Yayuk Aneka Bety
Balai Penelitian Tanaman Hias, Jl. Raya Ciherang, Segunung, Pacet, Cianjur PoB. 8 Sdl.
Tlp. 0263-512607, Fax 0263-514138, E-mail:[email protected]
ABSTRAK
Pengenalan dan kajian agronomis varietas unggul nasional Gladiol (Gladiolus hybridus) penting dilakukan di daerah sentra produksi, dalam upaya mendapatkan varietas yang cocok dikembangkan di daerah tersebut dan untuk mempopulerkan varietas unggul nasional. Penerimaan varietas yang dikenalkan antara lain ditentukan oleh keragaan dan produktivitas suatu varietas dan keuntungan finasial yang akan diperoleh. Penelitian bertujuan untuk mengetahui daya adaptasi beberapa varietas unggul nasional gladiol yang dilepas oleh Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) di Bandungan, Jawa Tengah dan keuntungan yang diperoleh dari budidaya gladiol. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan bulan Desember 2008 di Bandungan, Kabupaten Semarang. Varietas yang diintroduksikan adalah tiga varietas unggul nasional yang telah dilepas oleh Balithi, yaitu Nabila dengan warna bunga salem (pink kekuningan), Clara warna bunga merah cerah garis putih dan Kaifa warna bunga merah cerah garis kuning. Pertumbuhan vegetatif dan produktivitas masing- masing varietas yang diintroduksikan diamati melalui pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah kuntum per tangkai, panjang rangkaian bunga, diameter bunga, dan vase life. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gladiol varietas Clara memiliki pertumbuhan vegetatif, generatif yang baik dan disukai konsumen di Bandungan. Varietas Clara memiliki tinggi tanaman, diameter bunga, panjang rangkaian bunga dan jumlah kuntum per tangkai lebih besar dari varietas Kaifa dan Nabila, sedangkan umur berbunga dan vase life ke tiga varietas tersebut sama. Budidaya gladiol dalam skala kecil di Bandungan menguntungkan dengan nilai RC= 2,7.
Kata kunci: Gladiol, varietas unggul, adaptasi, analisis usaha.
ABSTRACT
The objective of the experiment was to introduced some gladiolus national varieties and to study the adaptation of these varieties in the region which was as a center of ornamental production. The experiment was conducted in Bandungan, Semarang district on August to December 2008. The variety tested were three national varieties namely Nabila, Clara and Kaifa. Performance and productivity of each variety was studied by observing plant height, number of flower stems per m2, diameter of flower, length of spike, number of flower per spike, days to maturity, and vase life. The result of experiment showed that Clara was the most adaptive variety in Bandungan. This variety had higher plant height, wider flower diameter, longer length of spike, and higher number of flower per spike compared to Nabila and Kaifa. The days to maturity and vase life of three varieties were the same. Cultivating gladiol in small scale in Bandungan was profitable (RC=2.7).
Pendahuluan
Pengenalan dan kajian agronomis varietas unggul nasional gladiol (Gladiolus hybridus) penting dilakukan di daerah sentra produksi tanaman hias Jawa tengah, Bandungan dalam upaya mendapatkan varietas yang cocok dikembangkan di daerah tersebut dan untuk mempopulerkan varietas unggul nasional. Pengenalan varietas baru sangat penting dilakukan mengingat terbatasnya jenis gladiol yang dibudidayakan di Indonesia dan penerimaan varietas oleh stakeholder ditentukan oleh keragaan dan produktivitas suatu varietas serta keuntungan finasial yang akan diperoleh. Varietas introduksi lama yang masih populer ditanam petani adalah Queen Occer, Salem, White Friendship, Pricilla, Holland merah dan lainnya (Badriah et al., 2007). Varietas lain yang masih sering ditanam adalah varietas Dr. Mansoer dan hasil silangan antara varietas Dr. Mansoer dan Groene Specht (Badriah dalam Muharam et al., 1995). Di Bandungan, petani menanam varietas lokal yang bunganya berwarna merah tua dan salem, memiliki kelopak bunga tipis, dan bunga mudah layu. Untuk mengatasi keterbatasan bibit dan jenis gladiol, Balai Penelitian Tanaman Hias telah merilis empat varietas gladiol baru, yaitu Dayangsumbi, Clara, Kaifa dan Nabila (Badriah, 2009). Varietas-varietas ini memiliki warna bunga two tone, jumlah bunga per tangkai banyak, kelopak bunga tebal, bergelombang, dan tidak mudah layu (Balithi, 2011).
