Islam. Jauh sebelum Rasulullah lahir, sudah ada sebutan Allah. Para penyembah berhala juga mengatakan “Aku Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah” tapi Allah dalam artian Dewa Bulan. Jadi kalau dikatakan bahwa Allah itu adalah Tuhannya orang Islam, maka itu terbantahkan secara fakta penelusuran.
2. Kalau bicara soal Zat Tidak Dikenal (ZTD), maka penelusurannya ada pada diri sendiri. Nanti lama kelamaan akan bisa bersatu dengan ZTD alam semesta.
3. Zat Tidak Dikenal akan berubah, menyesuaikan dengan casing (jasad) yang dimasukinya.
4. Allah tidak bersumber dari AL’A. 5. Sang Maha Pencipta adalah Pencipta
Aliens dan ada unsur-Nya yang hidup menggerakan Aliens, seperti di manusia bumi.
6. Lebih tepat begini, “Rabb di dalam saya dan saya di dalam Rabb”.
7. Cara satu-satunya mengenal Yang Maha Ghaib adalah unsur Sang Maha Ghaib itu sendiri yang bernama RUH, yaitu zat yang ditiupkan pada diri kita ketika di dalam kandungan.
8. Unsur RUH ini hanya bisa dirasakan setelah kita bisa mengenal semua akselerasi sel di dalam tubuh kita secara utuh.
9. RUH itu adalah energy yang Maha Dahsyat dan sanggup menggerakkan alam semesta tanpa jeda.
10. RUH akan membawa kita pada sumbernya, yaitu Dzat AL’A (Allah Swt).
11. Ijrail tidak berkuasa mencabut RUH, tapi berkuasa mencabut Jiwa.
12. Jiwa berhubungan dengan isik dan berbagai macam pertimbangan nalar karena Jiwa memiliki proses untuk mempergunakan akal sebagai hardware nya.
13. Jika diibaratkan ke komputer, jiwa = software, ruh = listrik, dan casing = badan.
14. RUH mampu menampung semua memory manusia sampai ke tingkat sel. 15. Nama Allah SWT tidak berasal dari
kata AL’A, tapi dari Allat, yaitu Dewa Bulan.
16. Nama Allah terlalu kecil untuk ukuran Rabb.
12/19/15, 14:57:53: KANG DICKY: Kalau bicara soal Allah, itu bukan hanya Tuhannya orang Islam, karena jauh sebelum Rasulullah lahir itu sudah ada sebutan untuk itu. Bahkan para penyembah berhala juga sudah mengatakan “ Aku Bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah” tapi Allah dalam artian Dewa Bulan, mereka beriman karena kesaksian mereka langsung karena melihat sendiri dan merasakan sendiri bulan atau yang mereka sebut Allat/Allah itu. Jadi kalau kita mengatakan bahwa Allah itu Tuhannya orang Islam itu terbantahkan secara fakta penelusuran. Banyak juga itu sudah ditulis oleh peneliti pagan dan sabian/shabi’in.
Kalau bicara soal ZTD, maka penelusurannya ada pada diri sendiri. Nanti lama kelamaan akan bisa bersatu dengan ZTD alam semesta. Latihan TD1 adalah salah
satu cara untuk mempermudah akselerasi sel manusia agar terjadi peningkatan fungsi.
12/19/15, 14:58:06: KANG DICKY: Mangga
12/19/15, 15:02:09: Wilman Ramdhani (Bogor): Hehehe.... Btul itu mbap...
12/19/15, 15:04:49: Wilman Ramdhani (Bogor): Peningkatan Fungsi faal tubuh. Adapun ZTD adalah satu entitas lain yg teknis merasakannya / pendekatannya berbeda, sesuai dng pengalaman n penelusuran diri sendiri.
12/19/15, 15:06:45: KANG DICKY: Tambahan, bahwa ZTD akan menyesuaikan dengan casing tiap yang dimasukinya. Jadi memang tiap mahluk pasti berbeda, meskipun berjenis sama.
12/19/15, 15:06:54: KANG DICKY: Mangga dibahas.
