Keywords: Beef cattle, Lokal Feed, palm kernel cake (PKC)
HASIL DAN PEMBAHASAN Produksi Harian Ayam Buras (Henday)
Produksi harian atau henday merupakan jumlah produksi telur yang dihasilkan oleh seekor ayam dalam jumlah hariyang ditentukan. Data dalam tabel 1 menunjukkan bahwa produksi harian terendah dicapai oleh P0 yang hanya 50,11% sedangkan produksi harian tertinggi dicapai oleh perlakuan P1 yaitu 59,55% kemudian disusul oleh P2 dan P3 masing-masing memperoleh produksi harian 54,66% dan 51,59%. Produksi harian menunjukkan semakin tinggi persentase henday yang diperoleh menunjukkan semakin sering ayam tersebut bertelur dalam jangka waktu tertentu yang juga berarti produktivitasnya semakin baik. Apabila dilihat dari jumlah telur yang dihasilkan dalam kurun waktu 120 hari masa produksi, maka diperoleh hasil untuk P0 mampu menghasilkan telur 60,16 butir
94
sedangkan P1 yang tertinggi 72,54 butir untuk P2 dan P3 masing-masing menghasilkan 69,54 dan 61,91 butir. Sedangkan (Suwindra, 1982 dalam Prawirodigdo, 2005) menyatakan bahwa diantara strain ayam lokal memiliki produksi yang bervariasi. Hal ini ditunjukkan pada produksi harian (henday) ayam sayur/buras adalah 41,3% dan Kedu hitam 58,8% serta Nunukan mencapai 50,0% (Craswell dan Gunawan, 1982 dalam Prawirodigdo, 2005)
Pernyataan (Yuwono,1995 dalam Prawirodigdo,2005),bahwa produksi telur ayam buras yang dihasilkan dalam 120 hari mencapai rata-rata 34,10- 40,83% dengan bobot telur mencapai 40,4 – 41,7 gr/butir. Produksi telur yang dihasilkan dalam kajian ini masih lebih tinggi bila dibandingkan dengan hasil yang diperoleh diatas. Hal ini dapat disebabkan karena komposisi pakan yang diberikan berbeda atau adanya penambahan bahan lokal yang dapat menjaga stamina ayam selama berproduksi.
Produktivitas Telur Ayam Buras
Tabel 1. Produksi harian (henday) dan produktivitas ayam buras yang diamatiselama 120 hari
No Perlakuan Produksi harian Henday(Butir) Produksi Harian (Henday) (%) Produktivitas (%) 1 P0 60,16a 50.11 49.89a 2 P1 72,54b 59.55 59.32c 3 P2 69,54b 54.66 54.66b 4 P3 61,91b 51.59 54.07ab
Keterangan : Data Primer 2015.angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada uji BNT taraf 5%
Produktivitas berarti tingkat produksi yang dicapai oleh ayam tersebut dibagi jumlah hari pengamatan dikalikan 100%. Kalau dalam bentuk kandang batery dalam kelompok maka dihitung berdasarkan jumlah ayam dalam kelompok dan tingkat produksinya dalam kelompok tersebut. Sedangkan produksi harian dalam hal ini adalah jumlah telur yang dihasilkan selama 120 hari masa produksi, umur 6 bulan sampai 12 bulan (awal produksi).
Dari data diatas terlihat bahwa produksi telur ayam perlakuan P1 menunjukkan produksi tertinggi yang mencapai 59,32% tertinggi diantara perlakuan yang lainnya dan berbeda nyata (P<0,05) dengan kontrol (P0). Demikian pula halnya P2 memperoleh produksi 54,66% disusul oleh P3, 54,07 % berbeda nyata (P<0,05) dengan P0. Produktivitas yang dicapai oleh P0 justru produksi yang terendah yaitu 49,89% yang berarti belum mencapai 50% produktivitasnya, juga boleh dikatakan dari jumlah 160 ekor ayam hanya mampu memproduksi dibawah 80 butir per hari atau 79,82 butir per hari. Hasil yang dicapai sudah lebih tinggi dari hasil penelitian sebelumnya dimana hasil dari Muryanto (2005) mengungkapkan bahwa produksi telur ayam lokal (buras) yang dipelihara pada kondisi yang sama 41,3%, dan ayam nunukan 50,0%, sedangkan ayam kedu hitam mampu berproduksi sampai 58,8%. Data ini juga menunjukkan bahwa ayam buras yang dipelihara secara intensif dengan pakan standar ayam petelur mampu berproduksi lebih tinggi dibandingkan dengan hasil kajian yang lainnya. Kualitas Telur Ayam Buras
Selama ini kualitas telur sangat mempengaruhi harga telur di pasaran, apalagi harga telur ayam buras/buras. Beda sedikit saja dari warna ataupun bentuk telur akan mempengaruhi daya beli masyarakat, karena disinyalir telur tersebut bukan telur ayam buras yang asli, karena memang ada beberapa penjual telur yang berusaha mengelabui pembeli dengan menjual telur ayam ras yang berwarna kecoklatan namun ukurannya kecil sebagai telur ayam buras.
