Emy Rizta Kusuma
Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Malang
Abstrak
Novel merupakan salah satu karya sastra berbentuk prosa. Pada dasarnya novel bertujuan sebagai media penyampaian pesan dari penulis pada pembaca. Pesan-pesan yang terkandung dalam novel biasanya berkaitan dengan kehidupan dan situasi yang sedang terjadi ketika novel tersebut ditulis. Sebagai, karya sastra yang memiliki kaitan dengan nilai-nilai kehidupan tentunya peserta didik perlu membaca beragam jenis novel guna mengembangkan pengetahuan dunia yang dimiliki. Akan tetapi, tidak semua novel pantas untuk diajarkan pada peserta didik, sebab pada kenyataannya banyak novel yang di dalamnya mengandung unsur SARA. Oleh sebab itu, Guru perlu memilah dan memilih bacaan mana yang bisa dijadikan bahan pembelajaran sastra di sekolah. Bahkanguru juga sangat perlu untuk memahami karakteristik yang ada pada bacaan yang akan diajarkan pada peserta didik. Tujuannya adalah agar novel yang terindetifikasi SARA dapat dimodifikasi menjadi bacaan yang mudah dibaca dan tidak lagi mengandung unsur SARA. Salah satu bahan bacaan sastra yang dapat dikembangkan menjadi bahan pembelajaran sastra dandapat diajarkan pada pembelajaran sastra di sekolah adalah novel “Senja di Jakarta” karya Mochtar Lubis. Novel tersebut sesuai menjadi bahan pembelajaran sastra di sekolah karena di dalamnya mengandung nilai moral yang nantinya dapat berguna dalam kehidupan sosial siswa.
Kata kunci: pembelajaran sastra, karakteristik novel
PENDAHULUAN
Pembelajaran sastra di sekolah tidak terlepas dari pembelajaran bahasa. Bahasa sendiri, tampaknya merupakan unsur penting dan dasar dari pengertian sastra. namun, bahasa cenderung tidak dianggap sepenuhnya identik dengan sastra. Oleh sebab itu, terkadang bahasa yang digunakan dalam sastra dan bahasa yang digunakan dalam sebuah teori bahasa memiliki perbedaan. Sastra dipahami sebagai bahasa tertentu yang khusus dan berbeda dari bahasa pada umumnya (Faruk, 2014:41). Dengan demikian, maka guru perlu benar-benar memahami ilmu dan konsep pengajaran sastra ketika mengajarkan pembelajaran sastra di sekolah. Tujuannya agar pembelajaran sastra yang diajarkan tidak monoton dan menjenuhkan.
Manfaat adanya pembelajaran sastra di sekolah pada dasarnya adalah untuk melestarikan dan menjaga keberadaan sastra yang ada di Indonesia. Tujuan lainnya adalah agar peserta didik memahami jenis dan bentuk sastra yang ada dan berkembang di Indonesia. Selain itu, pengajaran sastra di sekolah juga bertujuan untuk menarik minat generasi muda untuk menjadi sastrawan muda Indonesia. Dari tujuan-tujuan tersebut, tentunya pengajaran sastra di sekolah perlu mendapat perhatian khusus, baik itu dari segi kebijakan kurikulum hingga kebijakan sekolah.
108
Fakta pembelajaran sastra yang terjadi saat ini di sekolah, tentunya telah mengalami perkembangan yang cukup baik. Genre sastra yang ajarkan lebih beragam. Agar perkembangan pengajaran sastra di sekolah semakin baik, maka guru perlu mempersiapkan benar karya sastra yang dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran sastra. Lefevere (1977:52) menyatakan bahwa karya sastra yang dapat menjadi objek studi sastra adalah karya sastra yang bernilai. Artinya, karya tersebut meskipun terlihat sederhana, tetapi mampu menguraikan beragam pengalaman manusia baik dalam dimensi perseorangan maupun dimensi sosial. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Budi Dharma (dalam Suwondo, 2003:5) menjelaskan bahwa karya sastra yang pantas menjadi objek pengajaran sastra adalah karya yang baik, dalam arti bahwa karya tersebut inspiratif, sublim, menyodorkan pemikiran, menumbuhkan kesadaran, menambah wawasan, dan mempunyai daya gugah yang tinggi.