12/19/15, 15:07:49: Wilman Ramdhani (Bogor): Punten tadi menimpali sakedik. Manawi aya tulisan mangga. Hehehe.... Nuhun mbap ilmuna.
12/19/15, 15:15:57: Dedi Misbah (P‑BDG): Nuhun Mbap.
Tulisan ttg Allah (tuhan orang islam) saya copas dari postingan salah seorang HIer. Mungkin untuk membedakan dengan nama2 tuhan lainnya.
12/19/15, 15:23:43: Dedi Misbah (P‑BDG): Punten bertanya Mbap:
1) Secara akar kata, apakah kata Allah ini bersumber dari kata AL’A?
1 TD = Tenaga Dalam
2) Jika ada HIer yang berkata atau menulis jika Allah alias RABB / AL’A / Sang Maha Pencipta adalah alien, apakah penelusurannya benar atau salah?
3) Apakah dengan kemampuan HIers yang sekarang ini sudah ada yang Manunggaling Kawula lan Gusti. Hingga ia menulis:
“Saya adalah Tuhan. Tuhan adalah saya” 4) Copas:
“Jangan berimajinasi soal ZTD, karena nanti akan muncul hal aneh lain, berupa gangguan psikologis dan megalomania”
Ciri2 orang seperti apa saja, Mbap?
12/19/15, 15:47:01: KANG DICKY: Allah bukan bersumber dari AL’A. Sang Maha Pencipta adalah Pencipta Aliens dan ada unsurnya yang hidup menggerakan Aliens, seperti di manusia bumi. Lebih tepat begini, “Rabb di dalam saya, dan saya di dalam Rabb”. Jadi berlaku untuk semua. Kalau berimajinasi soal ZTD, bagaimana mengimajinasikan Zat yang tak terimajinasikan?
12/19/15, 16:02:25: Dedi Misbah (P‑BDG): Nuhun Mbap.
Tentang kata AL’A, saya konirmasi ke Mbap, karena saat membahas RUH dan Dzat AL’A pernah Mbap menulis:
“... Coba sekarang bagaimana kita mengenal sesuatu yang Maha Ghaib. Dan apa jembatan yang bisa menghubungkan diri kita pada Sang Maha Ghaib itu? Satu‑satunya jembatan penghubung adalah unsur Sang Maha Ghaib itu sendiri yang bernama RUH, yang ditiupkan pada diri kita ketika sedang berada di dalam kandungan. Unsur RUH ini hanya bisa dirasakan setelah kita bisa mengenal semua akselerasi sel di dalam tubuh kita secara utuh, baru kita bisa merasakan dan mengenal apa itu yang menjadi unsur Sang Maha Pencipta yang sudah di simpan di dalam diri kita. Unsur itu tidak melekat di sel tubuh, tapi melekat di energy tubuh, karena unsur itu adalah energy yang Maha Dahsyat. Sebuah energy yang sanggup menggerakan alam semesta tanpa jeda.
Unsur itulah yang akan membawa kita pada sumbernya yaitu Dzat AL’A yang sekarang kita sebut dengan ALLAH SWT.”
12/19/15, 16:10:13: Dedi Misbah (P‑BDG): Punten sebelumnya Mbap, agar jelas dan tidak multi tafsir.
Tentang mengimajinasikan ZTD, jika memang tidak bisa diimajinasikan.
Mengapa ada larangan atau warning, Mbap?
“Jangan berimajinasi soal ZTD, karena nanti akan muncul hal aneh lain, berupa gangguan psikologis dan megalomania”
‑‑‑‑‑‑‑‑
Ataukah ada penjelasan lainnya yang saya belum ketahui tentang mengimajinasikan Zat yang tak terimajinasikan?
12/19/15, 16:14:36: Agung Baziva (Bekasi): waah KDM itu mah sudah dijlaskan pada prnyataan skaligus prtnyaan dari Mbap
“bagaimana mengimajinasikan “ZAT” yang tak terimajinasikan?”
jawabannya Yah pasti Ga bisa.. Namana sja sudah Zat Tidak dikenal
Bukan sbuah nama sprti Allah, atau dengan istilah Robb skalipun, atau istilah a b c ‑z.
sudah melebur...sudah meliputi segalanya
12/19/15, 16:15:35: Habibi Velo (Rawamangun JKT): Kang Jodi mantAap penjelazannya....
