• Tidak ada hasil yang ditemukan

BASED SMALL AND MEDIUM INDUSTRIES)

Dalam dokumen PROSIDING SEMINAR NASIONAL(Univ. brawijaya) (Halaman 123-126)

Objek Penelitian Lamanya aktifitas pekerjaan

BASED SMALL AND MEDIUM INDUSTRIES)

Totok Pujianto, Irfan Ardiansya, Mochammad Haikal, dan Mochammad Randy Fakultas Teknologi Industri – Universitas Padjadjaran

Penulis korespondensi: e-mail [email protected] ABSTRAK

Pemerintah Indonesia mencanangkan program percepatan pertumbuhan industri, salah satunya adalah pengembangan IKM untuk mencapai keberhasilan industri dengan indikator meningkatnya performansi sektor IKM. Jumlah IKM sektor agro (food dan non-food) dominan dan potensial diantara IKM sektor lainnya karena berhubungan erat dengan kebutuhan pokok manusia, karenanya IKM agro menjadi salah satu usaha yang sangat berkembang. Meskipun begitu, perlu dilihat apakah kinerja IKM memenuhi harapan. Oleh karena itu sangat penting mengukur kinerja perusahaanuntuk menjadi tolok ukur pencapaian target dan tujuan IKM tersebut, sekaligus untuk memperbaiki dan menjaga kualitas perusahaan. Pengukuran kinerja adalah tindakan pengukuran terhadap berbagai aktivitas dalam rantai nilai pada perusahaan. Pengukuran kinerja banyak dan lebih mudah dilakukan pada industri besar karena ketersediaan, kelengkapan dan keakuratan data yang diperlukan dalam pengukuran, namun tidak demikian dengan IKM. Pengukuran kinerja IKM yang memiliki karakteristik berbeda dengan industri besar tentu berbeda. Penelitian tentang pengukuran kinerja pada IKM sektor agro yang memiliki karakteristik berbeda dengan yang lain belum banyak dilakukan, sehingga perlu kajian tentang pengukuran kinerja IKM agro. Metode pengukuran kinerja yang banyak digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan adalah

Balanced Scorecard (BSC), Integrated Performance Measurement System (IPMS), dan Performance Prism (PP). Masing masing metode memiliki kelebihan dan kelemahan. Kesesuaian penerapannya pada IKM sektor agro juga bisa berbeda sebab pada sektor agro sendiri terbagi dalam kelompok-kelompok karaktersitik yang berbeda. Kajian ini bermaksud melakukan perbandingan metode pengukuran kinerja antara metode BSC dengan PP sehingga dapat disimpulkan metode yang lebih mendekati kesesuaian untuk pengukuran kinerja IKM sektor agro. Pada tahap pertama, penelitian menggunakan studi kasus pada IKM sektor agro-food dengan masing-masing metoda mengambil kasus dua perusahaan.

Kata kunci : IKM sektor agro, metode pengukuran, pengukuran kinerja

ABSTRACT

The Indonesian government launched a program of accelerated industrial growth, one of which is the development of SMEs for the success of the industry with increased performance indicators SME sector. Total SME agro sector (food and non-food) and potentially dominant among SMEs in other sectors because it is closely related to basic human needs, hence SME agro into one business that is growing. Even so, to be seen whether the performance of SMEs to meet expectations. Therefore it is very important to measure the company's performance to a benchmark achievement of targets and objectives of the SME, as well as to improve and maintain the quality of the company. Performance measurement is the act of measuring the various activities in the value chain in the company. Performance measurement and more easily done on large industries because of the availability, completeness and accuracy of the data required in the measurement, but not so with SMEs. SMEs performance measurement which has different characteristics with large industry is different. Research on the measurement of performance on SME agro sector which have characteristics different from the others has not been done, so it needs to be a study of performance measurement agro SMEs. Performance measurement method that is widely used to measure the performance of the company is the Balanced Scorecard (BSC), Integrated Performance Measurement System (IPMS), and Performance Prism (PP). Each method has its advantages and

ISBN 978-602-74352-0-9 ED22 disadvantages. Suitability application in agro sector SMEs can also be different because the agro sector itself is divided into groups of different characteristics. This study intends to make a comparison between the performance measurement methods with PP BSC method so that it can be concluded that the method is closer to suitability for performance measurement SME agro sector. In the first stage, the study uses a case study on SME agro-food sector with each of these methods take the case of two companies.

Keyword: agro sector IKM, measurement method, performance measurement

PENDAHULUAN

Industri Kecil Menengah (IKM) berperan dalam perekonomian suatu negara karena IKM: (1) menjadi pelaku mayoritas dalam pasar, (2) berkontribusi dalam penyediaan kesempatan kerja, (3) mampu memobilisasi sumberdaya, dan (4) mampu mendistribusikan pendapatan nasional suatu negara (Jasra dkk., 2011; Singh, dkk., 2012). Di Indonesia IKM juga berperan dalam perekonomian dengan alasan yang sama. Hal tersebut ditunjukkan oleh keberadaan IKM: (1) yang jumlahnya mencapai lebih dari 90 % dan jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 96 % (Tambunan, 2011; Anggadwita dan Mustafid, 2013), dan (2) yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Widjajani, 2008; Pawitan, 2012). Pemerintah Indonesia mencanangkan program percepatan pertumbuhan industri, salah satunya adalah pengembangan IKM untuk mencapai keberhasilan industri dengan indikator meningkatnya performansi sektor IKM.