Pada dasarnya, karya sastra yang berkembang di Indonesia dari awal perkembengan hingga saat ini memiliki daya gugah dan nilai kebermanfaatan yang tinggi. Akan tetapi, tidak banyak dari karya tersebut yang mengandung unsur SARA. Hal tersebut dikarenkan tujuan karya sastra yang berkembang pada suatu periode tertentu bergantung pada konteks dan situasi yang terjadi pada periode tersebut juga. Oleh sebab itu, dalam kasus ini, guru perlu hati-hati dalam memilah dan memilih karya sastra yang sesuai untuk diajarkan dalam pembelajaran sastra.
Salah satu karya sastra yang memiliki potensi baik untuk diajarkan di sekolah adalah novel berjudul “Senja di Jakarta” karya Mochtar Lubis. Karya ini diidentifikasi memliki unsur SARA. Akan tetapi, nilai kehidupan yang ada dalam karya tersebut sangat inspiratif dan memiliki daya gugah yang tinggi. Oleh sebab itu, penulis ingin mengembangkan sastra
canon atau sastra mini yang tujuannya agar karya sastra yang teridentifikasi memiliki unsur SARA dapat diatasi dan bisa dijadikan bahan ajar pembelajaran sastra.
Sebelum melakukan pengembangan bahan ajar sastra, maka perlu memahami karakteristik novel yang akan dijadikan sastra canon. Tujuannya agar tidak mengurangi unsur estetik dan pesan yang ada dalam karya tersebut. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk megetahui karakteristik novel “Senja di Jakarta” yang nantinya akan dikembangkan menjadi sastra canon sebagai bahan pengembangan pembelajaran sastra di sekolah.
PEMBAHASAN
Perspektif Pembelajaran Sastra
Setiap orang memiliki pandangan tersendiri tentang sastra dan pembelajarannya. Sastra juga tidak mengikat seseorang untuk melakukan sebuah penilaian. Toha-Sarumpaet (2002:36) menjelaskan bahwa karya sastra, baik berupa puisi, cerpen, novel, maupun naskah drama, pada dasarnya merupakan cerminan perasaan, pemikiran, dan pengalaman pengarang dalam hubungannya dengan kehidupan. Menurut Umar Kayam (1988), menulis fiksi adalah menafsirkan kehidupan. Oleh karena itu, sastra membuat diri kita dekat dengan kehidupan, tetapi sastra tidak menawarkan analisis yang cerdas. Artinya, karya fiksi hanya memberikan pilihan-pilihan yang mungkin terhadap struktur kompleks kehidupan.
Pembelajaran sastra dianggap lebih merangsang peserta didik untuk memahami dan menghayati kehidupan. Hal tersebut dikarenakan sastra tidak merumuskan dan mengabstraksikan kehidupan kepada pembacanya, melainkan menampilkannya setelah melalui interpretasi pengarang. Artinya, pembaca dapat benar-benar memahami arti sebuah kehidupan dari pesan yang disampaikan pengarang melalui karya sastra tersebut.
Pembelajaran sastra di jenjang sekolah menengah lebih ditekankan pada kemampuan siswa mengapresiasi sastra. Dengan kemampuan mengapresiasi sastra nantinya diharapkan
109
siswa mampu menikmati hasil karya sastra, yang untuk selanjutnya mereka memperoleh manfaat dari upaya memahami dan menikmati karya sastra yang dibacanya.
Apresiasi menurut Harsiati (2013:126) adalah proses pengenalan, pemahaman, penghayatan dan penikmatan terhadap karya sastra. Sedangkan Yus Rusyana mengungkapkan bahwa apresiasi mencakup mengenal, menggolongkan, memahami, mengapresiasi, dan mengkomunikasikan. Aspek mengenal mencakup mengamati, melihat, mendengar dan membaca. Aspek menggolongkan mencari persamaan, perbedaan, perbandingan dan pengkontrasan. Memahami berarti menafsirkan, mengartikan, mempreposisikan, menemukan pola, menggeneralisasi, mencari hubungan, menarik simpulan. Aspek apresiasi adalah menikmati dan menghargai nilai-nilai. Aspek mengkomunikasikan adalah kegiatan melaksanakan dalam kegiatan-kegiatan (mendiskusikan, mengarang, mendramatisasikan).
