• Tidak ada hasil yang ditemukan

1NPL Wedayanti Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Posel : [email protected]

2NMA Anita Dewi

2Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Posel : [email protected]

Abstract— Masyarakat Bali dan Jepang adalah masyarakat patrilineal yang sikap dan harapan masyarakat terhadap laki-laki hampir sama pada kedua budaya tersebut. Anak laki-laki memikul tanggung jawab pemujaan terhadap leluhur, keberlangsungan keluarga besar, dan hak terhadap warisan keluarga. Akan tetapi, modernisasi menawarkan pilihan hidup bagi penerus laki-laki dalam keluarga yang kerap membuat mereka meniggalkan tanggung jawab mereka sebagai anak laki-laki dalam keluarga. Jikalaupun tidak ada penerus laki-laki, masyarakat Bali mengenal istilah sistem perkawinan Nyentana, dan di Jepang dengan sistem perkawinan Mukoyoshi, dengan konsep yang sama yaitu mengadopsi anak laki-laki ke dalam keluarga wanita. Hanya saja, solusi ini pun tidak bebas masalah.

Artikel ini membandingkan persamaan maupun perbedaan perkawinan matriarki di kedua budaya tersebut, dan dinamika sistem patrilineal di kedua budaya menghadapi modernisasi dewasa ini.

Kata Kunci patrilineal, Jepang, Mukoyoushi, Nyentana I. LATAR BELAKANG

Globalisasi membawa perubahan pada pola masyarakat memang bukan isapan jempol belaka. Orientasi hidup masyarakat pun berubah masif dari tradisional menjadi modern dan perlahan meninggalkan cara hidup maupun nilai yang dipercaya beratus tahun karena dianggap menghalangi kemajuan hidup individu dalam masyarakat tersebut.

Adakalanya memang tradisi membebani generasi muda untuk mengetahui dunia sejauh atau seluas-luasnya, sehingga membuat generasi muda kerap dihadapkan pada pilihan yang sulit.

Sejak Jepang menjadi negara industri, banyak perusahaan yang dibangun di kota besar dan mendorong anak laki-laki untuk bekerja di kota meninggalkan kampung halamannya. Disamping itu, persamaan hak antara pria dan wanita juga memberi angin segar pada wanita untuk dapat berkarir dan mandiri. Hal tersebut ternyata membawa Jepang pada permasalahan sosial yang pelik dewasa ini. Sejalan dengan hal tersebut, permasalahan sosial terkait generasi muda juga menjadi perhatian serius di Bali. Pulau Bali sebagai pulau yang pendapatan utamanya dari pariwisata, tentu tidak bisa lepas dari pengarung asing yang dibawa oleh para wisatawan. Terpaparnya generasi muda Bali terhadap budaya barat, membuat semakin banyak generasi muda Bali memikirkan ulang urgensi bentuk-bentuk tradisi yang sudah dijalani selama puluhan tahun, bahkan ratusan tahun di Bali.

Perihal ini seperti yang disampaikan oleh Windia (2008) mengenai kebutuhan masyarakat Bali akan pewaris, akan tetapi tidak ada solusi yang berpihak pada menantu laki-laki yang diadopsi jika perkawinan yang dilakukan tidak berjalan lancar. Penelitian mencari persamaan maupun perbedaan konsep budaya patrilineal di Bali dan di Jepang, serta mencari dinamika konsep patrilineal yang terjadi di Bali maupun di Jepang menghadapi modernisasi.

II. KAJIAN PUSTAKA

Penelitian ini menggunakan beberapa referensi yang membantu dalam proses penelitian, berikut adalah penelitian-penelitian tersebut.

Sujana (2017) dalam penelitian yang telah dilakukannya terkait pelaksanaan perkawinan Nyentana, dia menyebutkan bahwa sistem perkawinan yang dilaksanakan di Bali dapat sangat beragam tergantung dari situasi, aturan ataupun adat yang dianut masing-masing daerah di Bali. Akan tetapi, sebagian besar dari sistem perkawinan tersebut bersifat patrilineal, yaitu sistem yang berdasarkan pada garis laki-laki dalam keluarga. Hal ini menyebabkan

012-2

kehadiran anak laki-laki menjadi sangat penting dalam keluarga Hindu di Bali. Akan tetapi menghadapi masalah tersebut, adat dan agama Hindu memberikan solusi dengan melaksanakan perkawinan Nyentana. Perkawinan Nyentana pada dasarnya perkawinan dengan konsep yang terbalik dari perkawinan biasa pada umumnya. Penelitian Sujana (2017) memberikan kontribusi pemahaman mengenai seluk beluk pernikahan Nyentana bagi penelitian ini.

