Top PDF DESAIN DIDAKTIS DENGAN SCAFFOLDING UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLE MATERI PENJUMLAHAN PECAHAN ALJABAR DI SMP

DESAIN DIDAKTIS DENGAN SCAFFOLDING UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLE MATERI PENJUMLAHAN PECAHAN ALJABAR DI SMP

DESAIN DIDAKTIS DENGAN SCAFFOLDING UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLE MATERI PENJUMLAHAN PECAHAN ALJABAR DI SMP

Pada penelitian ini peneliti memberikan saran sebagai berikut: (1) Bagi guru matematika untuk mempertimbangkan hasil penelitian ini dan dijadikan sebagai salah satu acuan dalam pembelajaran matematika terutama dalam mengahadapi siswa yang mengalami hambatan dalam pembelajaran matematika. (2) Bagi peneliti lain apabila akan melakukan penelitian, sebaiknya mempelajari metode penelitian terlebih dahulu sebelum membuat proposal penelitian, sehingga tahapan untuk melakukan penelitian lebih jelas dan terarah. Dapat pula melakukan penelitian sejenis dengan menggunakan materi selain operasi penjumlahan pecahan aljabar dalam bidang studi matematika. Dan dapat membuat desain didaktis yang lebih baik lagi karena tidak ada desain didaktis yang sempurna melainkan membutuhkan pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

DESAIN DIDAKTIS KONSEP LUAS PERMUKAAN PRISMA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMP BERDASARKAN LEARNING OBSTACLE DAN LEARNING TRAJECTORY - repository UPI S MAT 1005293 Titel

DESAIN DIDAKTIS KONSEP LUAS PERMUKAAN PRISMA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMP BERDASARKAN LEARNING OBSTACLE DAN LEARNING TRAJECTORY - repository UPI S MAT 1005293 Titel

Desain Didaktis Konsep Luas Permukaan Prisma pada Pembelejaran Matematika SMP Berdasarkan Learning Obstacle dan Learning Trajectory Oleh Anna Suzana Sebuah skripsi yang diajukan u[r]

3 Baca lebih lajut

DESAIN DIDAKTIS MODEL PROBLEM SOLVING UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLE POKOK BAHASAN TEOREMA PYTHAGORAS DAN MENINGKATKAN SIKAP MATEMATIS SISWA SMP.

DESAIN DIDAKTIS MODEL PROBLEM SOLVING UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLE POKOK BAHASAN TEOREMA PYTHAGORAS DAN MENINGKATKAN SIKAP MATEMATIS SISWA SMP.

Pembelajaran matematika di Indonesia pada umumnya menggunakan model konvensional dengan kegiatan guru mengungkapkan rumus-rumus dan dalil-dalil matematika terlebih dahulu, kemudian siswa berlatih soal-soal rutin yang disediakan. Ketika siswa dihadapkan pada soal-soal non-rutin kemungkinan siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal atau permasalahan atau dapat disebut sebagai learning obstacle (hambatan belajar). Sebagai antisipasi agar learning obstacle yang sama tidak terulang kembali, maka dibuatlah suatu desain didaktis yang dilengkapi dengan prediksi respon siswa. Desain didaktis awal diujicobakan untuk kemudian mendapatkan perbaikan demi penyempurnaan desain didaktis selanjutnya. Langkah- langkah tersebut dirumuskan secara formal kedalam suatu aktivitas penelitian yang disebut Penelitian Desain Didaktis atau didactical dasign research (DDR). Penelitian ini difokuskan pada pokok bahasan teorema Pythagoras. Subjek penelitian meliputi siswa kelas VIII SMP untuk uji desain didaktis. Metode penelitian yang dipakai adalah metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan teknik triangulasi yaitu gabungan dari observasi dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh desain didaktis yang dilengkapi dengan prediksi respon, dengan menjadikan learning obstacle sebelumnya dan re-personalisasi dari sejarah teorema Pythagoras sebagai acuan dalam pembuatannya. Analisis respon siswa selama implementasi desain didaktis dapat dijadikan sebagai landasan untuk pengkajian lebih mendalam selanjutnya. Untuk respon yang lebih beragam dan pengkajian lebih mendalam maka desain didaktis yang telah dibuat disarankan untuk dilakukan penelitian selanjutnya secara lebih menyeluruh dari berbagai tingkat kemampuan.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

DESAIN DIDAKTIS PERBANDINGAN SENILAI DAN BERBALIK NILAI PADA SISWA SMP DITINJAU DARI LEARNING OBSTACLE DAN LEARNING TRAJECTORY.