Jumlah IKM sektor agro (food dan non-food) dominan dan potensial diantara IKM sektor lainnya karena berhubungan erat dengan kebutuhan pokok manusia, karenanya IKM agro menjadi salah satu usaha yang sangat berkembang. Di dalam Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035, ada sejumlah hal yang menjadi perhatian yaitu: (1) pengembangan IKM, (2) pengembangan perwilayahan industri, (3) industri hulu agro (pertanian), dan (4) industri pangan. Industri pangan sendiri tergolong sebagai industri prioritas karena berperan penting dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis yang mengakibatkan adanya peningkatan kebutuhan pangan (Sekretariat Negara RI, 2014). Oleh karena itu kajian yang memadukan 4 poin perhatian di dalam RIPIN 2015-2035, yakni mengembangkan IKM di sektor pertanian dan lebih khusus pada subsektor pangan yang memperhatikan perwilayahan industri merupakan kajian yang sesuai dengan RIPIN 2015 – 2035.

Meskipun begitu, perlu dilihat apakah kinerja IKM memenuhi harapan. Dalam pengembangan IKM subsektor pertanian pangan perlu diperhatikan kendala yang lebih spesifik (Lambert, 2001; Henson dan Cranfield, 2009) terutama kendala yang berkaitan dengan aspek: (1) persediaan bahan baku (kurangnya konsistensi, kecukupan, dan kualitas), (2) sumberdaya manusia (keterampilan, pengetahuan, keahlian), (3) proses produksi (rendahnya teknologi, manajemen, sanitasi dan higienitas), dan (4) produk (kurangnya konsistensi kualitas, kemasan, diversifikasi). Antar IKM subsektor pertanian pangan bisa menghadapi kendala yang berbeda karena perbedaan wilayah dan/atau produk (Pramuka dkk., 2013).Oleh karena itu sangat penting mengukur kinerja perusahaan untuk menjadi tolok ukur pencapaian target dan tujuan IKM tersebut, sekaligus untuk memperbaiki dan menjaga kualitas perusahaan.

Pengukuran kinerja adalah tindakan pengukuran terhadap berbagai aktivitas dalam rantai nilai pada perusahaan. Pengukuran kinerja merupakan proses mengukur efisiensi dan efektivitas yang dilakukan secara ketat terhadap suatu tindakan (Neely dkk., 2000). Pengukuran kinerja adalah tindakan penyelidikan yang bersifat multi-disiplin yang dilakukan secara ekstensif dan efektif (Franceschini, dkk. 2012). Pengukuran kinerja banyak dan lebih mudah dilakukan pada industri besar karena ketersediaan, kelengkapan dan keakuratan data yang diperlukan dalam pengukuran, namun tidak demikian dengan IKM. Pengukuran kinerja IKM yang memiliki karakteristik berbeda dengan industri besar tentu berbeda. Pendekatan pengukuran kinerja umumnya dirancang untuk industri besar (IB), dan sering tidak dapat diterapkan untuk IKM khususnya di negara berkembang, karena: (1) IKM tidak terstruktur dengan baik dan benar, dan (2) IKM sering tidak mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk pengukuran kinerja yang kompleks (Muntonyi dan Gyau, 2013). Oleh karena itu mengukur kinerja IKM perlu disesuaikan dengan karakteristik IKM.

Penelitian tentang pengukuran kinerja pada IKM banyak dilakukan, antara lain dapat dilihat pada Tabel 1.

ISBN 978-602-74352-0-9 ED23

Tabel 1. Penelitian- penelitian pengukuran kinerja pada IKM

No Penulis Judul Penelitian Objek Penelitian

1. Dr. Shankar Chelliah (2010)

Internationalization and

Performance: Small and Medium Enterprises (SMEs) in Malaysia

77 IKM sektor manufaktur di Malaysia, dengan menggunakan Indeks

Internasionalisasi dan pengukuran kinerja 2. Mel Hudson, et

al.(2001)

Theory and Practice in SME Performance Measurement Systems

IKM di Britania Raya dengan menggunakan 10 pengukuran kinerja yang dievaluasi berdasarkan literature

3. Edward Martey,

et al. (2013)

Performance and Constraints of Small Scale Enterprises in the Accra Metropolitan Area of Ghana

150 IKM di Accra Metropolitan Area, Ghana. Mengukur faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja UKMmenggunakan SPSS dan

Econometric views (E-views).

4. P. P. Shah dan R. L.

Shirvastava

Development and Validation of Performance Measures for Lean Practices in SME

IKM di daerah Virdabha,India.