Di Jawa Tengah, luasan dan produksi budidaya gladiol mengalami fluktuasi. Pada tahun 2007 besarnya produksi mencapai 81.321 tangkai bunga dengan luas panen 12.507 m2, sedangkan pada tahun 2010 meningkat tajam menjadi 620.619 tangkai dengan luas panen 21.796 m2, namun pada tahun 2010 mengalami penurunan sampai 45 % (BPS Jateng, 2012). Di Jawa Tengah, produsen utama bunga gladiol adalah Kabupaten Semarang dan dalam skala kecil di Kabupaten Karang Anyar. Budidaya gladiol di Kabupaten Semarang terkonsentrasi di Kecamatan Bandungan dan Ambarawa, dan pada tahun 2012 mampu memproduksi 201.000 tangkai (BPS Kabupaten Semarang, 2013).
Uji adaptasi berfungsi untuk mengetahui produktivitas dan kualitas gladiol suatu varietas di lokasi tertentu. Lokasi ternyata berpengaruh terhadap produktivitas dan kualitas bunga. Hasil uji adaptasi terhadap 13 klon gladiol Balithi dengan Queen Occer sebagai pembanding yang dilakukan di Sukabumi dan Cipanas selama dua musim tanam menunjukkan bahwa pertanaman gladiol di Sukabumi menghasilkan bunga dengan tangkai dan malai bunga lebih panjang dibandingkan di Cipanas. Tetapi pertanaman di Cipanas menghasilkan bunga lebih banyak dan diameter bunga yang lebih besar dari yang di Sukabumi (Wuryaningsih et al., 2004).
Metode Penelitian
Kajian agronomis dan pengenalan varietas gladiol dilaksanakan di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Bandungan. Bandungan terletak pada ketinggian 900-1000 m d.p.l dengan rata-rata suhu harian 24o C. Pengujian dilaksanakan pada pada bulan Agustus sampai dengan bulan Desember 2008. Varietas gladiol yang diuji adalah tiga varietas unggul nasional gladiol yang dilepas oleh Balai Penelitian Tanaman Hias, yaitu Nabila, Kaifa dan Clara. Pengujian varietas gladiol dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak kelompok, ulangan 3 kali. Tanaman ditanam dalam barisan di bedengan. Jarak tanam adalah 20 cm antar baris dan 20 cm di dalam baris, sehingga setiap 1 m2 berisi 25 tanaman. Persiapan lahan dilakukan dengan mengolah tanah sampai gembur kemudian dibuat bedengan dengan ukuran lebar 120 cm, tinggi 15 cm dan jarak antar bedengan 30 cm.. Pemupukan berupa pupuk NO3 dengan
takaran 90-135 kg/ha dan K2O5 110-180 kg/ha. Pupuk nitrogen lanjutan diberikan dua kali, yaitu pada 30 dan 60 HST, sesuai dengan rekomendasi Herlina (1995) bahwa pupuk nitrogen diberikan tiga kali, yaitu setelah daun kedua atau ketiga muncul, pada saat primordia bunga muncul (60 hst) dan setelah panen bunga. Pupuk kalium diberikan satu kali pada waktu tanaman berumur 90 hari. Pengendalian hama dengan pemberian insektisida 7 hari sekali secara bergantian antara Agrimec dan Decis 7 HST, sedangkan pengendalian penyakit dilakukan dengan menggunakan fungisida Dithane dan Benlox secara bergantian. Insektisida dan fungisida diberikan sebanyak ½ dosis anjuran pada 7 sampai 28 hari setelah tanam dan setelah 28 hari menggunakan dosis sesuai anjuran. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah bunga per m2, tinggi tanaman, dan umur 50% tanaman berbunga, diameter bunga, jumlah bunga per tangkai, panjang rangkaian bunga dan vase life. Hal ini sesuai dengan karakter yang diamati dalam uji adaptasi gladiol, yaitu jumlah kuntum per tangkai, panjang rangkaian bunga, tinggi tanaman, jumlah tangkai bunga dan umur berbunga (Ahmad et al. 2000, Rosario et al. 1999).