Pembelajaran sastra di sekolah bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menikmati, menghayati, memahami, memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa (Kurikulum Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, 2013:1)
Manfaat adanya pembelajaran sastra di sekolah adalahpeserta didik akan lebih kritis dalam memahami fenomena-fenomena yang terjadi dilingkungannya. Peserta didik juga akan memperoleh banyak pengetahuan yang sebelumnyatidak mereka ketahui dari membaca karya-karya fiksi seperti novel dan cerpen. Sebab, seringkali sebuah suasana tertentu dapat lebih dihayati dengan membaca sebuah novel, cerpen atau seutas sajak dari pada membaca suatu laporan penelitian yang ilmiah. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Sayuti (2002:37) yakni, seringkali karya sastra lebih mudah dan cepat sampai dihati, di rasa, daripada suatu laporan ilmiah.
Program Pembelajaran Sastra di Sekolah
Pembelajaran sastra saat ini memang mengalami banyak pebaikan. Akan tetapi, perbaikan yang dilakukan masihbelum optimal. Sekolah belum memiliki kesiapan yang cukup matang baik dari segi bahan ajar, program pembelajaran, hingga pengajar sastra masih belum cukup siap dalam mengajarkan sastra di sekolah.
Pengajaran sastra di sekolah belum menjadi mata pelajaran yang mandiri, melainkan hanya menjadi bagian dari mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Pengajaran sastra belum menjadi pokok perhatian dalam pembelajarannya di sekolah. Ibrahim (2012:38) menyatakan bahwa pengajaran sastra di sekolah seharusnya bertujuan membina apresisi sastra, mengembangkan kepekaan peserta didik terhadap nilai-nilai, dan menyuburkan sikap arif dalam menangkap isyarat-isyarat kehidupan. Artinya, pembelajaran sastra di seklah menengah bertujuan untuk menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan emosi, dan pikiran kritis terhadap karya sastra secara sungguh-sungguh.
Endraswara (2003:36) memaparkan bahwa pembelajaran sastra saat ni masih menjadi bayang-bayang pembelajaran bahasa, sehingga pengajar sastra pun merangkap sebagai guru bahasa juga. Hal tersebut tentunya membuat pembelajaran sastra masih belum memiliki ruhnya secara utuh. Guru yang mengajar di sekolah menengah adalah guru bahasa Indonesia, bukan guru sastra, dan pada umumnya tidak memiliki wawasan dan apresiasi sastra yang memadai. Oleh karena itu, dalam pengajaran sastra di sekolah, seharusnya tidak layak jika terlalu berharap bahwa pengajaran sastra akan berhasil melalui pengajaran bahasa seperti yang dituliskan dalam kurikulum bahasa Indonesia.
110
Dalam mewujudkan pembelajaran sastra yang diharapkan maka diperlukan (1) guru sastra yang ideal, (2) unit pendukung, dan (3) faktor lain pendukung pembelajaran sastra.
Pertama. Guru sastra yang ideal adalah guru yang dapat medorong sekaligus dapat berperan sebagai fasilitator peserta didik untuk melakukan aktivitas mendengar, membaca, menulis, dan menyimak. Oleh sebab itu, guru sastra harus mampu menumbuhkan kreativitas peserta didiknya melalui kegiatan-kegiatan bersastra. Kedua, unit pendukung yang dimaksud adalah fasilitas pendukung pembelajaran sastra, salah satunya adalah bahan bacaan dan bahan ajar sastra. Jika ketersedian bahan bacaan dan bahan ajar sastra di sekolah beragam dan memadai tentunya juga akan meningkatkan keberminatan peserta didik untuk mempelajari sastra.
Ketiga, faktor lain pendukung pembelajaran sastra adalah dukungan dari warga sekolah mulai dari peserta didik, guru, hingga kepala sekolah.
