• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Ekonomi Desa Wisata pada Masyarakat dan Potensi Keberlanjutannya

1Ketut Jayanegara

1Program Studi Matematika – Fakultas MIPA, Universitas Udayana Kampus Bukit Jimbaran, Badung 80361, Indonesia

[email protected]

2Luh Putu Trisna Darmayanti

2Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan – Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana Kampus Bukit Jimbaran, Badung 80361, Indonesia

[email protected]

Abstract— Salah satu dampak dari tingginya kunjungan wisatawan ke Bali adalah maraknya perkembangan desa-desa wisata di berbagai kawasan di Bali.Sejak menggeliatnya istilah desa wisata, jumlah desa wisata di Provinsi Bali pada April 2017 tercatat 104 desa, 11 diantaranya terdapat di 3 kecamatan di Kawasan Badung Utara. Keberadaan desa-desa wisata ini selain memberikan berbagai dampak positif, juga menyertakan dampak-dampak negatif pada perekonomian masyarakat. Tulisan ini ditujukan untuk mengetahui pendapat masyarakat di ketiga kecamatan di Kawasan Badung Utara mengenai dampak ekonomi dari keberadaan desa wisata bagi masyarakat lokal serta potensi keberlanjutannya. Sebanyak 110 orang dewasa, masing-masing 10 orang per desa wisata di Kawasan Badung Utara, dipilih secara acak sebagai responden penelitian. Menggunakan kuesioner berskala Likert dengan nilai 1 menunjukkan pendapat yang paling negatif dan nilai 5 pendapat yang paling positif, data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif.

Hasil analisis menunjukkan (a) bertambahnya kesempatan kerja, dan (b) bertambahnya kesempatan berusaha adalah dua indikator dominan dari dampak positif bagi perekonomian masyarakat sedangkan (a) meningkatnya persaingan usaha, dan (b) meningkatnya harga tanah merupakan dua indikator dominan dampak negatif desa wisata. Mencermati saat ini hanya tiga desa wisata yang masih beroperasional dan memberikan manfaat signifikan, keberlanjutan desa wisata di Kawasan Badung Utara diragukan.

Kata Kunci— Badung, dampak ekonomi, desa wisata, keberlanjutan.

I. PENDAHULUAN

Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata Tahun 2017 [1] menunjukkan pada tahun 2017 pariwisata menduduki peringkat ketiga setelah minyak kelapa sawit dan batu bara di peringkat pertama dan kedua dalam menyusun devisa negara. Laporan ini menunjukkan nilai kontribusi pariwisata terhadap penyusunan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar USD 14,216 milyar. Bali, sebagai sebuah provinsi yang tidak memiliki sumber daya alam berlimpah memilih pariwisata serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai dua pilar pembangunan kawasan. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat pada akhir tahun 2016, kedua lapangan usaha ini memberikan kontribusi sebesar 46,17 triliun rupiah (± 37,56 persen) dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali atas dasar harga konstan tahun 2000 sebesar 137,19 triliun rupiah yang disusun oleh 17 lapangan usaha).

Bertumpu kepada dua pilar ini, maka pertumbuhan perekonomian Bali pada periode tahun 2013–2016 senantiasa melebihi rata-rata pertumbuhan perekonomian nasional [2].

Meski demikian, berbagai pihak menyadari dampak positif dari berkembangnya pariwisata di Bali masih belum terdistribusikan dengan merata. Sebagai ilustrasi empirik, proporsi penduduk miskin di Kawasan Badung Utara lebih

besar bila dibandingkan dengan penduduk di Kawasan Badung Selatan. Mengacu kepada ketimpangan distribusi hasil pembangunan ekonomi yang didominasi sektor pariwisata, maka Pemerintah Kabupaten Badung telah menginisiasi kawasan desa wisata di tiga kecamatan di Kawasan Badung Utara dengan mengintensifkan segenap potensi yang ada untuk meningkatkan kemenarikan alam dan budayanya sebagai destinasi pariwisata. Dengan berkembangnya desa-desa wisata di Badung Utara, diharapkan ketimpangan manfaat ekonomi yang diterima masyarakat Badung Selatan dengan Badung Utara bisa diminimalkan.

Mengutip Peraturan Bupati Badung Nomor 47 Tahun 2010 tentang Penetapan Desa Wisata, pada pasal 1 disebutkan Desa Wisata merupakan “wilayah pelestarian alam lingkungan ekosistim serta simpul budaya tradisional masyarakat dengan tidak menghambat perkembangan warganya untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya melalui usaha kepariwisataan”. Berdasarkan definisi ini, maka setidak-tidaknya terdapat dua sasaran dari pengembangan desa wisata di Kabupaten Badung, meliputi:

A. Upaya untuk melestarikan alam dan budaya tradisional masyarakat. Upaya pelestarian ini menyiratkan agar alam dan budaya tradisional masyarakat di Kabupaten Badung terjaga lestari dan berkelanjutan; dan

B. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desa-desa wisata di Kabupaten Badung, yang berlokasi di tiga kecamatan di Kawasan Badung Utara. Hal ini akan bermuara pada berkurangnya kesenjangan dalam menerima manfaat pariwisata, khususnya pada aspek perekonomian masyarakat.

