• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan Blended Learning pada Mata Kuliah Practice of English-Indonesian

Translation, PS Sastra Inggris, FIB, UNUD

1Ni Made Ayu Widiastuti Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Denpasar-Bali, Indonesia

[email protected]

2Ketut Santi Indriani Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Denpasar-Bali, Indonesia [email protected]

Abstrak—Blended Learning merupakan gabungan antara proses pembelajaran di kelas dan daring. Untuk dapat mengaplikasikan pembelajaran blended learning ini, tahap perancangan sangat diperlukan terutama dalam hal persiapan materi baik untuk tatap muka di kelas maupun secara daring. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan tahap perancangan blended learning mata kuliah Practice of English-Indonesian Translation (P-EIT) dan mendeskripsikan model desain sistem pembelajaran tersebut. Data diambil dari Rencana Pembelajaran Semester (RPS) P-EIT yang mendukung desain blended learning. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitiatif dengan model disain sistem pembelajaran PEDATI yaitu Pelajari, Dalami, Terapkan, dan Evaluasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga hal yang dilakukan pada tahap perancangan yaitu pendaftaran mata kuliah, persiapan RPS blended learning, dan mempelajari fitur-fitur e-learning. Sementara itu, model desain yang meliputi pemilihan dan penentuan strategi sinkron dan asinkron mata kuliah terdiri dari seting sinkronous langsung, asinkronous mandiri, dan asinkronous kolaboratif. Seting sinkronous maya tidak diikutsertakan pada desain ini dikarenakan tidak memadainya peralatan pendukungnya.

Kata kunci—perancangan, blended learning, Practice of EIT, teknologi informasi, sinkronous, asinkronous

I. PENDAHULUAN

Saat ini metode pengajaran blended learning telah mejadi suatu kebutuhan dalam dunia pendidikan yang sejalan dengan perkembangan teknologi informasi. Blended Learning merupakan gabungan antara proses pembelajaran di kelas dan daring. Penerapan metode tersebut memudahkan interaksi antara siswa dan pengajar.

Pengajar dapat dengan mudah memberikan materi pembelajaran, latihan, dan tugas, kemudian siswa dapat belajar mandiri dan berlatih mengerjakan soal-soal latihan dan tugas sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Hasil dari pembelajaran tersebut terekam dan tersimpan dalam sistem pembelajaran daring tersebut, selain itu pemberian nilai ataupun feedback dapat diberikan langsung melalui sistem tersebut.

Untuk dapat mengaplikasikan pembelajaran blended learning ini, tahap perancangan sangat diperlukan (Damayanti dan Sulatri, 2018) terutama dalam hal persiapan materi baik untuk tatap muka di kelas maupun secara daring. Keberhasilan pembelajaran dengan metode tersebut tergantung pada perancangannya, jika tidak dirancang dengan baik dan lengkap, maka tidak dapat dipastikan keberhasilannya.

Salah satu mata kuliah yang diajarkan pada semester V pada Prodi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana adalah Practice of English-Indonesian Translation (P-EIT). Dalam P-EIT, mahasiswa diharapkan mengerjakan banyak latihan penerjemahan teks bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dari jenis teks yang

berbeda seperti teks media, kesehatan, hukum, sastra, politik dan ekonomi. Semakin banyak mahasiswa berlatih menerjemahkan maka mereka semakin terbiasa dan terlatih untuk itu. Tentu saja hasil latihan terjemahan mereka di kelas ataupun secara daring akan dibahas baik pada forum diskusi pada sistem daring maupun dengan tatap muka di kelas.

Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan tahap perancangan blended learning mata kuliah Practice of English-Indonesian Translation (P-EIT) yang akan diaplikasikan pada semester ganjil 2019/2020 dan mendeskripsikan model desain sistem pembelajaran blended learning mata kuliah Practice of English-Indonesian Translation (P-EIT) tersebut.

II. METODE PENELITIAN

Data penelitian didapatkan dengan mempelajari fitur-fitur dari sistem online learning atau PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) Universtas Udayana dan dari Rencana Pembelajaran Semester mata kuliah Practice of English-Indonesian Translation. Dengan begitu, perancangan blended learning dapat dilakukan dengan baik.

Data akan dianalisis secara kualitatif untuk dapat memaparkan perancangan blended learning pada mata kuliah Practice of English – Indonesian Translation, Prodi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan siswa, serta sejalan dengan Rencana Pembelajaran Semester, selain itu model disain sistem pembelajaran PEDATI oleh Chaeruman (2017) digunakan dalam penelitian ini.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Tahap Perancangan Blended Learning Mata Kuliah P-EIT

Tahap perancangan blended learning mata kuliah P-EIT terdiri dari tiga bagian yaitu pendaftaran mata kuliah pada sistem Pembelajaran Jarak Jauh yang terintegrasi dengan sistem di Universitas Udayana, selanjutnya adalah penyempurnaan RPS mata kuliah dengan menggunakan dua sistem, yaitu tatap muka dan daring. Selama ini RPS yang telah tersusun adalah untuk pembelajaran tatap muka saja, sehingga harus ditambahkan slot untuk pengalaman belajar daring. Bagian terakhir adalah memahami fungsi situr-fitur yang digunakan pada sistem daring.