Disamping itu kualitas telur juga ditentukan dari bentuk dan warna kuning telur yang ada di dalamnya. Untuk itu kualitas telur juga menentukan harga dan tingkat pembelian telur, termasuk juga bobot telur yang kurang konsisten akan mempengaruhi pembeli. Sehingga telur yang memiliki bobot seragam akan lebih diminati daripada yang memiliki ukuran yang inkonsisten (tidak teratur).
Dilihat dari bobot telur yang diperoleh dari pengamatan selama 120 hari masa bertelur maka bobot telur yang diperoleh dari masing-masing perlakuan adalah : yang tertinggi diperoleh P1 yaitu 43,23 gram/butir telur sedangkan yang paling rendah bobotnya adalah P3 41,99 gram/butir, sedangkan bobot telur dari perlakuan yang lain P0 dan P2 rata-rata adalah 43,22 ; dan 42,28 gram/butir telur (tabel 2 ), namun secara statistik tidak berbeda nyata (P <0,05) antar perlakuan. Untuk bobot telur ayam buras yang lain seperti ayam Arab Golden atau Arab Merah (nama lokal) rata-rata adalah 45,3 gram dengan bobot minimal 31 gram dan bobot maksimal telur yang dapat dihasilkan 52 gram/butir. Sedangkan ayam Merawang/Asean bobot telur minimal adalah 38 gram dan maksimal 45 gram/butir
95
sehingga bobot rata-rata telur ayam Merawang adalah 41,5 gram/butir (Abubakar, et al. 2005). Sedangkan Mansjoer dan Martoyo, 1977 dalam Resnawati dan Bintang, (2005) memperoleh bobot telur ayam buras berkisar antara 32,75 – 36,96 gram/butir. Sepertinya telur ayam buras memiliki bobot telur yang beragam seperti yang dikemukakan oleh Wihandoyo dan Mulyadi, 1986 dalam Resnawati dan Bintang, (2005) bahwa bobot telur ayam buras yang dipelihara secara tradisional 37,50 gram/butir sedangkan yang dipelihara secara intensif adalah 45,27 gram/butir.
Tabel 2. Bobot telur, volume putih, volume kuning telur dan warna kuning telur
Perlakuan Bobot telur (gram) Volume Putih Telur (ml) Volume Kuning Telur (ml)
Skor Warna Kuning Telur P0 43,22a 23,75a 14,01a 7,40b P1 43,23a 23,05a 14,15a 7,00b P2 42,28a 23,40a 13,70a 7,60ab P3 41,99a 23,10a 13,25a 7,90a KK % 8,13 9,12 7,99 20,477 BNT 5% 3,17 1,95 1,01 0,006
Keterangan: Data Primer 2015.Angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada uji BNT taraf 5%
Untuk warna telur secara eksterior, penampakan luar telur ayam buras adalah dominan putih hanya perlakuan P3 yang memperoleh warna telur kemerahan 80% sedangkan putih hanya 20% sedangkan 3 perlakuan yang lain P0 dan P2 rata-rata 80% warna telurnya adalah putih sedangkan P1 justru 100% putih. Warna putih sampai kemerahan masih dalam kategori warna telur ayam buras, apabila warna kemerahan agak pekat mendekati merah biasanya disinyalir sebagai telur ayam ras (red leghorn) pada awal masa bertelur. Namun warna itu tidak dijumpai pada pengamatan kajian kali ini. Bentuk telur ayam buras cukup beragam hal ini terlihat dimana hampir semua perlakuan memiliki bentuk telur bulat lonjong (oval) 80% sedangkan 20% sisanya memiliki bentuk agak lonjong namun masih dalam kategori normal.
Dari hasil pengamatan jarang dijumpai bentuk telur yang abnormal atau rusak bentuknya. Kebanyakan rusaknya telur karena jatuh atau berbenturan dengan benda keras sehingga pecah. Hal ini membuktikan bahwa telur yang dihasilkan hampir pasti semuanya laku di pasaran hanya yang pecah dan bobot yang tidak memenuhi standar yang tidak laku untuk dijual ke super market tetapi masih laku di warung atau pasar tradisional dalam bentuk dijual kiloan.
