MAKALAH KORUPSI
Dosen Pengampu : Sarwo Prasojo, S. Sos
Disusun Oleh : KELOMPOK 1
Jesyka Setya Margareta (202222011) Rafael Nikanor W R (202222020) Rahel Antika Sukma (202222021) Rut Septiana Wardani (202222023)
PRODI ADMINISTRASI RUMAH SAKIT STIKES PANTI WILASA SEMARANG
Tahun 2022/2023
Jl. Ciliwung IX No.1, Mlatiharjo, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, Jawa Tengah 50126
No Telepon (024) 3561513 https://stikespantiwilasa.ac.id/
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Yang sudah memberikan berkat dan karunianya kepada kami sehingga kami bisa menyusun tugas makalah ini dengan baik dan bisa mengumpulkannya tepat waktu. Adapun tujuan dari makalah paper ini adalah memenuhi tugas mata pelajaran Anti Korupsi yang membahas mengenai
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung dalam penyusunan makalah paper ini.
Kami sadar makalah paper ini belum sempurna dan memerlukan berbagai perbaikan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak.
Semarang, 16 Oktober 2022
Kelompok 1
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 3
1.1. LATAR BELAKANG 4 1.2. RUMUSAN MASALAH 5 1.3. TUJUAN PEMBAHASAN6 BAB II LANDASAN TEORI 1
2.1. PENGERTIAN KORUPSI 2 2.2. PENYEBAB DARI KORUPSI 3 2.3. DAMPAK DARI KORUPSI 3
2.4. UNDANG-UNDANG YANG BERKAITAN DENGAN KORUPSI 3
BAB III KASUS KORUPSI DI INDONESIA 4 BAB IV PENUTUP 1
3.1. ABSTRAK 2 3.2. SARAN 3
DAFTAR PUSTAKA 4
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Seperti yang kita tahu bahwa Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang dimana membutuhkan banyak dana untuk melakukan pengembangan dan pembangunan dalam skala besar. Pengeluaran yang dilakukan pemerintah tidak digunakan secara langsung melainkan diberikan atau disalurkan terhadap masing- masing pemerintah daerah yang akan mengelola dana tersebut. Dana yang diberikan bernama Dana Otonomi Daerah. Menurut BAKN pada 2018 telah mentransfer Dana Otonomi Khusus (Otsus) dan Dana Keistimewaan sebesar Rp 145,53 triliun ke 3 provinsi yaitu Papua, Papua Barat, dan Aceh dengan Harapan pengeluaran dana tersebut mampu meningkatkan ekonomi masyarakat, mewujudkan keadilan, dan pemberdayaan sumber daya manusia. Bisa dilihat bahwa dana yang dikeluarkan untuk pengembangan suatu daerah bukanlah dana yang kecil, jadi diperlukannya pengawasan yang ketat, bukti nyata dari penggunaan dana yang diberikan, dan pengendalian diri yang baik dari para pejabat. Jika dana tersebut tidak diawasi dan dikelola dengan baik maka akan terjadi penggelapan dana atau korupsi yang digunakan untuk kepentingan pribadi para koruptor.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari korupsi?
2. Mengapa korupsi bisa terjadi?
3. Apa dampak dari korupsi yang sudah terjadi?
4. Apakah ada orang atau lembaga yang mengurus kasus korupsi bila terjadi?
5. Apakah ada UU yang mengatur perihal korupsi?
6. Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi bahkan memberantas korupsi yang sering terjadi?
7. Apa ada kasus korupsi di Indonesia?
1.3. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui pengertian korupsi.
2. Untuk mengetahui penyebab atau latar belakang terjadinya korupsi.
3. Untuk mengetahui dampak adanya korupsi.
4. Untuk mengetahui lebih jelas apakah ada orang atau lembaga yang mengurusi kasus korupsi.
5. Untuk mengetahui lebih lanjut jika ada UU yang mengatur perihal korupsi.
6. Untuk mengetahui langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk memberantas korupsi.
7. Untuk mengetahui bagaimana jalannya penyelesaian kasus korupsi di Indonesia.
BAB II Pembahasan 2.1. Pengertian Korupsi secara Teoritis
Kata korupsi berasal dari bahasa latin corruptio atau corruptus. Corruptio memiliki arti beragam yakni tindakan merusak atau menghancurkan yang juga bisa diartikan sebagai kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang menghina atau memfitnah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan, organisasi, yayasan, dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Definisi lainnya dari korupsi disampaikan World Bank pada tahun 2000, yaitu korupsi adalah penyalahgunaan kekuasaan publik untuk keuntungan pribadi. Definisi World Bank ini menjadi standar internasional dalam merumuskan korupsi. Pengertian korupsi juga disampaikan oleh Asian Development Bank (ADB), yaitu kegiatan yang melibatkan perilaku tidak pantas dan melawan hukum dari pegawai sektor publik dan swasta untuk memperkaya diri sendiri dan orang-orang terdekat mereka.