Hasil dan Pembahasan
Hasil pengujian adaptasi gladiol varietas Clara, Kaifa, dan Nabila di Bandungan menunjukkan bahwa ke tiga varietas tersebut dapat tumbuh dengan baik dengan besaran masing-masing karakter di dalam kisaran deskripsi varietas.
A. Tinggi tanaman (pertumbuhan vegetatif)
Pada pengujian ini, tinggi tanaman varietas Nabila, Clara dan Kaifa secara statistik berbeda secara nyata. Clara memiliki tinggi tanaman tertinggi di Bandungan meskipun secara statistik sama dengan tinggi tanaman Nabila (Tabel 1). Kenyataan ini berbeda dari yang tertera pada deskripsi varietas yang mencantumkan bahwa Clara memiliki tinggi tanaman yang sama dengan Nabila dan Kaifa. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan tinggi tanaman varietas Clara dapat terstimulasi dengan baik dan mengindikasikan bahwa varietas Clara dapat beradaptasi dengan baik di daerah Bandungan. Selain lokasi, waktu penanaman juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman gladiol. Pengujian yang dilakukan di Sukabumi dan Cipanas menunjukkan bahwa pertumbuhan 13 klon gladiol pada tahun 2000 lebih baik dari pertumbuhan di tahun 1999 (Wuryaningsih et al., 2004).
Tabel 1. Tinggi tanaman, umur berbunga, diameter bunga, panjang rangkaian bunga, jumlah kuntum per tangkai, dan vase life tiga varietas unggul nasional gladiol. Bandungan, Agustus-Desember 2008.
--- ---
Varietas Tinggi tan (cm) Umrberbu Diambung(cm) Panjrang Jml kunt/tangk Vaselife Tingkat
Pengamat Diskrip (hr) Pengmt Diskrip bunga Pengmt Diskrip Peng Diskrip suka
--- ---
Nabila 104,28ab*)100,00 41,59 a 10,35ab 9,0-11,7 37,93 a 10,67 b 10- 19 2,14 a 3 Tidak
suka
Clara 106,40 a 100,00 40,30 a 10,67 a 8,3-10,9 37,20 a 11,67 a 7- 16 2,29 a 3 Suka
Kaifa 102,96 b 100,00 41,45 a 9,19 b 8,1-9,9 34,06 b 11,75 a 8-16 2,16 a 3 Suka
--- ---
*)
Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT 5%.
B. Pertumbuhan generatif
Salah satu kriteria dalam grading bunga gladiol adalah jumlah kuntum.per tangkai. Oleh karena itu jumlah kuntum per tangkai bunga merupakan salah satu karakter yang digunakan dalam seleksi atau penilaian terhadap varietas gladiol yang diintroduksikan. Pada pengujian ini, tiga varietas yang diuji hanya mampu menghasilkan jumlah kuntum per tangkai rata-rata 10,67-11,75 kuntum (Tabel 1) yang berarti masih tergolong dalam grade C atau grade 3,4. Grade AA, A dan B dicapai apabila jumlah kuntum per tangkai mencapai 16, 14 dan 12 kuntum. Tetapi Asgar dan Sutater (1995) menggolongkan gladiol sebagai berikut: Grade 1, 2 apabila jumlah kuntum per tangkai 10-14 dan 3, 4 apabila jumlah kuntum <10. Apabila penggolongan kelas (grade) dilakukan berdasarkan Asgar dan Sutater (1995), maka jumlah kuntum tiga varietas yang diuji masuk dalam grade 1-2. Tiga varietas yang diuji memiliki jumlah kuntum per tangkai yang berbeda. Clara dan Kaifa memiliki jumlah kuntum yang nyata lebih tinggi dari Nabila. Secara visual Clara dan Kaifa terlihat lebih kompak dan serasi daripada Nabila (Gambar 1). Gladiol dengan diameter bunga besar umumnya lebih disukai konsumen. Pada pengujian ini, varietas Clara dan Nabila memiliki diameter bunga yang paling besar dan Kaifa memiliki diameter bunga secara nyata lebih kecil (Tabel 1). Di Bandungan ke tiga varietas yang diuji mengalami perkembangan ukuran bunga yang optimal dan nilai diameter bunganya berada pada kisaran nilai dalam deskripsi.