Kurosu (1997) melakukan penelitian mengenai proses adopsi anak laki-laki di kota Shimomoriya, Jepang yang biasa dilakukan sebagai strategi memberikan warisan. Proses adopsi ini dibedakan menjadi tiga, yaitu adopsi anak laki-laki (futsu-yoshi), adopsi menantu laki-laki (mukoyoshi), adopsi suami (nyufu). Adopsi ini dilakukan karena dalam keluarga wanita, memang tidak ada laki-laki yang bisa mendampingi wanita sebagai kepala keluarganya.

Proses adopsi seperti ini sangat biasa dilakukan di Kota Shimomoriya sejak ratusan tahun sebelumnya, mereka yang diadopsi biasanya adalah anak laki-laki yang bukan sulung. Adopsi terhadap anak laki-laki satu-satunya dalam satu keluarga menuju keluarga wanita, biasanya dikarenakan berbagai macam alasan, yaitu motivasi ekonomi.

III. PEMBAHASAN

Penelitian ini mencoba menganalisis dinamika yang terjadi di kedua masyarakat, yaitu masyarakat Bali dan masyarakat Jepang terkait sistem patrilineal. Yang paling mencolok adalah sistem perkawinan, dan pranata keluarga serta sistem pewarisan harta maupun kewajiban keluarga.

A. SISTEM PATRILINEAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT JEPANG 1) Sejarah dan Perkembangan Sistem Patriarki dalam Masyarakat Jepang

Sistem yang berpusat pada laki-laki sudah tertanam jauh pada masyarakat Jepang sejak jaman pra sejarah di Jepang berakhir. Memang agak sedikit membingungkan bagaimana masyarakat di Jepang memiliki pranata sosial yang berpusat pada laki-laki padahal dalam sejarah kerajaan negara tersebut dipimpin pertama kali oleh seorang ratu. Peran laki-laki menjadi semakin sentral saat jaman keshogunan, yang mana wanita kerap menjadi objek penguat kekuasaan dengan media perkawinan.

Pranata masyarakat yang memusatkan diri para laki-lakipun sejak saat itu mulai diatur dengan detail, seperti misalnya peran-peran sentral dan signifikan yang dimiliki laki-laki dalam keluarga ataupun masyarakat. Seorang kepala keluarga dapat menentukan nasib anggota keluarga tersebut dengan keputusan-keputusannya yang harus ditaati oleh anggota kelurga lainnya. Konsep kepala kelurga sebagai orang yang paling dihormati dalam keluarga sebenarnya dikatakan mengadaptasi ajaran konfusianisme yang menjunjung tinggi nilai keharmonisan. Keteraturan dan keharmonisan hanya akan terwujud bila setiap orang memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing, dan menghormati kaisar sebagai orang yang paling dihormati. Hal ini ditekankan oleh oleh Anwar (2007) bahwa pandangan bangsa Jepang terkait kaisar sebagai simbol pemersatu bangsa yang harus dijunjung tinggi telah ditanamkan sejak jaman Kuna di Jepang, yang dibuat dalam pasal keduabelas (Undang-Undang Tujuh belas Pasal) yang dibuat oleh Pangeran Shotoku Taishi pada tahun 604 M, dengan mengambil pola pemikiran ajaran Konfusianisme Cina.

Perlahan sejak jaman Nara tersebut, nilai mengenai kepemimpinan seorang laki-laki mulai mendominasi dan semakin kukuh di jaman-jaman berikutnya. Salah satu pemicunya juga adalah adanya sistem sewa tanah pada jaman Azuchi Momoyama. Pada saat itu, pemerintah mengijinkan para bangsawan atau tuan tanah untuk membuka lahan baru sebagai tanah pertanian. Untuk mengurus tanah pertanian tersebut, dibutuhkan para petani, dan untuk menjaga keteraturan dan keamanan, muncullah kaum bushi atau samurai yang mengabdi kepada para tuan tanah ini. Sistem ini saling kait mengkait, dan membuat putaran yang saling menguatkan.

Kemudian pada jaman Edo, saat Shogun Tokugawa berkuasa, pranata sosial yang berporos pada laki-laki semakin kuat. Kekuasaan-kekuasaan strategis dipegang oleh laki-laki, dan seorang perempuan benar-benar tergantung pada laki-laki. Aturan-aturan yang mengatur kehidupan masyarakat dibuat dengan sangat ketat, sehingga masyarakat menjadi terklasifikasikan dan terkotak-kotakkan agar lebih mudah diawasi dan diatur dari pusat.