1) Pendaftaran mata kuliah pada sistem PJJ UNUD

Setiap mata kuliah yang akan diajarkan menggunakan sistem blended learning didaftarkan terlebih dahulu pada sistem dan diunggah atau diaktifkan oleh admin/petugas. Setelah mata kuliah didaftarkan pada https://elearning.unud.ac.id/login/index.php.

2) RPS Mata Kuliah P-EIT

RPS merupakan dokumen Prodi yang disusun untuk mempersiapkan dan melaksanakan perkuliahan dengan penilaian mahasiswa yang biasanya terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan jenis mata kuliah. Sebelum menambahkan dan mengunggah materi pada sistem e-learning, RPS dengan kegiatan belajar tatap muka dan daring sudah harus disiapkan. RPS mata kuliah Practice of EIT dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu: Identitas mata kuliah; Identitas Dosen dan kontak kampus; Deskripsi mata kuliah; CPL yang dibebankan pada Mata Kuliah;

Capaian Pembelajaran Mata Kuliah; Bahan Kajian (Materi Pembelajaran); Materi ajar per pertemuan (selama 16 kali); Daftar pustaka; serta Lampiran (rubrik penilaian, bobot penilaia, pemberian nilai akhir, dan persyaratan perkuliahan).

3) Fitur-fitur pada E-learning

E-learning memiliki beberapa fitur penting dan lengkap yang dapat membantu menyimpan dan menggunggah bahan ajar guna mendukung proses belajar mengajar siswa. Sebelum menggunakan sistem ini, perlu diketahui jenis dan fungsi fitur-fitur tersebut. Jika pengguna learning ini adalah dosen/pengajar, maka saat saat membuka aplikasi e-learning, akan terdapat 4 bagian yang berisi pilihan-pilihan menu, yaitu baris bagian atas yang terdiri dari Home;

Dashboar; Events; My courses; This course; Turn editing on/off; Hide/ show blocks; Standard view. Kolom bagian kiri berisi Add an activity or resource yang dapat di-edit, sedangkan kolom bagian kanan terdiri dari Panduan;

Navigation; Administration; Add a block, dan yang terakhir adalah kotak bagian bawah berisi Informasi singkat tentang e-learning Universitas Udayana, Contact, Links.

042-3

B. Model Desain Sistem Pembelajaran Blended Learning Mata Kuliah P-EIT

Model disain sistem pembelajaran PEDATI (Chaeruman, 2017) – Pelajari, Dalami, Terapkan, dan Evaluasi – dapat dibagi menjadi menjadi lima tahapan. Sebelum mulai mengajar dengan sistem blended learning, pengaturan pertemuan daring dan tatap muka sudah harus direncanakan dengan matang, disamping kesiapan materi dan latihan.

Kelima tahapan model desain ini adalah sebagai berikut.

1. Merumuskan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah

Capaian Pembelajaran mata kuliah P-EIT telah dilakukan pada tahap persiapan dan telah disertaan pada RPS.

2. Memetakan dan Mengorganisasikan Materi Pembelajaran

Materi pebelajaran mata kuliah P-EIT dipetakan sesuai dengan pokok bahasan, sub pokok bahasan, dan pokok materi sesuai dengan capaian pembelajaran yang telah ditentukan. Mata kuliah P-EIT diberikan dalam satu semester terdiri dari enam belas pertemuan baik daring maupun tatap muka. Materi pembelajaran akan diberikan sebanyak 14 kali, satu kali Ujian Tengah Semester dan satu kali lagi Ujian Akhir Semester.

3. Pemilihan dan Penentuan Strategi Pembelajaran Asinkron dan Sinkron Mata Kuliah

Mata kuliah Practice of EIT menggunakan tiga dari empat seting pembelajaran yaitu Sinkronous langsung, Asinkronous Mandiri, Asinkronous Kolaboratif. Sinkronous Maya belum diterapkan pada mata kuliah ini karena keterbatasan fasilitas dan peralatan pendukung untuk melakukannya.

Sinkronous langsung adalah seting pembelajaran tatap muka di kelas. Penggunaan seting ini adalah dengan tujuan memberikan penjelasan tentang topik perkuliahan dan pembahasan tugas yang telah dikerjakan oleh mahasiswa pada sistem online. Hal ini dilakukan agar siswa dapat bertanya dan membahas kesulitan atau kendala yang dihadapi saat mengerjakan tugas.