Rangkaian bunga yang panjang dengan posisi bunga yang teratur biasanya lebih disukai konsumen, oleh karena itu beberapa pemulia mengukur panjang rangkaian bunga pada waktu melepas varietas, seperti yang dilakukan oleh Rosario et al. (1999). Pada pengujian ini, panjang rangkaian bunga Clara dan Nabila secara nyata lebih panjang dari panjang rangkaian bunga Kaifa (Tabel 1). Posisi bunga dalam tangkai varietas Kaifa cenderung menggerombol, sehingga panjang rangkaian bunganyapun menjadi lebih pendek.
Varietas yang memproduksi organ generatif lebih awal merupakan varietas yang genjah. Varietas Clara, Kaifa dan Nabila mencapai umur berbunga pada waktu tanaman berumur 40-41 hari dan tidak berbeda diantara tiga varietas tersebut (Tabel 1). Selain umur berbunga, kecepatan siklus hidup gladiol juga dapat dipersingkat dengan mematahkan dormansi subang dengan cara fumigasi CS2 (karbit)(Soetopo, 2012) dan GA3 (Sanjaya, 1995). Sutopo dan Sitawati (1996) melaporkan bahwa fumigasi CS2 dengan dosis 1,5 g/kg terhadap subang gladiol pada kotak kedap udara mempersingkat waktu muncul tunas dan waktu muncul daun pertama dan tidak berbeda nyata dengan pemberian GA3 100 ppm.
C. Paska panen
Vase life Clara, Nabila dan Kaifa pada pengujian ini tidak berbeda nyata, yaitu 2,12-2,29 hari dan lebih cepat dari vase life di deskripsi varietas yang rata-rata selama 3 hari (Tabel 1).Lama kesegaran ditentukan oleh varietas, kesehatan tanaman dan perlakuan setelah dipanen. Bunga yang
sudah dipanen yang diletakkan tegak lurus dan direndam dalam air yang diberi preservative seperti Chrysal atau Hyponex memiliki vase life yang lebih panjang, yaitu 3-5 hari (Badriah, 2009).
D. Analisis usaha tani.
Petani mengusahakan gladiol umumnya bertujuan untuk mendapatkan bunga dan bibit, agar mendapatkan keuntungan (RC=1,17), apabila hanya menjual bunga akan mengalami kerugian.(RC=0,70)( Ameriana et al., 1991).
Tabel 2. Analisis usaha tani gladiol varietas Clara, Kaifa dan Nabila di Bandungan pada tahun 2009 dengan luas tanam 40 m2.
Uraian Pengeluaran (Rp) Uraian Pendapatan (Rp) Tenaga kerja Saprodi Bibit JUMLAH 100.000 50.000 150.000 --- 300.000 Penjualan bunga 900 subang (umbi untuk bibit) JUMLAH Keuntungan RC 360.000 450.000 --- 810.000 510.000 2,17
Gambar 1. Gladiol varietas Clara, Kaifa, dan Nabila.
Kesimpulan
1. Gladiol varietas Clara, Kaifa dan Nabila dapat beradaptasi dengan baik di Bandungan.
2. Varietas Clara memiliki tinggi tanaman, diameter bunga, jumlah kuntum per tangkai lebih tinggi dibandingkan Kaifa dan Nabila dan disukai konsumen. 3. Budidaya gladiol dalam skala kecil di Bandungan menguntungkan (RC=2,17).
Daftar Pustaka
Ahmad, T., Ahmad, M.S., Nasir, I.A., and Riazudidas. 2000. In Vitro Production of Cormletts in Gladiolus. .Pakistan. J. of Biological Sciences 3(5):819-821.
Ameriana, M., Rahmat, M., Sutater, T., dan D. Komar. 1991. Analisis usaha tani bunga potong gladiol. Prosiding Seminar Tanaman Hias. Hlm. 131-138.