Memperhatikan uraian sebelumnya, tulisan ini ditujukan untuk mengetahui pendapat masyarakat di desa wisata di Kawasan Badung Utara mengenai dampak pariwisata pada aspek perekonomian mereka. Dampak ini dibedakan menjadi 2 jenis, dampak positif dan dampak ekonomi. Melalui persepsi masyarakat di desa-desa wisata ini, kedua jenis dari dampak pariwisata pada dimensi ekonomi merupakan indikasi awal mengenai keberlanjutan dan keajegan desa-desa wisata di Kawasan Badung Utara.

II. METODE

Data pada tulisan ini diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada 110 orang penduduk dari 11 desa wisata di Kabupaten Badung. Alokasi sampel per desa ditetapkan merata 10 orang per desa wisata. Sebelas desa wisata ini ditetapkan melalui Peraturan Bupati Badung Nomor 47 Tahun 2010 sebagai berikut:

TABEL 1.DESA WISATA DI KABUPATEN BADUNG

1 Pangsan Banjar Sekar Mukti Pundung

2 Kerta Desa Kerta

3 Plaga Banjar Kiadan

4 Belok Banjar Lawak

5 Carangsari Desa Carangsari Abiansemal 69.01 91.65 6 Bongkasa Pertiwi Banjar Karang Dalem I

7 Sangeh Desa Sangeh

Sumber: Peraturan Bupati Badung Nomor 47 Tahun 2010

Pendapat masyarakat yang direpresentasikan melalui persepsi responden terhadap item-item pernyataan kuesioner selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Persepsi disusun dalam bentuk penyataan tertutup dan responden disiapkan lima opsi dengan nilai 1 menunjukkan persepsi paling negatif hingga nilai 5 menyatakan persepsi paling positif. Tabel

009-3

2 menunjukkan deskripsi 10 item yang digunakan untuk mengetahui dampak positif dan dampak negatif pariwisata pada aspek perekonomian penduduk di desa wisata.

TABEL 2.ITEM-ITEM PENGUKUR DAMPAK POSITIF DAN DAMPAK NEGATIF PARIWISATA PADA PEREKONOMIAN MASYARAKAT DESA WISATA

Jenis Dampak Kode Deskripsi Item

Dampak Negatif

AE1 Meningkatnya harga-harga kebutuhan pokok rumah tangga AE2 Meningkatnya harga tanah dan properti lain

AE3 Persaingan harga antarusaha semakin meningkat AE4 Usaha tradisional masyarakat semakin sulit berkembang AE5 Beralihnya jenis pekerjaan masyarakat

Dampak Positif

AE6 Bertambahnya kesempatan kerja bagi masyarakat desa AE7 Bertambahnya kesempatan berusaha bagi masyarakat desa AE8 Bertambahnya penghasilan (income) masyarakat desa AE9 Meningkatnya kualitas fasilitas publik

AE10 Bertambahnya jumlah fasilitas publik Sumber: hasil penelitian (2019).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Profil Responden

Rata-rata responden berumur 40 tahun, dengan umur terkecil dan terbesar masing-masing sebesar 18 dan 70 tahun dengan nilai simpangan baku (σ) sebesar 14,5 tahun. Sekitar 72 persen responden berada pada kelompok usia produktif (26 – 69 tahun) dan lainnya berada pada kelompok umur < 26 tahun (± 24 persen) dan lebih dari 69 tahun (± 4 persen).

Selain itu, responden menyebar merata antara laki-laki (51 persen) dan perempuan (49 persen). Terlepas dari fakta bahwa Kabupaten Badung merupakan kabupaten terkaya di Provinsi Bali dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada tahun 2017 tercatat sebesar 33,06 triliun rupiah (adhk 2010), Badung masih memiliki penduduk miskin yang secara absolut tercatat sebesar 13 160 orang atau 2,06 persen dari jumlah total penduduk [3]. Garis kemiskinan, garis yang menunjukkan pendapatan per kapita per bulan sesesorang terkategori miskin, pada tahun 2017 tercatat Rp 500 885. Analisis deskriptif pada indikator pendapatan responden memperlihatkan ± 52 persen memiliki pendapatan kurang dari Rp 2 juta per bulan.

