese, International Criminal Law, (Oxford University Press, Oxford, 2003), hal. 141
17 Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-teori dan Kebijakan Pidana, (Penerbit Alumni, Bandung, 1992), hal. 25.
18 Loebby Loqman, Perkembangan Asas Legalitas dalam Hukum Pidana Indonesia, (Semarang : Makalah Disampaikan pada Seminar Tentang Asas-asas Hukum Pidana Nasional Diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI Bekerja sama dengan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, 2004), hal. 7.
19 Ibid.
Bagi Andi Hamzah dan Loebby Loqman, walaupun menurut Pasal 1 Ayat (1) KUHP di Indonesia dianut asas legalitas, namun sewaktu masih adanya pengadilan Swapraja dan pengadilan adat, dimungkinkan oleh Undang-Undang Nomor 1 Drt Tahun 1951 Pasal 5 Ayat (3) huruf b, hakim menjatuhkan pidana penjara maksimum 3 (tiga) bulan dan/ atau denda paling banyak lima ratus rupiah. Hukuman itu bagi perbuatan yang menurut hukum yang hidup harus dianggap delik yang belum ada padanannya di dalam KUHP.20
Menurut Lamintang “asas legalitas ini artinya tidak ada (nullum) delik, tiada pidana (poena) tanpa (sine) terlebih dahulu diadakan (preavia) ketentuan (lege poenali). Dalam rumusan bahasa latin yaitu nullum crimen noela poena sine praevia lege poenali yang diciptakan oleh Paul Johan Anselm von Feuerbach”
pada abad ke-19 dalam bukunya yang berjudul lehrbuch des Peinlichen Rechts (1801). Ajaran Feuerbach ini dikemukakannya sehubungan dengan pembatasan keinginan manusia untuk melakukan suatu kejahatan, ajaran ini dikenal dengan teori Psychoolgise zwang yang memuat tiga ketentuan yaitu: 21
a. Nulla puna sine lege, yang bermakna bahwa setiap penjatuhan hukuman haruslah didasarkan pada suatu undang-undang pidana.
b. Nulla Poena Sine Crimine, yang artinya bahwa suatu penjatuhan hukuman hanyalah dapat dilakukan, apabila perbuatan yang bersangkutan telah diancam dengan suatu hukuman oleh undang-undang.
c. Nullum Crimen Sine Poena Legali, yang artinya bahwa perbuatan yang telah diancam dengan hukuman oleh undang-undang itu apabila dilanggar dapat berakibat dijatuhkannya hukuman seperti yang diancam- kan undang-undang terhadap pelanggarnya.
Pendapat von Feuerbach mengenai asas legalitas dapat disimpulkan yaitu seseorang tidak dapat dihukum karena suatu perbuatan kecuali atas suatu undang-undang yang telah berlaku sebelum perbuatan itu dilakukan.