• Tidak ada hasil yang ditemukan

Annida dan Genre Baru

Dalam dokumen sma10bhsind BerbhsIndDgEfektif Erwan (Halaman 105-108)

Cerpen Indonesia Banyak kalangan menilai perkembangan

sastra Indonesia memasuki babak baru. Ini ditandai dengan munculnya gelombang sastra koran yang terbukti mendapatkan perhatian besar kalangan pembaca. Apalagi, secara kualitas sastra koran diakui tidak kalah dengan karya sastra yang ada di majalah-majalah

kebudayaan dan sastra semacam Horison, Sastera, dan Ulumul Quran.

48 kata

Namun, kalau kita cermati di luar fenomena tersebut, saat ini ada genre baru yang telah hadir di belantara cerpen Indonesia. Mereka adalah kelompok sastra remaja islami. Seorang ibu sedang melatih anaknya

membaca.

Sumber: Harian Kompas, 13 Februari

2005

Sudah satu dekade sebenarnya mereka muncul bersamaan dengan terbitnya majalah sastra remaja Islam Annida. Meski perlu dicatat, saat pertama kali terbit mereka belum melakukan positioning sebagai media sastra.

102 kata

Sayangnya, sudah selama itu mereka tampak luput dari perhatian kalangan sas- trawan. Boleh jadi selama ini mereka dianggap kelompok sastra pop, yang memang dalam kenyataan umum jenis sastra demikian seperti tidak punya hak atau tidak perlu mendapat dan diberi perhatian.

141 kata

disebutkan, lebih sebagai "perpanjangan tangan" bagi penyebaran nilai dan kultur westernism. Selain perasaan terhibur, tidak banyak yang dapat di peroleh pembaca dari sana.

249 kata

Padahal, menurut kacamata penulis, cerpen- cerpen Annida jelas tidak dapat disamakan dengan sastra pop, yang menurut Goenawan, memiliki pangsa pembaca kalangan menengah nonintelek. Pun tidak dapat disamakan dengan cerpen-cerpen remaja di majalah seperti Aneka, Gadis, Hai, dan Kawanku.

180 kata

Cerpen Annida mempunyai ciri yang khas. Genre baru cerpen ini lahir dengan sebuah tawaran alternatif. Mereka tampil di tengah serbuan cerpen-cerpen remaja yang secara umum menampilkan nilai seputar lifestyle urban, konsu merisme, dan percintaan anak muda. Bahkan, dalam pengamatan penulis, cerpen-cerpen di majalah remaja yang tadi

Beda halnya dengan cerpen-cerpen Annida, ada sebuah nilai yang secara kasat mata diusung di dalamnya. Meskipun kadang ada kesan seragam dan "garang", setidaknya cerpen Annida mampu memberikan "bukan sekadar hiburan", juga sedikit "pencerahan" bagi pembacanya. Penilaian ini pun diungkapkan Gola Gong. Menurutnya, cerita-cerita Annida benar-benar berbeda, tidak kacang an, dan selalu menyisakan sesuatu setelah kita membacanya. Bahkan penyair Tauiq Ismail, menilai Annida mengajak remaja mencintai sastra dan Islam sekaligus.

318 kata

Helvy Tiana Rosa, salah satu founding mother komunitas Annida, mengatakan bahwa karya yang dimuat di Annida bukanlah sekadar cerpen, melainkan sekaligus pe ngusung sebuah nilai khas yang harus diperjuangkan. Kegigihan- nya itu ia buktikan dengan semakin besar dan eksisnya Annida sebagai sebuah media sastra remaja. Untuk kasus Indonesia, sebuah media sastra yang mampu eksis dengan hanya meng- andalkan oplah penjualan jelas merupakan sebuah prestasi yang luar biasa. Mungkin, Sumber: www.pontianakpost.com

Helvy Tiana Rosa pendiri Forum Lingkar Pena (FLP)

Salah satu sampul majalah Annida

dalam masalah kemandirian, majalah sastra sebesar Horison dan Sastera pun tidak cukup mampu me lakukannya.

395 kata

Selain kemandirian dalam soal inansial, mereka pun terbilang mandiri dalam soal membesarkan karya. Kenyataan ini tentu patut mendapatkan apresiasi positif, sebab dalam dunia sastra kita, seperti sudah menjadi rahasia umum, untuk menjadi besar, seorang sastrawan muda perlu mendapatkan legitimasi dari "kaum tua". Kesan ini setidaknya dapat kita lihat dari fenomena Ayu Utami dan Dewi "Dee" Lestari— yang langsung ataupun tidak — mendapat kan "perhatian" istimewa dari banyak sastrawan senior. Bahkan, perburuan legitimasi dari kaum tua atau ko munitas sastra yang dianggap telah cukup mapan sering tampak begitu nyata.