Asgar, A. dan T. Sutater. 1995. Pasca panen Gladiol dalam A. Muharam, T. Sutater, Syaifullah, S. Kusumo. (Eds). Gladiol. Buku Komoditas No. 2. Balai Penelitian Tanaman Hias. Badan Litbang Pertanian. Hal.43-52.
Badriah, D.S. 2009. Budidaya Gladiol. Buklet Petunjuk Teknis. Balai Penelitian Tanaman Hias. Puslitbang Hortikultura. Hal. 1-14.
……..………. 1995. Pemuliaan Gladiol dalam A. Muharam, T. Sutater, Syaifullah, S. Kusumo. (Eds). Gladiol. Buku Komoditas No. 2. Balai Penelitian Tanaman Hias. Badan Litbang Pertanian. Hal.11-20.
Balithi. 2011. Katalog Varietas Unggul Tanaman Hias 2007-2010 & Calon Varietas Baru. Balai Penelitian Tanaman Hias, Puslitbanghorti, Badan Litbang Pertanian, Kementan. 54 hal.
Herlina, D. 1995. Perbanyakan Gladiol dalam A. Muharam, T. Sutater, Syaifullah, S. Kusumo. (Eds). Gladiol. Buku Komoditas No. 2. Balai Penelitian Tanaman Hias. Badan Litbang Pertanian. Hal.21-28.
Rosario, T.L., Maningas, A.D., Sian, S.V. Gracia, C. Abaquin, M., Abraham, F. 1999.
Gladiolus ―White Prosperity‖ for Cut Flower Trade. Proc. 15 Annual Scientific Conference of the Federation of Crop Science Societies of the Philippines. Gen Santos city, South Cotabato, Philippines, 10-15 May 1999
Sanjaya, L. 1995. Pengaruh GA3 dan ukuran subang terhadap pematahan dorrnansi subang Gladiol (Gladiolus hybridus) cv.Queen Occer. J. Hortikultura 5 (1)
Soetopo, L. 2012. Pematahan dorman umbi subang dengan menggunakan CS2 dan GA3. Laporan Hasil Penelitian. Jurusan Budidaya Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya.
--- dan Sitawati, 1996. Fumigasi CS2 sebagai teknologi tepat guna alternatif untuk meningkatkan mutu corm bibit tanaman Gladiol. Prosiding Seminar Tanaman Hias. Agustus 1996, Puslithorti, Jakarta.
Wuryaningsih, S. Badriah, D.S. R.T. Sarwana. 2004. Daya Hasil Beberapa Klon Gladiol Terpilih. J. Hortikultura. 14(Null):381-389.
PERUBAHAN MUTU DAN UMUR SIMPAN BUAH SAWO (Manilkara zapota
(L.) van Royen) SETELAH PENGIRIMAN MENGGUNAKAN BERBAGAI KEMASAN KARDUS
Sri Trisnowati1), Suyadi Mitrowihardjo, Abedi Muslim2)
Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian UGM
1)
[email protected], 2)[email protected]
ABSTRAK
Buah sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen) hasil panen di wilayah D.I.Yogyakarta pada umumnya dikemas dan didistribusikan menggunakan karung. Cara ini menyebabkan banyak buah sawo memar yang dapat berakibat pada penurunan mutu dan pendeknya umur simpan. Penelitian ini mempelajari pengaruh berbagai cara pengemasan buah sawo dengan kardus terhadap mutu dan umur simpan buah sawo setelah pengiriman, untuk mendapatkan metoda pengemasan yang lebih baik daripada pengemasan dengan karung. Cara pengemasan yang diterapkan adalah pengemasan dengan: karung sebagai kontrol, kardus, kardus bersekat karton di antara setiap lapis buah, kardus bersekat karton di antara setiap dua lapis buah, kardus ditambah potongan koran sebagai bahan pengisi, kardus bersekat karton di antara setiap lapis buah ditambah potongan koran dan kardus bersekat karton di antara setiap dua lapis buah ditambah potongan koran. Buah sawo yang telah dikemas diangkut dari tempat panen menuju ke tempat penyimpanan selama lebih kurang empat jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengemasan dalam kardus tidak mengubah mutu buah sawo, menghambat susut berat, mengurangi kerusakan dan memperpanjang umur simpannya. Pengemasan buah sawo dalam kardus bersekat karton di antara setiap lapis buah yang ditambah potongan koran dan kardus bersekat karton di antara setiap dua lapis buah yang ditambah potongan koran menghasilkan kerusakan buah paling sedikit dan umur simpan buah paling lama.