12/19/15, 16:15:39: Agung Baziva (Bekasi): pantas klo di bilang Megalomania...
krna mmg sangat tidak bisa diistilahkn dengan apapun
12/19/15, 16:20:12: Dedi Misbah (P‑BDG): Heu3... Inilah saya Kang Agung.
Yang masih belum paham dan mengerti. Apalagi merasakan, memandang dan melebur. Menurut saya.
Lebih baik bertanya sampai tuntas disini. Pada narasumber.
Daripada blom paham dan mengerti. Tapi diam seolah2 mengerti.
12/19/15, 16:24:12: Agung Baziva (Bekasi): waah sama klo itu mah Kang.. ann sih cumn bisa nangkep dri kata Zat tidak dikenal.. dari situ berarti mmg tak ada nama dan istilah...
@KSB siapa yg motong kang?
12/19/15, 16:27:21: Ilham Amir Hi: Megalooon ire.. Teringat ilm megaloman... Heureuy
12/19/15, 16:28:16: Gunadi (W‑BDG): ********** [16:02, 12/19/2015] Dedi Misbah (P‑BDG): Nuhun Mbap.
Tentang kata AL’A, saya konirmasi ke Mbap, karena saat membahas RUH dan Dzat AL’A pernah Mbap menulis:
“... Coba sekarang bagaimana kita mengenal sesuatu yang Maha Ghaib. Dan apa jembatan yang bisa menghubungkan diri kita pada Sang Maha Ghaib itu? Satu‑satunya jembatan penghubung adalah unsur Sang Maha Ghaib itu sendiri yang bernama RUH, yang ditiupkan pada diri kita ketika sedang berada di dalam kandungan.
Unsur RUH ini hanya bisa dirasakan setelah kita bisa mengenal semua akselerasi sel di dalam tubuh kita secara utuh, baru kita bisa merasakan dan mengenal apa itu yang menjadi unsur Sang Maha Pencipta yang sudah di simpan di dalam diri kita.
Unsur itu tidak melekat di sel tubuh, tapi melekat di energy tubuh, karena unsur itu adalah energy yang Maha Dahsyat. Sebuah energy yang sanggup menggerakan alam semesta tanpa jeda. Unsur itulah yang akan membawa kita pada sumbernya yaitu Dzat AL’A yang sekarang kita sebut dengan ALLAH SWT.” *********
KDM, punten di copas dan di rapihin. Paragraf kedua nguatin apa yg disampaikan K’Jodi nu panjaaaang pisan.
12/19/15, 16:31:12: Jody H Bayuaji: Dari tadi nyari catetan ini kepotong sama tamu terus, nuhun Kang Ded...Nuhun juga dah diperjelas Kang Gun
12/19/15, 16:33:09: Habibi Velo (Rawamangun JKT): >>>>>
ini sdh sangat jelas keterangannya
Unsur RUH ini hanya bisa dirasakan setelah kita bisa mengenal semua akselerasi sel di dalam tubuh kita secara utuh, baru kita bisa merasakan dan mengenal apa itu yang menjadi unsur Sang Maha Pencipta yang sudah di simpan di dalam diri kita
12/19/15, 16:33:48: Jody H Bayuaji: Kalau bicara soal ZTD, maka penelusurannya ada pada diri sendiri. Nanti lama kelamaan akan bisa bersatu dengan ZTD alam semesta. Latihan TD adalah salah satu cara untuk mempermudah akselerasi sel manusia agar terjadi peningkatan fungsi.
12/19/15, 16:34:23: Jody H Bayuaji: Tambahan, bahwa ZTD akan menyesuaikan dengan casing tiap yang dimasukinya. Jadi memang tiap mahluk pasti berbeda, meskipun berjenis sama.
