1 A. Latar Belakang
Di Era globalisasi seperti saat ini membuat pesatnya perkembangan tekonologi yaitu ditandai dengan meningkatnya penggunaan gadget atau alat-alat yang mudah tekoneksi ke internet. Seiring dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang berkembang akhir–akhir ini sebagai tuntutan globalisasi mengharuskan seseorang untuk selalu mendapat informasi mutakhir, baik melalui media elektronik, media massa, internet serta penggunaan komputer yang sangat luas (Irsad Sadri, 2003). Abad ke-21 komputer digunakan hampir pada semua kegiatan, manusia seolah- olah sudah sangat tergantung pada kemampuan komputer yang diciptakan untuk membantu aktivitas (Anies,dalam Suci Febrianti, 2018).
Data organisasi kesehatan dunia (WHO) menunjukkan angka kejadian Computer Vision Syndrome (CVS) tahun 2004 berkisar 40-90% diantara pengguna komputer dan sudah diperkirakan hampir 60 juta orang menderita CVS secara global dan sekitar satu juta kasus baru terjadi setiap tahunnya (Akinbinu & Mashalla dalam Suci Febrianti, 2018). Pada saat menggunakan komputer biasanya seseorang akan terfokus pada layar komputer dalam waktu yang cukup lama, hal tersebut dapat menyebabkan masalah pada mata seperti mata kering, kemerahan, iritasi, mata lelah,
mata tegang, pandangan kabur sementara, peka terhadap rangsang cahaya dan masalah otot sebagai akibat penggunaan komputer (Wimalasundera, Ansel, dalam Muchamad Sugarindra, 2017).
Penggunaan komputer juga telah dimanfaatkan dalam bidang perkantoran di Kalimantan Barat, salah satunya yaitu di Bank Kalbar.
Bank Kalbar memiliki sejumlah karyawan yang menggunakan komputer sebagai alat bantu kerja, sehingga menjadikan mereka rentan untuk mengalami gangguan kesehatan akibat penggunaan komputer, khususnya gangguan pada mata. Penelitian yang dilakukan oleh Yeni Anggraeni pada Februari 2012 terhadap sepuluh operator komputer di Bank Kalbar Kantor Pusat, mendapatkan sebanyak 100% pekerja mengalami keluhan CVS, seluruhnya menggunakan komputer lebih dari empat jam per hari, yang menyebabkan pekerja rentan untuk mengalami keluhan CVS. Tiga keluhan CVS yang paling banyak dialami pekerja yaitu mata tegang/pegal (80%), pandangan kabur (50%) dan sakit kepala (50%) (Yeni Anggraeni, 2012).
Dalam waktu yang lama, dan jarak yang kurang dari standar ukur dapat menimbulkan kelelahan mata seperti pegal, mata pedih, mata berair, mata merah dan penglihatan kabur (Affandi dalam Taufan Elfananda, 2007).
Mata pedih dalam penggunaan komputer juga dapat disebabkan oleh kurangnya refleks berkedip pada saat memusatkan penglihatan pada layar komputer. Studi menunjukkan bahwa tingkat mengedipkan mata para pekerja yang berhadapan dengan komputer masih sangat rendah. Pada pengguna VDT (Video Display Terminal) seperti komputer, refleks
berkedipnya berkurang 66% yaitu 3-6 kali per menit. Ini menyebabkan mata menjadi kering. Selain itu juga menyebabkan ketegangan pada otot mata (Melati Aisyah Permana, Koesyanto dkk,2015).
Penurunan jumlah refleks berkedip berperan terhadap rendahnya produksi air mata dan secara temporer menimbulkan stres pada kornea dan mengakibatkan mata kering. Untuk mengurangi kemugkinan terjadinya mata kering ketika menggunakan komputer, dianjurkan untuk lebih sering berkedip untuk menjaga kelembaban permukaan okular. Refleks berkedip yang tidak sempurna juga ditemukan pada pengguna komputer yang juga berdampak terhadap stabilitas air mata (Muhammad Irfan Dwiputra Rianil, Wildan dkk,2018).