487 kata

Namun, fenomena itu tidak berlaku bagi Annida. Komunitas Annida terbukti mampu meruntuhkan "mitos" yang secara de facto sudah lama berkembang itu. Bahkan, genre baru cerpen Indonesia itu, sekarang terus mengalami per kembang an pesat lewat Forum Lingkar Pena (FLP) yang didirikan Helvy, yang kini tersebar di banyak kota di penjuru tanah air dan manca negara.

537 kata

Sekali lagi, pertanyaan yang sampai saat ini sering mengusik pikiran penulis adalah, mengapa cerpen Annida luput dari perhatian para sastra- wan? Boleh jadi cerpen Annida dikategorikan sebagai sastra pinggiran. Namun, seperti kata Nirwan Dewanto, sastra-sastra pinggiran pun perlu mendapat perhatian. Termasuk cerpen

Annida yang— walaupun mungkin bukan sastra pinggiran— selama ini terpinggirkan. Sebab itu, mereka tumbuh menyempal dan mencoba berdiri kukuh dalam sebuah komunitas ter- sendiri. Bahkan, cerpen Annida jauh lebih membumi. Eksistensi dan perkembangannya saat ini mem bukti kan bahwa mereka memang mempunyai komunitas pembaca sastra yang jelas. Sementara, sastra pinggiran yang identik dengan "pemberontakan kaum tertindas" yang banyak muncul di negara-negara Amerika Latin, seperti sering disinggung Nirwan, dalam konteks Indonesia belum tentu memiliki ko- muni tas pembaca seperti Annida.

650 kata

Annida bagaimanapun telah banyak melahir kan cerpenis-cerpenis muda yang andal. Bukan hanya Helvy, nama-nama lain seperti Izzatul Jannah, Asma Nadia, A. Yulius, Sakti Wibowo, Dian Yasmin Fajri, Meutia Guemala, dan Himmah Tirmikora. Bahkan, bukan hanya anak muda di kampus-kampus dan sekolah yang saat ini menceburkan diri dalam kesusastraan remaja Islam, melainkan juga nama-nama yang se belum nya telah terbilang cukup mapan di media lain, seperti Gola Gong.

Kenyataan itu jelas kian membuat jagat sastra Indonesia marak dan beragam sehingga menjadi sebuah hal yang tidak cukup beralasan kalau kita tidak mau mengucapkan selamat datang kepada mereka. Ya, bagaimanapun, kedatangan genre baru cerpen Indonesia ini perlu mendapatkan sambutan.

742 kata

Sumber: Harian Republika, 11 November 2000

berikut, dengan tidak melihat kembali teks.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan tepat.

a. Apa yang dimaksud genre baru cerpen Indonesia dalam

bacaan tersebut?

b. Dari manakah genre baru itu lahir? c. Apa yang dimaksud sastra koran?

d. Mengapa genre baru cerpen itu luput dari perhatian kalangan sastrawan?

e. Apa yang membedakan cerpen-cerpen Annida dengan cerpen remaja lainnya?

g. Mengapa komunitas sastra Annida patut mendapatkan apresiasi positif?

h. Komunitas sastra apa yang didirikan Helvy Tiana Rosa? i. Tema-tema apa yang lebih dominan diusung oleh para penulis

cerpen Annida?

j. Bagaimana pengaruh lahirnya genre baru cerpen itu terhadap perkembangan sastra Indonesia?

Setelah selesai, tukarkanlah hasil jawaban Anda dengan hasil jawaban teman Anda untuk saling periksa. Berapa soal yang dapat Anda jawab dengan benar? Jika Anda dapat menjawab dengan benar lebih dari 8 soal, berarti membaca Anda sudah bagus. Namun, jika belum, Anda harus berlatih lagi.

Mengenal

Lebih Dekat

Sastra Indonesia modern terbagi ke dalam tiga genre, yakni puisi, prosa (cerpen, novel, roman), dan drama.

1. Lakukanlah latihan membaca cepat sekali lagi. Bacalah bacaan berikut dengan cepat dan mintalah teman Anda untuk menghitung waktunya. Waktu yang ideal membaca teks ini adalah dua menit.

Dalam dokumen sma10bhsind BerbhsIndDgEfektif Erwan (Halaman 105-108)