Keadaan tersebut juga menghadirkan sistem Ie, yang juga merupakan sistem yang mendukung kultur Jepang dalam hal pemujaan kepada roh nenek moyang.

Jika dilihat dari peran dan kewenangan yang dimiliki oleh kachou, wewenang yang dimiliki cukup besar untuk membuat anggota keluarga lainnya merasa hidupnya memang tergantung pada kachou mereka. Beralih dari jaman Edo ke jaman Meiji. Sistem Ie, yang dasarnya adalah konfusianisme, yang menekankan pada penghormatan kepada langit, dan kaisar sebagai manifestasi kekuasaan langit di bumi, semakin kuat. Pada jaman Meiji, muncul istilah kazoku kokka, sebagai nilai yang mendasari pemerintahan saat itu. Konsep kazoku kokka, yang mana kaisar adalah kepala keluarga bagi keluarga-keluarga di Jepang dan lingkupnya yang lebih kecil adalah kepala keluarga sebagai kepala dari keluarganya sangat mendarah daging dalam jiwa orang Jepang. Kaisar sebagai kepala keluarga

(kachou) dari sebuah keluarga yang besar (negara) mengharapkan pengabdian dari rakyat yang menyeluruh. Konsep kazoku kokka ini pun menjiwai Undang-undang dasar Meiji

Meskipun setelah restorasi Meiji, aturan mengenai kazoku kokka ini dihapus untuk mengejar ketertinggalan Jepang akan nilai-nilai demokrasi atas desakan pihak barat, nilai-nilai patrilinealisme ini tidak mudah dihapuskan.

Disamping itu, masyarakat Jepang saat ini pun masih berpikir bahwa memiliki anak laki-laki dalam keluarga itu sangat penting. Kuatnya aplikasi sistem patrilineal ini sangat terlihat dalam sistem perkawinan dan pranata keluarganya, sebelumnya berikut akan dijelaskan bentuk-bentuk pernikahan yang ada di Jepang.

B. SISTEM PATRILINEAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT BALI 1) Perkembangan Sistem Patriarki dalam Masyarakat Bali

Kehidupan masyarakat di Bali sangat kental dengan nilai agama yang terakulturasi dalam budayanya.

Pandangan-pandangan masyarakat mengenai wanita yang tidak setara dengan pria kemungkinan juga dipengaruhi oleh adanya pemahaman akan nilai agama yang diinterpretasikan bahwa wanita dapat membawa cuntaka, yang dapat juga menjadi asal ketidakberuntungan. Oleh sebab itu, wanita sering tidak dilibatkan dalam area strategis.

Selain dalam kehidupan keagamaan, kegiatan sosial di masyarakat juga telah terbagi dengan apik antara peran pria dan wanita dalam desa adat. Hal ini dipercaya membawa harmoni saat setiap orang mengetahui dan menyadari peran mereka masing-masing. Disharmoni terkadang muncul di dalam lingkup perkawinan yang disebabkan sistem patriarki ini. Menurut Artadi (2003) dijelaskan adanya dua bentuk perkawinan dalam hukum adat Bali, yaitu perkawinan bentuk yang biasa, dalam arti pengantin laki-laki berkedudukan selaku purusa dan si wanita berkedudukan sebagai pradana. Dalam sistem perkawinan ini, pengantin pria menarik pengantin wanita untuk masuk ke dalam keluarganya. Bentuk perkawinan yang kedua adalah perkawinan nyeburin atau lebih umum disebut perkawinan nyentana. Dalam perkawinan ini, pengantin wanita berkedudukan sebagai purusa, atau pria, dan penganti pria berkedudukan sebagai pradhana, atau wanita, dan perkawinan ini mengajak pihak pria untuk masuk ke dalam keluarga mempelai wanita.

Perkawinan nyentana kerap terjadi karena alasan keluarga tersebut tidak memiliki anak laki-laki sebagai penerus atau pewaris keluarga. Sama seperti masyarakat Jepang, dalam keluarga masyarakat Bali, anak laki-laki juga sangat diharapkan. Hal ini karena anak laki-laki dijadikan pewaris pada hak dan kewajiban keluarganya. Harta warisan yang bergerak seperti usaha keluarga ataupun hak yang tidak bergerak seperti rumah, tanah atau kekayaan lainnya, biasanya diberikan kepada anak laki-laki. Begitu juga tanggung jawab untuk mengurus orang tua, leluhur ataupun kewajiban adat keluarganya, menjadi kewajiban anak laki-laki. Hanya saja, jika memiliki anak laki-laki lebih dari satu, tiap daerah di Bali memiliki aturan masing-masing terhadap anak laki-laki yang mana yang akan menjadi pewaris. Ada daerah yang memilih anak laki-laki sulung, ada pula menentukan yang bungsu, hal ini sangat tergantung dari desa kala patra di Pulau Bali ini. Bahkan terkadang tiap keluarga memiliki kesepakatan masing-masing sesuai dengan situasinya.

