BAB IV: DASAR-DASAR ETIKA
6. Immanual Kant dan Etika Kewajiban
Dalam karyanya Critique of Practical Reason, Immanuel Kant membahas secara
filosofis tentang apa yang dimaksud dengan moral. Prinsip moral dapat muncul dari
berbagai sumber, diserap dari nilai-nilai agama, kaidah norma masyarakat, maupun
dari hukum yang dibuat oleh negara. Hal-hal ini dapat menjadi referensi bagaimana
seseorang bertingkah laku dan membedakan manakah baik dan buruk. Tetapi bagi
Immanuel Kant, sikap etis tidak datang dari luar individu tersebut. Mengapa
demikian? Ini berkaitan erat dengan era dimana Kant mempopulerkan filsafatnya, ia
selalu berkata Sapere Aude! Bila diterjemaahkan, berarti beranilah berpikir secara
mandiri, semangat ini tercermin juga didalam filsafatnya.
Sapere Aude dalam pengertian Kant mendorong individu bahkan dalam urusan
bersikap etis, individu harus dapat memikirkan dan bertindak atas kehendaknya
sendiri. Berbicara tentang tindakan etis, tentunya kita membicarakan tentang agen
moral itu sendiri. Telah dijelaskan sekilas, bahwa untuk Kant, individu harus memiliki
kehendak sendiri untuk berkarakter baik serta bertindak sesuai moral. Namun agen
moral yang dibicarakan oleh Kant, darimanakah ia tahu prinsip mana yang harus ia
jalankan atau tidak? Tentunya ini tidak semudah bila seseorang mematuhi ajaran
agama atau aturan yang sudah ditetapkan masyarakat. Prinsip moral dari Kant
mengharuskan adanya kesadaran untuk bersikap etis.
Meskipun prinsip moral datang dari rasio praktis individu tersebut sebagai agen
moral, Immanuel Kant menekankan bahwa sifat dari prinsip moral itu bukanlah
sesuatu yang partikular, karena untuknya ada hukum universal dimana hukum
tersebut merupakan muara dari segala tujuan etis. Kant menekankan bahwa prinsip ini
bekerja bila setiap orang memperlakukan orang lain dengan prinsip bahwa yang
diperbuat secara individual berdampak serta perlu diperhitungkan dalam tataran
universal, “aku harus melakukan tindakan moral yang dapat diterima sebagai prinsip
moral yang universal”. Uniknya dari prinsip Kant ini, walaupun tujuan besar dari
sikap moral adalah untuk mencapai kebaikan bersama tetapi tujuan itu dicapai secara
kesadaran individual yang memiliki otonomi.
Dalam prinsip moral Kant, ia menekankan betapa mendasarnya konsep kewajiban
sebagai dasar dari segala perbuatan etis. Konsep kewajiban inilah yang kemudian
dikenal sebagai prinsip deontologis, yakni yang menyatakan bahwa suatu tindakan
memiliki nilai moral yang baik bila tindakan itu terlepas dari kepentingan individu,
dan hanya bertujuan terhadap prinsip kewajiban tersebut, “kehendak baik tidak
menjadi baik karena apa yang diakibatkan ataupun yang dicapainya,--ataupun
kesesuaiannya untuk mencapai suatu tujuan akhir: kehendak baik itu dinyatakan baik
karena ia menginginkan kebaikan itu sendiri.”
1Pertanyaan yang timbul adalah; darimanakah kita mengetahui perbuatan mana yang
memiliki nilai kebaikan yang intrinsik secara universal? Bagi Kant, pengetahuan akan
1
.lih (ed) John Cottingham, bagian Immanuel Kant, hlm. 382
kebaikan itu datang dari rasio praktis kita. Apa yang dimaksud dengan rasio praktis?
Rasio praktis adalah kecerdasan yang datang dari individu sebagai agen moral, yakni
ketika pemahaman tentang kebaikan dan mampu menyesuaikan pilihan-pilihannya
dengan apa yang dipertimbangkan baik secara universal. Tetapi akal tidak cukup bagi
suatu perbuatan yang sesuai moral, untuk Kant, akal harus dijalani dengan kehendak,
tetapi kehendak ini hanya memusatkan pada kewajiban, tidak pada motif untuk
menguntungkan dirinya atau tujuan akhir tertentu.