Sinopsis Novel “Senja di Jakarta” Karya Mochtar Lubis
Secara garis besar novel ini mengisahkan tentang orang-orang yang tamak dalam sebuah kehidupan yang sangat keras.
Jakarta, kota metroplitan yang membuat semua orang berubah menjadi tamak dan lupa akan jati dirinya. Ketamakan tersebut terlihat dari kisah Raden Kaslan yang pada saat itu menjabat sebagai anggota Dewan Partai Indonesia memanfaatkan kedudukannya untuk mendirikan perusahaan untuk memperkaya keluarganya sendiri. Istri dan anaknya masing-masing menjabat sebagai perusahaan tersebut. Suryono, anak Raden Kaslan sebenarnya adalah pegawai pada Kementerian Luar Negeri yang baru saja pulang dari dinas di luar negeri. Atas desakan ayahnya, dia berhenti sebagai pegawai negeri, kemudian berkecimpung dalam bisnis yang ditangani ayahnya.
Di sisi lain, Suryono dikenal sebagai playboy. Dia sering melakukan kegiatan intim dengan wanita-wanita kesepian, seperti Dahlia, seorang pelacur kelas atas. Padahal, dahlia sendiri sebenarnya sudah memiliki seorang suami bernama Rusdi.Rusdi menjadi pelampiasan ketidakpuasan Dahlia.
Pegawai jujur seperti Rusdi, yang tak mau ikut arus zaman, harus menerima ketidakpuasan Dahlia yang selalu menuntut kebutuhan materi. Tanpa sepengetahuan suaminya, Dahlia melayani Suryono yang memberikan kepuasan materi dan biologis saat Idris tak ada di rumah. Hal ini juga menimpa Sugeng, pegawai Kementerian Perekonomian, yang selalu dituntut oleh istrinya agar mendapatkan rumah secepatnya. Namun, Sugeng tidak seperti Idris yang teguh memegang prinsip pegawai negeri, ia turut ambil bagian dalam bisnis yang ditangani Raden Kaslan sesuai dengan jabatannya.
Pada saat orang-orang seperti Raden Kaslan, Suryono, Husni dan kawan-kawan lainnya mengeruk kekayaan sebanyak mungkin, rakyat jelata yang memiliki nasib kurang beruntung hidup dalam kesusahan. Saimun, Itam yang bekerja sebagai tukang sampah, kemudian Pak Ijo, seorang kusir tua dan istrinya juga selalu dalam bayang-bayang kelaparan. Ada lagi, Neneng yang terpaksa melacurkan diri agar bisa memperoleh sesuap nasi. Mereka sama sekali tidak mendapatkan perhatian oleh orang seperti Raden Kaslan dan orangnya. Raden Kaslan dan orang-orangnya hanya berkampanye bahwa mereka sedang berjuang meningkatkan taraf hidup rakyat. Padahal, pada kenyataannya mereka mengeruk kekayaan negara untuk meperkaya dirinya sendiri.
Akan tetapi, kesenangan Raden Kaslan dan orang-orangnya itu tidak berlangsung lama. Semua itu hanya terjadi tiba-tiba. Ketika koran-koran terbit di Jakarta memuat berita tentang perseteruan antar partai, yang salah satunya
111
membicarakan masalah perusahaan fiktif itu. Raden Kaslan dan beberapa rekannya ditangkap pihak keamanan, sedangkan Suryono dan saudaranya mencoba melarikan diri. Ketika mereka melarikan diri kendaraan yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan di puncak. Akhirnya saudara Suryono menderita luka-luka, sedangkan Suryono meninggal dunia setelah menjalani pemeriksaan di rumah sakit Bogor. Dari sinopsis di atas sangat jelas bahwa novel tersebut berisi tentang kritik sosial. Sangat tidak pantas jika seorang guru mengajarkan sebuah teks atau novel sastra yang di dalamnya mengandung unsur SARA. Disinilah sangat dibutuhkan peran kekreativitasan guru. Peneliti ingin bereksperimen untuk membuat sastra canon dari novel tersebut, seperti sastra
canon yang berkembang di luar negeri. Tujuannya agar novel tersebut dapat diajarkan di sekolah, sehingga peserta didik mengerti pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang pada pembaca. Manfaat lainnya adalah untuk memperbanyak bahan pengajaran sastra di sekolah.