Menurut kami tindakan korupsi merupakan tindakan dimana orang-orang uang untuk kepentingan pribadi atau pemuas kebutuhan dalam kehidupannya. Jadi korupsi merupakan penyakit dari para penguasa, demi keuntungan pribadi, dan keteledoran dalam pengawasan sumber-sumber kekayaan negara yang dimanipulasi menggunakan wewenang dan kekuatan-kekuatan formal (misalnya denagan alasan hukum dan kekuatan senjata) untuk memperkaya diri sendiri.
2.2. Penyebab Korupsi
Terjadinya korupsi disebabkan karena penyalahgunaan wewenang dan jabatan yang dimiliki oleh seorang pejabat atau pegawai demi kepentingan pribadi tanpa memikirkan dampaknya secara keseluruhan. Penyebab yang mendorong terjadinya Tindakan korupsi adalah gaya hidup, tekanan keluarga, terlalu memikirkan status, tidak tegasnya para penegak hukum, rendahnya sumber daya manusia, keserakahan, pendirian, dan etika yang lemah.
2.3. Dampak Korupsi
Dampak Korupsi di Bidang Ekonomi :
1. Pertumbuhan ekonomi yang lambat akibat dari multiplier effect rendahnya tingkat investasi.
2. Menambah beban dalam transaksi ekonomi dan menciptakan sistem kelembagaan yang buruk.
3. Menyebabkan biaya transaksi ekonomi menjadi semakin tinggi.
4. Menyebabkan inefisiensi dalam perekonomian.
5. Membuat kesenjangan sosial semakin lebar.
6. Uang pembelanjaan pemerintah menjadi lebih sedikit.
7. Menghambat kehidupan yang layak, pendidikan yang baik, ataupun fasilitas kesehatan yang mencukupi bagi rakyat.
Dampak Korupsi di Bidang Kesehatan :
1. Buruknya pelayanan kesehatan, karena peralatan yang tidak memadai dan kekurangan obat.
2. Membuat masyarakat sulit mengakses pelayanan kesehatan yang berkualitas.
3. Perangkat medis yang dibeli berkualitas buruk, kinerja pelayanan yang buruk serta tidak presisi, dan juga pembelian persediaan obat yang keampuhannya dipertanyakan.
Dampak Korupsi di Bidang Infrastruktur :
1. Kualitas bangunan yang buruk yang dapat mengancam keselamatan publik.
2. Proyek infrastruktur yang tidak akan bertahan lama dan cepat rusak.
Korupsi Meningkatkan Kemiskinan
Kemiskinan menurut klasifikasi Badan Pusat Statistik, yaitu:
1. Kemiskinan absolut, Warga dengan pendapatan di bawah garis kemiskinan atau tidak cukup memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan, kesehatan, perumahan dan pendidikan yang dibutuhkan untuk dapat hidup dan bekerja dengan layak.
2. Kemiskinan relative, Kemiskinan yang terjadi karena pengaruh kebijakan yang dapat menyebabkan ketimpangan pendapatan.
3. Kemiskinan kultural, Merupakan kemiskinan yang disebabkan oleh faktor adat atau budaya yang membelenggu sehingga tetap berada dalam kondisi miskin.
4. Kemiskinan structural, Merupakan kemiskinan yang terjadi akibat ketidakberdayaan seseorang atau sekelompok masyarakat tertentu terhadap sistem yang tidak adil sehingga mereka tetap terjebak dalam kemiskinan.
Dampak Korupsi di Bidang Budaya :
1. Masyarakat akan menganggap korupsi sebagai hal lumrah dan bukan sesuatu yang berbahaya yang membuat korupsi mengakar di tengah masyarakat sehingga menjadi norma dan budaya.
2. Mengurangi rasa bersalah seseorang ketika melakukan korupsi karena sudah menjadi hal yang lumrah dan dilakukan oleh banyak orang.