DESAIN DIDAKTIS PERBANDINGAN SENILAI DAN BERBALIK NILAI PADA SISWA SMP DITINJAU DARI LEARNING OBSTACLE DAN LEARNING TRAJECTORY.

Penelitian ini bertujuan untuk menyusun desain didaktis pada materi perbandingan senilai dan berbalik nilai untuk siswa SMP yang ditinjau dari learning obstacle dan learning trajectory. Desain didaktis ini terdiri dari lima desain yang diperoleh dari tiga langkah yang saling berkaitan, yaitu sebelum pembelajaran, ketika pembelajaran berlangsung, dan setelah pembelajaran. Langkah pertama, terjadi proses penyusunan desain didaktis awal yang terdiri dari situasi didaktis, prediksi respon, dan analisis prospektif. Penyusunan desain didaktis awal ini mengacu pada rekomendasi awal yang diperoleh melalui hasil identifikasi learning obstacle siswa yang dilakukan dengan menganalisis jawaban siswa pada soal tes tentang materi perbandingan senilai dan berbalik nilai yang diberikan kepada 65 siswa kelas IX SMP di Bandung, menganalisis hasil wawancara dengan guru dan siswa, serta menganalisis buku pelajaran matematika. Langkah kedua, analisis metapedadidaktik melalui implementasi desain didaktis awal kepada 32 siswa kelas VIII SMP di Bandung (sekolah tempat studi pendahuluan). Ketiga, analisis retrosfektif. Hal ini dilakukan untuk memperoleh rekomendasi akhir untuk merevisi desain didaktis awal menjadi desain didaktis revisi. Berdasarkan hasil penelitian, desain didaktis yang dikembangkan ini dapat dijadikan salah satu alternatif pembelajaran materi perbandingan senilai dan berbalik nilai karena dapat mengurangi learning obstacle siswa yang ditemukan.
Baca lebih lanjut

41 Baca lebih lajut

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLE PADA MATERI HUBUNGAN SUDUT PUSAT, PANJANG BUSUR, DAN LUAS JURING LINGKARAN.

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLE PADA MATERI HUBUNGAN SUDUT PUSAT, PANJANG BUSUR, DAN LUAS JURING LINGKARAN.

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain didaktis pada pembelajaran materi lingkaran SMP, khususnya hubungan sudut pusat, panjang busur, dan luas juring lingkaran. Desain didaktis yang dikembangkan terdiri dari tiga kegiatan yang diperoleh dari tiga tahap formal yang dilakukan penulis selama proses penelitian. Tahap pertama adalah analisis situasi didaktis sebelum pembelajaran untuk memperoleh desain didaktis hipotetik. Penyusunan desain didaktis hipotetik didahului dengan studi pendahuluan yang meliputi identifikasi learning obstacle siswa serta analisis teoritis dan repersonalisasi. Identifikasi learning obstacle siswa dilakukan di suatu SMP di kota Jakarta Selatan dengan melibatkan 34 siswa kelas IX dengan menganalisis hasil jawaban siswa atas soal- soal yang diberikan, menganalisis hasil wawancara guru dan siswa, serta menganalisis buku teks pelajaran yang digunakan di sekolah. Tahap kedua adalah analisis metapedadidaktik yang tercermin dalam implementasi desain. Implementasi desain dilakukan di SMP tempat studi pendahuluan dengan melibatkan 36 siswa kelas VIII. Tahap ketiga merupakan tahap refleksi dengan melakukan analisis retrospektif. Hal ini dilakukan guna memperoleh informasi untuk revisi desain hingga menghasilkan desain didaktis empirik. Desain didaktis empirik yang dihasilkan memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut melalui tiga tahap formal yang sama.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