Kata Kunci: Sawo, cara pengemasan, umur simpan.
Pendahuluan
D.I.Yogyakarta termasuk sentra penghasil sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen) di Indonesia (Anonim, 2014), namun penanganan pasca panennya masih sederhana. Setelah dibersihkan, buah sawo hasil panen hanya dikemas dalam karung, selanjutnya didistribusikan ke berbagai tempat penjualan. Karung sebagai kantong pengemas buah mempunyai kelemahan yaitu tipis, bentuk kemasan mengikuti bentuk isinya dan peka terhadap tekanan yang dapat menyebabkan memar, bahkan luka yang dapat berakibat pada kerusakan dan pendeknya umur simpan buah. Cara pengemasan lain yang cukup murah dan mudah tetapi lebih melindungi buah sawo dari kerusakan dapat menjadi alternatif bagi cara pengemasan menggunakan karung. Kardus bersekat dan berbahan pengisi (cushioning) mempunyai kemungkinan untuk dimanfaatkan sebagai pengemas buah sawo. Dinding kardus yang relatif tebal dapat mengurangi tekanan dari luar, sedang goncangan dan benturan yang dialami buah dalam kardus selama pengangkutan diredam oleh sekat dan pengisi. Jenis bahan pengisi yang biasa digunakan dalam pengemasan buah di Indonesia adalah jerami, dedaunan kering, pelepah batang pisang, potongan atau cacahan kertas (shredded paper) dan potongan atau cacahan koran (shredded newspaper). Anwar (2005) mengkaji pengaruh jenis kemasan terhadap kerusakan brokoli setelah pengiriman sejauh 310 km. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemasan kardus dengan bahan pengisi kertas koran menghasilkan kerusakan
mekanis yang lebih kecil (8,46%) dibandingkan kantong plastik tanpa bahan pengisi (23,70%). Pradnyawati (2006) mengemas jambu biji di dalam keranjang bambu dan kardus, masing-masing dilengkapi dengan cacahan koran sebagai pengisi atau koran sebagai pembungkus buah dan mengangkutnya sejauh 600- 630 km. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kardus berisi jambu biji yang dibungkus koran memberikan tingkat kerusakan mekanis paling kecil. Hasil penelitian Muthmainnah (2008) tentang simulasi transportasi buah sawo yang dikemas dalam karung, kardus dengan pengisi cacahan koran dan kardus berbahan pengisi daun pisang kering menunjukkan bahwa kemasan kardus berpengisi cacahan koran merupakan kemasan paling baik untuk pengiriman buah sawo jarak jauh.
Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian tentang pengaruh cara pengemasan terhadap perubahan mutu dan umur simpan buah sawo yang telah dilaksanakan pada tahun 2013. Penelitian dilaksanakan menurut rancangan acak kelompok lengkap dengan tiga blok sebagai ulangan.