Prinsip moral oleh Kant, tidak lagi menjadi argumen etis, tetapi menjadi keharusan,
karena itulah dinyatakan sebagai Imperatif Kategoris. Ada unsur mengikatnya, dan
mengharuskan kita untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral tersebut.
Contoh yang bisa disimak adalah tentang berbohong. Dalam perspektif Kant
berbohong adalah suatu tindakan yang melanggar kebaikan, mengapa? Karena
berbohong secara umum dapat menyebabkan ketidaknyamanan, berbohong kita
ketahui sebagai sesuatu hal yang tidak baik, ini bisa disepakati secara universal
menurut Kant. Tetapi problem filosofis yang muncul adalah bagaimana bila
berbohong untuk suatu tujuan yang baik, benarkah tindakan tersebut? Dalam prinsip
kewajiban, tentunya meskipun berbohong itu untuk suatu hasil akhir yang baik tetap
tidak bisa dikatakan sebagai tindakan yang memiliki nilai moral.
Hal lain yang disampaikan oleh Kant adalah bagaimana ketika melakukan tindakan
etis meski terlepas dari motif individual, hal ini tetaplah dianggap sebagai tindakan
yang bernilai moral. Kant memberikan contoh misalnya seseorang yang tidak
menyukai kehidupannya, karena kehidupannya sangat menyengsarakan, bila
mengikuti keinginannya ia ingin segera mengakhiri kehidupannya, tetapi ia menolak
melakukan hal itu karena membunuh diri dianggap sebagai sesuatu yang tidak baik
secara universal. Meski seseorang yang tidak menyukai prinsip-prinsip kewajiban
tetapi tetap menjalankannya, bagi Kant tindakan itu memiliki nilai moral. Ini untuk
menunjukan bahwa tindakan yang dilakukan individu haruslah datang dari kesadaran
akan kewajiban untuk berbuat baik, karena hal ini bukanlah pilihan yang berdasarkan
motif atau kesenangan, tetapi atas dasar kewajiban, maka ada penekanan pada
keharusan itu.
Contoh lainnya adalah perbuatan menolong orang lain, meskipun menolong orang
lain adalah tindakan yang baik, bagi Kant, tindakan ini tidak terlalu relevan apakah
datang dari rasa belas kasih, maupun empati. Suatu tindakan menolong orang lain
haruslah datang dari rasa kewajiban, terlepas dari motif pribadi individu tersebut.
Bagi Kant, contoh ini menekankan bahwa prinsip moral dilaksanakan bukan karena
prinsip tersebut sesuai dijalankan untuk suatu tujuan akhir semata, tetapi demi
kewajiban atas kebaikan itu sendiri. Kewajiban itu sifatnya mengingkat dan terlepas
dari kepentingan dari individual tersebut.
Etika kewajiban dari Kant mengingatkan kita betapa pentingnya perbuatan moral
yang patuh pada suatu prinsip moral bahwa kebaikan tersebut intrinsik adanya. Bahwa
suatu tindakan dinyatakan benar atau baik dapat diperiksa oleh rasio praktis kita.
Sebagai agen moral yang bebas dan memiliki kecerdasan, Kant menjelaskan bahwa
melalui kecerdasaannya manusia dapat mencapai pada pemahaman tentang konsep
kebaikan universal. Dimana pemahamannya ini mewajibkannya untuk bersikap etis,
dan melakukan tindakan etis tanpa melibatkan perasaan atau memikirkan tentang
hasilnya saja, tetapi tegas untuk mematuhi suatu prinsip moral, “Kewajiban adalah
tindakan yang dilaksanakan atas dasar keharusan yang dilakukan dikarenakan ada rasa
hormat terhadap hukum.”
2
Dalam dokumen
Mpkt a Buku Ajar 1
(Halaman 166-169)