Dilihat dari hasil pada tabel 2 menunjukkan bahwa volume putih telur pada telur baik pada perlakuan ataupun kontrol tidak berbeda jauh dengan kisaran 20 – 22 ml per butir telur. Sedangkan untuk volume kuning telur terendah dicapai oleh P2 (12,55 ml) sedangkan tertinggi dicapai oleh P3 (13,85 ml).
Untuk skor warna kuning telur, terendah dicapai oleh P1 yang hanya mencapai 7,00 sedangkan tertinggi skor warna kuning telur dicapai oleh P3 dengan skor 7,90. Skor warna telur yang dicapai oleh P3 menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) bila dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya. Peningkatan warna kuning telur disebabkan adanya penambahan ekstrak marigold flower yang mengandung karoteboid yang menyebabkan warna semakin terang (Vargas, 1998).Skor warna telur yang dicapai pada ayam ras petelur (negeri), mencapai 9,94 – 10,01 (Guntoro, et al. 2008). Sedangkan Bintang, et al (2008) memperoleh indek warna kuning telur pada ayam petelur yang diberikan ampas mengkudu 10 dan 15% hanya mencapai 5,35 dan 5,40 . Pigmen pada telur substansi pigmen terdapat pada semua bagian telur, tetapi sifat kimianya sangat berbeda. Pigmen dalam telur paling banyak terdapat pada yolk yaitu 0,4 mg, sedang pada albumen 0,03 mg, dan pada bagian yang lain dari telur hanya sedikit. Pigmen yolk merupakan bagian dari telur yang banyak mengandung pigmen, yaitu 0,02 %. Pigmen yolk diklasifikasikan menjadi lipochrome dan liochrome, Arif Santoso, et al. (2013).
Lipochrome merupakan bagian terbesar dari pigmen yolk yang bersifat larut dalam minyak. Pigmen ini termasuk golongan carotenoid yang banyak terdapat dalam tanaman. Carotenoid merupakan pigmen dari khloroplast yang berwarna merah, oranye dan kuning. Berdasar komposisinya carotenoid terdiri atas carotene dan xanthophylls.Caroten (alpha dan beta) dan xantophyll (cryptoxanthin, lutein dan zeaxanthin) terdapat dalam yolk. Caroten bersifat tidak larut dalam air, asam atau alkali, tetapi larut dalam chloroform dan ether.xanthophylls larut dalam alkohol dan ether, hanya sedikit larut dalam petroleum ether. Xanthophyl terutama lutein dan zeaxanthin mempunyai
96
intensitas warna dua kali dibandingkan carotene. Pigmen carotenoid dalam yolk sebagian besar dari golongan xanthophylls, perbandingan antara carotene dan xanthophylls adalah 1 : 10, Santoso, et al.(2013)
Penambahan feed additive berupa marigold flower atau bunga Margotyang berwarna kuning – oranye mampu meningkatkan skor warna telur dari rata-rata 7,00menjadi 7,90 walaupun tidak terlalu tinggi perubahannya namun apabila dilihat secara kasat mata perubahan warna kuning telur akan jelas terlihat warnanya lebih kuning. Vargas (1998) menyatakan penambahan bahan lokal marigold Flower yang mengandung karotenoid pada pakan ayam menyebabkan warna kuning telur yang dihasilkan semakin terang bila dibandingkan dengan kontrol.
Secara umum dapat dijelaskan bahwa bobot ayam buras yang telah berumur > 1 tahun rata-rata memiliki bobot diatas 1 kg, dengan kisaran 1092 gram (P)) sampai 1280 gram (P2). Hal ini masuk kategori bobot ayam buras normal karena Gufron dan Ibrahim (2005) memperoleh bobot ayam buras betina dengan kisaran 1,5 – 1,8 kg/ekor. Dan bobot telur yang dihasilkan mencapai kisaran 41,80 – 46,74 gram, bobot ini merupakan bobot yang sangat ideal yang dibutuhkan oleh pasar, terutama pasar modern yang mengutamakan kualitas. Adapun bobot telur yang diterima oleh pasar modern saat ini berkisar 40 – 47 gram/butir. Bila dibawah atau diatas kriteria itu maka otomatis telur akan ditolak atau dikembalikan.Wihandoyo, 1981 dalam Resnawati dan Bintang (2005) menyatakan bahwa bobot telur ayam buras pada masa peneluran ke II mencapai 42,36+4,22 gram. Sedangkan Gufron Dan Ibrahim (2005), memperoleh bobot telur ayam buras dengan kisaran 37,2 – 43,6 gr/butir. Wihandoyo dan Mulyadi (1986), dalam Resnawati,dan Bintang (2005), menyatakan rata-rata bobot telur ayam yang dipelihara secara intensif pada puncak produksi mencapai 45,7 gram/butir sedangkan ayam yang dipelihara secara tradisional hanya mencapai 37,50 gram/butir.