Buah sawo masak fisiologis tetapi belum matang dipanen dari kelurahan Trirenggo Bantul, dibersihkan dan dikemas dengan berbagai cara yaitu buah dikemas dalam karung sebagai kontrol (T1), buah dikemas dalam kardus (T2), kardus bersekat karton di antara setiap lapis buah (T3), kardus bersekat karton di antara setiap dua lapis buah (T4), kardus ditambah potongan koran sebagai bahan pengisi (T5), kardus bersekat karton di antara setiap lapis buah ditambah potongan Koran (T6) dan kardus bersekat karton di antara setiap dua lapis buah ditambah potongan Koran (T7). Buah sawo yang telah dikemas diangkut selama lebih kurang empat jam dari tempat panen menuju ke tempat penyimpanan pada suhu kamar (28 -29oC) Laboratorium Hortikultura, Fakultas Pertanian UGM. Variabel yang ditampilkan dalam tulisan ini berupa susut berat, kekerasan buah (diamati dengan penetrometer Barreiss Prufgeratebau GmbH tipe bs 61 II/BS 61 II 00 Serial-No 2553), padatan terlarut total (PTT) (diukur menggunakan refraktometer merk Atago), kandungan asam tertitrasi (AT) yang dianalisis dengan metode titrasi 0,1N NaOH dengan indikator phenolphthalein 1%, persentase kerusakan buah, penampilan atau visual quality rating (VQR) buah (Kader et al., 1973) dan umur simpan buah yang diamati berdasarkan waktu yang dilalui buah sawo hingga mencapai nilai VQR 3 (buruk, kerusakan/cacat serius, tidak terjual). Analisis hasil pengamatan dilakukan dengan analisis varian pada tingkat kepercayaan 95% yang dilanjutkan dengan uji kontras ortogonal pada tingkat kepercayaan yang sama.
Hasil dan Pembahasan
Sawo termasuk buah buni yang tersusun atas jaringan sukulen dari kulit sampai daging buahnya, sehingga bersifat perishable. Cara pengemasan yang kurang tepat dapat menimbulkan kerusakan buah yang berakibat pada penurunan mutu yang cepat dan umur simpan yang pendek.
Tabel 1. Hasil uji kontras ortogonal terhadap susut berat dan kekerasan buah sawo ketika matang.
Perbandingan perlakuan
Susut berat (%) Kekerasan buah (N) Perbandinga n nilai Hasil perbandinga n Perbandingan nilai Hasil perbandinga n T1 vs T2,T3,T4,T5,T6,T7 35,58 vs 24,47 * 58,16 vs 65,04 ns
T2 vs T3,T4,T5,T6,T7 23,96 vs 25,90 ns 65,24 vs 65,03 ns T3,T4 vs T5,T6,T7 31,61 vs 20,13 * 64,94 vs 65,41 ns T3 vs T4 27,99 vs 35,23 ns 64,94 vs 64,94 ns T5 vs T6,T7 19,91 vs 20,24 ns 55,43 vs 65,48 ns T6 vs T7 19,74 vs 20,74 ns 65,19 vs 65,76 ns Kondisi awal Berat buah 68,90 gram Kekerasan
buah awal
90,13 N Keterangan: ns (not significant) menunjukkan tidak berbeda nyta pada tingkat
kepercayaan 95%, * berbeda nyata.
Hasil analisis terhadap susut berat buah sawo ketika matang (Tabel 1) menunjukkan bahwa pengemasan menggunakan kardus nyata mengurangi susut berat buah. Namun, di antara berbagai cara pengemasan dengan kardus, pemberian sekat di antara setiap dua lapis buah (T4) justru memberikan susut berat yang besar, serupa dengan kontrol (T1). Penambahan potongan koran dalam kardus menjadi cara pengemasan terbaik untuk menghambat susut berat buah sawo, seperti yang diperlihatkan oleh T5, T6 dan T7. Meskipun demikian, kekerasan buah yang sebelumnya dikemas dalam kardus tidak berbeda nyata dengan kekerasan buah yang dikemas dalam karung.
Tabel 2 menunjukkan bahwa penggunaan kardus untuk menggantikan cara pengemasan dengan karung tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan padatan terlarut total (PTT) buah sawo. Buah sawo yang dikemas dalam kardus berpengisi potongan koran, baik bersekat atau tidak bersekat, memiliki PTT yang sedikit lebih tinggi, tetapi nyata dibanding buah sawo dalam kardus bersekat tanpa potongan koran (T3,T4vsT5,T6,T7). Semua buah memperlihatkan kandungan PTT yang tinggi ketika matang, di atas 21oBrix. Kandungan asam tertitrasi buah sawo matang rendah dan tidak memperlihatkan beda nyata antar perlakuan. Rasio PTT/AT buah sawo yang sangat besar ini menyebabkan buah sawo memiliki rasa yang sangat manis.
Tabel 2. Hasil uji kontras ortogonal terhadap padatan terlarut total (PTT) dan kandungan asam tertitrasi (AT) buah sawo ketika matang.