Karakteristik Novel “Senja di Jakarta” Karya Mochtar Lubis
Untuk merealisasikan adanya sastra canon tentunya tidak mudah. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memahami karakteristik novel yang akan dikembangkan menjadi bahan pembelajaran sastra di sekolah. Pemahaman karakteristik tersebut menjadi langkah awal untuk mengkonversi novel menjadi sebuah sastra canon. Berikut adalah karakteristik novel “Senja di Jakarta” dilihat dari (1) bentuk, (2) bahasa, dan (3) isi.
Berdasarkan Bentuk
Bentuk yang muncul adalah prosa (novel). Novel “Senja di Jakarta” menggunakan gaya realistis, sebab cerita yang ada dalam novel tersebut mengisahkan tentang kehidupan di Jakarta yang menggambarkan berbagai kekuatan yang mempengaruhi, membentuk, dan kehidupan mereka yang kaya, miskin, kaum polotik dan kriminal, kaum intelektual, dan juga mereka yang berpindah tempat dari desa ke kota besar. Dari berbagai anggota masyarakat tersebut muncul berbuatan yang menekan dan menindas rakyat kecil, dan membuat yang kaya bertambah kaya, yang berkuasa tambah berkuasa, dan yang miskin tambah miskin. Fenomena demikian sering juga kita jumpai dalam kehidupan masyarakat pada saat ini. Salah satu bukti yang bisa diambil dari novel tersebut yaitu:
Pada halaman 238
“Memang tempo-tempo gue rasain bisa kalap ‘Mun, hidup begini. Rasanya kita kaya diinjak-injak saja. Tinggal di kampungmau nggarap sawah nggak bisa. Dibunuh sama gerombolan. Lari ke kota hidupm sengsara. Bagaimana lu pikir sakit lantas kerjaan bisa hilang? Jadi bagaimana kalau begini? Lantas gua lihat bangsa kita yang tinggi-tinggi yang senang terus. Lu pernah liat mereka ikutantri-antri garam, minyak tanah atau beras kaya kiata orang kampung? Ya, nggak pernah, paling banyak nontonin kita antri dari mobil.”
Berdasarkan Bahasa
Bahasa yang digunakan sederhana (menggunakan bahasa sehari-hari), tidak memperhatikan aturan-aturan dalam bahasa bahkan bentuk bahasa harus tunduk pada isi, kalimat-kalimatnya pekat, padat dan penuh isi. Selain itu, bahasa yang digunakan menggunakan bahasa pergaulan di Jakarta, tidak menggunakan bahasa baku. Salah satu bukti penggunaan bahasa dalam novel tersebut, yaitu:
112 Pada halaman 8
“Aduch, utang sudah hampir lima perak di sana,” kata Saimun, dan Tuan Abdullah mestinya nunggu sama mandor besi. Lu berapa ngutang sama dia, Tam?
“Kira-kira lima rupiah! Persetan benar orang Arab itu, nggak habis-habisnya ngutang sama Dia!”
“Gua ngutang untung Cuma seringgit,” kata Saimun, “tapi gua mesti bayar kembali empat rupiah minggu ini.”
Berdasarkan Isi
Isi cerita dalam novel tersebut cenderung bersifat (1) relistis, (2) natural, (3) kritis, dan (4) mendapat pengaruh dari genre sastra di Eropa.