2.4. Undang-Undang Yang Berkaitan Dengan Korupsi
1. UU No. 3 tahun 1971 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Undang-undang ini dikeluarkan di masa Orde Baru. UU No. 3 tahun 1971 mengatur pidana penjara maksimum seumur hidup serta denda maksimal Rp 30 juta bagi semua delik yang dikategorikan korupsi. Walau UU ini telah menjabarkan dengan jelas tentang definisi korupsi, yaitu perbuatan merugikan keuangan negara dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain,
namun kenyataannya korupsi, kolusi, dan nepotisme masih marak terjadi di masa itu. Sehingga pada pemerintahan-pemerintahan berikutnya, undang- undang antikorupsi bermunculan dengan berbagai macam perbaikan di sana- sini. UU No. 3 tahun 1971 ini dinyatakan tidak berlaku lagi setelah digantikan oleh Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
2. Ketetapan MPR No XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas KKN
Terbentuknya badan-badan negara untuk mendukung upaya pemberantasan korupsi, antara lain: Tim Gabungan Penanggulangan Tindak Pidana Korupsi, Komisi Ombudsman Nasional, Komisi Pemeriksa Kekayaan Pejabat Negara dan beberapa lainnya. Dalam TAP MPR itu ditekankan soal tuntutan hati nurani rakyat agar reformasi pembangunan dapat berhasil, salah satunya dengan menjalankan fungsi dan tugas penyelenggara negara dengan baik dan penuh tanggung jawab, tanpa korupsi. TAP MPR itu juga memerintahkan pemeriksaan harta kekayaan penyelenggara negara, untuk menciptakan kepercayaan publik.
3. UU no 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN
Dalam UU no 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN ini dijelaskan definisi soal korupsi, kolusi dan nepotisme, yang kesemuanya adalah tindakan tercela bagi penyelenggara negara. Dalam UU juga diatur pembentukan Komisi Pemeriksa, lembaga independen yang bertugas memeriksa kekayaan penyelenggara negara dan mantan penyelenggara negara untuk mencegah praktik korupsi. Bersamaan pula ketika itu dibentuk Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Ombudsman.
4. UU Nomor 20 Tahun 2001 jo UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
UU ini menjelaskan bahwa korupsi adalah tindakan melawan hukum dengan maksud memperkaya diri sendiri, orang lain, atau yang berakibat merugikan negara atau perekonomian negara Definisi korupsi dijelaskan dalam 13 buah pasal dalam UU ini. Berdasarkan pasal-pasal tersebut, korupsi dipetakan ke dalam 30 bentuk, yang dikelompokkan lagi menjadi 7 jenis, yaitu penggelapan dalam jabatan, pemerasan, gratifikasi, suap menyuap, benturan kepentingan dalam pengadaan, perbuatan curang, dan kerugian keuangan negara.
5. Peraturan Pemerintah No 71 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Melalui peraturan ini, pemerintah ingin mengajak masyarakat turut membantu pemberantasan tindak pidana korupsi. Peran serta masyarakat yang diatur dalam peraturan ini adalah mencari, memperoleh, memberikan data atau
informasi tentang tindak pidana korupsi. Masyarakat juga didorong untuk menyampaikan saran dan pendapat untuk mencegah dan memberantas korupsi. Hak-hak masyarakat tersebut dilindungi dan ditindaklanjuti dalam penyelidikan perkara oleh penegak hukum. Atas peran sertanya, masyarakat juga akan mendapatkan penghargaan dari pemerintah yang juga diatur dalam PP ini.
6. UU No 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Undang-Undang No 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menjadi pencetus lahirnya KPK. Karena Kejaksaan dan Kepolisian dianggap tidak efektif memberantas tindak pidana korupsi sehingga dianggap perlu adanya lembaga khusus untuk melakukannya. KPK dibentuk dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. KPK dalam menjalankan tugas dan wewenangnya bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun. Kemudian UU ini disempurnakan dengan revisi UU KPK pada 2019 dgn terbitnya Undang-Undang No 19 Tahun 2019. Dalam UU 2019 diatur soal peningkatan sinergitas antara KPK, kepolisian dan kejaksaan untuk penanganan perkara tindak pidana korupsi.
7. UU No 15 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang
Dalam UU ini diatur soal penanganan perkara dan pelaporan pencucian uang dan transaksi keuangan yang mencurigakan sebagai salah satu bentuk upaya pemberantasan korupsi. Dalam UU ini juga pertama kali diperkenalkan lembaga Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang mengkoordinasikan pelaksanaan upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang di Indonesia.
8. Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2018 tentang Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK)
Perpres ini merupakan pengganti dari Perpres No 55 Tahun 2012 tentang Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Jangka Panjang Tahun 2012-2025 dan Jangka Menengah Tahun 2012-2014. Stranas PK yang tercantum dalam Perpres ini adalah arah kebijakan nasional yang memuat fokus dan sasaran pencegahan korupsi yang digunakan sebagai acuan kementerian, lembaga, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya dalam melaksanakan aksi pencegahan korupsi di Indonesia. Sementara itu, Aksi Pencegahan Korupsi (Aksi PK) adalah penjabaran fokus dan sasaran Stranas PK dalam bentuk program dan kegiatan. Ada tiga fokus dalam Stranas PK, yaitu Perizinan dan Tata Niaga, Keuangan Negara, dan Penegakan Hukum dan Demokrasi Birokrasi.
9. Peraturan Presiden No.102/2020 tentang tentang Pelaksanaan Supervisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Perpres ini mengatur supervisi KPK terhadap instansi yang berwenang melaksanakan pemberantasan tindak pidana korupsi, yaitu Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Kejaksaan Republik Indonesia. Perpres ini juga
mengatur wewenang KPK untuk mengambil alih perkara tindak pidana korupsi yang sedang ditangani oleh Polri dan Kejaksaan. Perpres ini disebut sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat kinerja KPK dalam pemberantasan korupsi.
10. Permenristekdikti Nomor 33 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penyelenggaraan Pendidikan Anti Korupsi (PAK) di Perguruan Tinggi
Pemberantasan korupsi bukan sekadar penindakan, namun juga pendidikan dan pencegahan. Oleh karena itu Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi mengeluarkan peraturan untuk menyelenggarakan pendidikan antikorupsi (PAK) di perguruan tinggi. Melalui Permenristekdikti Nomor 33 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penyelenggaraan Pendidikan Anti Korupsi (PAK) di Perguruan Tinggi, perguruan tinggi negeri dan swasta harus menyelenggarakan mata kuliah pendidikan antikorupsi di setiap jenjang, baik diploma maupun sarjana. Selain dalam bentuk mata kuliah, PAK juga bisa diwujudkan dalam bentuk kegiatan Kemahasiswaan atau pengkajian, seperti kokurikuler, ekstrakurikuler, atau di unit kemahasiswaan. Adapun untuk Kegiatan Pengkajian, bisa dalam bentuk Pusat Kajian dan Pusat Studi.
Kegiatan pengajaran PAK ini harus dilaporkan secara berkala ke Kementerian melalui Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan.
BAB III
KASUS KORUPSI DI INDONESIA
Proses penegakan hukum yang harus dilalui Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Gubernur Papua Lukas Enembe yang ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta gratifikasi senilai Rp 1 miliar masih alot. KPK menetapkan Lukas Enembe sebagai tersangka sejak 5 September 2022. Selain dilarang bepergian ke luar negeri, beberapa rekening sebesar Rp 71 miliar yang diduga terkait dengan Lukas Enembe telah diblokir oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Keluarga Lukas Enembe tidak menghadiri panggilan KPK pada 12 September.
Kemudian KPK menjadwalkan pemeriksaan kedua terhadap Lukas Enembe pada 25 September 2022. Untuk kedua kalinya Enembe kembali tidak hadir lagi dengan alasan kesehatan. Pihak Lukas Enembe juga sudah mengajukan permohonan agar KPK memberikan izin kepada yang bersangkutan untuk berobat ke Singapura. Namun, KPK tetap meminta supaya Enembe terlebih dahulu datang ke Jakarta.
Istri dan Anak Lukas Enembe Tak Penuhi Panggilan merupakan salah satu hak masyarakat sesuai dengan KUHP Pasal 168 dan Pasal 35 Undang-undang Tipikor yang menjelaskan, orang yang mempunyai hubungan perkawinan suami, istri, anak atau terikat pekerjaan selaku atasan, bawahan mempunyai hak menolak pemeriksaan untuk didengar keterangan sebagai saksi. KPK menolak alasan tersebut dan mengancam Jemput Paksa Istri dan Anak Lukas Enembe jika Kembali Mangkir. Selain itu, Ali menegaskan, pemanggilan Yulce dan Bona tidak hanya sebagai saksi bagi Lukas. Karena itu, KPK menilai alasan mereka tidak menghadiri panggilan penyidik karena masih memiliki hubungan keluarga dengan Lukas tidak dapat diterima.
