• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesesuaian Penggunaan Lahan Terbangun dengan Tata Ruang

Kelas Kemampuan

5.3. Penilaian Inkonsistensi Lahan

5.3.3. Kesesuaian Penggunaan Lahan Terbangun dengan Tata Ruang

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang,

Bekasi, Puncak, Cianjur (Jabodetabekpunjur) ditetapkan sebagai kawasan strategis nasional yang memerlukan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang secara terpadu maka ditetapkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2008 Tentang Penataan Ruang Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, Cianjur.

Penataan ruang Kawasan Jabodetabekpunjur memiliki peran sebagai acuan bagi penyelenggaraan pembangunan yang berkaitan dengan upaya konservasi air

dan tanah, upaya menjamin tersedianya air tanah dan air permukaan,

penanggulangan banjir dan pengembangan ekonomi untuk kesejahteraan

masyarakat dan berfungsi sebagai pedoman bagi semua pemangku kepentingan yang terlibat langsung ataupun tidak langsung dalam penyelenggaraan penataan ruang secara terpadu di Kawasan Jabodetabekpunjur, melalui kegiatan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.

Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2008, kawasan Jabodetabek terbagi dalam beberapa zone yaitu

(1) Zona N1 diarahkan untuk konservasi air dan tanah dalam rangka:

a. mencegah abrasi, erosi, amblesan, bencana banjir, dan sedimentasi; b. menjaga fungsi hidrologi tanah untuk menjamin ketersediaan unsure

hara tanah, air tanah, dan air permukaan; dan

c. mencegah dan/atau mengurangi dampak akibat bencana alam geologi. (2) Zona N2 diarahkan untuk:

a. konservasi budaya;

b. perlindungan keanekaragaman biota, tipe ekosistem, serta gejala dan

keunikan alam untuk kepentingan perlindungan plasma nutfah,

penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan; dan

c. pengembangan kegiatan pendidikan dan penelitian, rekreasi dan

pariwisata ekologis bagi peningkatan kualitas lingkungan sekitarnya, dan perlindungan dari pencemaran.

(3) Zona B1 merupakan zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang mempunyai daya dukung lingkungan tinggi, tingkat pelayanan prasarana dan sarana tinggi, dan bangunan gedung dengan intensitas tinggi, baik vertikal maupun horizontal.

mempunyai daya dukung lingkungan sedang dan tingkat pelayanan prasarana dan sarana sedang.

(5) Zona B3 merupakan zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang mempunyai daya dukung lingkungan rendah, tingkat pelayanan prasarana dan sarana rendah, dan

(6) Zona B4 merupakan zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang mempunyai daya dukung lingkungan rendah tetapi subur dan merupakan kawasan resapan air, serta merupakan areal pertanian lahan basah bukan irigasi teknis dan pertanian lahan kering.

(7) Zona B5 merupakan zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang

mempunyai kesesuaian lingkungan untuk budi daya pertanian dan

mempunyai jaringan irigasi teknis.

(9) Zona B6 merupakan zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang mempunyai daya dukung lingkungan rendah dengan kesesuaian untuk budi daya dan KLB yang disesuaikan dengan Peraturan Daerah.

(10) Zona B7 merupakan zona yang berdekatan dengan Zona N1 pantai dengan karakteristik memiliki daya dukung lingkungan rendah, rawan intrusi air laut, rawan abrasi, dengan kesesuaian untuk budi daya dan KLB yang disesuaikan dengan Peraturan Daerah.

Tabel 27. Sebaran Zone Tata Ruang Kawasan Jabodetabek Berdasarkan Perpres No 54Tahun 2008 No Zone Luas Ha % 1 B1 156.170 23,43 2 B2 103.646 15,55 3 B3 87.482 13,13 4 B4 152.709 22,91 5 B4/HP 34.465 5,17 6 B5 67.622 10,15 7 B6 2.722 0,41 8 B7 394 0,06 9 B7/HP 4.352 0,65 10 N1 16.109 2,42 11 N2 40.834 6,13 Jumlah 666.505 100

Jabodetabek Jabodetabek 1 B3 39.932 5,99 2 B4 19.541 2,93 3 B4/HP 1.210 0,18 4 B5 8.326 1,25 5 B6 636 0,10 6 B7 190 0,03 7 B7/HP 223 0,03 8 N1 289 0,04 9 N2 436 0,07 Jumlah 2.158 0,32 68.625 10,30

Jabodetabek(%) 1 B1 8.736 4,31 2 B2 57.392 8,61 3 B3 42.895 6,44 4 Bp 1.977 0,30 Jumlah 131.001 19,65

Lahan yang tersedia untuk perubahan penggunaan lahan terbangun di kawasan Jabodetabek seluas 131.001 ha yaitu pada Zone B1 seluas 8.736 ha, B2 seluas 57.392 ha, B3 seluas 42.895 ha dan Bp seluas 1.977 ha.