12/19/15, 16:40:14: Agung Baziva (Bekasi): taah sepakat sma kang Jody
latihan TD adalah salah satu cara... bukan satu satunya cara
karena trnyata Sunan kali jaga pun smpai tahap makrifat bukn pada olah TD
12/19/15, 16:42:40: Dedi Misbah (P‑BDG): Ini copas lengkapnya, Kang Gun:
“Siapa yang mengenal dirinya, maka dia pasti mengenal Tuhannya. Itu adalah kalimat sangat terkenal tanpa orang mampu mengejawantahkannya.
Karena kita harus benar‑benar mengenal diri kita sampai ke tingkat sel, barulah kita akan mengenal siapa tuhan. Coba sekarang bagaimana kita mengenal sesuatu yang Maha Ghaib. Dan apa jembatan yang bisa menghubungkan diri kita pada Sang Maha Ghaib itu? Satu‑satunya jembatan penghubung adalah unsur Sang Maha Ghaib itu sendiri yang bernama RUH, yang ditiupkan pada diri kita ketika sedang berada di dalam kandungan.
Unsur RUH ini hanya bisa dirasakan setelah kita bisa mengenal semua akselerasi sel di dalam tubuh kita secara utuh, baru kita bisa merasakan dan mengenal apa itu yang menjadi unsur Sang Maha Pencipta yang sudah di simpan di dalam diri kita.
Unsur itu tidak melekat di sel tubuh, tapi melekat di energy tubuh, karena unsur itu adalah energy yang Maha Dahsyat. Sebuah energy yang sanggup menggerakan alam semesta tanpa jeda.
Unsur itulah yang akan membawa kita pada sumbernya yaitu Dzat AL’A yang sekarang kita sebut dengan ALLAH SWT.
RUH atau RUBH itu adalah sebuah Dzat yang setelah lepas dari Dzat AL’A, dia bisa berdiri sendiri, meskipun tetap terhubung dengan sumbernya. Untuk meng‑ akselerasi sel di tubuh manusia diperlukan sebuah gaya yang sangat kuat sekali.
Fungsi makanan hanya untuk menambah unsur yang ada di dalam sel saja, dan semua keperluan sel, tapi dibalik itu, untuk menggerakan sel ini agar semua bekerja dengan baik, diperlukan RUBH/RUH ini.
Makanya Ijrail tidak memiliki kekuasaan untuk mencabut RUH, tapi kekuasaannya adalah mencabut Jiwa.
Perbedaan antara Jiwa dengan RUH adalah, apabila Jiwa itu berhubungan dengan isik dan berbagai macam pertimbangan nalar karena Jiwa memiliki proses untuk mempergunakan akal sebagai hardware nya.
Jadi kalau kita punya Casing, maka Casing itu adalah badan kita, lalu semua casing termasuk mainboard dan processor juga memory baik itu RAM atau Hardisk, memerlukan sotware sebagai Jiwa dari itu komputer dalam hal ini adalah badan kita, sedangkan komputer itu tidak akan jalan kalau tidak ada listrik, nah, listrik itulah yang namanya RUH/RUBH itu.
Hanya bedanya listrik ini sudah canggih, karena bisa menampung berbagai macam arus searah yang berupa
sotware itu dan mampu menampung bahasa binair secara lengkap.
Jadi RUH itu sendiri mampu menampung semua memory manusia sampai ke tingkat sel.
Untuk proses perkembangan janin di perut Ibu, itu menggunakan sistem sel untuk meregenerasi, dan yang menggerakan sel untuk meregenerasi adalah RUH si Ibu yang membuat sel‑sel baru untuk pembentukan janin. Lalu setelah waktu cukup, maka janin itu baru akan memenuhi syarat untuk bisa menerima Dzat Sang Maha Pencipta.
Makanya yang pertana kali disusun oleh sel adalah otak dan tulang belakang jabang bayi, baru bagian lain, karena untuk mengakselerasi pembentukan janin di bagian lain, diperlukan RUH tambahan untuk ikut meng‑akselerasi sendiri, agar nanti bisa lepas dari RUH si Ibu yang membantu sejak awal.
Kalau soal pusing dan muntah itu berhubungan dengan metabolisme yang tersedot oleh si jabang bayi di dalam pembentukan sel. Ada juga yang sampai 9 bulan masing mual dan sering muntah.”