"Pemanggilan para saksi tersebut tidak hanya untuk tersangka Lukas Enembe saja sehingga tidak ada alasan hukum untuk tidak hadir karena ada hubungan keluarga,"
tutur Ali.
KPK menyatakan segera menjadwalkan ulang pemeriksaan terhadap Yulce dan Bona. KPK Masih Wait and See Sebelum Kembali Panggil Lukas Enembe Jika pada panggilan kedua tersebut mereka kembali mangkir, KPK bisa melakukan jemput paksa sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Selain itu, Ali meminta supaya pihak-pihak lain tidak mempengaruhi saksi sehingga enggan memenuhi panggilan pemeriksaan penyidik KPK.
Beberapa bukti korupsi Lukas Enembe : 1. Jam tangan seharga Rp550 juta.
2. Unjuk rasa yang mendukung Lukas Enembe.
3. Dugaan aliran dana ke rumah judi sebesar 5 juta dollar dan kasino sebesar Rp 560 milliar.
4. Laporan kekayaan Lukas Enembe Yang mencapai Rp 33,7 miliar. Harta itu terdiri atas enam tanah dan bangunan yang berlokasi di Jayapura diperkirakan mencapai Rp13,6 miliar. Lukas juga memiliki 4 mobil yang terdiri
atss Toyota Fortuner, Toyota Land Cruiser, Toyota Camry dan Honda Jazz dengan total nilai Rp 932 juta. Lukas juga menyimpan harta yang digolongkan surat berharga Rp1,2 miliar. Adapun, uang cash yang dimiliki Lukas nilainya Rp 17,9 miliar.
5. Dideportasi Papua Nugini karena masuk melalui jalur ilegal.
BAB IV PENUTUP 3.1. Abstrak
Korupsi adalah suatu tindak pidana yang memperkaya atau menguntungkan diri secara langsung yang merugikan masyarakat dan perekonomian negara. Adapun penyebabnya terjadinya korupsi antara lain, gaya hidup, tekanan keluarga, terlalu memikirkan status, tidak tegasnya para penegak hukum, rendahnya sumber daya manusia, keserakahan, pendirian, dan etika yang lemah. Korupsi berdampak hampir pada semua aspek kehidupan yaitu di Bidang Ekonomi, di Bidang Kesehatan, di Bidang Infrastruktur, di Bidang Budaya, dan Meningkatkan Kemiskinan Masyarakat. KPK adalah Lembaga yang mengurusi kasus korupsi di Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. Kita bisa mengurangi terjadinya korupsi di generasi yang akan dengan dengan cara mengajari etika yang baik, memiliki pendirian yang teguh, bertanggung jawab, mandiri, dan tidak terlalu memperhatikan status sosial.
3.2. Saran
Sikap untuk menghindari korupsi seharusnya ditanamkan sejak dinidengan cara mengajari etika yang baik, memiliki pendirian yang teguh, bertanggung jawab, mandiri, dan tidak terlalu memperhatikan status sosial.
Menurut kami yang harus dilakukan guna mengurangi tindak korupsi, antara lain : 1. Mempertegas hukum yang berkaitan dengan korupsi..
2. Membuat lembaga yang mengawasi dana negara secara langsung.
3. Mendidik ulang etika orang-orang yang akan memimpin suatu negara, daerah, tempat, ataupun lembaga.
Daftar Pustaka
1. https://djpk.kemenkeu.go.id/?ufaq=bagaimana-pemanfaatan-dana-otsus 2. https://opini.harianjogja.com/read/2021/01/08/543/1059978/opini-mengatasi-
kebocoran-bansos
3. https://aclc.kpk.go.id/action-information/lorem-ipsum/20220411-null
4. https://aclc.kpk.go.id/aksi-informasi/Eksplorasi/20220520-kenali-bahayanya- dampak-korupsi-di-berbagai-bidang-ini
5. https://www.dpr.go.id/berita/detail/id/26906/t/
Dana+Otsus+Sudah+Mencapai+Rp+145%2C53+Triliun
6. https://nasional.kompas.com/read/2022/10/07/05591561/saat-perkara-korupsi- lukas-enembe-merembet-hingga-anak-dan-istri
7. https://nasional.tempo.co/read/1636394/5-hal-tentang-lukas-enembe-yang- terlibat-kasus-korupsi-dan-pencucian-uang
8. https://aclc.kpk.go.id/aksi-informasi/Eksplorasi/20220510-kenali-dasar-hukum- pemberantasan-tindak-pidana-korupsi-di-indonesia