Menggunakan metodeSix sigma, TQM dan ISO untuk mengukur kinerja IKM.

5. Sergio D. Sousa, et al.(2006)

Performance Measures in English SME: Survey Result

IKM di Inggris menggunakan Metode

Balanced Scorecard (BSC).

Penelitian tentang pengukuran kinerja pada IKM sektor agro yang memiliki karakteristik berbeda dengan yang lain belum banyak dilakukan, sehingga perlu kajian tentang pengukuran kinerja IKM agro. Widiyawati dkk. (2013), mengatakan bahwa metode pengukuran kinerja yang banyak digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan adalah Balanced Scorecard (BSC), Integrated Performance Measurement System (IPMS), dan Performance Prism (PP). Performance Prism merupakan salah satu metode pengukuran kinerja yang mempunyai lima sisi (facets) yang membentuk framework tiga dimensi berupa prisma segitiga. Sisi atas dan bawah merupakan stakeholder satisfaction dan stakeholder contribution,

sedangkan tiga sisi yang lain adalah strategies, processes, dan capabilities. Performance Prism

memberikan pengukuran yang komprehensif dan sudut pandang yang luas, sehingga memberikan gambaran yang realistis mengenai penentu kesuksesan bisnis. Dengan demikian, pengukuran kinerja dapat memberikan gambaran yang jelas dan nyata tentang kondisi perusahaan yang sebenarnya.Sedangkan metode Balanced Scorecard (BSC) secara ringkas terdiri dari empat perspektif, yaitu keuangan (Financial), pelanggan (Customer), proses bisnis internal (Internal Processes), dan pembelajaran dan pertumbuhan (Learning and Growth).Dari empat perspektif inilah sebuah tujuan strategis IKM akan dirancang. BSC terdiri dari tiga fungsi, yaitu sebagai sistem pengukuran, sistem manajemen strategis,dan sebagai alat komunikasi. Masing masing metode memiliki kelebihan dan kelemahan. Kesesuaian penerapannya pada IKM sektor agro juga bisa berbeda sebab pada sektor agro sendiri terbagi dalam kelompok-kelompok karaktersitik yang berbeda. Kajian ini bermaksud melakukan perbandingan pengukuran kinerja antara menggunakan metode BSC dengan metode Performance Prism

sehingga dapat disimpulkan metode yang lebih mendekati kesesuaian untuk pengukuran kinerja IKM sektor agro.

METODE

Dalam kajian ini dilakukan tiga kegiatan yaitu (1) melakukan kajian pustaka dan hasil penelitian tentang Balanced Score Card (BSC) dan Performance Prism (PP) serta penerapan dari kedua metode tersebut, (2) mengeksplorasi dan mengidentifikasi IKM sektor agro-food yang dijadikan kasus dimana dalam kajian ini ada dua IKM pangan untuk mendapatkan data dan informasi terkait dengan pengukuran kinerjanya, (3) melakukan pembandingan dua metode pengukuran diatas dipandang dari sudut ketersediaan dan kesesuaian data dan informasi secara kualitatif. Dua IKM dimaksud dianggap mampu mewakili karakteristik IKM sektor agro-food. Adapun yang menjadi obyek studi kasus adalah PT X dan PT Y di Cimahi yaitu IKM yang bergerak di bidang pengolahan bahan pangan menjadi makanan ringan.

Prinsip analisisnya adalah diantara dua metode pengukuran tersebut mana yang paling banyak terakomodasi oleh kesesuaian dan ketersediaan data dari dua IKM yang dijadikan studi kasus. Penentuan

ISBN 978-602-74352-0-9 ED24

dan pemeringkatan Key Performance Index (KPI) masing masing metode pengukuran menggunakan metode Analytical Hierrarchy Process (AHP). Selanjutnya untuk melihat kesesuaian metode pengukuran kinerja dilakukan hal sebagai berikut: (1) untuk menyamakan skala nilai dari masing-masing indikator, sehingga pencapaian terhadap tiap-tiap parameter masing masing metode pengukuran dibutuhkan penentuan score dengan membandingkan hasil identifikasi karakteristik IKM terhadap KPI dari masing masing metode pengukuran menggunakan metode scoring system dengan metode OMAX. Dari perhitungan scoring system akan diketahui level kesesuaian tiap KPI dari setiap metode pengukuran.(2) Skor ini dipadukan dengan TLS. TLS menggunakan tiga warna yaitu warna hijau dengan ambang batas level 8 sampai dengan level 10 yang berarti metode pengukuran dianggap sangat tepat. Warna kuning dengan ambang batas level 4 sampai level 7 artinya metode pengukuran masih belum tepat untuk digunakan. Warna merah dengan ambang batas lebih kecil atau sama dengan level 3 menunjukan bahwa metode pengukuran tidak dapat diterapkan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen PROSIDING SEMINAR NASIONAL(Univ. brawijaya) (Halaman 123-126)