5.5. Ikhtisar

Jumlah penduduk kawasan Jabodetabek khususnya di DKI Jakarta yang semakin meningkat maka luas lahan terbangun di Kawasan jabodetabek yang terus meningkat. Berdasarkan hitungan regresi kedua variabel tersebut maka bila terdapat kenaikan jumlah penduduk sebanyak 1.000 jiwa maka akan terjadi kenaikan luas lahan terbangun seluas 12,94 Ha di Jabodetabek atau setiap kenaikan jumlah penduduk 1 orang maka akan terjadi kenaikan luas` lahan terbangun seluas 129,4 m2.

Pola perubahan penggunaan lahan dari lahan pertanian menjadi lahan terbangun mulai tahun 1972 –2009 dengan pola mengikuti makin meluasnya kota Jakarta yaitu keliling lahan terbangun DKI Jakarta makin besar dan memanjang ke arah Kota Bekasi, Kota Tangerang dan Kota Bogor. Kemudian lahan terbangun makin besar mengikuti tempat yang telah dibangunnya sarana transportasi yang memadai baik melalui kereta maupun jalan tol, arteri atau jalan lingkar Jakarta.

Penggunaan lahan tahun 2009 terdapat lahan yang tidak konsisten terutama lahan terbangun terhadap kemampuan lahan seluas 19.812 ha (2,97 %), kesesuaian lahan seluas 8.358 ha (1,25 %) dan Perpres No 54 tahun 2008 dimana lahan terbangun yang tidak sesuai pada zone larangan yaitu pada Zone N1 dan N2 serta pada HP seluas 2.158 ha atau 0,32 % dari total luas Jabodetabek. Sedangkan lahan yang tersedia untuk perubahan penggunaan lahan terbangun di kawasan Jabodetabek seluas 131.001 ha.

Struktur perekonomian yang ada di wilayah Indonesia sangat beragam, terutama untuk wilayah DKI Jakarta dan Bodetabek, yang sudah menuju kearah tersier dan sekunder. Sedangkan untuk wilayah sisa Indonesia masih sangat didominasi oleh sektor primer. Hal tersebut mengakibatkan terjadi ketimpangan antar wilayah di Indonesia.

Salah satu keunggulan analisis dengan model IRIO adalah dapat digunakan untuk mengetahui berapa jauh tingkat ketekaitan antar sektor produksi. Keterkaitan antar sektor menunjukan adanya tingkat keterkaitan teknis antar unsur aktif. Analisis keterkaitan merupakan bagian yang penting dalam analisis input output suatu wilayah karena analisis ini merupakan dasar analisis selanjutnya seperti analisis daya penyebaran, derajat kepekaan, serta analisis multiplier. Analisis yang digunakan untuk mengetahui tingkat keterkaitan suatu sektor terhadap sektor lain dalam hal penggunaan input maupun pemanfaatan output. Selain itu, analisis ini juga dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan suatu sektor dalam pembentukanoutputwilayah dilihat dari pemanfaatanoutputmaupun penggunaaninput.

Secara sederhana, dari hasil analisisinput outputinterregional Tahun 2009, kontribusi input dan output di DKI Jakarta, Bodetabek, serta Sisa Indonesia dapat ditunjukkan bahwa keterkaitan yang ada di Indonesia sangat lemah. Pemanfaatn

outputuntuk wilayah lainnya, di DKI Jakarta sebesar 74,09 %, Bodetabek sebesar 73,57 %, serta Sisa Indonesia sebesar 94,38 % terhadap totaloutputnasional.

Tabel 30. KontribusiOutputDanInputDi Masing-Masing Wilayah Di Indonesia, 2009 (Dalam Persen)

No Input/Output DKI

Jakarta Bodetabek Rest of Indonesia Indonesia 1 DKI Jakarta 74,09 0,77 25,14 100,00 2 Bodetabek 2,95 73,57 23,48 100,00 3 Rest of Indonesia 4,11 1,52 94,38 100,00

Output DKI Jakarta yang digunakan untuk aktivitas (input) di Bodetabek adalah 0,77 % dan di sisa Indonesia sebesar 25,14 % terhadap totaloutputnasional. SedangkanoutputBodeabek yang digunakan untuk aktivitas (input) di DKI Jakarta sebesar 2,95 % dan di sisa Indonesia sebesar 23,48 % terhadap total output

nasional. Output di sisa Indonesia yang digunakan untuk aktivitas (input) di DKI Jakarta adalah 4,11 % dan di Bodetabek sebesar 1,52 % terhadap total output

nasional.

Secara lebih rinci dapat dilihat pada Tabel IRIO tahun 2009, bahwa pada

output di DKI Jakarta yang digunakan sebagai input oleh DKI Jakarta itu sendiri yang tertinggi pada sektor industri, perdagangan, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Output sektor industri di DKI Jakarta yang digunakan sebagai

input sektor industri di DKI Jakarta sebesar Rp 38.194,16 milyar. Output sektor bank dan lembaga keuangan lainnya DKI Jakarta yang digunakan sebagai input

sektor bank dan lembaga keuangan lainnya di DKI Jakarta sebesar Rp. 106.214,52 milyar. Output sektor perdagangan, hotel dan restoran di DKI Jakarta yang digunakan sebagaiinputsektor inustri di DKI Jakarta sebesar Rp.36.580,42 milyar.