Seting asinkronus mandiri yaitu pembelajaran individu dengan mengunduh dan mempelajari materi dari sistem daring dan mengerjakan tugas perorangan dilakukan oleh siswa mulai pertemuan kedua sampai akhir.

Mahasiswa diberikan waktu selama enam hari untuk mengunduh, mempelajari dan mengerjakan tugas pada sistem daring mengingat banyaknya tugas yang diberikan pada mata kuliah lain, sehingga mereka dapat memahami dan mengerjakan setiap tugas dengan baik.

Asinkronous kolaboratif kegiatan belajar siswa secara berkelompok dalam mengerjakan tugas-tugas berkelompok dan belajar bersama diluar pertemuan tatap muka di kelas. Tidak hanya dilakukan siswa, kegiatan itu juga dilakukan oleg pengajar untuk membahas hasil-hasil tugas dan quiz pada forum dikusi online learning. Hal ini sangat berguna untuk saling memberikan feedback pada jawaban-jawaban siswa, yang biasanya dilakukan setelah pengajar memeriksa dan menilai hasil tugas/quiz mereka.

4. Menyusun Aktivitas Pembelajaran Asinkron Mata Kuliah

Aktifitas pembelajaran asinkron yang terdiri dari asinkronous mandiri dan asinkronous kolaboratif dilakukan pada seluruh pertemuan kecuali pertemuan pertama dan UTS. Hal tersebut memungkin karena seluruh materi pada mata kuliah ini telah diunggah pada sistem daring, begitu juga tugas dan latihannya dengan rentangan waktu tertentu.

5. Merancang Aktivitas Pembelajaran Sinkron Mata Kuliah

Penggunaan sistem blended learning ini bukan berarti siswa dan pengajar dapat mengurangi pertemuan tatap muka dalam satu semester karena telah digantikan dengan pembelajaran daring. Justru tatap muka sangat diperlukan untuk mengetahui kendala-kendala yang siswa hadapi baik dalam memahami materi maupun mengerjakan latihan dan tugas. Tanya jawab dan diskusi dapat dilakukan secara daring, namun tidak semua siswa dapat melakukannya satu-per satu karena jumlah siswa yang banyak dalam satu kelasnya, selain itu sistem online learning ini belum memiliki koneksi yang lancer dan cepat.

Pembelajaran asinkron dan sinkron mata kuliah P-EIT secara ringkas dapat dilihat pada tabel di berikut ini.

TABELI

PEMBELAJARAN ASINKRON DAN SINKRON MATA KULIAH

Pertemuan ke- Topik Seting belajar

1 Definition and process of translation sinkronous langsung

2

Translating English active and passive sentences into Indonesian Translating English complex and cleft sentences into Indonesian Translating English narrative and descriptive texts into Indonesian Translating English procedure and report texts into Indonesian Translating English expository and argumentative texts into Indonesian

sinkronous langsung

Translating English text in media into Indonesian Translating English medical text into Indonesian

16 End-semester test sinkronous langsung

asinkronous mandiri

IV. SIMPULAN

Perancangan pembelajaran blended learning mata kuliah Practice of English-Indonesian Translation yang baik memengaruhi kesuksesan pembelajaran jarak jauh tersebut. Pada tahap perancangannya, terdapat tiga hal penting yang dilaksanakan yaitu pendaftaran mata kuliah pada sistem Pembelajaran Jarak Jauh yang terintegrasi dengan sistem di Universitas Udayana; penyempurnaan RPS mata kuliah dengan menggunakan pengalaman belajar daring dan tatap muka; serta memahami keseluruhan fitur dan fungsi masing-masing agar dapat menggunakan sistem tersebut dengan optimal. Ketiga langkah tersebut dilakukan secara sistematis untuk kelancaran input materi ajar, quiz, dan tugas pada sistem pembelajaran online tersebut.

Model disain sistem pembelajaran PEDATI (Pelajari, Dalami, Terapkan, dan Evaluasi) dibagi menjadi menjadi lima tahapan: a) merumuskan CP mata kuliah; b) memetakan dan mengorganisasikan materi pembelajaran mata kuliah tersebut untuk menentukan dan mengelompokkan materi pebelajaran ke dalam pokok bahasan, sub pokok bahasan, dan pokok materi sesuai dengan capaian pembelajaran yang telah ditentukan; c) memilih dan menentukan strategi pembelajaran Asinkron dan Sinkron mata kuliah; d) menyusun aktivitas pembelajaran Asinkron mata kuliah; dan e) merancang aktivitas pembelajaran sinkron mata kuliah. Meskipun bagian (a) dan (b) telah disiapkan sedemikian rupa pada tahap perancangan, namun perlu ditinjau kembali agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan selanjutnya sinkron dengan penentuan strategi dan pembelajaran sinkron/asinkron.

