• Tidak ada hasil yang ditemukan

Immanual Kant dan Etika Kewajiban

Dalam dokumen Mpkt a Buku Ajar 1 (Halaman 166-169)

BAB IV: DASAR-DASAR ETIKA

6. Immanual Kant dan Etika Kewajiban

Dalam karyanya Critique of Practical Reason, Immanuel Kant membahas secara

filosofis tentang apa yang dimaksud dengan moral. Prinsip moral dapat muncul dari

berbagai sumber, diserap dari nilai-nilai agama, kaidah norma masyarakat, maupun

dari hukum yang dibuat oleh negara. Hal-hal ini dapat menjadi referensi bagaimana

seseorang bertingkah laku dan membedakan manakah baik dan buruk. Tetapi bagi

Immanuel Kant, sikap etis tidak datang dari luar individu tersebut. Mengapa

demikian? Ini berkaitan erat dengan era dimana Kant mempopulerkan filsafatnya, ia

selalu berkata Sapere Aude! Bila diterjemaahkan, berarti beranilah berpikir secara

mandiri, semangat ini tercermin juga didalam filsafatnya.

Sapere Aude dalam pengertian Kant mendorong individu bahkan dalam urusan

bersikap etis, individu harus dapat memikirkan dan bertindak atas kehendaknya

sendiri. Berbicara tentang tindakan etis, tentunya kita membicarakan tentang agen

moral itu sendiri. Telah dijelaskan sekilas, bahwa untuk Kant, individu harus memiliki

kehendak sendiri untuk berkarakter baik serta bertindak sesuai moral. Namun agen

moral yang dibicarakan oleh Kant, darimanakah ia tahu prinsip mana yang harus ia

jalankan atau tidak? Tentunya ini tidak semudah bila seseorang mematuhi ajaran

agama atau aturan yang sudah ditetapkan masyarakat. Prinsip moral dari Kant

mengharuskan adanya kesadaran untuk bersikap etis.

Meskipun prinsip moral datang dari rasio praktis individu tersebut sebagai agen

moral, Immanuel Kant menekankan bahwa sifat dari prinsip moral itu bukanlah

sesuatu yang partikular, karena untuknya ada hukum universal dimana hukum

tersebut merupakan muara dari segala tujuan etis. Kant menekankan bahwa prinsip ini

bekerja bila setiap orang memperlakukan orang lain dengan prinsip bahwa yang

diperbuat secara individual berdampak serta perlu diperhitungkan dalam tataran

universal, “aku harus melakukan tindakan moral yang dapat diterima sebagai prinsip

moral yang universal”. Uniknya dari prinsip Kant ini, walaupun tujuan besar dari

sikap moral adalah untuk mencapai kebaikan bersama tetapi tujuan itu dicapai secara

kesadaran individual yang memiliki otonomi.

Dalam prinsip moral Kant, ia menekankan betapa mendasarnya konsep kewajiban

sebagai dasar dari segala perbuatan etis. Konsep kewajiban inilah yang kemudian

dikenal sebagai prinsip deontologis, yakni yang menyatakan bahwa suatu tindakan

memiliki nilai moral yang baik bila tindakan itu terlepas dari kepentingan individu,

dan hanya bertujuan terhadap prinsip kewajiban tersebut, “kehendak baik tidak

menjadi baik karena apa yang diakibatkan ataupun yang dicapainya,--ataupun

kesesuaiannya untuk mencapai suatu tujuan akhir: kehendak baik itu dinyatakan baik

karena ia menginginkan kebaikan itu sendiri.”

1

Pertanyaan yang timbul adalah; darimanakah kita mengetahui perbuatan mana yang

memiliki nilai kebaikan yang intrinsik secara universal? Bagi Kant, pengetahuan akan

1

.lih (ed) John Cottingham, bagian Immanuel Kant, hlm. 382

kebaikan itu datang dari rasio praktis kita. Apa yang dimaksud dengan rasio praktis?