IV. SIMPULAN

Penelitian ini yang mengambil tema terkait patrilineal, menjadi permasalahan tertimbun yang dipicu perubahan pranata sosial pada masyarakat Bali maupun masyarakat Jepang. Dari studi referensi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa, pada masyarakat Bali, terancamnya keberlangsungan sistem patrilineal dapat ditelisik karena mengikisnya nilai-nilai agama yang menuntut generasi muda menjalankan tanggung jawabnya sebagai penerus kewajiban keluarga dalam beragama. Kewajiban melakukan ritual beragama di Bali tidak dapat dikatakan mudah dengan semua rutinitas dan konsekuensi sosial yang juga terserta didalamnya. Disamping itu, kecenderungan para orang tua untuk menjadi lebih moderat pada anak-anaknya, juga menjadi salah satu pemicu.

Dalam hal masyarakat Jepang, keberlangsungan sistem patrilineal tersebut menjadi kekhawatiran karena banyak generasi Jepang yang tidak menikah, atau seandainya menikahpun, mereka sangat mengkalkulasi keputusan mereka untuk memiliki anak. Dan, tidak lagi mempermasalahkan memiliki anak laki-laki. Semakin sedikitnya generasi penerus di Jepang, tentu akan mustahil untuk membicarakan patrilineal yang merupakan sistem berbasis pada laki-laki yang tanggung jawab serta haknya diwariskan secara turun temurun.

Ucapan Terima kasih

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Rektor Universitas Udayana dan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana, serta Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, atas dukungan serta bantuan Dana PNPB Universitas Udayana, sehingga penelitian ini dapat terselesaikan.

Penelitian ini didanai DIPA PNBP Universitas Udayana TA 2019 Sesuai dengan Surat Perjanjian Penugasan Pelaksanaan

012-4

Penelitian Nomor : 1900/UN14.2.1/LT/2019, tanggal : 23 April 2019. Semoga Penelitian ini dapat memberikan sumbangan ilmiah, terutama dalam bidang pengembangan kebahasaaan.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Windia, W. P. (2008). Menyoal awig-awig: eksistensi hukum adat dan desa di Bali. Lembaga Dokumentasi dan Publikasi FH. Unud.

[2] Sujana, I. P. W. M. (2017). PELAKSANAAN PERKAWINAN NYENTANA DALAM RANGKA MENGAJEGKAN SISTEM KEKELUARGAAN PATRILINEAL DI BALI. Widya Accarya, 7(1).

[3] Kurosu, S., & Ochiai, E. (1995). Adoption as an heirship strategy under demographic constraints: a case from nineteenth-century Japan. Journal of Family History, 20(3), 261-288.

[4] Anwar, E. N. (2007). Ideologi Keluarga Tradisional “IE “dan Kazoku Kokka pada Masyarakat Jepang Sebelum dan Sesudah Perang Dunia II. Wacana, 9(2), 194-205.

[5] Artadi, I. K., dan Pengetahuan, U. U. F. H., Penerbitan, M. B., & Penerbitan, B. (1981). Hukum adat Bali dengan aneka masalahnya. Sumber Mas Bali.

[6] Adnyani, N. K. S. (2016). Bentuk Perkawinan Matriarki pada Masyarakat Hindu Bali Ditinjau dari Perspektif Hukum Adat dan Kesetaraan Gender. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 5(1).

[7] Atmaja, J. (2008). Bias gender: perkawinan terlarang pada masyarakat Bali. Kerjasama CV. Bali Media Adhikarsa [dan] Udayana University Press.

[8] Koentjaraningrat. (2005). Pengantar antropologi. Rineka Cipta.

[9] Onogwu, E. O. (2015). Reversing Patriarchy: A literary Examination of Adopted Husbands (Mukoyoshi) in Japan. Rupkatha Journal on Interdisciplinary Studies in Humanities, 7(3).

[10] Spradley, J. P. 1997. Metode etnografi, 5.

[11] Tobing, E. (2006). Keluarga tradisional Jepang dalam perspektif sejarah dan perubahan sosial. ILUNI KWJ.

Seminar Nasional Sains dan Teknologi (SENASTEK) – The International Conference on Science, Technology and Humanities (ICoSTH)

Bali, Indonesia, 14-15 November 2019 Paper No. 013

013-1

Keanekaragaman Molusca Di Hutan Mangrove

Garis besar

Dokumen terkait