S MAT 1001048 Abstack

S MAT 1001048 Abstack

Penelitian ini berjudul “Desain Didaktis Pada Pembuktian Luas Daerah Bangun Datar Segitiga dan Segiempat Untuk Mengatasi Learning Obstacle Siswa Sekolah Menengah Pertama ”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya learning obstacle, khususnya hambatan epistimologis pada materi luas daerah bangun datar segitiga dan segiempat. Untuk mengurangi hambatan epistimologis, dibuatlah desain didaktis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui desain didaktis materi luas daerah bangun datar segitiga dan segiempat dan mengetahui sejauh mana desain didaktis ini dapat mengatasi hambatan epistimologis pada materi luas daerah bangun datar segitiga dan segiempat. Penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 49 Bandung pada kelas VII-2 menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpuan data melalui tes, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini berupa desain didaktis pada materi luas daerah bangun datar segitiga dan segiempat yang terdiri dari lima lesson design dan dengan desain didaktis yang telah dikembangkan ini dapat mengatasi learning obstacle yang muncul. Desain didaktis ini dapat dijadikan salah satu alternatif bahan ajar pada pembelajaran materi luas daerah bangun datar segitiga dan segiempat.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

T MTK 1303076 Chapter5

T MTK 1303076 Chapter5

Beberapa rekomendasi yang dapat dijadikan pertimbangan, khususnya bagi yang akan menggunakan desain didaktis hasil penelitian ini dalam pembelajaran materi pecahan di SMP, maupun menjadikan sebagai referensi penelitian selanjutnya adalah sebagai berikut :

3 Baca lebih lajut

T MTK 1302452 Table of Content

T MTK 1302452 Table of Content

Desi Valindra, 2015 DESAIN DIDAKTIS PERBANDINGAN SENILAI DAN BERBALIK NILAI PADA SISWA SMP DITINJAU DARI LEARNING OBSTACLE DAN LEARNING TRAJECTORY Universitas Pendidikan Indonesia |[r]

6 Baca lebih lajut

Desain Didaktis Untuk Mengatasi Learning Obstacle Topik Persamaan Linear Satu Variabel.

Desain Didaktis Untuk Mengatasi Learning Obstacle Topik Persamaan Linear Satu Variabel.

Berdasarkan penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa masalah yang terdapat dalam pembelajaran topik persamaan linear satu variabel (PLSV) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yaitu adanya transisi dari aritmatika ke aljabar, siswa mengalami kesulitan belajar aljabar untuk pertama kalinya, dan membawa kesulitan tersebut ke jenjang selanjutnya. Siswa tidak memiliki makna akan variabel, belum bisa menguasai opersai aljabar, dan belum bisa menyelesaikan persamaan linear satu variabel. Hal ini terjadi akibat dari pengalaman belajar yang biasa menghapal atau meniru contoh yang diberikan guru atau meniru buku teks, bukan dari pembelajaran bermakna sehingga siswa hanya melakukan imitasi bukan menemukan kembali topik, sehingga tidak memahami topik secara utuh dan tidak mengetahui makna dan manfaat dari materi dan pembelajarannya.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

S MAT 1005293 Table of content

S MAT 1005293 Table of content

Anna Suzana 2014 Desain didaktis konsep luas permukaan prisma pada pembelajaran matematika SMP berdasarkan learning obstacle dan learning trajectory Universitas Pendidikan Indonesia[r]