Output sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan di DKI Jakarta yang di gunakan sebagai input sektor perdagangan, hotel dan restoran di DKI Jakarta sebesar Rp 26.643,26 milyar.Outputsektor bank dan lembaga keuangan lainnya di DKI Jakarta yang digunakan sebagai input sektor perdagangan, hotel dan restoran di DKI Jakarta sebesar Rp 27.502,32 milyar.

Output sektor industri di DKI Jakarta yang digunakan sebagai input sektor industri di Bodetabek sebesar Rp 1.459,84 milyar. Output sektor perdagangan, hotel dan restoran di DKI Jakarta yang digunakan sebagai input sektor industri di Bodetabek sebesar Rp 2.685,04 milyar. Output sektor bangunan di DKI Jakarta yang digunakan sebagai input sektor industri di Bodetabek sebesar Rp 1.392,06 milyar.

Output di DKI Jakarta yang digunakan sebagai input oleh sisa Indonesia, sektor yang memiliki nilai tertinggi adalah sektor bangunan, industri, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan serta keuangan, persewaan dan jasa perusahaan.

Outputsektor industri di DKI Jakarta yang digunakan sebagai inputsektor industri di Sisa Indonesia sebesar Rp 19,099,92 milyar.Outputsektor keuangan, persewaan

dan jasa perusahaan di DKI Jakarta yang digunakan sebagai input sektor pengangkutan di Sisa Indonesia sebesar Rp 7.911,92 milyar. Output sektor perdagangan di DKI Jakarta yang digunakan sebagai input sektor industri di Sisa Indonesia sebesar Rp 17.221,73 milyar. Output sektor bangunan di DKI Jakarta yang digunakan sebagai input sektor industri di Sisa Indonesia sebesar Rp 31.701,78 milyar..

Pada wilayah Bodetabek, dapat dilihat bahwaoutput-outputdari Bodetabek yang digunakan sebagaiinputoleh DKI Jakarta yang tertinggi ada pada sektor jasa-jasa, perdagangan, hotel dan restoran, industri, dan pengangkutan. Output sektor industri di Bodetabek yang digunakan sebagai input sektor industri di DKI Jakarta sebesar Rp 406.767 juta. Output sektor jasa-jasa di Bodetabek yang digunakan sebagai input sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan di DKI Jakarta

sebesar Rp 728.853 juta. Output sektor pengangkutan di Bodetabek yang

digunakan sebagai input sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan di DKI Jakarta sebesar Rp 801.700 juta. Output sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan di Bodetabek yang digunakan sebagai input sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan di DI Jakarta sebesar Rp 236.981 juta. Output

sektor perdagangan, hotel dan restoran di Bodetabek yang di gunakan sebagaiinput

sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan di DKI Jakarta sebesar Rp 571.087 juta.

Output dari Bodetabek yang di gunakan sebagai input oleh Bodetabek itu sendiri, sektor yang memiliki nilai tertinggi adalah sektor industri, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan serta pertanian. Output sektor industri di Bodetabek yang digunakan sebagai input sektor industri di Bodetabek sebesar Rp 98.689,30 milyar. Output sektor perdagangan, hotel dan restoran di Bodetabek yang digunakan sebagai input sektor industri di Bodetabek sebesar Rp 14.671.71 milyar. Output sektor industri di Bodetabek yang digunakan sebagai input sektor perdagangan, hotel dan restoran di Bodetabek sebear Rp 17.426.27 milyar.Output

sektor pertanian di Bodetabek yang digunakan sebagai input sektor industri di Bodetabek terbesar Rp 6.092,20 milyar. Outputsektor pengangkutan di Bodetabek yang digunakan sebagai input sektor industri di Bodetabek sebesar Rp 4.650,35

milyar. Output sektor jasa-jasa di Bodetabek yang digunakan sebagaiinput sektor industri di Bodetabek sebesar Rp 4.045,05 milyar.

Pada wilayah Bodetabek, dapat dilihat bahwaoutput-outputdari Bodetabek yang digunakan sebagai input oleh Sisa Indonesia yang tertinggi ada pada sektor perdagangan, hotel dan restoran, industri, dan pengangkutan. Output sektor industri di Bodetabek yang digunakan sebagai input sektor industri di Sisa Indonesia sebesar Rp 4.958,25 milyar. Output sektor industri di Bodetabek yang digunakan sebagai input sektor pertanian di Sisa Indonesia sebesar Rp 19.497.34 milyar. Output sektor perdagangan, hotel dan restoran di Bodetabek yang digunakan sebagai input sektor pertanian di Sisa Indonesia sebesar Rp 2.617,66 milyar. Output sektor perdagangan, hotel dan restoran di Bodetabek yang digunakan sebagai input sektor industri di Sisa Indonesia sebesar Rp 11.450,53 milyar. Output sektor pengangkutan di Bodetabek yang di gunakan sebagai input

sektor industri di Sisa Indonesia sebesar Rp 5.608,06 milyar.