1) Bersifat realistis
Sifat realistis yang dimaksud adalah fiksi yang ditampilakan hampir sama dengan kehidupan nyata. Seolah tidak ada nampak fiksi yang dibangun oleh pengarangnya. Bukitinya sebagai berikut:
Pada halaman 394
“...Dahulu semboyan-semboyan nasionalisme mempunyai daya keramat untuk menyatukan bangsa dan merupakan bahan bakar untuk revolusi. Kini terlalu banyak pemimpin yang masih melontarkan semboyan nasionalisme semata ini tidak memberikan isi pada tujuan-tujuan kemerdekaan yang dahulu kita maksud...” 2) Bersifat natural
Sifat natural yang dimaksud adalah dialog yang ditampilkan dalam cerita seolah alami tanpa dibuat-buat sesuai dengan keadaan yang terjadi. Buktinya sebagai berikut:
Pada halaman 98
“Alangkah tak adilnya dunia ini. Orang yang hendak jujur tidak diberi kesempatan jujur. Hanya satu rumah, sederhana, dan orang tiada perlu memperkosa kehormatannya. Tidak, aku tidak mau aku mengalah. Biar hasnah marah, biar hasnah menjadi benci!”
3) Bersifat kritis
Sifat kritis yang dimaksud adalah penyampaian protes sosial yang ingin disampaikan oleh penulis digambarkan secara gamblang sesuai dengan relaita yang terjadi. Buktinya sebagai berikut:
Pada halaman 309
Rasa tidak puas umum terhadap pemerintah dan partai-partai yang berkuasa juga tambah meningkat, karena kesulitan-kesulitan persediaan beras, garam dan minyak tana. Di surat-surat kabar yang tidak menyokong pemerintah setiap hari dapat dibaca kritik-kritik yang bertambah keras terhadap pemerintah dan praktek-praktek partai-partai yang berkuasa, dan beberapa surat kabar secara terus terang telah menyangkutkan nama sebuah partai tersebut.
4) Karya yang dihasilkan sudah mendapat pengaruh dari Eropa.
Pengaruh dari Eropa dapat dilihat dalam novel sudah menggunakan bahasa asing yaitu bahasa Belanda. Buktinya sebagai berikut:
113 Pada halaman 94
“Wij zijn binnen!” serunya kemudian dalam bahasa Belanda. “Kita sudah beres sekarang.”
KESIMPULAN
Pengajaran sastra pada sekolah menengah telah mengalami perkembangan yang cukup baik. Agar perkembangan pembelajaran sastra di sekolah tetap terjaga dan menjadi lebih baik tentunya perlu ada persipn yang matang untuk memelajarkan sastra di sekolah. Salah satu hal yang perlu dipersiapkan adalah bahan pembelajaran sastra. jika bahan bacaan dan bahan ajar sastra yang ada di sekolah cukup memadai maka tentu akan berdampak baik bagi perkembangan pengetahuan peserta didik.
Salah satu bahan bacaan sastra yang dapat dikembangkan menjadi bahan ajar sastra adalah novel. Novel atau cerita fiksi merupakan sebuah gambaran dari kehidupan sosial. Karena sangat dekat dengan realitas kehidupan, tentunya novel memiliki banyak pesan moral yang dapat dimanfaat dalam kehidupan peserta didik. Novel “Senja di Jakarta” karya Mochtar Lubis dipilih untuk dikembangkan menjadi bahan pembelajaran sastra karena di dalamnya mengandung nilai moral yang nantinya dapat berguna dalam kehidupan sosial siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional. 2013. Kurikukulum 2013, Kompetensi Standar Mata Pelajaran Bahasadan Sastra Indonesia. Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP dan M.Ts. Jakarta: Depdiknas.
Endraswara, Suwardi. 2003. Membaca, Menulis, Mengajarkan Sastra. Yogyakarta: IKAPI. Faruk. 2014. Pengantar Sosiologi Sastra: dari Strukturalisme Genetik sampai
Post-modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Harsiati, Titik. 2013. Asesmen Pembelajaran Bahasa Indonesia. Malang: Universitas Negeri Malang.
Lefevere, Andre.1977. Literary Knowledge: A Polemical and Programmatic Essay on Its Nature, Growth, Relevance, adn Transmission. Netherlands: Van Gorcum and Comp. B.V.
Lubis, Mochtar. 2009. Senja di Jakarta. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra: beberapa Alternatif. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya.
Toha-Sarumpaet, Riris K. 2002. Sastra Masuk Sekolah. Magelang: Indonesiatera.
Wahyuni, Sri dan Ibrahim, Abdul Syukur. 2012. Asesmen Pembelajaran Bahasa. Bandung: PT. Refika Aditama.
114