12/19/15, 17:43:35: Jody H Bayuaji: So akang2 sepakat kan bahwa utk mencapai ZTD harus mengenal dulu sel tubuh kita berikut akselerasinya??
12/19/15, 17:51:06: Setiabudi Hi: Beberapa catatan yang mungkin bisa ditarik benang merahnya: Karena kita harus benar‑benar mengenal diri kita sampai ke tingkat sel, barulah kita akan mengenal siapa tuhan.
Unsur RUH ini hanya bisa dirasakan setelah kita bisa mengenal semua akselerasi sel di dalam tubuh kita secara utuh, baru kita bisa merasakan dan mengenal apa itu yang menjadi unsur Sang Maha Pencipta yang sudah disimpan di dalam diri kita.
Untuk mengakselerasi sel di tubuh manusia diperlukan sebuah gaya yang sangat kuat sekali.
Fungsi makanan hanya untuk menambah unsur yang ada di dalam sel saja, dan semua keperluan sel, tapi dibalik itu, untuk menggerakan sel ini agar semua bekerja dengan baik, diperlukan RUBH/RUH ini.
12/19/15, 17:51:58: Setiabudi Hi: Yang saya pahami, akselerasi sel membutuhkan RUBH
12/19/15, 17:55:34: Jody H Bayuaji: Bila kesadaran kita sudah mencapai tingkat sel, maka tahap selanjutnya adalah mencapai penggerak akselerasi sel tsb yaitu RUBH
12/19/15, 17:55:59: Gunadi (W‑BDG): ********** Unsur RUH ini hanya bisa dirasakan setelah kita bisa mengenal semua akselerasi sel di dalam tubuh kita secara utuh, baru kita bisa merasakan dan mengenal
apa itu yang menjadi unsur Sang Maha Pencipta yang sudah di simpan di dalam diri kita.
*********
Kalau saya coba pahami secara sederhana penggalan paragraf dari uraian Mbab tersebut, berarti kita hanya bisa merasakan ZTD atau RUBH yang ada di JASAD jika kita bisa merasakan seluruh penyusun jasad hingga ke bagian terkecilnya terlebih dahulu.
Karena untuk mengenal semua akselerasi sel di dalam tubuh kita secara utuh, hanya bisa kita capai jika kita memang sudah mampu merasakan penyusun tubuh kita hingga bagian atau partikel terkecilnya.
Hanya mungkin caranya banyak lah untuk mampu mencapai itu. Cara yang dikenalkan atau diajarkan Mbab ada dua saat ini, yaitu: Latihan dan RSTB. Mengenai cara lain belum tahu. Tapi karena Mbab adalah guru saya, maka saya memilih mengikuti apa yang diajarkan saja.
So, saya sepakat dengan Kang Jodi. Hehehe
12/19/15, 17:56:04: Jody H Bayuaji: RUBH a.k.a ZTD yg bermutasi sesuai bentuk kepompongnya
12/19/15, 17:58:43: Wilman Ramdhani (Bogor): Sy tdk ingin terjebak ya atau tdk, krn tuk mencapai n merasakan ZTD itu bth keikhlasan....
12/19/15, 17:59:48: Wilman Ramdhani (Bogor): Nu 100% ge akselerasi sel na aralus, tp da teu ikhlas jd weh kitu....
12/19/15, 18:01:55: Jody H Bayuaji: Karena mereka meng “ignore” nya Kang Wil
12/19/15, 18:05:06: Jody H Bayuaji: Copas:
Sang Maha Pencipta memberikan zat diri‑Nya untuk secara khusus mampu menerima bahasa AL’A di setiap manusia berapapun akselerasi sel mythocondria, baik itu 1% ataupun 100%. Itulah sebabnya, manusia diatas 90% belum tentu bisa manjadi manusia baik, kalau dia tidak membiarkan RABB sebagai pembimbing di dalam diri. Zat khusus AL’A ini tidak pernah mereka akses, padahal dengan kemampuan seperti kaum diatas 70% harusnya akan sangat mudah. Tapi rata‑rata juga kebanyakan sudah merasa sebagai Tuhan itu sendiri. Karena kemampuan yang sangat luar biasa dengan di dukung pengetahuan teknologi hebat, kaum diatas kemampuan 2,5% sering melupakan zat RABB akses untuk ke AL’A ini. Bahkan karena teknologi dan kemampuannya canggih, mereka sering merasa bahwa saya‑lah pencipta itu.