Seseorang yang menggunakan komputer dalam waktu yang cukup lama juga dihadapkan pada penurunan frekuensi mengedip. lapisan air mata yang normal dibersihkan dan diganti melalui proses mengedip oleh kelopak mata. Reflek mengedip adalah salah satu reflek tercepat yang sudah ada ketika lahir. Jumlah kedipan bervariasi dengan aktifitas yang berbeda, cepat ketika kita sedang aktif, dan lambat ketika kita sedang sedatif atau berkonsentrasi. Penelitian menunjukan bahwa frekuensi mengedip pada pengguna komputer menurun drastis selama melakukan aktifitas dengan menggunakan komputer. Hal ini disebabkam konsentrasi terhadap aktifitas dan pergerakan mata yang terbatas sehingga terjadi penurunan produksi air mata atau peningkatan penguapan air mata (Imgardis Teti, 2012).
Namun sebaliknya, pada beberapa pengguna komputer dilaporkan mengeluh mata berair. Penjelasan yang memungkinkan mengenai mata berair selama penggunaan komputer dihubungkan dengan kompensasi terhadap mata kering yang akan memicu refleks lakrimasi. Menurut Haine refleks air mata memiliki komposisi yang berbeda dengan air mata normal yang dibutuhkan untuk membasahi permukaan mata. Refleks lakrimasi terdiri dari aquos dalam jumlah banyak namun komposisi musin dan lipidnya sangat sedikit (Muhammad Irfan Dwiputra Rianil, Wildan dkk,2018).
Penelitian pendahuluan yang dilakukan oleh penulis, melakukan uji schirmer test I pada 3 orang (3 mata) mahasiswa STIKes Dharma Husada Bandung Program Studi D3 Refraksi Optisi dengan menguji sebelum dan sesudah 2 jam menggunakan komputer memperoleh hasil sebagai berikut : a. Pada pasien A sebelum menggunakan komputer kadar air matanya 24
mm yang berati mata basah dan sesudah 2 jam menggunakan komputer kadar air matanya 16 mm yang berati mata basah.
b. Pada pasien B sebelum menggunakan komputer kadar air matanya 10 mm yang berati mata kering ringan dan sesudah 2 jam menggunakan komputer kadar air matanya 7 mm yang berati mata kering sedang.
c. Pada pasien C sebelum menggunakan komputer kadar air matanya 14 mm yang berati mata kering ringan dan sesudah 2 jam menggunakan komputer kadar air matanya 8 mm yang berati mata kering sedang.
Maka didapatkan bahwa 100% pengukuran mengalami penurunan setelah
menggunakan komputer selama 2 jam. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti mengenai “Perbandingan hasil uji schirmer test I sebelum dan sesudah 2 jam menggunakan komputer di STIKes Dharma Husada Bandung tahun 2019”.
B. Identifikasi Masalah
Dengan latar belakang tersebut, maka identifikasi masalah sebagai berikut: “Bagaimana hasil dari uji schirmer test I sebelum dan sesudah 2 jam yang terjadi pada mata akibat penggunaan komputer.”
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui perbedaan hasil uji schirmer test I sebelum dan sesudah 2 jam penggunaan komputer.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui hasil uji schirmer test I sebelum menggunakan komputer.
b. Untuk mengetahui hasil uji schirmer test I sesudah 2 jam menggunakan komputer.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a. Bermanfaat bagi masyarakat untuk menambah wawasan tentang penggunaan komputer khususnya pada penggunaan intens komputer.
b. Bermanfaat sebagai sarana untuk belajar bagi mahasiswa khususnya program studi D3 Refraksi Optisi.
2. Manfaat praktis a. Bagi Penulis
Untuk menambah wawasan penulis dan dapat mengaplikasikan hasil penelitian.
b. Bagi Institusi
Sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian.
c. Bagi Masyarakat
Sebagai pencegahan terjadinya mata kering pada pengguna komputer.
E. Ruang Lingkup Penelitian 1. Lingkup Masalah
Masalah yang akan diteliti mengenai hasil uji schirmer test I sebelum dan sesudah 2 jam penggunaan komputer.
2. Lingkup Metode
Penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan metode perhitungan Uji Wilcoxon.
3. Lingkup Sasaran
Penelitian dilakukan pada mahasiswa Teknik Informatika angkatan 2016 di Universitas Komputer Indonesia.
4. Lingkup keilmuan
Penelitian ini mendalami bidang keilmuan Refraksi Optisi khusunya Lensa kontak.
5. Lingkup Tempat dan Waktu
Penelitian dilakukan di Universitas Komputer Indonesia tahun 2019.