UCAPAN TERIMA KASIH

Pelatihan ini didanani oleh LPPM UNUD 2019. Kami, seluruh tim peneliti berterima kasih kepada Rektor Universitas Udayana beserta jajarannya, Ketua LPPM UNUD dan staf atas dukungan dana yang diberikan. Kami juga berterima kasih kepada Koprodi Sastra Inggris, Dekan Fakultas Ilmu Budaya, UNUD dan staf untuk dukungan fasilitasnya. Selanjutnya, kami berterima kasih kepada mahasiswa yang telah membantu pada penelitian ini.

[1] Bonk, C., and Graham, C. Handbook of blended learning: Global perspectives, local designs, San Francisco, CA: Pfeiffer Publishing, 2005. (in Patricia McGee and Abby Reis. 2015. Blended Course Design: A Synthesis of Best Practices. Journal of Asynchronous Learning Networks, Volume 16: Issue 4.)

[2] Chaeruman, Uwes Anis. 2017. PEDATI Model, Desain Sistem Pembelajaran Blended: Panduan Merancang Mata Kuliah Daring SPADA Indonesia. Jakarta: Direktorat Pembelajaran, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek Dikti.

[3] Damayanti, Silvia, dan Sulatri, Ni Luh Putu Ari. 2018. Tahap Perancangan Metode Pembelajaran Blended Learning Pada Mata Kuliah Shokyuu Hyouki Di Program Studi Sastra Jepang Universitas Udayana 420 Seminar Nasional Sastra dan Budaya III Denpasar, 28 – 29 Maret 2018

DAFTAR PUSTAKA

Seminar Nasional Sains dan Teknologi (SENASTEK) – The International Conference on Science, Technology and Humanities (ICoSTH)

Bali, Indonesia, 14-15 November 2019

2I Made Satriya Wibawa, 3Nyoman Wendri

2Program Studi Fisika FMIPA mikrokontroler ATMega328. Tegangan yang diterima dikonversi oleh mikrokontroler ATMega328 menjadi data digital berupa data berat infus, selanjutnya data berat infus dikirim ke database menggunakan modul SIM800L sehingga dapat ditampilkan pada website

Keywords— database, load cell, mikrokontroller, web.

I. PENDAHULUAN.

Perkembangan teknologi informasi khususnya komputer di era-globalisasi sekarang ini berpengaruh sangat pesat disemua bidang baik bisinis, pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Bidang kesehatan misalnya adalah rekam medis yang dulu pencatatantannya secara manual sekarang sudah menggunakan pencatatan secara digital. Rekam medis merupakan berkas pasien yang berisi catatan serta dokumen tentang identitas, hasil pemeriksaan, pengobatan, pelayanan, serta tindakan-tindakan yang pernah diberikan kepada pasien [1]. Catatan rekam medis kemudian diolah dan disimpan dengan baik sehingga di kemudian hari akan sangat bermanfaat bagi pihak manajemen manajemen rumah sakit untuk mengetahui informasi pasien yang pernah dirawat. Rekam medis mempunyai tujuan agar tercipta tertib administrasi dalam rangka meningkatkan pelayanan kesahatan dalam rumah sakit. Salah satu faktor Pelayanan rumah sakit akan berjalan dengan baik dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya rekam medis yang dimiliki sangat bagus. Rekam medis memeiliki beberapa aspek antara lain : Administrasi, Medis, Hukum, Keuangan, Penelitian, Pendidikan, dan Dokumentasi.

Perawatan medis salah satunya adalah penggunaan Infus. Infus dialirkan ketubuh melalui selang lewat pembuluh darah. Tubuh dapat mengalami dehidrasi akibat dari salah satu penyakit atau dari melakukan aktivitas yang berlebihan [2]. Cairan tubuuh yang hilang akibat penyakit atau yang laindapat dilakukan dengan mengalirkan infus ke dalam tubuh, disamping itu infus juga dapat diisi obat-obatan yang diperlukan untuk pengobatan paisen seperti antibiotik, obat-obatan yang diperlukan oleh tubuh pasien yang mengalami infeksi, obat kemoterapi untuk pasien kanker, obat untuk menghilangkan nyeri, dan lain-lain.

Pengawasan aliran dan penggunaan infus yang kurang tepat akan mengakibatkan beberapa dampak seperti epidema, sesak nafas, tekanan darah tinggi (hipertensi), perubahan mental dan Penurunan kuantitas urin.

Efek samping setelah diinfus dapat terjadi secara ringan atau berat, tergantung pada reaksi tubuh terhadap obat dan faktor-faktor lainnya. Secara umum, berikut beberapa efek samping pasien diinfus yang paling sering terjadi adalah Infeksi, Emboli udara, Penggumpalan darah. untuk mengetahui dan mempelajari semua kejadian yang terjadi

Garis besar

Dokumen terkait