Rasio praktis adalah kecerdasan yang datang dari individu sebagai agen moral, yakni

ketika pemahaman tentang kebaikan dan mampu menyesuaikan pilihan-pilihannya

dengan apa yang dipertimbangkan baik secara universal. Tetapi akal tidak cukup bagi

suatu perbuatan yang sesuai moral, untuk Kant, akal harus dijalani dengan kehendak,

tetapi kehendak ini hanya memusatkan pada kewajiban, tidak pada motif untuk

menguntungkan dirinya atau tujuan akhir tertentu.

Prinsip moral oleh Kant, tidak lagi menjadi argumen etis, tetapi menjadi keharusan,

karena itulah dinyatakan sebagai Imperatif Kategoris. Ada unsur mengikatnya, dan

mengharuskan kita untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral tersebut.

Contoh yang bisa disimak adalah tentang berbohong. Dalam perspektif Kant

berbohong adalah suatu tindakan yang melanggar kebaikan, mengapa? Karena

berbohong secara umum dapat menyebabkan ketidaknyamanan, berbohong kita

ketahui sebagai sesuatu hal yang tidak baik, ini bisa disepakati secara universal

menurut Kant. Tetapi problem filosofis yang muncul adalah bagaimana bila

berbohong untuk suatu tujuan yang baik, benarkah tindakan tersebut? Dalam prinsip

kewajiban, tentunya meskipun berbohong itu untuk suatu hasil akhir yang baik tetap

tidak bisa dikatakan sebagai tindakan yang memiliki nilai moral.

Hal lain yang disampaikan oleh Kant adalah bagaimana ketika melakukan tindakan

etis meski terlepas dari motif individual, hal ini tetaplah dianggap sebagai tindakan

yang bernilai moral. Kant memberikan contoh misalnya seseorang yang tidak

menyukai kehidupannya, karena kehidupannya sangat menyengsarakan, bila

mengikuti keinginannya ia ingin segera mengakhiri kehidupannya, tetapi ia menolak

melakukan hal itu karena membunuh diri dianggap sebagai sesuatu yang tidak baik

secara universal. Meski seseorang yang tidak menyukai prinsip-prinsip kewajiban

tetapi tetap menjalankannya, bagi Kant tindakan itu memiliki nilai moral. Ini untuk

menunjukan bahwa tindakan yang dilakukan individu haruslah datang dari kesadaran

akan kewajiban untuk berbuat baik, karena hal ini bukanlah pilihan yang berdasarkan

motif atau kesenangan, tetapi atas dasar kewajiban, maka ada penekanan pada

keharusan itu.

Contoh lainnya adalah perbuatan menolong orang lain, meskipun menolong orang

lain adalah tindakan yang baik, bagi Kant, tindakan ini tidak terlalu relevan apakah

datang dari rasa belas kasih, maupun empati. Suatu tindakan menolong orang lain

haruslah datang dari rasa kewajiban, terlepas dari motif pribadi individu tersebut.

Bagi Kant, contoh ini menekankan bahwa prinsip moral dilaksanakan bukan karena

prinsip tersebut sesuai dijalankan untuk suatu tujuan akhir semata, tetapi demi

kewajiban atas kebaikan itu sendiri. Kewajiban itu sifatnya mengingkat dan terlepas

dari kepentingan dari individual tersebut.

Etika kewajiban dari Kant mengingatkan kita betapa pentingnya perbuatan moral

yang patuh pada suatu prinsip moral bahwa kebaikan tersebut intrinsik adanya. Bahwa

suatu tindakan dinyatakan benar atau baik dapat diperiksa oleh rasio praktis kita.

Sebagai agen moral yang bebas dan memiliki kecerdasan, Kant menjelaskan bahwa

melalui kecerdasaannya manusia dapat mencapai pada pemahaman tentang konsep

kebaikan universal. Dimana pemahamannya ini mewajibkannya untuk bersikap etis,

dan melakukan tindakan etis tanpa melibatkan perasaan atau memikirkan tentang

hasilnya saja, tetapi tegas untuk mematuhi suatu prinsip moral, “Kewajiban adalah

tindakan yang dilaksanakan atas dasar keharusan yang dilakukan dikarenakan ada rasa

hormat terhadap hukum.”

2

Dalam dokumen Mpkt a Buku Ajar 1 (Halaman 166-169)