3 Baca lebih lajut

T MTK 1303009 Abstract

T MTK 1303009 Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain didaktis pada pembelajaran materi lingkaran SMP, khususnya hubungan sudut pusat, panjang busur, dan luas juring lingkaran. Desain didaktis yang dikembangkan terdiri dari tiga kegiatan yang diperoleh dari tiga tahap formal yang dilakukan penulis selama proses penelitian. Tahap pertama adalah analisis situasi didaktis sebelum pembelajaran untuk memperoleh desain didaktis hipotetik. Penyusunan desain didaktis hipotetik didahului dengan studi pendahuluan yang meliputi identifikasi learning obstacle siswa serta analisis teoritis dan repersonalisasi. Identifikasi learning obstacle siswa dilakukan di suatu SMP di kota Jakarta Selatan dengan melibatkan 34 siswa kelas IX dengan menganalisis hasil jawaban siswa atas soal- soal yang diberikan, menganalisis hasil wawancara guru dan siswa, serta menganalisis buku teks pelajaran yang digunakan di sekolah. Tahap kedua adalah analisis metapedadidaktik yang tercermin dalam implementasi desain. Implementasi desain dilakukan di SMP tempat studi pendahuluan dengan melibatkan 36 siswa kelas VIII. Tahap ketiga merupakan tahap refleksi dengan melakukan analisis retrospektif. Hal ini dilakukan guna memperoleh informasi untuk revisi desain hingga menghasilkan desain didaktis empirik. Desain didaktis empirik yang dihasilkan memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut melalui tiga tahap formal yang sama.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD.

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD.

Pelajaran matematika mulai dipelajari siswa ketika duduk di bangku sekolah dasar.BNSP (2006, hlm 345) menyatakan bahwa matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik dari sekolah dasar untuk membekali mereka dengan kemampuan-kemampuan yang terdapat dalam pembelajaran matematika.Kemampuan tersebut diantaranya kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif serta kemampuan bekerjasama.Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya belajar matematika, sehinggapelajaran matematika dijadikan salah satu pelajaran wajib yang harus dipelajari oleh siswa ketika menempuh pendidikan formal di SD, SMP, dan SMA.
Baca lebih lanjut

38 Baca lebih lajut

T PD 1207149 Table of content

T PD 1207149 Table of content

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015 DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD Universitas Pendidikan Indonesia | \.[r]

6 Baca lebih lajut

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD - repository UPI T PD 1207149 Title

DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD - repository UPI T PD 1207149 Title

Muhammad Rifqi Mahmud, 2015 DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS IV SD Universitas Pendidikan Indonesia | \.[r]

6 Baca lebih lajut

S MTK 1103052 Chapter3

S MTK 1103052 Chapter3

Fokus dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji dan menyusun desain didaktis berdasarkan learning trajectory dan learning obstacle pada pembelajaran matematika mengenai konsep luas permukaan limas dan volume limas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Metode ini dipilih karena untuk menyusun desain didaktis membutuhkan kajian mendalam terhadap keseluruhan proses pembelajaran dan proses berpikir siswa, sehingga dibutuhkan suatu metode yang dapat mengungkapkan secara rinci gejala atau fenomena yang sulit jika diungkapkan dengan menggunakan metode kuantitatif. Seperti yang dijelaskan oleh Nasution (dalam Nursyahidah, 2013, hlm. 54) bahwa pada hakikatnya penelitian kualitatif merupakan kegiatan mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran tentang dunia sekitarnya.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

T MTK 1302452 Bibliography

T MTK 1302452 Bibliography

Daro, P., Mosher, F.A., & Corcoran, T. (2011). Learning Trajectories in Mathematics A Foundation for Standards Curriculum, Assessment, and Instruction (Research Report # RR-63). Philadelphia: CPRE (Consortium for Policy Research in Education) .

4 Baca lebih lajut

DESAIN DIDAKTIS PEMBELAJARAN MENDENGARKAN PENJELASAN PETUNJUK DENAH DENGAN MEDIA VISUAL DI SEKOLAH DASAR.

DESAIN DIDAKTIS PEMBELAJARAN MENDENGARKAN PENJELASAN PETUNJUK DENAH DENGAN MEDIA VISUAL DI SEKOLAH DASAR.