12/19/15, 18:06:41: Jody H Bayuaji: Gimana mungkin berikir merasakan Zat Sang Pencipta lhaa mereka pikir merekalah Sang Pencipta
12/19/15, 18:07:54: Wilman Ramdhani (Bogor): Iya, btul, jd tdk ikhlas menjadi dirinya sebagai mahluk.
12/19/15, 18:08:25: Jody H Bayuaji: Ngga ada niatan sama sekali utk merasakan, memandang, dan bersatu krn merasa dirinyalah sang pencipta itu
12/19/15, 18:08:52: Wilman Ramdhani (Bogor): Hayangna sebagai kholik....
12/19/15, 18:36:24: Wilman Ramdhani (Bogor): Sy tdk mau terjebak masalah akselerasi yes or no, krn keikhlasan mah leuwih utama....
12/19/15, 18:36:36: Wilman Ramdhani (Bogor): Latihan angger kudu ikhlas, sholat tanpa bacaan angger keneh kedah ikhlas....
12/19/15, 18:38:38: Wilman Ramdhani (Bogor): Dng keikhlasan sel2 tbh akan “outomatic regulation” toward god damn particle...
12/19/15, 18:39:38: Wilman Ramdhani (Bogor): Atau sebaliknya, DIA akan tiba2 KHUDURI diantara relung2 sel tbh
12/19/15, 18:49:40: Setiabudi Hi: Sel‑sel tubuh kita selalu berakselerasi selama di dimensi ini
12/19/15, 19:29:19: KANG DICKY: Sakali deui
AL’A bukan akar kata dari Allah SWT kalau sekarang kita sebut Allah itu karena akar kata nya dari Allat yaitu Dewa Bulan. Karena ikrar Aku Bersaksi Bahwa Tiada Tuhan Selain Allah itu sudah di ikrarkan oleh kaum penyembah Dewa Bulan ribuan tahun sebelum Rasulullah lahir. Perasaan tos dijelaskeun diluhur, baca lalaunan geura. Berulang‑ulang, terus pikirkan lalaunan oge.
12/19/15, 19:31:27: KANG DICKY: AL’A itu berhubungan dengan sesuatu yang sangat luas. Kalau sekarang disebut Allah itu bukan berarti AL’A jadi akar kata.
12/19/15, 19:33:52: KANG DICKY: Tapi sebagian manusia dulu menterjemahkannya cuma sepotong‑ sepotong karena ketidakpahaman. Akhirnya sebutan Allah jadi tersebar tanpa paham. Kalau AL’A sebagai akar dari segala pengertian soal penciptaan itu bisa dipakai, tap kalau jadi akar kata mah nggak, karena sekali lagi, akar kata dari sebutan Allah sekarang adalah dari Allat, atau Dewa Bulan.
12/19/15, 19:35:02: KANG DICKY: Terlalu kecil untuk ukuran Rabb.
12/19/15, 19:37:41: KANG DICKY: Sebetulnya yang saya jelaskan itu tidak multi tafsir kalau
diperhatikan secara baik baik mah. Tapi terkadang, otak penerimanya ingin menyesuaikan dengan selera masing masing. Sebetulnya itu tidak ada masalah selama dia menjalankan versi nya dengan sungguh sungguh, tapi
yang jadi masalah, disini hanya dibahas saja, tanpa action.
12/20/15, 05:18:50: KANG DICKY: Kunaon Cianjur wae ayeuna anu sering pisan di goyang gempa? Soalna Dorphall na pada rusak kamari pas digali ku TNI.
12/20/15, 09:10:22: Wilman Ramdhani (Bogor):
2015‑12‑20‑PHOTO‑00000757.jpg <attached>