B. Persepsi Responden

Untuk mengetahui dampak pariwisata terhadap perekonomian masyarakat di desa-desa wisata, persepsi responden tentang dampak positif dan dampak negatif yang ditimbulkan dianalisis secara deskriptif. Setiap dampak yang masing-masing diukur melalui 5 item (lihat Tabel 2) diperiksa. Responden yang berpendapat sangat negatif (nilai 1) atau negatif (nilai 2) terhadap sebuah item pernyataan digabungkan sebagai persepsi negatif, demikian pula halnya pendapat positif (nilai 4) atau sangat positif (nilai 5) digabungkan sebagai persepsi positif. Persepsi bernilai 3 dimaknai sebagai persepsi yang bersifat netral. Gambar 1 menunjukkan distribusi frekuensi pendapat responden mengenai dampak positif dan dampak negatif pariwisata terhadap perekonomian masyarakat di desa-desa wisata di Kabupaten Badung.

C. Pembahasan

Pada gambar 1 (a) terlihat dengan jelas meningkatnya harga lahan/tanah serta persaingan antarusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang umumnya dimiliki masyarakat desa menguat merupakan dua indikator dominan pada dampak negatif pariwisata. Peningkatan harga lahan/tanah produktif milik masyarakat cenderung menjadi faktor pendorong terjadinya alih kepemilikan dan alih fungsi lahan ke dan oleh pihak ketiga. Hal ini tidak terlepas dari pendapatan responden yang lebih dari separuhnya berpendapatan kurang dari 2 juta rupiah per bulan. Dalam jangka

pendek, solusi untuk mengatasi permasalahan keuangan keluarga yang bisa dilakukan dengan segera adalah menjual lahan produktif yang dimilikinya. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab beralihnya profesi responden, umumnya di sektor pertanian ke sektor-sektor industri dan jasa lainnya sebagai dampak negatif ketiga berkembangnya desa mereka sebagai desa wisata.

(a) Dampak Negatif (b) Dampak Positif

GAMBAR 1.DISTRIBUSI PERSEPSI RESPONDEN TENTANG DAMPAK PARIWISATA BAGI PEREKONOMIAN MASYARAKAT

Pada perspektif dampak positif, bertambahnya kesempatan usaha dan kesempatan kerja merupakan dua indikator dominan dari persepsi masyarakat. Berbagai riset menjustifikasi temuan ini, antara lain telah dilakukan oleh [4], [5]

yang menunjukkan dampak positif yang segera bisa dirasakan masyarakat di destinasi adalah meningkatnya kesempatan kerja, kesempatan usaha, serta berlanjut kepada peningkatan pendapatan.

Mencermati pendapat responden mengenai dampak negatif dan dampak positif dari berkembangnya desa-desa wisata terhadap perekonomian masyarakat desa, indikator-indikator dominan pada kategori dampak negatif cenderung lebih bersifat rigid, sulit untuk diubah dalam waktu singkat; dan indikator-indikator dominan pada dampak positif memiliki sifat ‘jangka pendek’ dan dapat berubah dengan cepat. Mencermati hal ini, maka keberlanjutan desa-desa wisata layak dipertanyakan.

VI. KESIMPULAN

Tulisan ini menyimpulkan dampak-dampak negatif dan positif dari berkembangnya desa wisata di Kabupaten Badung terpersepsikan dengan jelas oleh masyarakat desa. Perlu dicermati, menyimak dampak negatif lebih bersifat permanen dibandingkan dengan dampak positif pariwisata maka berkembangnya sebuah desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan masyarakat lokal, justru peran pemerintah sebagai fasilitator dan esksekutor sangat diperlukan agar keberlanjutan desa-desa wisata di Kabupaten Badung khususnya dan Bali umumnya dapat direalisasikan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Universitas Udayana yang mendanai penelitian ini melalui DIPA BLU Univeristas Udayana nomor 2021/UN14.2.8.II/LT/2019, Tanggal 10 April 2019. Penghargaan juga diberikan kepada Eka N. Kencana, penliti di Pusat Unggulan Pariwisata UNUD yang memberikan bantuan dalam menginterpretasikan data penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Kementerian Pariwisata, Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata Tahun 2016. Jakarta, 2017.

[2] BPS Provinsi Bali, Provinsi Bali Dalam Angka 2018. Denpasar: BPS Provinsi Bali, 2018.

[3] BPS, Kabupaten Badung Dalam Angka 2018. Mangupura: BPS Kabupaten Badung, 2019.

[4] E. N. Kencana and T. Manutami, “Structural Model to Evaluate the Effect of Community Participation on Ecotourism Sustainability,” J. Phys. Conf. Ser., no. 012030, pp. 1–6, 2017.

[5] E. N. Kencana, “The Role of Local Government in Fostering the Economic of Community: A Lesson from Tourism Development at Nusa Penida Islands of Bali,” E-Journal Tourism, vol. 6, no. 1, pp. 119–129, 2019.

Seminar Nasional Sains dan Teknologi (SENASTEK) – The International Conference on Science, Technology and Humanities (ICoSTH)

Bali, Indonesia, 14-15 November 2019 Paper No. 010

010-1

Rancang Bangun Sistem Informasi Pemantau

Garis besar

Dokumen terkait