Desain didaktis dibuat berdasarkan hambatan belajar (learning obstacle) yang dialami siswa pada materi tentang denah. Selain itu, mengacu pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dalam KTSP dengan tiga indikator yang dikembangkan oleh penulis. Kegiatan pembelajaran dilakukan untuk satu kali pertemuan dengan alokasi waktu 3 jam pelajaran. Desain didaktis yang dibuat memuat rancangan proses pembelajaran, media, bahan ajar, model pembelajaran, dan Hypotethycal Learning Trajectory (HLT) beserta Antisipasi Didaktis Pedagogis (ADP). HLT tersebut berupa prediksi respons siswa yang mungkin muncul saat kegiatan pembelajaran agar penulis dapat langsung mengatasi respons siswa tersebut berdasarkan antisipasi yang telah dibuat sebelumnya. Salah satu cara untuk mengurangi hambatan belajar (learning obstacle) pada pembelajaran mendengarkan penjelasan petunjuk denah ini adalah dengan membuat media visual, yaitu media denah. Media denah ini dibuat untuk mengkonkretkan pemahaman siswa dalam menjelaskan urutan perjalanan dalam denah dan membuat gambar/denah berdasarkan penjelasan. Media denah ini juga diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan semangat belajar siswa, sehingga tujuan pembelajaran akan lebih mudah dicapai secara optimal.
Baca lebih lanjut

38 Baca lebih lajut

DESAIN DIDAKTIS KONSEP KOMPOSISI FUNGSI PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA.

DESAIN DIDAKTIS KONSEP KOMPOSISI FUNGSI PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA.

The research about “ Didactical Design of Composition of Functions Concept in Mathematic Learning of Senior High School ”, motivated by learning obstacle was experienced by students. Learning obstacles were found on the last research about composition of functions be based for made alternative didactical design which hoped can reduce the obstacle. The didactical design was developed are, so that students have a concept image of the composition of function, the students are given an understanding about function of composition concept via giving a trip as illustration. To overcome students obstacle learning in determining the function of forming composition of functions, with give question as problem. To overcome students obstacle learning in solving word problems, with confront student to word problems. While, to overcome students obstacle learning in use concept of math, with present problem in design involving various concepts of mathematics, especially algebra. The method used in this research is qualitative methods and techniques of data collection is observation, testing instruments, and study documentation. Subjects in this study were high school students of class XI IPA as many as 35 students. In general, the results of the implementation of design in accordance with predictions and based on the results can be concluded that the didactical design can bridge to reduce the students learning obstacle in the study of the composition of functions.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

S MAT 1005293 Chapter1

S MAT 1005293 Chapter1

2. Learning obstacle, yaitu kesulitan yang dialami siswa selama pembelajaran yang dapat disebabkan oleh hambatan ontogeni, hambatan didaktis dan hambatan epistimologis. Learning obstacle yang dimaksud dalam penelitian ini adalah learning obstacle yang disebabkan hambatan epistemologi, yaitu kesulitan belajar siswa yang diakibatkan terbatasnya pengetahuan yang dimiliki hanya pada konteks tertentu.

8 Baca lebih lajut

DESAIN DIDAKTIS KONSEP JARAK DALAM RUANG DIMENSI TIGA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA KELAS X.

DESAIN DIDAKTIS KONSEP JARAK DALAM RUANG DIMENSI TIGA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA KELAS X.

Proses berfikir guru dalam konteks pembelajaran terjadi dalam tiga fase yaitu sebelum pembelajaran, pada saat pembelajaran berlangsung, dan setelah pembelajaran. Kecenderungan proses berfikir sebelum pembelajaran yang lebih berorientasi pada penjabaran tujuan berdampak pada proses penyiapan bahan ajar serta minimnya antisipasi terutama yang bersifat didaktis. …. Penyiapan bahan ajar pada umumnya hanya didasarkan pada model sajian yang tersedia dalam buku-buku acuan tanpa melalui proses rekontekstualisasi dan repersonalisasi. Rencana pembelajaran biasanya kurang mempertimbangkan keragaman respon siswa atas situasi didaktis yang dikembangkan sehingga rangkaian situasi didaktis yang dikembangkan berikutnya kemungkinan tidak lagi sesuai dengan keragaman lintasan belajar (learning trajectory) masing-masing siswa.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...